Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.
Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.
Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.
Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.
Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
BAB 9: Seniman Tanpa Wajah
[Sudut Pandang: SURA]
"Namanya Ren," kata Kian, mengetuk sebuah nama di halaman 42 Buku Hitam Horgath.
Sura melongok ke buku itu sambil mengunyah apel sarapan. "Ren... Mahasiswa beasiswa jurusan Seni Rupa. Catatan Horgath: 'Tertangkap meniru lukisan klasik untuk dijual di pasar gelap. Tangan stabil. Mental rapuh. Aset berharga untuk pemalsuan ijazah.'"
"Horgath memanfaatkannya untuk memalsukan sertifikat nilai bagi anak-anak donatur yang bodoh," jelas Kian jijik. "Pria tua itu benar-benar parasit."
"Jadi kita akan merekrut pemalsu?" tanya Sura.
"Bukan sekadar pemalsu, Sura. Kita butuh Ahli Dokumen," koreksi Kian. "Kau bisa berbohong dengan mulutmu, aku bisa berbohong dengan uangku. Tapi untuk menipu kerajaan? Kita butuh kertas, stempel, dan tinta yang bisa menipu mata para menteri."
Kian menutup buku itu.
"Horgath pasti sedang panik sekarang karena bukunya hilang. Dia mungkin akan mencoba menekan 'aset-aset'-nya untuk tutup mulut. Kita harus mendapatkan Ren sebelum Horgath menghancurkannya."
Studio Seni Akademi terletak di loteng yang penuh cahaya matahari dan bau cat minyak yang menyengat.
Sura dan Kian masuk ke sana saat jam istirahat makan siang. Ruangan itu sepi, kecuali satu sosok kurus yang duduk di pojok, tersembunyi di balik kanvas raksasa.
Pemuda itu—Ren—sedang melukis. Tapi dia tidak melukis pemandangan atau potret. Dia sedang melukis ulang sebuah dokumen tua dengan kuas super tipis. Dia menyalin ornamen pinggiran sertifikat dengan ketelitian yang menakutkan.
Sura melangkah mendekat tanpa suara, tapi lantai kayu tua berderit.
Ren tersentak. Kuasnya hampir jatuh. Dia buru-buru menutup lukisannya dengan kain kotor.
"M-maaf! Saya tidak sedang melakukan apa-apa!" seru Ren panik. Wajahnya pucat, ada noda tinta biru di pipinya dan kacamata bulatnya miring. Dia terlihat seperti kelinci yang terpojok.
"Tenang, Picasso," kata Sura santai, duduk di bangku kayu di sebelahnya. "Kami bukan pengawas."
Ren membetulkan letak kacamatanya, menatap Sura dan Kian dengan curiga. "Kian Arselio? Dan... gadis dari rumor 'sendok perak' itu? Apa yang kalian inginkan?"
Kian berjalan mengelilingi studio kecil Ren. Dia melihat sketsa-sketsa yang berserakan di lantai. Semuanya adalah tiruan sempurna dari lukisan terkenal.
"Bakatmu sia-sia di sini, Ren," kata Kian. "Melukis ulang karya orang lain? Menyalin sertifikat bodoh untuk Horgath agar dia bisa membeli cerutu mahal?"
Tubuh Ren menegang mendengar nama Horgath. "Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Tolong pergi."
"Horgath sudah tamat," kata Kian dingin. Dia melempar Buku Hitam itu ke pangkuan Ren.
Ren menatap buku itu. Dia mengenalinya. Itu buku yang selalu dipegang Horgath saat mengancam akan mencabut beasiswanya.
"Buka halaman 42," perintah Kian.
Ren membukanya dengan tangan gemetar. Dia membaca catatan tentang dirinya sendiri. Wajahnya berubah dari pucat menjadi merah padam karena marah dan malu.
"Dia... dia mencatatku sebagai 'aset'?" suara Ren bergetar. "Aku pikir dia menolongku merahasiakan kesalahan masa lalu..."
"Dia tidak menolongmu. Dia memilikimu," potong Sura lembut. "Tapi sekarang buku itu ada di tangan kami. Horgath tidak punya kuasa lagi atas dirimu."
Ren menatap Sura, mata di balik lensa tebalnya berkaca-kaca. "Jadi sekarang... kalian yang akan memeras saya?"
"Tentu tidak," Kian tersenyum. Dia mengambil sebuah kertas kosong dan pena bulu angsa dari meja Ren.
"Kami ingin menawarkan pekerjaan. Pekerjaan asli. Dengan gaji, bukan ancaman."
Kian menyodorkan pena itu pada Ren.
"Uji coba," kata Kian. "Tanda tangani kertas ini. Tapi jangan pakai namamu. Pakai nama Kepala Sekolah."
Ren terdiam. Dia menatap pena itu, lalu menatap Kian.
"Tanda tangan Kepala Sekolah memiliki tiga lengkungan khas di huruf 'S' terakhir," gumam Ren, matanya tiba-tiba berubah fokus. Ketakutannya lenyap, digantikan oleh obsesi seorang seniman. "Dan dia selalu menekan pena lebih kuat di awal, membuat tintanya sedikit merembes di huruf pertama."
Ren mengambil pena itu. Dia tidak langsung menulis. Dia memejamkan mata sejenak, mengatur napas, lalu menggerakkan tangannya di udara, melatih memori ototnya.
Sret. Sret. Sret.
Dalam tiga detik, tanda tangan itu tercetak di kertas. Sempurna. Elegan. Dan... palsu.
Sura bersiul kagum. "Itu terlihat lebih asli daripada aslinya."
Kian mengambil kertas itu, menelitinya di bawah cahaya matahari. "Sudut kemiringan 45 derajat. Tekanan tinta konsisten. Luar biasa."
Kian merobek kertas itu.
"Selamat, Ren. Kau diterima di Faksi Golden Key."
"Tunggu," Ren tampak bingung. "Faksi apa? Dan apa tugas saya?"
"Tugasmu sederhana," kata Sura, menepuk bahu Ren yang kurus. "Kau akan menjadi Arsitek Kebenaran kami. Jika kami butuh surat izin keluar kota? Kau buatkan. Jika kami butuh surat perintah penggeledahan palsu untuk menakut-nakuti musuh? Kau lukiskan."
"Dan sebagai imbalannya," tambah Kian, "Beasiswamu aman. Uang saku bulanan setara gaji dosen. Dan yang paling penting... kau akan mendapatkan kembali harga dirimu. Karyamu akan mengubah nasib orang, bukan cuma jadi pajangan dinding."
Ren menatap tangannya yang bernoda tinta. Seumur hidup, dia diajarkan bahwa meniru itu dosa. Bahwa bakatnya adalah aib. Tapi dua orang ini... mereka melihat bakatnya sebagai senjata.
"Satu syarat," kata Ren pelan.
"Katakan," jawab Kian.
"Saya butuh tinta kualitas terbaik. Tinta cumi-cumi impor dari Utara. Tinta sekolah ini terlalu encer, merusak ritme tulisanku."
Kian tertawa lepas. "Kau akan mendapatkan satu tong tinta cumi-cumi kalau kau mau. Sepakat?"
Ren tersenyum malu-malu. Dia menjabat tangan Kian.
"Sepakat."
Saat mereka berjalan keluar dari studio seni, Sura merasa tim mereka semakin solid.
"Kita punya Uang (Kau), Otot/Aksi (Aku), Logistik (Lila), dan sekarang Pemalsu (Ren)," hitung Sura. "Apa selanjutnya?"
"Selanjutnya," kata Kian, matanya menatap lurus ke arah Gedung Administrasi Pusat di kejauhan. "Kita uji mainan baru kita."
Kian mengeluarkan sebuah dokumen dari saku jasnya. Itu adalah formulir pendaftaran Turnamen Debat Tahunan.
"Pendaftaran sudah ditutup kemarin," kata Sura. "Kita terlambat."
"Tidak kalau Ren bisa mengubah tanggal cap pos di formulir ini menjadi 'kemarin'," Kian menyeringai.
"Kenapa kau ingin ikut Turnamen Debat?" tanya Sura heran. "Itu acara membosankan."
"Karena hadiah utamanya bukan piala, Sura," jelas Kian. "Pemenang Turnamen Debat mendapat hak istimewa untuk makan malam pribadi dengan Raja saat kunjungan kenegaraan bulan depan."
Mata Sura membulat. Akses langsung ke Raja.
"Kau ingin memanipulasi Raja?" bisik Sura.
"Aku ingin memperkenalkan diri," koreksi Kian. "Sudah saatnya Golden Key keluar dari bayang-bayang sekolah dan bermain di panggung nasional."
Sura menggelengkan kepala, takjub dengan ambisi mitranya itu.
"Kau benar-benar gila, Kian."
"Dan kau menyukainya," balas Kian.
Mereka berjalan beriringan menuruni tangga, siap untuk memalsukan jalan mereka menuju kekuasaan.