"Tak apa, kau hanya penasaran, tapi kenapa kau penasaran? Jangan bilang kau sedang mencarikan jodoh untuk temanmu?" Aku tertawa.Tapi dalam hatiku entah kenapa aku merasa sedih bahwa dia tidak pernah mempertimbangkan aku sendiri yang penasaran.
"Aku hanya ingin tahu siapa orang yang menolongku, kau seperti orang yang punya kepekaan tinggi terhadap perasaan orang lain, aku hanya penasaran..."
"Hmm... Geiko terkenal sepertimu, kalian tidak menikah bukan, tapi boleh punya danna, tapi jika menikah kalian harus meninggalkan profesi kalian."
"Iya, begitulah peraturannya..."
"Kau punya danna ?"
"Tidak, belum, danna itu perlu hubungan hati, aku masih muda , yang bisa mengapai persyaratan Ibuku tidak banyak, penghasilanku bulananku dan kepopuleranku mungkin membuat Bibiku memasang patokan yang mungkin agak menakutkan pada hubungan semacam itu..." Sebenarnya memalukan membicarakan hal seperti ini tapi karena dia mau tahu, aku menjelaskannya karena aku merasa dia pun bercerita secara jujur padaku.
"Hmm... bisa dimegerti. Kau sudah dilevel kepopuleran khusus buat Bibimu. Bisa dikatakan tambang emasnya...." Aku meringis, entah aku harus senang atau sedih soal itu.
"Kau mau jalan-jalan, mau jajanan yang lain? Aku kali ini yang akan membelikanmu?"
Aku tertarik pada gerai imagawayaki yang tak jauh dari kami, kami melewatinya tadi.
"Boleh aku mau imagawayaki saja..." Aku membayar Yatei-ramen itu dan kami berjalan kaki kembali ke arah hotel. Dan kami mampir ke kedai yang menjualnya.
Tapi tiba-tiba seseorang menarik tas-ku. Aku langsung berteriak, orang itu larinya cepat sekali menyelinap diantara kerumunan orang. Aku baru ingat berada di lingkungan daerah Takadanobaba. Memang tak begitu aman disini.
Tak menunggu lama untuk membuat Tuan Derrick langsung mengejarnya. Dia menghilang dengan cepat dari pandanganku. Aku menunggu dengan cemas ditempat yang sama.
Dan tak lama dia kembali dengan tasku, aku menghela napas lega.
"Ini ...." Dia memberikan tas tangan kecilku. Untunglah semuanya kembali. Jika tidak aku pasti akan kesulitan.
"Terima kasih banyak. Untung Anda mendapatkannya lagi." Tapi aku melihat lengannya ada noda darah cukup besar.
"Tangan Anda?!"
"Ini tak apa, aku tak melihat dia memegang senjata tadi? Dia sempat membuatku kaget, bajingan kecil itu memang perlu dihajar."
"Kita ke klinik?" Apa lukanya dalam? Aku terlalu takut melihat darah. Tapi tadi dia masih bisa berlari.
"Tak apa saya selalu membawa kit pertolongan, ini luka dangkal, hotel saya dekat sini sebenarnya. Saya kembali saja..."
"Kalau begitu ayo biarkan saya membantu Anda membalutnya." Aku terang merasa bertanggung jawab.
"Nona Setsuko Anda tak perlu repot. Saya bisa..."
"Saya tak repot." Aku memotong perkataanya dan menarik tangannya sekarang. Kelihatannya masih merembes, aku mengeluarkan persedian tissue yang kubawa untuk menekan lukanya. Dia menunjukkan jalannya yang ternyata hanya beberapa menit berjalan kaki.
"Apa ada luka lain?" Kami tiba di kamarnya kemudian. Dia mengambil kit obatnya di lemari.
"Tidak, ini hanya karena aku tak melihat senjata di tangannya karena di sudut gelap, dia berhasil mengenaiku tapi cuma sekali." Noda darah itu cukup luas tapi tampaknya sudah berhenti mengalir.
"Apa ini benar-benar tak perlu ke rumah sakit."
"Tidak, ini sudah berhenti tidak dalam..." Dia membuka bajunya. Dan dengan segera mataku terpesona dengan apa yang kulihat. Badannya benar-benar bagus. Sesaat aku diam dan memandangnya begitu saja, posturnya mengagumkan, lihat perut itu...astaga mataku. mungkin dia berlatih bela diri juga.
"Aku perlu membersihkan diri dulu sebelum lukanya dibalut..." Aku tersadar dari pengamatanku yang kelewatan dan dengan cepat membantunya melepas kemejanya. Dia berkata itu tak apa, tapi tampaknya sakit juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 372 Episodes
Comments
Dede Dahlia
aku juga slalu terpesona liat roti sobekmu ko 🤭🤣🤣🤣
2023-02-25
0
Aurora
Kalau aku liat roti bantal setiap hati😀
2022-09-19
0
Fani Tsao
uhuy..tapi bukan jodoh mu hehehhe
2022-06-29
0