“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: jemput dadakan
Di sudut parkiran kampus yang luas itu, sebuah mobil hitam mewah terparkir gagah. Di balik kemudi, Kevin duduk sambil sesekali melirik jam tangannya. Rasa tidak sabar menyelimuti dirinya—padahal ia pria yang tenang dan terbiasa mengendalikan segalanya, tapi semenjak mengenal Alya, rasanya ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia membuka galeri ponselnya, menatap foto gadis itu yang diam-diam ia simpan. Meski usianya sudah tak lagi muda, ia tak bisa membohongi perasaannya: ia benar-benar tertarik pada gadis manis dan polos itu. Tanpa menunggu lebih lama, ia mengetik pesan singkat.
"Nona, aku sudah ada di parkiran kampus."
Ponselku bergetar hebat saat membaca pesan itu. Mataku terbelalak kaget. Astaga... Om ini kenapa sih? Kok harus jemput ke kampus? Nggak tahu aturan banget! Gimana kalau ada yang lihat? Terutama kalau Raka sampai tahu... Rasanya kesal dan cemas bercampur jadi satu. Dengan tangan gemetar, aku membalas ketus.
"Tuan, ada apa menjemput saya di sini?"
Tak butuh waktu lama, pesan balasan masuk dengan nada yang menekan.
"Kamu lupa sesuatu yang harus kita bahas."
Dada terasa sesak. Aku tahu betul apa yang ia maksud. Perjanjian itu... hutang yang belum lunas. Dengan berat hati, aku menjawab lirih.
"Baik Tuan, tunggu sebentar ya."
Aku menoleh ke arah Raka yang masih duduk di sampingku. Hati rasanya tidak enak sekali. Selama ini hampir setiap hari kami pulang bersama, tapi hari ini aku harus pergi dengan orang lain—orang yang bahkan membuatku takut.
"Ka... gue duluan ya," ucapku buru-buru sambil membereskan barang.
Raka menatapku heran, bangkit berdiri. "Mau gue anter sekalian?"
"Enggak usah, Ka! Gue buru-buru banget," jawabku agak tinggi, lalu segera melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Dari kejauhan, Raka hanya berdiri diam menatap punggungku yang menjauh. Ia merasa ada yang aneh, tapi tak bisa berbuat apa-apa selain berbisik pelan, "Hati-hati, Al..."
Langkahku terasa berat saat mendekat. Di sana, mobil Pajero hitam berkilau sudah terparkir gagah, dan sosok Kevin berdiri bersandar di samping pintu, menatapku lekat seolah tak melepaskan pandang sedetik pun.
"Selamat sore, Nona. Gimana hari-harimu?" sapanya tenang, namun matanya menyiratkan perhatian yang tak bisa kusembunyikan.
"Sore, Tuan," jawabku singkat, nada suaraku masih terdengar ketus dan dingin.
Tanpa kukira, ia segera membukakan pintu mobil untukku. Perlakuannya begitu sopan, seolah aku adalah seorang ratu yang harus dilayani sepenuh hati—hal yang sama sekali tak kuharapkan darinya. Aku masuk ke dalam mobil dengan perasaan masih menahan kesal, lalu duduk diam memandang ke depan. Namun aku bisa merasakan tatapannya yang tak lepas dari wajahku.
"Alya, kamu mau makan apa nanti? Kita akan makan malam sebentar lagi, aku sudah menyiapkannya," ucapnya antusias. Perlahan tangannya terulur, hendak mengelus rambutku. Tubuhku langsung merinding seketika. Astaga... Om ini kenapa sih? Kok jadi mesum begini? gerutuku dalam hati, namun aku tetap diam tak bergerak.
"Terserah saja, tuan. Di mana saja boleh," jawabku pasrah.
"Enggak boleh terserah. Kamu suka makanan apa? Bilang saja, nanti akan disiapkan khusus di sana," tegasnya lembut, penuh perhatian.
"Apa saja Tuan, aku sama saja," jawabku pelan.
Sebenarnya Kevin sedang berusaha mendekat perlahan, ingin membuatku nyaman dan menyukainya dengan cara yang tulus—ia tak ingin hubungan ini terasa penuh paksaan. Ia benar-benar berusaha bersikap baik, menjaga dan memanjakanku sebisa mungkin. Hanya saja, karena ia sudah dewasa dan perasaannya begitu kuat, ia sering tak sadar saat refleks tubuhnya sendiri mendekatiku terlalu dekat, membuatku merasa canggung sekaligus takut.
Kamu sedari tadi panggil aku 'Tuan' terus... panggil saja namaku, Kevin. Enggak usah terlalu formal, aku enggak suka," ucapnya pelan tapi tegas.
Idih, maunya banget... Pasti ini cuma cara dia modus lagi tuh, gerutuku dalam hati dengan kesal.
"Baik, Tuan Kevin," jawabku singkat.
Kevin menghela napas kecil, lalu tersenyum miring. "Iya, Kevin saja. Gitu dong, jangan terlalu kaku... Panggil 'sayang' juga boleh kok," tambahnya sambil mengedipkan mata dengan tatapan nakal.
Dalam hatiku langsung mendengus sebal: Nah kan! Pasti beneran modus dari tadi. Males banget sih kelakuan dia.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan megah yang berkilau diterangi lampu-lampu indah. Hotel ini begitu mewah, seolah hanya menjadi milik mereka yang memiliki segalanya. Keindahan tempat ini seharusnya membuat siapa saja terpukau, tapi bagiku justru membuat jantungku berdegup kencang tak karuan.
Ya Tuhan... Apakah Kevin ingin menagih janjinya secepat ini? Wajahku terasa memucat, keringat dingin mulai menetes pelan di pelipis. Ketakutan itu merayap hebat di dada.
"Ayo masuk, Alya," ajaknya lembut, lalu dengan sigap ia menggenggam tanganku dan merangkul bahuku pelan.
"I-iya..." jawabku terbata, pikiran sudah melayang ke mana-mana dengan rasa takut yang mendominasi.
"Kamu kenapa? Tanganmu dingin dan berkeringat begini," tanyanya menyadari getaran pada tubuhku. Aku hanya menelan ludah, berusaha sekuat tenaga menahan rasa gelisah itu agar tak terlihat.
"Ti-tidak apa-apa, Kevin..." jawabku pelan.
Kevin tersenyum tipis seolah mengerti apa yang sedang kurasakan. "Tenang saja, Alya. Kita cuma makan malam bersama di sini, tidak ada yang perlu kau takutkan," ucapnya meyakinkan.
Aku langsung menunduk malu pada diriku sendiri. Duh, pikiran aku ini kenapa melenceng terus ya? Cuma diajak makan malam di hotel aja udah mikir yang aneh-aneh. Mana malu banget kalau sampai dia tahu apa yang aku pikirin tadi.
Di dalam, meja makan sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan lezat yang tersaji. Kevin memesan berbagai makanan yang menurutnya mungkin kusukai. Perlahan, rasa tegang itu mulai mencair sedikit demi sedikit saat kami mulai menikmati makan malam itu bersama.
"Alya, ngomong-ngomong... kamu sudah tidak bekerja lagi sama Mami Feriska kan?" tanya Kevin santai, padahal dia tahu betul dialah yang membebaskanku dari sana.
"Iya... aku sudah berhenti," jawabku datar, tak ingin terlalu banyak membahas masa lalu itu.
"Baguslah. Kamu memang tidak seharusnya bekerja di tempat seperti itu," ucapnya tegas.
"Iya, Tuan..." jawabku singkat lagi.
"Ngomong-ngomong, kamu kan jurusan Manajemen ya?" tanyanya lagi.
"Iya, Tuan. Kok Tuan bisa tahu?" tanyaku kaget.
"Saya butuh sekretaris pribadi untuk sementara waktu. Dion yang lama sedang cuti. Kamu mau tidak?"
Ih, apaan sih dia?! Kalau aku jadi sekretarisnya, nanti makin bebas dia modus ke aku terus dalam hati, gerutuku dalam hati.
"Nanti saya pikirkan dulu ya, Tuan," jawabku berusaha menunda.
"Terima saja dulu, Alya. Ini demi kebaikanmu juga," bujuknya lembut.
Padahal dalam hati aku benar-benar bimbang. Sebenarnya aku sangat membutuhkan pekerjaan ini—apalagi biaya perawatan Ibu nanti pasti tidak sedikit. Tapi bayangan harus bekerja setiap hari berdekatan dengannya membuatku cemas setengah mati. Harus aku terima atau tidak ya? Aku benar-benar bingung sekali...
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa begitu canggung. Malam yang sejuk seolah tak mampu meredakan jantungku yang terus berdegup tak karuan. Rasa takut yang masih tersisa kadang membuat pikiranku berputar liar, membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Namun tiba-tiba, genggaman tangannya yang hangat menyadarkanku.
"Aku tidak terburu-buru menuntut apa pun darimu, Alya. Tenang saja," ucapnya lembut, sambil meremas pelan tanganku dengan penuh kelembutan.
"I-iya, Tuan... terima kasih atas pengertian Tuan," jawabku pelan dengan suara yang masih terdengar rendah.
Kevin terkekeh pelan melihat sikapku yang masih kaku. "Kamu ini kaku sekali. Kamu takut sama aku ya? Apa wajahku ini terlihat menyeramkan?" tanyanya sambil menoleh ke arah kaca jendela mobil seolah memeriksa penampilannya sendiri.
"Tidak, Tuan..." elakku cepat.
"Tuan terus... Panggil Kevin saja, Alya," tegurnya halus tapi tegas.
"I-iya... Kevin," ucapku terbata, suara masih terasa bergetar di bibir.
Di dalam hati: Muka Tuan memang terlihat gagah dan tidak menyeramkan... tapi sikap dan perlakuan Tuan itulah yang kadang bikin aku takut dan salah tingkah sendiri.
Saat aku hendak membuka pintu mobil untuk turun, tiba-tiba tangan kekar itu menarik pergelangan tanganku pelan namun pasti. Langkahku terhenti seketika.
"Alya... boleh aku minta sesuatu?" suaranya terdengar berbeda, lebih dalam dan penuh perasaan.
"I-iya... apa, Tuan?" hatiku mulai berdebar kencang, rasa curiga bercampur takut kembali menyelinap.
Tanpa diduga, tubuhnya mendekat, lalu kedua lengannya memelukku erat namun lembut di dalam ruang mobil yang hening itu. "Aku menyukaimu, gadis cantik," ucapnya lantang, jujur, dan tak lagi ragu.
Wajahku seketika memerah padam, persis seperti kepiting rebus yang terbakar panas. Aku tak sangka kalimat itu akan meluncur begitu cepat dari bibirnya. Belum sempat aku mencerna perasaan itu, wajahnya perlahan mendekat, dan bibirnya mendarat lembut di bibirku.
Berbeda dengan kejadian kemarin yang terasa kasar dan tak terkendali, kali ini sentuhannya begitu lembut, penuh rasa hormat, dan seolah mengalir dari lubuk hatinya yang paling dalam. Perlahan, rasa takut yang selama ini menyelimutiku luruh perlahan. Aku yang tadinya kaku dan ingin menjauh, kini tanpa sadar mulai memejamkan mata, merasakan kehangatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Aneh... padahal rasanya baru kemarin aku memusuhinya, namun kini ada rasa nyaman yang perlahan merayap masuk. Kehangatan itu membuatku lupa sejenak pada segala beban dan ketakutan yang ada.
Setelah beberapa saat, ia melepaskan pelukannya perlahan, menatapku lekat dengan senyum tipis yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku pun segera berpamitan dengan perasaan yang sungguh berantakan—antara malu, bingung, dan sesuatu yang baru saja mulai tumbuh di hati.