Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Keributan
“Jadi, kau benar-benar akan pindah ke rumah Kak Sagara? Kau mau meninggalkan aku sendiri? Kau marah padaku, ya? Gara-gara aku memberitahu Kak Saga?” Shena mengoceh sejak Kinara mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
Kinara menarik napas panjang, “Ya ampun, Shena. Kau terlalu berlebihan. Aku memang kesal padamu karena sudah memberitahu Kak Saga tanpa bertanya dulu padaku.”
Bibir Shena mengerucut, langkahnya mendekat lalu tiba-tiba meraih tangan Kinara. “Maafkan aku, habisnya aku tidak tega melihatmu bersedih. Lagipula, aku tidak sengaja bertemu dengan Kak Saga saat mau melakukan medical check up. Kau tahu ‘kan, aku jadi lemah di hadapannya.”
Mendengar pengakuan jujur dari sahabatnya itu, Kinara justru terkekeh pelan. “Kau ini,” katanya menepuk pelan lengan Shena. “Terima kasih sudah peduli padaku.”
“Apa kau tidak bisa tinggal di sini saja? Bicaralah dengan Kak Saga untuk menetap di rumahku. Kau tega padaku, Ra?” rengek Shena lagi. Entah mengapa ia jadi tak rela jika Kinara pergi, padahal dirinya pula yang menyebabkan semua ini. Ia yang memiliki gagasan untuk memberitahu Saga.
“Aku juga ingin tetap di sini, tapi Kak Saga bersikeras agar aku pindah. Begitu mendengar ceritaku, dia benar-benar menjadi protektif. Dia bahkan berkata akan menghancurkan Rashid jika melihatnya di dekatku.” Kinara bergidik ngeri mendengar celotehan ancaman kakak keduanya itu.
Shena juga turut bergidik ngeri sambil membayangkan wajah garang Sagara. “Kak Sagara saja sudah mengerikan, Ra. Apalagi jika Kak Gala dan Kak Kala tahu. Apa yang akan mereka lakukan pada Rashid nanti, ya?”
Kinara mengedikkan bahu, acuh. “Entahlah. Yang aku pikirkan sekarang justru bagaimana menghadapi kakak Gala dan orangtuaku. Setelah tahu apa yang terjadi, tak mungkin Kak Saga diam saja.”
Shena menganggukan kepala sambil memainkan dagunya sambil berpikir kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Semakin memikirkannya, semakin ia tidak sabar untuk turut serta membalas perlakuan Rashid terhadap Kinara.
Tepat setelah Kinara mengemasi semua pakaian dan barang-barangnya, dering ponselnya berbunyi nyaring. Nama Sagara muncul di layar.
Kinara segera mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Kak?"
"Aku sudah di depan rumah Shena. Cepatlah keluar." Suara Sagara terdengar dari seberang.
Kinara menoleh ke arah jendela. Benar saja, sebuah mobil yang dikenalnya sudah terparkir di depan pagar. "Sebentar, Kak. Aku keluar."
Panggilan berakhir. Kinara memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian berpamitan kepada Shena yang masih berdiri di ruang tengah.
"Aku pergi dulu."
Shena mengangguk meski merasa berat hati. "Hati-hati."
Kinara kemudian keluar dari rumah sambil membawa tas fan juga kopernya. Begitu melihat Sagara berdiri di samping mobil, ia tersenyum kecil.
"Kakak cepat sekali."
"Aku tidak mau membuatmu menunggu."
Sagara mengambil koper Kinara dan memasukkannya ke bagasi. Namun sebelum masuk ke mobil, Kinara tiba-tiba berkata, "Kak, bisa antar aku ke toko dulu?"
Sagara menoleh. "Toko kue?"
Kinara mengangguk. "Aku ingin memastikan keadaan toko. Sekalian memberi tahu Fara dan Fani kalau hari ini aku mungkin tidak bisa membantu di toko."
Sagara membuka pintu mobil untuk Kinara. "Baik. Ayo masuklah."
Setelah keduanya masuk, Sagara menyalakan mesin.
Sepanjang perjalanan, Kinara sempat menjelaskan bahwa sejak membuka kembali toko kuenya, ia baru meminta Fara dan Fani membantunya mengurus toko. Hingga beberapa menit kemudian, mobil memasuki kawasan pertokoan tempat toko kue Kinara berada.
Namun sebelum Sagara benar-benar menghentikan mobil, Kinara sudah melihat sesuatu yang membuat wajahnya berubah. Di depan toko kuenya terdapat banyak orang. Beberapa berdiri di trotoar, sebagian lainnya memenuhi bagian depan toko. Suara mereka terdengar bahkan dari dalam mobil.
Kinara mengernyit. "Kenapa ramai sekali?"
Sagara memperlambat mobil, keningnya ikut mengernyit heran. Sementara Kinara mencondongkan tubuh untuk melihat lebih jelas.
"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali? Semoga saja Fara dan Fani belum tiba." Kinara mulai cemas melihat kerumunan yang ramai dan tampak marah itu.
Semakin dekat mereka dengan toko, semakin jelas suara keributan itu terdengar.
"Mana pemilik tokonya?"
"Kami mau penjelasan!"
"Jangan cuma diam!"
Kinara langsung merasa khawatir, apalagi saat ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk dari Fara yang memberitahunya bahwa keadaan toko kue sedang chaos dengan orang-orang yang protes.
Sagara menatap kerumunan di depan mereka, lalu menoleh ke arah adiknya yang panik. “Tenangkan dirimu dulu, jangan gegabah menghadapi mereka.”
Kinara segera melepaskan sabuk pengaman. "Kak, berhenti di sini saja. Aku harus mengurus tokoku, apalagi Fara dan Fani ada di dalam."
"Jangan turun sendirian." Sagara mencegahnya. Meski tak mengatakannya secara langsung tetapi jelas wajah Sagara memancarkan kecemasan.
"Tapi aku harus tahu apa yang terjadi, Kak."
Sagara memarkir mobil di tepi jalan. Kinara langsung turun, sementara Sagara menyusul di belakangnya.
Semakin mendekati toko, Kinara semakin panik. Beberapa orang membawa ponsel dan merekam suasana. Ada pula yang tampak memegang foto atau tangkapan layar dari sesuatu yang tidak Kinara pahami.
Kinara menerobos kerumunan. "Permisi."
Tidak ada yang memperhatikannya, semua orang sibuk melontarkan makian dengan suara keras hingga tak ada yang menyadari kehadiran Kinara sang pemilik toko.
"Cukup! Hentikan!" teriaknya lantang, menatap ke arah mereka dengan tegas.
Beberapa orang akhirnya menoleh.
Kinara dapat mendengar percakapan mereka yang berbisik sambil menatapnya dengan kebencian. Apalagi saat ia mendengar dengan telinganya sendiri makian-makian yang tertuju padanya dan juga dari tokonya.
Jantung Kinara seakan berhenti berdetak mendengar hal itu, sementara Sagara yang mendengar ucapan itu langsung mengerutkan kening.
Kinara akhirnya berhasil mencapai depan toko, menghampiri Fara dan Fani berdiri di balik pintu dengan wajah panik. Keduanya tampak kebingungan menghadapi orang-orang yang terus bertanya dan menuntut penjelasan.
Namun, begitu melihat wajah Kinara, Fara dan Fani akhirnya bernapas lega.
"Bu Kinara akhirnya datang!"
Kinara segera menghampiri mereka. "Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa toko menjadi ramai seperti ini?"
Fara tampak hendak menjawab, tetapi salah seorang perempuan dari kerumunan lebih dulu bersuara.
"Oh, jadi Anda pemilik toko ini?"
Kinara menoleh. "Iya, benar. Saya adalah pemilik toko ini."
"Bagus. Kalau begitu jelaskan kenapa Anda menjual kue yang katanya tidak layak dikonsumsi!"
Kinara membeku. "Apa maksud Anda, Bu?"
Perempuan itu mengangkat ponselnya dan memperlihatkan sebuah unggahan. Kinara melihat layar tersebut, matanya langsung membesar.
Sebuah foto kue buatannya terpampang jelas di sebuah unggahan akun anonim. Di bawah foto itu terdapat caption yang menuduh toko miliknya menjual kue dengan kualitas buruk dan memperlakukan pelanggan dengan tidak menyenangkan.
Kinara langsung mengenali foto tersebut. Itu adalah kue yang dicicipi Marissa kemarin.
"Ini ...." Kinara terdiam, bingung untuk sesaat. Mencoba mencerna semuanya dalam benaknya.
Fara segera mendekat, dan berbisik. "Bu, sejak pagi orang-orang datang ke sini. Mereka bilang ada unggahan yang sedang ramai dan mereka bahkan menuntut agar kita menutup toko kue ini.
Fani mengangguk cepat. "Kami sudah mencoba menjelaskan bahwa kami tidak tahu apa-apa, tetapi mereka terus meminta pemilik toko datang."
Kinara menarik napas panjang. Ia sudah menduga Marissa mungkin akan membuat keributan. Namun ia tidak pernah menyangka semuanya akan menjadi sebesar ini.
Sagara berdiri di sampingnya dengan wajah dingin. "Siapa yang membuat unggahan itu?"
Kinara belum sempat menjawab ketika suara lain terdengar dari kerumunan.
"Perempuan yang mengunggahnya bilang dia datang langsung ke toko ini!"
“Benar! Jika tidak bisa membuat kue sebaiknya jangan membuka toko kue dan merugikan orang lain!”
Kinara mengepalkan tangan, kesal dan murka. Ia tahu persis siapa perempuan itu. Namun untuk saat ini, ia tidak bisa langsung menyebutkan namanya begitu saja di depan banyak orang.
Sagara menatap adiknya. "Kinara, apa kau mengenal orangnya?" tanyanya pelan, meskipun ia sudah menduga hal yang sama.
Kinara menggeleng pelan. "Aku tahu, Kak."
Ia menatap toko kue yang baru saja dibukanya kembali. Tempat yang seharusnya menjadi awal baru dalam hidupnya kini justru dipenuhi orang-orang yang datang membawa kemarahan. Untuk sesaat, rasa takut itu kembali muncul.
Namun Kinara menarik napas panjang dan berusaha menenangkan dirinya. Ia tidak boleh mundur ataupun merasa takut sekarang. Justru ini adalah langkah yang tepat untuk membuktikan dirinya.
Sagara mendekat dan berbisik, "Kau mau aku yang bicara?"
Kinara menggeleng. "Jangan, Kak. Ini masalahku, biar aku saja yang menyelesaikannya." Ia melangkah maju.
Sagara menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk meskipun tetap berdiri di dekatnya.
Kinara kemudian menghadapi kerumunan tersebut. "Saya tidak tahu apa yang kalian lihat di media sosial, tetapi saya bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”
Suasana yang semula riuh perlahan mereda, semua mata tertuju kepada Kinara. Ia menggenggam kedua tangannya di depan tubuh. "Namun saya meminta satu hal. Jangan menghakimi hanya berdasarkan satu unggahan."
Salah seorang pria di kerumunan menyahut, "Lalu apa bukti bahwa unggahan itu bohong?"
Kinara terdiam sejenak. Kemudian ia menatap Fara dan Fani sejenak sebelum membuat keputusan final.