David duduk berdua dengan Arga ditaman belakang, nampak dengan jelas gurat kesedihan diwajah Arga.
"Ada apa Ga, kenapa Letta kambuh lagi?"
"Gue juga nggak tau Vid, gue juga kaget tiba-tiba dia histeris nyariin Seruni," mengusap kasar wajahnya.
David menepuk bahu sahabatnya, ia juga merasa iba dengan kondisi Letta saat ini. Hampir tak pernah kambuh hingga dianggap sembuh, kini Letta kembali pada masa penderitaannya.
"Ingatan itu terus saja mengganggunya Vid, gue nyesel banget udah ninggalin dia waktu itu," sesal Arga terus menerus.
"Kita nggak ada yang tau kalau ada kejadian itu Ga, kalaupun kita tau pasti semua bakal baik-baik aja sekarang."
"Gue bersumpah, gue bakal cari pembunuh itu sampai ketemu!!"
David tau apa yang dirasakan Arga, bahkan ia harus merasakan lebih sebab ia sampai kehilangan sosok istrinya.
..
Dihotel, Cally bangun dengan badan kesakitannya. Seluruh badannya terasa remuk redam akibat perjalanannya.
"Gila, badan gue rasanya hancur banget," keluhnya seusai mandi pagi.
"Apa gue panggil tukang pijit hotel dulu aja ya," fikirnya.
Dan benar saja, Cally menghubungi resepsionis hotel meminta mereka membantu menyarikan tukang pijit untuk dirinya.
Seusai dirinya dipijat dan nampak lebih fres, Cally memutuskan untuk pergi mengunjungi Arletta.
Dirinya bersiap untuk pergi, memantapkan hatinya untuk melangkah menemui adiknya.
"Tunggu aku Letta," gumamnya saat berada didalam taxi.
30 menit, waktu yang diperlukan Cally hingga sampai didepan rumah milik Arga. Namun entah mengapa ia ragu untuk melangkag turun masuk kedalam rumah.
"Gimana ini, kenapa jadi takut gini," batinnya meremas tangannya.
Didalam rumah, Arga tengah keluar mengantarkan ketiga buah hatinya. Hanya ada Letta juga David yang belum pergi bekerja.
"Astaga meetingnya diundur siang, jadi bisa tiduran deh," gumamnya memainkan layar ponselnya.
Letta tengah bersantai diatas ranjangnya, memainkan ponselnya Letta melihat shopping online diponselnya.
Namun tiba-tiba sebuah panggilan masuk, tak ada nama seperti kemarin yang dialaminya. Tangan Letta bergetar tiba-tiba, ragu namun ia harus mengangkatnya.
"Ha halo," gugupnya.
"Tenang Letta, nggak usah gugup gitu ngomongnya."
"Siapa loe, apa mau loe!!"
"Mau gue cuma loe menderita, loe hancur kayak loe ngehancurin gue!"
"Apa salah gue sama loe, kenapa loe keji banget," amuk Letta yang sudah tak bisa mengontrol dirinya.
"Gue masih ingat dengan jelas, bagaimana Seruni meregang nyawanya didepan adiknya yang tak sadarkan diri!"
"Nggak, stop!"
"Gimana Seruni menangis menahan sakit, berusaha membangunkan adiknya yang tak sadarkan diri juga."
Penelpon itu terus mengingatkan Letta dengan apa yang dialaminya beberapa tahun silam. Bahkan ia juga menceritakan apa yang tak diketahuinya dimasa kecelakaan.
"Stop!"
"Hahahahah," tawanya penuh kemenangan saat Letta memutus sambungan telpon tiba-tiba.
"Kak Runi, dimana kak Runi," gumamnya sambil turun dari ranjangnya.
"Kak, kak Runi. Kaka dimana ," teriaknya menuruni anak tangga.
David yang sedang menerima panggilan dari Arga terkejut saat mendengar teriakan Arletta mencari Seruni.
"Ga buruan balik," serunya sebelum mematikan panggilannya.
David beranjak, berlari menghampiri Letta yang sedang menuruni anak tangga.
"Letta," panggilnya.
"Kak David, kak Runi mana. Aku mau lihat kak Runi," cemasnya.
"Ada apa, kenapa panik ginia ehm?"
"Dia, dia bilang kak Runi mati saat mau nolongin aku kak. Dia bilang aku pingsan nggak bangun," Letta nampak panik saat bercerita dengan David.
"Dia, dia ini siapa Letta?"
Tiba-tiba bayangan kecelakaan itu kembali muncul, Letta histeris menangis meraung-raung memanggil nama Seruni.
David kewalahan, tubuh Letta yang memberontak berkali-kali lipat kuatnya tak seperti biasa dan bahkan pelayan tak bisa menahannya.
"Kejar Letta," teriak David saat Letta kabur dari genggamannya.
"Kak Seruni, kak Runi dimana?"
Letta terus saja berteriak mencari Seruni, menangis sambil memanggil nama kakaknya. Dan kebetulan sekali Cally melihat kejadian tersebut.
Dahinya berkerut saat melihat Letta tengah menangis mencari keberadaan Seruni dirumahnya.
"Letta! Kenapa dia nangis?"
Belum selesai pertanyaan dalam benaknya, ia kembali terkejut saat tiba-tiba David muncul dan menggendong Letta masuk kedalam rumah.
"Astaga, pak saya turun disini!"
Cally berlari masuk kedalam rumah, ia bahkan tak menghiraukan teriakan satpam saat dirinya menerobos masuk.
"Akkh, lepas!! Lepasin, aku mau cari kak Seruni."
Letta histeris, meraung-raung menangis mencari Seruni. Ia begitu nampak kalut serta ketakutan dalam satu waktu bersamaan, membuat David sedikit kewalahan.
Letta begitu memprihatinkan, tangisnya begitu pilu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
"Ta, please tenang. Seruni udah tenang disana," ucap David begitu sendu.
Mata Letta melotot mendengar ucapan David, ditatapnya David dengan derai air matanya yang tak kunjung mengering.
"Gara-gara aku ya, gara-gara aku kak Runi gak ada ya," cicitnya.
"Enggak ko, bukan gara-gara Letta."
Letta berteriak histeris, ia berusaha menyakiti dirinya sendiri karena rasa bersalahnya.
"Letta stop!" seru David menahan tangan Letta.
Namun tiba-tiba saja Cally masuk, menarik tubuh Letta mendekatinya. Memeluk erat tubuh yang penuh kesakitan itu.
"Sssst, tenang. Ada aku."
...-----🍒-----...
...Hai semua, maaf ya nunggu lama updatenya....
...Jangan lupa terus klik like, favorit terus berikan komen kalian setelah membacanya. satu like satu komen itu berarti buat penyemangatnya....
...Terima kasih semua...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Demarince Padakari
astaga..ayo dong lanjut dongggggggg penasaran nc
2021-10-28
0
Susi Ana Tanjung
apa mungkin Daniel? sakit hati Karna letta sudah misahin dia dengan cally. tapi kan salah si daniel juga kenapa gak mau memperjuangkan cintanya. malah diam saja saat cally dihina keluarga nya
2021-10-28
0
Elgha Nurri Rahman
wadidaw siapa ya kemungkinan di balik penelfon neror itu, ayo thor lnjut dong tmbh penasaran ja deh ah😓
2021-10-27
0