NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 010

Api yang Tersembunyi

"Siapa yang melakukannya?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Di pesta keluarga Halim, orang-orang yang tadi tertawa kecil mendadak menemukan minuman mereka sangat menarik untuk ditatap. Tamara berdiri dengan gelas kosong di tangan, wajahnya masih memasang ekspresi terkejut yang semakin lama semakin terlihat palsu.

Reynard tidak menaikkan suara. Justru karena itu, pertanyaannya terasa lebih berbahaya.

Jason muncul di samping mereka, senyum biasanya hilang. Natasha berdiri di sisi Seraphina, mata tajamnya sudah mengunci Tamara.

"Tamara," kata Natasha manis. "Kau mau menjelaskan sendiri atau perlu kubantu dengan versi yang lebih memalukan?"

Tamara memucat. "Aku sudah bilang tidak sengaja."

"Tidak sengaja melangkah mendekat, tidak sengaja memiringkan gelas, dan tidak sengaja tersenyum setelahnya?" Natasha bertepuk pelan sekali. "Bakatmu luar biasa."

Beberapa orang menahan napas.

Reynard akhirnya menatap Tamara. "Minta maaf."

Tamara menggigit bibir. "Aku..."

"Sekarang."

Satu kata itu cukup membuat punggung Tamara menegang.

Ia menoleh ke sekitar, berharap menemukan seseorang yang akan membelanya. Namun ini acara Halim, Jason berdiri di sisi Seraphina, dan Reynard Hartono baru saja menandai posisinya di depan seluruh ruangan. Tidak ada yang cukup bodoh untuk menantang itu demi Tamara.

Tamara menunduk kaku. "Maaf, Seraphina. Aku tidak sengaja."

Seraphina memegang bagian depan jas Reynard agar tidak melorot. "Kalau lain kali kau ingin menjatuhkan wine, pastikan tanganmu tidak tersenyum lebih dulu."

Natasha tertawa singkat.

Wajah Tamara memerah.

Jason mengangkat tangan kepada staf. "Antar Nona Tamara ke ruang ganti. Setelah itu, pastikan mobilnya siap. Sepertinya dia perlu pulang untuk berlatih memegang gelas."

Tamara pergi dengan wajah terbakar.

Malam itu, berita kecil menyebar lebih cepat daripada musik di halaman. Tidak ada yang menulis di media sosial secara terang-terangan, tetapi semua orang tahu: Seraphina Lim, anak yang selama ini disebut aib keluarga, baru saja dipakaikan jas oleh Reynard Hartono di depan lingkaran Jakarta.

Seraphina sendiri lebih sibuk menahan jas itu tetap di tempatnya.

"Aku bisa pulang sekarang," katanya kepada Reynard.

"Bisa."

"Tapi?"

"Tapi gaunmu basah wine. Mobilku lebih dekat daripada mobil siapa pun yang ingin pura-pura menawarkan bantuan."

Jason mengangkat kedua tangan. "Aku tersinggung, tapi juga setuju."

Natasha menatap Seraphina. "Besok kita belanja. Kau butuh gaun yang kalau kena wine tetap terlihat mahal."

"Aku tidak yakin itu kebutuhan."

"Itu kebutuhan perang, Sera sayang."

Seraphina menatap perempuan itu. "Kita baru kenal."

"Dan aku sudah memutuskan kau tidak membosankan."

Untuk kedua kalinya malam itu, Seraphina ingin tertawa.

Reynard melihatnya dari samping. "Ayo."

Kata itu pelan, tidak seperti perintah di restoran Wijaya. Lebih seperti ajakan yang tahu ia bisa ditolak.

Seraphina mengangguk.

Sejak malam itu, Reynard mulai muncul dalam hidup Seraphina dengan alasan yang selalu bisa dibantah, tetapi sulit ditolak.

Senin pagi, Hartono Group mengirim jadwal technical meeting. Reynard hadir sendiri, duduk di ruang meeting Astoria yang kecil tanpa menunjukkan satu pun tanda terganggu oleh pendingin ruangan yang terlalu berisik. Ia mendengar presentasi tim Seraphina dengan serius, bertanya tentang keamanan data, lalu menambahkan dua risiko infrastruktur yang bahkan belum sempat dibahas analisnya.

"Kau membaca semua dokumen?" tanya Seraphina setelah rapat selesai.

"Ya."

"Seratus dua belas halaman?"

"Seratus tiga belas. Halaman lampiranmu salah nomor."

Programmer di belakang Seraphina langsung membuka file dengan panik.

Seraphina menahan senyum. "Kau menyebalkan."

"Aku efisien."

Rabu sore, Kevin mengirim buket mawar merah ke kantor Astoria dengan kartu bertuliskan, Untuk perempuan yang sulit dijinakkan.

Seraphina belum sempat menyuruh staf membuangnya ketika kurir kedua datang membawa kotak lebih besar. Isinya bukan bunga, melainkan dokumen legal berisi peringatan resmi dari firma hukum rekanan Hartono Group kepada pengirim buket yang menggunakan kata bernuansa pelecehan dalam konteks profesional.

Tidak ada nama Reynard di dokumen itu.

Namun di pojok kartu pengantar, tulisan tangannya muncul.

Buang bunganya. Jangan sentuh durinya.

Seraphina menatap tulisan itu lama, lalu menyuruh staf membuang seluruh buket tanpa membuka pita.

Sore yang sama, Stanley Oei datang ke ruang kerja Reynard dengan map tipis di tangan.

Pria berkacamata itu tidak pernah mengetuk lebih dari dua kali. Ia masuk setelah Reynard memberi izin, lalu meletakkan map di atas meja tanpa banyak kata.

"Orang Wijaya mulai bergerak, Pak Rey."

Reynard menandatangani satu dokumen terakhir sebelum mengangkat kepala. "Kevin?"

"Iya. Dua orang dari lingkaran Club Lumine terlihat menanyakan jadwal Bu Sera di gedung Astoria. Mereka belum mendekat, hanya mengamati."

Reynard membuka map. Di dalamnya ada foto lobi gedung Astoria, foto dua laki-laki di area parkir, dan tangkapan layar pesan yang dikirim melalui nomor bayaran.

Wajahnya tidak berubah.

Justru karena itu, Stanley berdiri lebih tegak.

"Jangan biarkan mereka masuk ke gedung," kata Reynard.

"Security Astoria belum tahu?"

"Jangan lewat Astoria dulu. Sera tidak suka merasa diawasi."

Stanley menahan komentar. Ia sudah cukup lama bekerja untuk Reynard untuk tahu bahwa kalimat itu berarti perintahnya lebih sulit: melindungi seseorang tanpa membuat orang itu merasa dikurung.

"Saya akan tempatkan orang di area publik. Jarak aman. Tidak ada kontak langsung kecuali ada ancaman fisik."

"Tambah satu mobil di sekitar SCBD saat dia pulang malam."

"Baik."

Reynard menutup map. "Dan cari tahu siapa yang memberi Kevin jadwalnya."

"Ada kemungkinan dari staf Lim."

Mata Reynard menjadi lebih dingin. "Pastikan."

Stanley mengangguk. "Kalau Pak Kevin mendekat langsung?"

Reynard bersandar ke kursi. Di belakangnya, kaca ruang kerja memantulkan langit Jakarta yang mulai gelap.

"Peringatkan sekali."

"Setelah itu?"

"Setelah itu dia akan belajar bahwa nama Wijaya tidak cukup panjang untuk menutup semua kesalahannya."

Stanley tidak bertanya lagi.

Ketika ia keluar, Reynard mengambil ponsel. Jarinya berhenti di ruang chat Seraphina. Ia bisa menulis banyak hal: jangan pulang sendiri, jangan terima bunga, ada orang mengawasimu. Namun ia tahu Seraphina. Kalau ia merasa diatur, ia akan melangkah lebih jauh hanya untuk membuktikan dirinya tidak takut.

Akhirnya ia hanya mengirim satu pesan.

Makan malam sudah?

Balasan Seraphina datang lima menit kemudian.

Kau sekarang bagian dari aplikasi pengingat makan?

Sudut bibir Reynard bergerak tipis.

Kalau aplikasinya berguna, pakai saja.

Jumat malam, mereka bicara lewat telepon sampai hampir tengah malam.

Awalnya tentang pekerjaan. Reynard bertanya mengapa Astoria memilih arsitektur modular untuk sistem analitiknya. Seraphina menjelaskan karena infrastruktur kota Indonesia terlalu beragam untuk satu model tunggal. Dari sana percakapan bergeser ke pelabuhan, jalan tol, keamanan data, lalu ke hal yang lebih sunyi.

"Kau selalu terdengar seperti sedang menyiapkan perang," kata Reynard.

Seraphina duduk di lantai apartemennya, punggung bersandar pada sofa. Laptop terbuka di meja, layar penuh kode yang belum ia selesaikan. Di luar jendela, SCBD menyala seperti mesin yang tidak pernah tidur.

"Bukankah begitu cara bertahan di Jakarta?"

"Tidak semua orang sadar mereka sedang berperang."

"Kau sadar?"

"Sejak kecil."

Nada Reynard berubah sedikit. Bukan sedih. Lebih seperti pintu yang dibuka satu celah lalu segera ditahan.

"Sulit menjadi anak tunggal Hartono?" tanya Seraphina.

Di seberang sana, hening.

"Sulit menjadi orang yang semua orang anggap sudah memiliki segalanya," jawab Reynard akhirnya. "Kau tidak diberi hak untuk lelah."

Seraphina menurunkan pandangan ke tangannya.

Kalimat itu terlalu dekat dengan sesuatu yang ia kenal. Di rumah Lim, ia tidak diberi hak untuk terluka karena dianggap datang membawa masalah. Di luar, ia tidak diberi hak untuk lemah karena harus membuktikan ia bukan sekadar label.

"Di Surabaya," katanya pelan, "kalau aku lelah, Mama Kartika menyuruhku makan dulu. Setelah itu baru boleh menangis atau marah."

"Metode yang masuk akal."

"Kau juga begitu. Menyuruh orang makan seperti dokter galak."

"Aku lebih tampan daripada dokter galak."

Seraphina terdiam satu detik.

Lalu ia tertawa.

Tawa itu keluar begitu saja, ringan dan pendek, tetapi cukup membuat ruangan apartemennya terasa berbeda. Ia bahkan menutup mulut dengan punggung tangan karena terkejut pada dirinya sendiri.

Di seberang telepon, Reynard diam.

"Apa?" tanya Seraphina, masih menyisakan senyum.

Reynard tidak langsung menjawab. Ketika suaranya kembali, nadanya lebih rendah daripada sebelumnya.

"Tawamu... aku ingin mendengarnya setiap hari."

Senyum Seraphina perlahan melemah, bukan karena hilang, melainkan karena berubah menjadi sesuatu yang lebih rapuh. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Untuk pertama kalinya, wajah di sana tidak terlihat seperti sedang bertahan sendirian.

"Rey."

"Hmm?"

"Jangan terlalu baik."

"Aku tidak baik pada semua orang."

"Itu bukan bantahan."

"Memang bukan."

Malam itu, setelah panggilan berakhir, Seraphina duduk lama di lantai apartemennya. Layar laptop meredup. Kota tetap menyala. Di laci meja, kunci kecil dari Reynard masih tersimpan, tetapi kini ia tahu benda itu tidak lagi terasa asing.

Sementara itu, di sisi lain Jakarta, Kevin Wijaya menerima pesan dari nomor tidak dikenal.

Tiga foto masuk berurutan.

Foto pertama, Seraphina keluar dari gedung Astoria.

Foto kedua, Reynard berdiri di samping mobil hitam, membuka pintu untuknya.

Foto ketiga, siluet mereka terlihat dari kaca mobil. Seraphina menoleh ke arah Reynard, dan dari sudut pengambilan gambar yang buruk sekalipun, jarak mereka tampak terlalu dekat.

Kevin duduk di ruang privat Club Lumine, gelas whisky di tangannya.

Musik berdentum, tetapi ia tidak mendengar apa pun selain darah yang naik ke kepala.

"Reynard Hartono," gumamnya.

Jari-jarinya mengencang.

Gelas di tangannya retak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!