Setelah selesai mandi dan berganti baju. Mereka langsung pergi tanpa berniat untuk pulang terlebih dahulu. Sebenarnya tadi Alsa sempat berniat untuk menolak karena hari ini Alsa merasa sedikit lelah. Tetapi melihat semangatnya Gerald membuat Alsa tidak tega untuk mengatakan tidak.
"Ingat?" pertanyaan Gerald membuat mata Alsa membola.
Iya, Alsa ingat betul tempat itu. Tempat dimana menjadi kenangan indah yang terakhir kalinya sebelum keberangkatan Gerald 2 tahun yang lalu.
Gerald membawanya ke pasar malam di tempat 2 tahun lalu mereka kunjungi.
Mendadak hati Alsa jadi sedikit gelisah. "Ini bukan tempat untuk mengenang sebuah perpisahan kan?"
Pertanyaan Alsa membuat Gerald tertawa. "Sekarang ini tempat menjadi awal hidup kita. I know tempat ini tidak sekeren dan tidak semahal tempat yang lain kunjungi. Tapi bagi gue ini sangat berkesan Alsa," jelas Gerald membuat Alsa tersenyum seraya mengangguk.
"Ayo!" Gerald mengajak Alsa untuk keluar dari mobil.
Suasananya masih sama seperti 2 tahun yang lalu. Bahkan letak-letak permainan atau wahana juga sama persis.
Mereka berjalan santai melihat ke sekeliling pasar. Jangan lupakan kedunya menjadi pusat perhatian. Pasalnya dari banyaknya orang yang datang, baik Gerald ataupun Alsa paling terlihat berbeda.
"Lo nyaman nggak?" tanya Gerald melihat perubahan pada wajah Alsa.
"Nyaman, tapi nggak suka pada liatin kita gitu," jelas Alsa membuat Gerald mengangguk.
"Itu karena lo cantik, paling cantik dan menarik di antara yang lainnya," jelas Gerald membuat Alsa seketika blushing.
"Rald...ih!" Alsa memukul pelan pundak Gerald. Dan dijawab Gerald dengan mengacak rambut Alsa lembut.
"So...apa yang tadi mau lo omongin?"
Pertanyaan Gerald membuat Alsa seketika tersadar akan kepindahan Gerald. Mana mungkin Gerald pergi jika sudah berniat untuk pindah ke kampusnya. Berati apa yang Gerald katakan tempat itu untuk mengenang awal mula hidup mereka yang baru itu benar adanya.
"Lo kapan berangkat?" pertanyaan itu yang keluar dari mulut Alsa. Dan sangat tidak sinkron dengan hati dan pikirannya.
Gerald berhenti. Menatap Alsa dengan satu alis terangkat. "Berangkat? why?"
Bod*h Alsa merutuki ucapannya yang tadi.
"Emm..maksud gue lo jangan pergi dulu Rald. Gue masih kangen sama lo," beruntung Alsa segera mendapat jawaban yang tepat.
Mendengar jawaban Alsa membuat Gerald menyunggingkan senyumnya. "Gue nggak akan pergi Al, mulai sekarang gue akan di sisi lo terus sampai-"
Dengan sengaja Gerald menjeda ucapannya yang langsung membuat Alsa penasaran setengah mati.
"Sampi apa?" tanya Alsa.
"Sampai kita punya banyak anak."
Jlep
Alsa terbengong. Bukan itu yang ingin Alsa dengar dari jawaban Gerald. Alsa berpikir jika Gerald akan menjawab yang ada kaitannya dengan kepindahan kuliahnya. Tapi ternyata jawaban Gerald jauh dari apa yang Alsa pikirkan.
"Gimana udah siap kan?" lanjut Gerald membuat Alsa tersadar.
"Anak?" tanya-nya dan dijawab Gerald dengan anggukan kepala.
"Gue kira lo nggak akan pergi karena mau pindah ke kampus gue," jelas Alsa dengan nada yang berubah lirih di akhir kalimatnya.
Gerald menaikan sebelah alisnya. Sebelum akhirnya tawanya pecah mendengar ungkapan Alsa.
"Salah satunya."
"Hah?" heran Alsa. Jika itu salah satu alasan Gerald berati ada alasan lain termasuk tentang anak.
Gerald menarik tangan Alsa. Mereka duduk di salah satu kedai kopi yang terdapat di pasar malam. Kedai khusus tongkrongan anak muda yang didirikan si situ.
Setelah memesan kopi kepada seorang barista. Gerald kembali menatap Alsa dengan lekat. Niatnya mengajak Alsa untuk berkunjung ke pasar malam itu juga agar obrolan di antara mereka terkesan santai. Karena pada dasarnya ada yang ingin Gerald katakan kepada Alsa. Dan tentang orang yang bersangkutan dengan Alsa.
"Lo nggak lagi becanda kan Rald?" tanya Alsa dan dijawab Gerald dengan gelengan kepala.
"Kenapa? lo nggak mau punya anak dari gue?" Gerald bertanya yang langsung dijawab Alsa dengan gelengan kepala.
"Bukan itu. Maksud gue." Alsa bingung untuk meneruskan.
"Apa? nggak yakin? lo nggak lihat gue dan lo nantinya akan menghasilkan generasi yang luar biasa?" jawab Gerald membuat Alsa seketika tertawa.
Obrolan mereka sangatlah jauh. Tetapi memang tidak ada salahnya. Mereka pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama.
"Alsa," lirih Gerald seraya menggenggam tangan Alsa.
Pandangan matanya kini berubah menjadi serius. Dan karena itu membuat Alsa sedikit gugup. Entah apa yang ingin Gerald katakan lagi selain pindah kuliah dan rencana tentang anak. Mungkin ada hal lain yang ingin Gerald beritahu.
"Apa?" jawabnya mengelus genggaman tangan mereka.
Melihat wajah Alsa sekarang seakan membuat Gerald ingin menarik ulur ucapan yang ingin dia katakan. Belum dia ungkapkan tetapi sudah tidak tega rasanya.
Sebelum mengatakan, Gerald sempatkan menghela napas terlebih dahulu. Bukan hanya Alsa yang gugup. Gerald juga demikian. Jika masalah ranjang Gerald memang ahlinya saat ini. Tetapi untuk permasalahan yang ada dan menyangkut Alsa. Mendadak Gerald juga merasa berbeda.
"Tentag orang tu-"
Drrttt
Drttt
Drttt
"Shit," umpatnya seraya meraih ponsel yang terus bergetar.
"Angkat Rald, siapa tahu penting," suruh Alsa dan diangguki oleh Gerald.
Rasya menelpon Gerald dan menyuruhnya untuk berkunjung ke salah satu klub malam. Awalnya Gerald menolak, tetapi Rasya mengatakan jika di tempat itu ada laki-laki yang sedang ingin Gerald cari tahu.
"Siapa?" tanya Alsa melihat raut wajah Gerald yang berubah.
"Rasya" Gerald menjawab tanpa minat. Sebenarnya dia enggan untuk pergi.
Alsa mengangguk. "Pasti penting kan? ya udah temui Rasya gih," suruh Alsa yang dijawab Gerald dengan anggukan kepala.
"Janji setelah ini gue akan ngajak lo ke temp-"
"Ssttt.... Nggak harus ke suatu tempat biar gue seneng Rald, cukup ada gue sama lo dimanapun itu. Udah bikin gue bahagia," potong Alsa yang dijawab Gerald dengan anggukan kepala dan senyum manis.
Gerald mengecup tangan Alsa. Sebelum mereka pergi dan kembali ke dalam mobil.
Di dalam perjalanan. Tidak hentinya Alsa terus menyunggingkan senyumnya. Hal itu tidak luput dari pengawasan Gerald.
"Seneng karena gue harus tinggalin lo sekarang?" tanya Gerald membuat Alsa menoleh.
"Apa sih? gue tuh jadi ngerasa kayak kembali ke 2 tahun yang lalu tahu." Alsa menjawab dengan sedikit sewot.
Gerald mengangguk. "But..sorry Al, kita belum ngulangin masa itu," tampak ada raut kecewa di wajah tampan Gerald.
"Nggah harus Rald, berdua bareng lo itu udah lebih dari cukup."
Sampai akhirnya mobil Gerald berhenti tepat di depan rumah. Karena gugup Gerald tidak masuk terlebih dahulu.
"Mau langsung?" tanya Alsa dan dijawab Gerald dengan anggukan kepala.
"Oke. Gue masuk ya?" pamitnya lagi, tetapi kali ini Gerald tidak mengangguk seperti tadi.
Gerald malah menatap Alsa dengan serius.
"Kenapa?" heran Alsa.
"Jangan tidur dulu Al, nanti malm program ya?" Gerald menaik turunkan alisnya.
Seketika pipi Alsa bersemu merah mendengar ucapan Gerald yang terkesan meminta.
"Gue masuk," pamit Alsa turun dari mobil.
"Sayang!" teriak Gerald membuat Alsa menoleh.
"I love you," ucap Gerald membuat Alsa tersenyum dengan gelengan kepala.
"I know," jawaban Alsa membuat Gerald menggeleng.
"Awas nanti," ancamnya lirih. Dan jelas saja tidak terdengar oleh Alsa yang sudah masuk ke dalam.
Setelah Alsa tidak terlihat lagi. Gerald segera kembali melajukan mobilnya. Pikirannya tertuju dengan masalah orang tua Alsa yang sebentar lagi mungkin akan mendapat jawabnya. Meski tidak semudah itu. Tetapi dengan bertemunya orang yang memang sudah cukup lama Gerald intai. Gerald berharap akan ada jawaban.
Selama ini Gerald tahu. Pertemuan Alsa terkahir kalinya dengan kedua orang tuanya ketika mereka menerima undangan makan malam atas kelulusan Gerald. Bahkan ketika kelulusan Alsa pun. Baik Papi Dion atau Mami Eva tidak ada yang pulang untuk sekadar menemani perpisahan anak mereka, Alsa.
"Gue nggak akan berhenti sebelum gue tahu kenapa mereka begitu jahat sama lo Al," gumam Gerald menambah kecepatan mobilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Elizabeth Zulfa
emang ada apa sama ortunya alsa??
2024-01-15
0
Qaisaa Nazarudin
Kenapa panggilannya masih Li gue aja sih thor, gak bisa aku kamu gitu, biar lebih manis gitu, pasutri manggil lo gue kayak kasar gitu kedengarannya..
2023-08-02
5
Shellatalia Muktey
mgkin bkany kali y
2022-12-17
0