Sebuah musibah merenggut keluarganya dan dia ditolong oleh seorang pendekar yang pernah jaya dimasanya. Yuk kita sama sama melihat jalan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tio Bukilsum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nona Cantik
Ketika Tio Buki telah sampai didepan kereta itu, dia melihat seorang gadis begitu cantik sedang ketakutan. Melihat itu Tio Buki jadi merasa kasihan, lalu ia berkata.
"Nona, jangan takut. Mereka para perampok sudah aku usir. Sekarang kau sudah aman. Bukalah matamu" Ucapnya.
Perlahan lahan Nona itu mengangkat kepalanya, dua pandangan saling bertemu. Tio Buki terpesona melihat gadis yang ada didepan matanya begitu anggun, bagaikan seorang dewi yang jatuh dari langit.
Begitupun juga sebaliknya Nona itu juga begitu terpesona melihat ketampanan Pemuda yang ada didepannya.
Deg!
Jantungnya berdegup kencang, ada rasa lain yang mengalir masuk Kehatinya. Entah apa itu, dia belum tau dan belum memahaminya.
"Kau siapakah?" Tanya Nona itu.
"Aku, iya aku!" Jawabnya asal saja.
"Iya, aku tau. Tapi, kau punya sebuah nama kan? Kalau punya, aku ingin tau!" Tanya Nona itu penasaran.
"Hehehe. Baiklah, dengar baik baik ya. Ingat jangan pernah lupa, kalau lupa. Yah, ngak ingat dong!" Jawab Tio Buki cengengesan.
"Aku Tio Buki, bergelar pendekar ungu" Ucapnya, apakah kau sudah mengingatnya?..
"Hahaha. Lucu, lucu. Aku sudah mengingatnya kok. Tapi, aku lihat kok wajah dan kulitmu tidak berwarna ungu. Aneh!" Jawab Jia Lee menutup mulutnya karena ingin ketawa.
"Hahaha. Iya, iya, benar. Tapi bukan itu, ada yang lain yang lebih istimewa dari aku" Ucap Tio Buki Tertawa senang, karena lawannya bicara mau diajak bicara, tidak sombong dan kaku.
"Apa itu?"
"Rahasia dong!"
"Benarkah, yasudah" Ucap Jia Lee berubah wajahnya.
"Hehehe" Tio Buki cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku Jia Lee. Panggil aja Jia" Ucap Nona itu memperkenalkan dirinya.
"Iya, terimakasih. Aku mengingatnya. Namamu sungguh sangat indah, indah untuk dilihat, indah dipandang, seperti wajah dan seyummu bagaikan Dewi yang jatuh dari langit" Ucap Tio Buki.
"Hahaha!" Akhirnya Nona Jia Lee tidak bisa lagi menahan tawanya, dia tertawa lepas dan bebas.
"Kenapa kau justru tertawa, apa ada yang aneh dengan perkataan ku barusan?" Tanya Tio Buki.
"Hahaha. Kau rada rada aneh, unik orangnya. Terimakasih, baru kali ini ada orang yang bisa membuatku tertawa lepas dan besar" Jawab Jia Lee.
"Ah, masa iya sih? Oh ya! Ngomong ngomong kenapa kau berurusan dengan orang-orang itu?" Tanya Tio Buki sembari menunjuk kearah dua mayat yang tergeletak bernasib buruk itu.
Jia Lee melihat kearah ujung tangan Tio Buki, dalam seketika dia tersentak kaget dan menutup mulutnya.
"Kau apakan kedua orang itu TIo?" Tanya Jia Jia Lee melihat dua mayat bernasib begitu mengenaskan.
"Biasa, itu adalah akhir hidup bagi mereka. Itu pantas buat mereka" Jawab Tio Buki.
"Tapi, paman pengawal aku. Dia juga sudah mati, bagaimana bisa aku pulang. Aku takut Tio" Ucap Jia Lee sedih.
"Kenapa kau takut, kan ada aku yang akan mengantar kamu pulang. Dijamin beres deh sampai ke rumah" Katanya.
"Benarkah Tio, terimakasih ya!" Ucapnya tersenyum senang. "Tapi aku ngak punya uang" Ucapnya lagi.
"Gratis kok, bayar dirumahnya pun bisa. Hahaha" Tio Buki tertawa. "Yuk, aku antar kerumahmu"
Kemudian Tio Buki mengambil sebuah kuda, lalu di naik ke atasnya dan menatap kearah Jia Lee.
"Ayo naik, biar cepat sampai kerumahmu. Apakah kamu bisa mengendarai kuda?" Tanya Tio Buki menatap kearah Jia Lee.
"Tidak, aku tidak pernah mengendarai kuda. Aku takut jatuh" Jawab Jia Lee.
"Kalau begitu naik kesini"
"Iya!"
Bersambung ke episode selanjutnya...