NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Ibu Kota

“Kau sudah kembali, ya Tuhan aku benar-benar ketakutan, sudah beberapa hari Yelak.” Pemuda Dekekuoi yang menghabisi keluarga Ramon itu sudah kembali ke keluarganya.

Anaknya Lira berlari menghampiri papanya, Lira yang jika dilihat mata semua orang akan menyangka umurnya 10 tahun tapi kita tak pernah benar-benar tahu umurnya berapa. Karena bagi Jagabaya Kasipin dan Dekekuoi, umur selalu menjadi misteri.

“Papa sudah kembali, aku sangat ketakutan Papa.”

“Guanya seru nggak? Kalau malam ada binatang apa?” Papanya menggendong Lira, sementara Nyonya Yelak dan beberapa kerabat saling memeluk semua orang yang baru pulang.

“Jangan terlalu khawatir, ini kan sudah penangkapan ke sekian kali juga, kita akan selalu pulang dengan aman.” Yelak dan semua Dekekuoi sudah di gua tempat persembunyian mereka selama beberapa hari ini.

“Tapi aku mendengar kabar dari Gracula, dia pulang dengan menirukan suaramu, bukankah para Kasipin itu menemukan kalian?” Nyonya Yelak bertanya dengan wajah khawatir sementara Lira masih berada di pangkuan ayahnya yang terlihat sangat lelah.

“Oh burung Beo itu, ternyata kau melepasnya?” Yelak tak sadar kalau Beo Nias kesayangan istrinya itu mengikuti mereka, burung beo dapat mempelajari suara dari lingkungannya, bukan sekadar mengeluarkan suara bawaan.

Nyonya Yelak lalu meniupkan Sila pada beo itu dan menjadikannya mampu mengenali suara Yelak dan kembali dengan menirukan apa yang Yelak katakan dengan utuh. Meski informasinya tak tersampaikan utuh tapi tetap saja bukan informasi yang sempurna, setidaknya bisa menjadi informasi yang membantu.

“Gracula bukan yang terbaik, tapi dia selalu berusaha sangat baik, aku suka itu. Maka ketika dia mengulang kata-katamu, menyebutkan kalau Kasipin ada di sana, setelahnya dia kabur karena ketakutan, kembali padaku dengan informasi yang setangah, aku dan Lira hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar kau diselamatkan. Dan sekarang kau pulang sayang, untung saja. Tapi, jujur aku punya pertanyaan yang mungkin semua orang juga ingin pertanyakan.

Kemana kita akan pergi sekarang? Kita selalu berkeliling dari desa ke desa dan sekarang gejolak pembantaian terjadi di mana-mana, untuk kita yang tak berpihak itu akan sulit sayang.”

“Kita ada sekitar 20 orang kan? Kita tak bisa tiba-tiba pindah ke desa lain dengan membawa sebanyak orang ini, karena mungkin kita akan dicurigai.

Kita harus pergi ke tempat yang tidak akan dicurigai.”

“Kemana pak?” Rino bertanya, meski sedih karena kehilangan orang yang dia cintai, tapi dia masih punya semangat untuk hidup.

“Kita ke ibu kota.”

Semua orang langsung terdiam, bahkan Lira yang sejak tadi masih berada di samping papanya ikut menatap Yelak dengan wajah bingung, sementara Rino yang paling muda di antara mereka mengerutkan kening karena menurutnya ibu kota justru tempat yang paling berbahaya untuk didatangi saat keadaan sedang kacau seperti ini.

“Ibu kota?” Rino bertanya memastikan.

Yelak mengangguk. “Ibu kota.”

“Tapi bukankah di sana juga banyak tentara?” seorang Dekekuoi bertanya dengan suara pelan, ia masih teringat bagaimana mereka baru saja melarikan diri peperangan itu, meski akhirnya para tentara menjadi senjata mereka, terpaksa, karena terpaksa. Dekekuoi selalu takut dengan karma, meski bagi keyakinan mereka namanya bukan karma, tapi Sedba yang artinya pembalasann tidak menenal sebab, jika kau membunuh orang, maka kau kelak akan dibunuh, tak peduli alasanmu membunuh mungkin untuk membela diri. Tetap saja kau akan dikejar Sedba sampai terbayar lunas.

Banyak prinsip Dekekuoi yang dipegang sangat kuat.

“Banyak,” jawab Yelak tenang. “Bahkan mungkin lebih banyak daripada di desa.” Jawaban itu justru membuat semua orang semakin bingung karena jika mereka tahu Ibu kota dipenuhi tentara, kenapa harus pergi ke sana?

Yelak memandang satu per satu keluarganya. Ia tahu keputusan ini akan terdengar gila, tetapi mereka tidak memiliki banyak pilihan. Mereka tidak bisa terus bersembunyi di desa-desa kecil karena selama ini cara hidup mereka memang seperti itu. Datang sebagai keluarga biasa, tinggal beberapa tahun, bekerja seperti manusia biasa, kemudian pergi sebelum ada orang yang mulai menyadari bahwa wajah mereka tidak berubah. Cara itu berhasil selama ratusan tahun karena jumlah mereka sedikit dan mereka selalu berpindah sebelum menjadi pusat perhatian.

Namun sekarang keadaan berbeda. Penangkapan terjadi di banyak tempat, orang-orang mulai saling mencurigai, dan nama PKI menjadi alasan bagi banyak orang untuk mempertanyakan siapa pun yang dianggap tidak biasa. Dalam situasi seperti itu, dua puluh orang yang datang bersamaan ke sebuah desa justru akan lebih mudah terlihat daripada dua puluh orang yang hidup di tengah keramaian kota.

“Kalian semua terlalu berpikir bahwa tempat ramai berarti tempat berbahaya,” kata Yelak. “Padahal bagi kita, tempat ramai justru bisa menjadi tempat terbaik untuk menghilang.”

“Tapi ibu kota sedang kacau,” jawab salah satu Dekekuoi.

“Aku tahu.”

“Pemeriksaan ada di mana-mana.”   Dekekuoi yang lain juga tidak setuju.

“Aku juga tahu.”

“Lalu kenapa?”

Yelak menarik napas panjang.

“Karena di desa, satu orang asing bisa menjadi berita. Di Ibu kota, satu keluarga baru hanyalah satu keluarga baru.”

Semua orang terdiam.

Yelak kemudian menunjuk jumlah mereka.

“Kita bukan lima orang. Kita dua puluh orang. Kalau kita masuk ke sebuah desa kecil, berapa lama sampai orang-orang mulai bertanya siapa kita? Dari mana kita datang? Kenapa keluarga kita sebanyak ini? Kenapa anak-anak kita tidak pernah bertambah usia? Kenapa ada orang yang wajahnya sama dengan orang yang pernah tinggal di sana puluhan tahun lalu?”

Lira yang mendengar itu langsung memegang tangan papanya. Yelak tersenyum kepadanya.

“Di desa, manusia memiliki waktu untuk mengingat wajah.” Ia kemudian memandang seluruh keluarganya. “Di ibu kota, manusia bahkan belum tentu mengingat wajah tetangganya sendiri.

Di ibu kota apapun bergerak terlalu cepat, setiap orang terlalu sibuk untuk memperhatikan satu sama lain.

Ibu kota sedang menjadi pusat dari gejolak politik yang luar biasa besar. Setelah peristiwa 30 September dan perebutan kendali atas sejumlah titik strategis, keadaan berubah dengan cepat. Tentara mengambil kendali atas ibu kota dan suasana politik menjadi sangat tegang.

Bagi manusia, keadaan itu adalah bencana, dan bagi kita keadaan itu juga berbahaya, tetapi aku melihat sesuatu yang berbeda, ketika semua orang memperhatikan sesuatu yang besar, hal-hal kecil justru lebih mudah terlewatkan."

“Kita tidak akan tinggal di pusat kota,” katanya.

“Lalu di mana?”

“Kita cari tempat yang penuh orang biasa.”

“Pasar?”

“Mungkin.”

“Pelabuhan?”

“Bisa.”

“Permukiman?”

“Lebih baik.”

Mereka tidak membutuhkan rumah besar, tidak membutuhkan tanah luas, dan tidak membutuhkan tempat yang nyaman.

Mereka hanya membutuhkan tempat di mana dua puluh orang bisa hidup tanpa membuat orang lain bertanya terlalu banyak.

Mereka bisa menjadi keluarga pedagang, pekerja, guru, buruh, atau siapa pun yang diperlukan untuk menyatu dengan kehidupan manusia tanpa menarik perhatian.

Selama mereka tidak menjadi sesuatu yang membuat manusia mengingat nama mereka.

Yelak tahu, selama ini kesalahan terbesar mereka bukan karena tinggal terlalu lama di satu tempat. Kesalahan terbesar mereka adalah terlalu percaya bahwa tempat kecil akan selalu lebih aman.

Padahal tempat kecil membuat semua orang saling mengenal.

Dan ketika semua orang saling mengenal, seorang Dekekuoi tidak bisa bersembunyi selamanya.

Mereka memiliki wajah yang sama, itulah kutukan sekaligus kelebihan mereka, mereka bisa mengubah nama, mengubah pekerjaan, mengubah pakaian, mengubah cara bicara, bahkan membuat manusia percaya bahwa mereka sudah mati, tetapi wajah mereka tidak bisa berubah.

Karena itu, semakin banyak orang yang mengenal mereka, semakin besar kemungkinan seseorang akan menyadari sesuatu.

“Kalau begitu kita harus berpencar?” Rino bertanya.

Yelak mengangguk.

“Tidak langsung, kita masuk bersama, untuk awal.”

Setelah itu mereka akan dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, ada keluarga yang terdiri dari empat orang, ada yang terdiri dari tiga orang, beberapa orang menjadi pasangan suami istri, yang lain menjadi saudara, ada yang berperan sebagai paman, dan ada pula yang menjadi keponakan, masing-masing kelompok akan memiliki cerita sendiri, tanpa boleh ada cerita yang sama, tanpa boleh ada satu nama yang terus disebut, dan tanpa boleh ada satu tempat yang terus didatangi, karena mereka harus hidup seperti manusia.

Itulah satu-satunya cara agar mereka tidak ditemukan.

“Dan kalau tentara bertanya?” tanya seorang perempuan tua.

“Kita jawab sesuai identitas baru.”

“Kalau mereka bertanya asal kita?”

“Kita berasal dari kota lain.”

“Kalau mereka bertanya keluarga?”

“Kita keluarga.”

“Kalau mereka bertanya pekerjaan?”

“Kita bekerja.”

Jawaban Yelak begitu sederhana hingga membuat beberapa orang tersenyum, namun mereka semua tahu kehidupan setelah ini tidak akan sederhana, mereka harus lebih berhati-hati daripada sebelumnya karena tidak ada lagi kebebasan untuk berjalan malam-malam maupun latihan sihir di tempat terbuka.

Lira mengangkat tangannya.

“Papa.”

“Ya?”

“Kalau aku tidak sengaja menggunakan sihir bagaimana?”

Yelak memandang anaknya.

“Jangan takut.”

“Tapi bagaimana kalau ketahuan?”

“Kita akan pergi.”

“Lagi?”

Yelak tertawa kecil.

“Lagi.”

Lira ikut tersenyum. Itulah kehidupan mereka, pergi, datang, menyamar, lalu pergi lagi, tanpa pernah benar-benar memiliki rumah maupun tanah.

Tidak pernah benar-benar bisa mengatakan bahwa mereka berasal dari satu tempat.

Namun bagi Dekekuoi, rumah bukanlah sebuah bangunan.

Rumah adalah orang-orang yang masih hidup bersama mereka.

Selama mereka masih bersama, mereka masih memiliki tempat untuk pulang.

Perjalanan menuju ibu kota tidak dilakukan dalam satu kelompok besar. Mereka membaginya menjadi beberapa rombongan agar tidak terlihat seperti satu keluarga besar yang sedang melarikan diri. Beberapa orang berangkat lebih dahulu, kemudian yang lain menyusul. Mereka menggunakan kendaraan umum ketika memungkinkan dan berjalan ketika keadaan memaksa. Mereka membawa barang sesedikit mungkin karena semakin banyak barang yang dibawa, semakin banyak pula alasan yang harus diberikan ketika diperiksa.

Beberapa pakaian lama dibuang, beberapa benda pusaka disembunyikan, tongkat sihir mereka tidak pernah dikeluarkan, bahkan Sila ditekan serendah mungkin.

Lira duduk di antara dua orang dewasa ketika kendaraan mereka mulai meninggalkan tempat persembunyian. Ia memandangi pepohonan yang perlahan menjauh.

“Papa.”

“Hmm?”

“Kita akan kembali?”

Yelak tidak langsung menjawab, ia melihat ke belakang.

Gua yang selama beberapa hari menjadi tempat mereka berlindung perlahan menghilang dari pandangan.

“Entahlah.”

Jawaban itu membuat Lira terdiam.

“Tapi kenapa Papa bilang entahlah?”

“Karena seorang Dekekuoi tidak boleh terlalu mencintai tempat.”

“Kenapa?”

“Karena tempat bisa hilang.”

Lira tidak mengerti, namun suatu hari nanti ia akan mengerti, sementara ibu kota menyambut mereka dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan.

Tetapi dengan suara kendaraan, manusia yang berjalan cepat, pedagang yang berteriak menawarkan dagangan, orang-orang yang membawa berita dari berbagai tempat, dan wajah-wajah yang tidak mereka kenal.

Bagi manusia lain, kota itu terasa menakutkan, tetapi bagi Dekekuoi, keramaian itu justru seperti selimut karena di dalamnya mereka bisa bersembunyi tanpa ada seorang pun yang langsung mengetahui siapa mereka.

Tidak seorang pun tahu bahwa beberapa orang yang berjalan di antara kerumunan itu telah hidup jauh lebih lama daripada yang terlihat.

Tidak seorang pun tahu bahwa perempuan yang tampak seperti berusia dua puluh tahun sebenarnya telah melihat beberapa generasi manusia tumbuh dan mati.

Tidak seorang pun tahu bahwa anak kecil yang berlari di samping ayahnya mungkin telah hidup lebih lama daripada ayah orang yang sedang memandanginya.

Dan tidak seorang pun tahu bahwa di antara kerumunan itu ada sekelompok penyihir yang sedang melarikan diri dari para pemburu.

Mereka tidak mencari kehidupan mewah.

Mereka hanya mencari tempat untuk bertahan.

Yelak memilih sebuah kawasan yang tidak terlalu dekat dengan pusat pemerintahan dan tidak terlalu dekat dengan tempat-tempat yang menjadi pusat perhatian. Ia tidak ingin tinggal di tempat yang terlalu sepi, tetapi juga tidak ingin berada di tengah kawasan yang setiap hari didatangi tentara.

Mereka membutuhkan keramaian, namun mereka juga membutuhkan ruang untuk bernapas, sehingga satu per satu mereka mulai mendapatkan identitas baru.

Ada yang menjadi pedagang, ada yang membantu di toko, ada yang bekerja sebagai guru, dan ada yang berpura-pura sebagai saudara jauh.

Dan beberapa Dekekuoi yang masih muda mulai belajar berbicara dengan gaya manusia seusia mereka.

Rino menjadi salah satu yang paling cepat beradaptasi, ia senang melihat kendaraan, senang melihat toko, dan senang mendengar suara manusia yang tidak dikenalnya.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari bersembunyi di gua, ia merasa dunia masih sangat luas.

Namun Yelak terus mengingatkan mereka.

“Jangan terlalu senang.”

Rino menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena kita belum aman.”

“Bukankah kita sudah sampai ibu kota?”

“Itulah masalahnya.”

Yelak memandang kerumunan manusia di jalan.

“Kita tidak tahu siapa yang sedang memperhatikan.”

Kalimat itu membuat Rino diam. Mereka semua tahu siapa yang paling mereka takuti, Kasipin.

Para pemburu itu tidak membutuhkan alasan untuk mencurigai mereka, mereka hanya membutuhkan satu kesalahan, satu tanda, satu penggunaan Sila, atau satu wajah yang dianggap pernah mereka lihat, karena itu kehidupan mereka di Ibu kota harus benar-benar berbeda.

Dan yang paling penting, tidak boleh ada satu pun yang menyebut nama Dekekuoi di depan manusia.

Malam pertama mereka di ibu kota, Yelak mengumpulkan semuanya dan mereka duduk dalam sebuah ruangan sempit dalam keheningan tanpa ada yang berbicara, sementara Yelak menatap wajah mereka satu per satu.

“Kita tidak akan melakukan apa pun yang menarik perhatian.”

Semua mengangguk.

“Kita tidak akan menggunakan Sihir kecuali untuk keadaan darurat.”

Mereka kembali mengangguk.

“Kita tidak akan membalas manusia yang menyakiti kita hanya karena mereka manusia.”

Kali ini beberapa orang terdiam.

Yelak melanjutkan.

“Karena kita sudah terlalu lama hidup untuk menjadi seperti mereka yang memburu kita.”

Nyonya Yelak menggenggam tangan suaminya. Lira duduk di dekat mereka. Rino memperhatikan semua orang.

Mereka akan mencoba menjadi bagian dari kota, menjadi tidak penting, dan menjadi tidak terlihat, menjadi sekadar manusia biasa.

Dan itu adalah alasan sebenarnya mereka memilih ibu kota.

Bukan karena ibu kota lebih aman daripada desa.

Justru karena ibu kota jauh lebih berbahaya.

Malam semakin larut.

Lira sudah tertidur di pangkuan ibunya, Rino duduk di dekat jendela, dan Yelak berdiri di luar rumah kecil yang mereka sewa sambil melihat Ibu kota yang masih hidup meskipun hari sudah malam, dengan lampu-lampu kecil terlihat dari kejauhan.

Suara kendaraan masih terdengar, orang-orang masih berjalan, kota itu tidak tidur, dan Yelak tersenyum tipis.

“Di sini kita akan menghilang.” Nyonya Yelak berdiri di sampingnya.

“Semoga.”

Yelak menoleh.

“Bukan semoga.”

Ia memandang jalanan.

“Kita harus berhasil.”

Karena untuk Dekekuoi, pindah ke ibu kota bukan sekadar pindah tempat tinggal.

Itu adalah awal dari kehidupan baru.

Dan sebuah aturan yang harus mereka pegang lebih kuat daripada sebelumnya.

Jangan pernah biarkan manusia mengetahui siapa mereka sebenarnya.

1
Vie Vie Sue
/Good/
Vie Vie Sue: iya. sama2 kk. aku masih disini cuma nungguin karya² kk. sukses selalu ya
total 2 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!