Shaka begitu fokus pada laptopnya, matanya yang tajam bergantian menatap ponsel juga laptopnya.
"Ayah, bisa kirimkan mama pesan di ponselnya?"
"Tentu nak," sahut David.
Suara dering ponsel Lette berbunyi, Arga begitu kagum saat anaknya yang masih dini telah berhasil meretas juga menyadap ponsel mamanya. Kemampuan yang seharusnya belum dimilikinya, Shaka berbeda ia tumbuh cepat secara kepribadiannya.
"Gimana pah," tanyanya.
"Kerja bagus nak," puji Arga.
"Wow, hebat banget Shaka," kagum Cally pada keponakannya. Ia juga merasa sedih saat mengingat apa yang telah dilewatkannya.
"Loe nggak perlu nyalahin diri loe sendiri, kita paham dengan kondisi loe saat itu," ucap David berusaha menenangkan Cally.
"Andai dulu gue mau dengerin Letta, andai-
"Biarlah semua yang berlalu, sekarang kita fokus sama apa yang akan kita hadapi sekarang ini," potong Arga yang tak ingin mengingat kembali rasa pahit saat itu.
"Tapi Ga, dimana tante Elena juga om Reno?"
"Mereka tinggal sama Jesika juga Orland."
"Mereka nggak tahu kondisi Letta sekarang," tanyanya.
"Nggak, kita semua tahunya Letta udah sembuh dari depresinya. Tapi beberapa hari yang lalu dia kembali menunjukkan kembali gejalanya," terlihat jelas raut kesedihan pada wajah Arga.
"Loe tenang aja Ga, gue bakal bantuin loe jagain Letta mulai sekarang."
Mira tiba-tiba saja berlari turun dari tangga menghampiri ayahnya, nafasnya yang naik turun membuat semuanya cemas seketika.
"Ada apa nak," tanya David merapikan rambut anaknya.
"Mama dibangunin Laisa ayah," adunya.
"Dasar bocah nakal," celetuk Shaka.
"Itu adikmu," ledek Arga.
"Anak papa," balas Shaka tak mau kalah.
Mereka semua bergegas menghampiri Letta dalam kamarnya, dan Letta menyambut mereka dengan wajah cerianya.
"Mama," seru Shaka berlari memeluk mamanya.
Shaka adalah anak yang jarang sekali menunjukkan ekspresinya, terkesan dingin serta datar pada sekitarnya. Namun dibalik sikapnya itu ada rasa cinta yang sangat besar untuk mama juga keluarganya.
"Mama baik-baik aja kok, maaf ya udah bikin jagoan mama khawatir," membelai kepala anaknya dengan penuh tulus kasih.
"Laisa, apa kamu hanya akan makan dengan santainya nak," tanya Arga dengan herannya.
"Papa telat, aku udah peluk mama cium mama. Mama aja udah ambil makanan aku sesuap," adunya dengan begitu menggemaskan.
Semua orang tertawa, namun mata Letta berkaca-kaca saat melihat wajah orang yang lama tak dilihatnya. Mata itu tak bisa menahan lelehannya, Shaka mengerti penyebab mamanya menangis. Ia pun turun dari ranjang, memberi tempat bagi keduanya untuk bertemu.
"Kamu lupa adikmu boy," bisik Arga saat Shaka didepannya. Matanya mengarahkan Shaka pada apa yang ditujunya.
"Astaga," menepuk keningnya.
........
Daniel tengah sibuk dengan berkas pasiennya saat Meya datang menghampirinya. Gadis kecil itu datang membawakan papy nya segelas kopi panas kesukaannya.
"Papy, Meya bawakan kopi untuk papy," seru gadis itu berjalan perlahan.
Daniel bangkit dan mendekati putrinya, diambilnya gelas panas dari tangan putrinya lalu mengajaknya duduk bersama diatas sofa. Diangkatnya tubuh mungil itu naik keatas pangkuannya.
"Meya udah belajar," tanyanya.
"Sudah, aku udah ngerjain semua pr aku papy."
Daniel mengusap bangga kepala anaknya, dibalik rasa sayang tulus itu ada luka yang selalu ia coba tutupi dari pandangan Meya.
"Papy," panggilnya pelan, terlalu pelan.
"Ada apa Meya, katakan," serunya.
"Apa papy membenci mamy," tanyanya dengan begitu polosnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
christemilia emiliana
kenapa kisah Daniel tdk diceritakan Thor..sampe dia kok bs menikah
2021-11-04
0
Fadilah Herbalis Nasa
ditunggu update an selanjutnya thor
2021-11-04
0
Demarince Padakari
lanjutttt
2021-11-04
0