Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis yang Mulai Terbuka
Malam itu belum benar-benar selesai.
Mobil yang membawa Aurora dan Sheila melaju pelan meninggalkan area kantor. Suasana di dalamnya jauh lebih ringan dibandingkan beberapa menit sebelumnya, meskipun sisa ketegangan masih terasa samar.
Sheila sesekali melirik ke arah Aurora, seolah masih memikirkan sesuatu. Sementara Aurora hanya menatap ke luar jendela, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Ia tidak sadar bahwa beberapa meter di belakang mereka, sebuah mobil hitam mengikuti dengan jarak yang cukup aman.
Tidak lain tidak bukan adalah Zayn.
Tangannya berada di setir, matanya fokus ke depan. Ia tidak terlalu dekat, tidak juga terlalu jauh. Cukup untuk memastikan satu hal, Aurora aman.
Tidak ada niat lain. Setidaknya, itu yang ia yakini.
Mobil Sheila berbelok memasuki jalan yang lebih sepi. Lampu jalan mulai jarang, suasana berubah lebih sunyi.
Aurora sedikit mengernyit, “Ini jalan biasa ya?”
Sheila mengangguk santai, “Iya, lebih cepet kalau lewat sini. Ya meskipun agak gelap”
Namun beberapa meter di depan, sebuah mobil berhenti melintang.
Sheila langsung mengerem mendadak, “Apaan sih ini…” gumamnya kesal.
Belum sempat ia bereaksi lebih jauh, dua pria turun dari mobil itu. Di belakang mereka, satu sosok lain berjalan lebih santai.
Aurora langsung menganali bahwa itu adalah Rakha.
Aurora langsung menegang. Nafasnya tertahan seketika.
Sheila yang menyadari perubahan itu langsung menoleh, “Ra, ini dia orang yang kamu ceritain tadi?”
Aurora mengangguk pelan, wajahnya mulai pucat.
“Ini beneran orang yang bikin kamu terluka?” tanya Sheila lagi, kali ini dengan nada lebih serius.
“Iya…” jawab Aurora lirih.
Sheila menghela napas, lalu mengunci pintu mobil secara refleks, “Jangan keluar” ucapnya cepat.
Namun keputusan itu tidak bertahan lama.
Salah satu anak buah Rakha berjalan mendekat ke sisi mobil. Tangannya terangkat dan di sana, jelas terlihat pistol.
Ia mengetuk kaca jendela sekali.
Dua kali.
“Keluar!”
Aurora dan Sheila saling berpandangan.
Tidak ada pilihan lain. Perlahan, mereka membuka pintu dan keluar.
Udara malam terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Dan meskipun mereka sudah berdiri di luar, moncong pistol itu masih mengarah ke arah mereka dari belakang.
Aurora menelan ludah.
Rakha berjalan mendekat dengan santai. Senyumnya tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana.
“Lama nggak ketemu, Aurora” ucapnya pelan.
Aurora tidak menjawab.
“Ke sini” perintah Rakha.
Aurora melangkah maju perlahan. Kakinya terasa berat, tapi ia tetap bergerak.
Di belakangnya, Sheila berdiri kaku, matanya terus memperhatikan situasi.
“Ngaku” lanjut Rakha tiba-tiba.
Aurora mengernyit, “Ngaku apa?”
Rakha tersenyum miring, “Hubungan kamu sama Zayn. Memang apa lagi?”
Aurora langsung menggeleng cepat, “Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia.”
Jawaban itu justru membuat ekspresi Rakha berubah. Senyumnya hilang. Tatapannya mengeras, “Jangan bohong.”
“Aku serius. Aku sama dia cuma-” jawab Aurora, suaranya mulai bergetar.
“Kalau kamu nggak ngaku, temen kamu yang kena” sela Rakha menoleh sedikit ke arah Sheila.
Aurora langsung panik, “Jangan! Jangan lakuin itu!”
Aurora merasa bingung dan panik. Tapi ia juga tidak bisa mengiyakan sesuatu yang memang tidak ada.
“Tolong… Aku beneran nggak ada hubungan sama dia” ucap Aurora pelan, hampir seperti bisikan.
Suasana menjadi semakin mencekam.
Sheila menggigit bibirnya, berusaha tetap tenang meskipun jelas ketakutan.
Dan di saat itulah suara mobil berhenti terdengar dari belakang.
Semua orang menoleh.
Pintu mobil terbuka. Zayn keluar. Langkahnya tenang. Tatapannya langsung mengarah ke satu titik yaitu Aurora.
Sheila langsung menatap Aurora, matanya membesar sedikit, “Ra…”
Aurora juga terdiam.
Sementara itu, Rakha hanya tersenyum tipis, “Tuh kan.”
Zayn berjalan mendekat, tidak terburu-buru. Tapi setiap langkahnya terasa berat, “Lepasin dia” ucapnya singkat.
Rakha tertawa kecil, “Selalu muncul di waktu yang tepat. Atau selalu muncul saat ada Aurora?”
Zayn berhenti beberapa langkah dari Aurora.
“Gue udah bilang, jangan bawa dia ke urusan kita” ucap Zayn.
Rakha menyeringai tipis, matanya menatap Zayn penuh tantangan, “Kata Aurora lo nggak ada hubungan apapun sama dia. Tapi kenapa lo selalu muncul setiap cewek ini kenapa-napa?”
Rakha melangkah sedikit lebih dekat, “Lo suka sama dia? Atau kalian emang ada hubungan?”
Hening sesaat. Zayn tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus, dingin, tanpa tergesa.
Lalu perlahan Zayn mulai menjawab, “Lo nggak perlu tau hubungan gue sama dia.” Nada suaranya rendah, tenang, api cukup untuk membuat suasana berubah.
Zayn menatap Rakha lebih tajam, “Yang perlu lo tau…”
Ia berhenti sebentar, rahangnya mengeras tipis, “Lo nggak boleh nyentuh dia.”
Rakha tertawa pelan, “Menarik…”
Ia menoleh ke arah Aurora, menatapnya seolah sedang menilai sesuatu yang baru saja ia temukan, “Berarti dia ini, umpan yang bagus.”
Aurora langsung menegang. Nafasnya terasa tertahan tanpa ia sadari.
Pandangan Rakha kembali ke Zayn, “Tiap gue dekati dia…”
Rakha tersenyum tipis, “lo bakal datang sendiri.”
Suasana menjadi hening. Udara terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Zayn tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus, dingin, tapi kali ini rahangnya mengeras tipis.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Zayn menjawab, “Coba aja” Suaranya rendah dan tenang. Tapi justru itu yang membuat ancamannya terasa nyata.
Zayn menatap Rakha dingin, “Gue nggak punya waktu buat muter-muter. Langsung ke intinya. Maunya lo apa?”
Rakha tersenyum tipis, “Akhirnya…”
Ia melangkah sedikit lebih dekat, “Gue cuma mau satu hal.”
Hening sesaat sebelum Rakha kembali berbicara, “Pengakuan, tentang kejadian delapan belas tahun yang lalu.”
Jawaban Rakha membuat Aurora dan Sheila saling menatap.
Dahi keduanya sedikit berkerut. Bingung, penasaran, tapi juga waspada.
Tak ada yang bertanya. Seolah mereka tahu, jawaban itu bukan sesuatu yang ingin mereka dengar.
Aurora menunduk sedikit, pikirannya masih berputar pada satu hal, “Kejadian delapan belas tahun yang lalu…” batinnya.
Ia melirik lagi ke arah Zayn. Ekspresinya masih sama. Tenang, seolah semua ini bukan hal besar.
Tapi justru itu yang membuat Aurora semakin tidak tenang. Seolah dia menyembunyikan sesuatu.
Dan untuk pertama kalinya, Aurora mulai merasa, mungkin Zayn bukan sekadar atasan dingin yang ia kenal selama ini.
Di sampingnya, Sheila memperhatikan semuanya tanpa melewatkan satu detail pun.
Tatapan Sheila bergantian antara Zayn dan Rakha. Lalu ia mendekat sedikit ke Aurora, berbisik pelan, “Gue nggak tau masalah mereka apa… Tapi satu hal pasti.”
Aurora menoleh.
Sheila tersenyum tipis, “Zayn nggak mungkin sejauh ini kalau kamu bukan sesuatu buat dia.”
Aurora langsung mengerutkan kening, “Sheila…”
“Serius, kamu pikir orang kayak dia bakal repot-repot datang ke tempat kayak gini cuma buat karyawannya?” ucap Sheila.
Aurora terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.
Zayn menoleh sebentar ke arah Aurora, lalu kembali mengunci pandangannya pada Rakha, “Gue udah bilang.”
“Apa yang lo lihat itu salah.”
Rakha terdiam beberapa detik. Lalu ia tertawa pelan, “Salah?” ulangnya, santai.
Ia menggeleng kecil, seolah tidak benar-benar percaya, “Lo masih aja pura-pura nggak tau ya.”
Rakha melangkah mendekat sedikit, tapi kali ini fokusnya jelas ke Zayn, “Dari dulu juga sama.”
“Selalu ngelak.”
Tatapannya tajam, “Padahal lo tau persis apa yang gue maksud.”
Hening.
Aurora menahan napas tanpa sadar.
“Gue nggak peduli soal dia” lanjut Rakha dingin, dagunya sedikit terangkat ke arah Aurora tanpa benar-benar melihatnya.
“Dia cuma kebetulan ada di posisi yang salah.”
“Masalah gue tetep sama lo.”
Nada suaranya berubah lebih berat, “Dan gue bakal terus ngejar itu sampai lo ngaku.”
Zayn tidak menjawab. Tapi kali ini, tatapannya tidak sekadar dingin.
Ada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa lagi sepenuhnya ia sembunyikan.
Zayn menatapnya dingin, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya, “Gue nggak nyangka…”
“Lo berani sampai sejauh ini.”
Napasnya tertahan sesaat, “Dan lo masih bisa pura-pura lupa, kita dulu sahabat.”
Rakha tertawa pelan, “Sahabat?” ulangnya, nyaris mengejek.
“Masih berani lo ngomong itu?”
Tatapannya menusuk langsung ke Zayn, “Setelah semua yang lo lakuin?”
Aurora langsung menoleh ke arah Zayn.
Alisnya berkerut, jantungnya berdetak lebih cepat, “Apa maksudnya…?” batinnya.
Namun Zayn tidak menjawab ucapan Rakha. Tatapannya tetap lurus ke arah Rakha, dingin, tapi kali ini ada sesuatu yang lebih dalam, “Udah cukup, Rakha,” ucapnya rendah.
Rakha tersenyum tipis. Seolah ia justru menikmati reaksi itu, “Belum,” balasnya santai.
“Ini baru mulai.”
Ia melangkah mundur satu langkah. Tatapannya tidak lepas dari Zayn, “Dan kali ini, gue nggak bakal berhenti sampai lo bener-bener ngaku.”
Aurora menelan ludah. Tangannya tanpa sadar menggenggam ujung bajunya sendiri.
Sheila di sampingnya juga tidak bergerak. Tapi tatapannya terus bergantian antara Zayn dan Rakha.
“Bawa orang lain ke urusan kita…” ucap Zayn.
“Itu langkah paling bodoh yang pernah lo ambil” lanjut Zayn.
Rakha tertawa kecil, “Justru ini langkah paling efektif” balasnya ringan.
“Karena sekarang, gue tau titik lemah lo.”
Zayn tidak langsung menjawab. Namun rahangnya mengeras.
Beberapa detik hening, sebelum akhirnya Rakha kembali berbicara, “Pergi.”
Rakha menatapnya beberapa detik. Lalu mengangkat kedua tangannya santai, seolah menyerah, “Tenang aja,” katanya.
“Gue belum mau ngelakuin apa-apa hari ini. Belum bukan berarti nggak.”
Rakha berbalik. Dua anak buahnya langsung mengikuti. Namun sebelum benar-benar pergi, Rakha berhenti sebentar. Tanpa menoleh, “Kita bakal ketemu lagi, Zayn.”
Langkahnya kembali berjalan.
Dan beberapa detik kemudian, mereka menghilang di ujung jalan.
Hening jatuh setelah Rakha pergi.
Aurora masih berdiri di tempat. Tubuhnya kaku.
Sheila langsung meraih tangannya, menariknya pelan, “Ra, kita masuk mobil.”
Aurora mengangguk cepat. Mereka berdua hampir bersamaan masuk ke dalam mobil Sheila.
Pintu tertutup. Nafas mereka masih belum stabil.
Zayn berdiri tidak jauh dari sana. Tatapannya mengikuti pergerakan mereka tanpa berkata apa-apa.
Beberapa detik kemudian, ia berjalan mendekat.
“Kunci pintunya” Suaranya tenang, tapi tidak memberi ruang untuk diabaikan.
Sheila langsung menurut.
Zayn menatap mereka berdua dari luar mobil, “Jangan berhenti di mana pun.”
“Langsung pulang.”
Sheila mengangguk cepat, “Iya…”
Zayn mundur satu langkah, “Gue di belakang.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik menuju mobilnya sendiri. Mesin menyala.
Aurora menoleh ke belakang, melihat mobil Zayn yang sudah siap mengikuti. Jantungnya masih berdetak cepat.
“Dia ngikutin kita?” bisik Sheila.
Aurora tidak langsung menjawab. Tapi matanya masih tertuju ke kaca spion, “Iya…” gumamnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya, rasa takut itu bercampur dengan sesuatu yang lain. Rasa aman.