Warning!!
***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.
Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.
Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.
Pernikahannya bukan tentang cinta.
Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.
Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.
Suaminya.
Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.
Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.
***
“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.
Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”
Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.
Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Makan siang dengan Papa Mertua
0o0__0o0
Langkah Rison berhenti tepat di depan pintu utama hotel.
Sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu. Mengilap, elegan, mencerminkan dominasi pemilik-nya.
Sopir pribadi langsung turun, membuka pintu belakang dengan sigap.
"Silakan, Tuan."
Namun Rison tidak bergerak. Tatapan-nya beralih ke pintu depan… lalu ke Mawar.
Hening sesaat.
"Kamu tidak perlu ikut," ucap Rison datar.
Sopir itu tertegun. "Tu—Tuan ?"
"Saya yang akan menyetir sendiri."
Tidak ada ruang untuk membantah.
Sopir itu langsung menunduk. "Baik, Tuan." Ia mundur menjauh.
Mawar mengernyit halus. Aneh. Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh—
Rison sudah membuka pintu kursi penumpang depan.
"Masuk."
Mawar ragu sepersekian detik, lalu menuruti. Ia duduk di kursi samping kemudi.
Rison memutari mobil dan masuk ke sisi pengemudi.
Klik.
Pintu tertutup.
Sunyi.
Ruang di dalam mobil terasa lebih sempit.
Mawar refleks menegakkan punggung-nya. Tangan-nya menggenggam tas kecil di pangkuan.
Rison menyalakan mesin.
Namun… mobil belum bergerak.
Tatapan-nya melirik ke samping. Ke arah Mawar. Turun… sedikit.
Sabuk pengaman Mawar masih tergantung rapi di sisi kursi. Belum terpakai.
Alis Rison sedikit terangkat. "Kamu tidak pakai sabuk pengaman ?"
Mawar tersentak kecil. "Oh—iya, aku lupa."
Ia buru-buru meraih sabuk itu. Namun belum sempat ia menarik-nya dengan benar, tangan Rison lebih dulu bergerak.
Cepat.
Pasti.
Laki-laki itu meraih sabuk itu dari sisi Mawar. Dan dalam satu gerakan tubuhnya ikut condong mendekat.
Deg.
Mawar langsung membeku.
Jarak mereka… hampir tidak ada.
Aroma maskulin Rison terasa begitu dekat, memenuhi ruang napasnya.
Satu tangan Rison menahan sabuk. Sementara tangan satunya bertumpu di sisi kursi Mawar. Seolah… mengurung-nya tanpa benar-benar menyentuh.
Mawar menahan napas. Tatapan-nya tidak tahu harus ke mana.
Ke depan terlalu kaku.
Ke samping… terlalu berbahaya.
Klik.
Bunyi sabuk pengaman terkunci terdengar jelas.
Namun Rison tidak langsung menjauh. Tatapan-nya jatuh ke wajah Mawar.
Dekat.
Terlalu dekat.
Untuk pertama kalinya… ia benar-benar memperhatikan tanpa jeda.
Detail wajah itu.
Ekspresi yang berusaha tenang… namun jelas gugup.
Menarik.
Sangat.
Mawar bisa merasakan tatapan itu. Jantung-nya berdetak tidak teratur.
"Pa…" Suaranya pelan. Hampir seperti bisikan.
Rison baru tersadar beberapa detik kemudian. Tatapan-nya yang sempat terjebak kini perlahan terangkat.
"Ah… maaf." Ia menghela napas tipis. "Aku terlalu terlena menatap kecantikan mu."
Mawar langsung menunduk. Ujung bibirnya bergetar kecil, seolah gugup yang tak sempat ia sembunyikan.
"Eum… Papa bisa saja bercanda-nya…" cicitnya pelan.
Suara itu lembut. Rapuh. Dan entah kenapa… justru berbahaya.
Sorot mata Rison menggelap sesaat.
Seorang laki-laki, sekuat apa pun kendalinya, tetap memiliki titik lemah—terlebih saat di hadapkan pada sesuatu yang tampak tak berdaya… namun diam-diam memancing.
Dan Mawar tahu itu. Ia tidak bergerak menjauh. Tidak juga benar-benar mendekat. Cukup diam di sana memberi ruang… sekaligus menjerat.
Pelan. Tapi pasti.
'Mangsa mulai masuk perangkap…' bisiknya dalam hati, senyum tipis nyaris tak terlihat menghiasi sudut bibirnya. 'Sekali dia penasaran… semua akan runtuh dengan sendiri-nya.'
Namun di permukaan, Mawar justru tampak gugup. Ia menatap Rison dengan ragu, pipinya memerah seperti kepiting rebus.
"Emm… Pa…" suaranya nyaris seperti bisikan. "Bisa tolong mundur…?"
Rison tidak langsung bergerak.
Jarak mereka terlalu dekat.
Terlalu… tidak pantas.
"Aku… tidak bisa bernapas dengan benar kalau jarak kita seperti ini," lanjut Mawar, semakin pelan, seolah benar-benar kesulitan.
Baru saat itu Rison tersentak. Ia mundur perlahan. Cukup untuk mengembalikan batas yang hampir hilang.
Wajahnya kembali datar. Dingin. Terkendali. Seolah beberapa detik sebelum-nya tidak pernah terjadi.
"Lain kali, jangan lupa pakai sabuk pengaman."
Nada suaranya singkat. Namun lebih berat. Lebih dalam. Dan… lebih berbahaya.
Mawar menelan ludah, dadanya masih naik turun tak beraturan.
"Iya, Pa…"
0o0__0o0
Mobil akhirnya mulai melaju.
Namun suasana di dalamnya sudah berubah.
Lebih sunyi.
Lebih panas.
Dan entah kenapa… lebih sulit untuk di abaikan.
Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata terucap. Namun sesekali tanpa sadar, tatapan Rison kembali melirik ke samping.
Lebih lama dari yang seharus-nya.
Sementara Mawar memilih menatap lurus ke depan. Berusaha terlihat tenang. Meski di dalam detak jantungnya belum juga kembali normal.
Bukan karena perasaan suka. Melainkan dendam yang bertumpuk terlalu lama.
Dan di antara mereka… ada sesuatu yang mulai tumbuh.
Tipis.
Berbahaya.
Dan tidak seharusnya ada.
0o0__0o0
Mobil berhenti tepat di depan restoran mewah yang sudah di pesan sebelum-nya.
Rison turun lebih dulu, lalu berbalik, membukakan pintu untuk Mawar. Ia mengulurkan tangan.
"Turunlah."
Mawar sempat menatap tangan itu sepersekian detik—lalu meletakkan jemari-nya di sana.
Sentuhan singkat.
Namun cukup untuk membuat sesuatu bergetar… entah di pihak siapa.
Mereka berjalan masuk berdampingan.
Interior restoran di penuhi nuansa emas lembut, lampu gantung kristal berkilau, dan alunan musik piano yang tenang.
Beberapa tamu menoleh sekilas—penampilan mereka terlalu mencolok untuk di abaikan.
Rison memimpin langkah menuju meja khusus di sudut ruangan. Lebih privat. Lebih tenang.
Kursi di tarikkan.
"Silakan."
Mawar tersenyum kecil. "Terima kasih, Pa."
Ia duduk dengan anggun. Gerakan-nya lembut, terukur, seolah setiap detail sudah di perhitungkan.
Rison duduk di seberang-nya. Namun tatapan-nya… tidak pernah benar-benar lepas.
Beberapa detik hening.
Pelayan datang membawa menu, namun Rison langsung mengangkat tangan.
"Seperti biasa."
Pelayan itu mengangguk paham. "Baik, Tuan."
Mawar membuka percakapan lebih dulu. "Papa sering ke sini ?"
Nada suaranya ringan. Seolah hanya basa-basi.
"Untuk urusan bisnis, ya." jawab Rison singkat.
Mawar mengangguk pelan. "Berarti… aku beruntung ya." Ia tersenyum tipis. "Bisa ikut menikmati tempat sekelas ini."
Rison menatap-nya. Lebih dalam kali ini. "Kamu memang pantas."
Jawaban itu keluar begitu saja. Tanpa jeda. Tanpa pertimbangan.
Dan entah kenapa… membuat Mawar sedikit menunduk. Pipinya kembali merona.
"Papa ini…" ia tertawa kecil, mencoba menutupi. "Bisa saja."
Makanan datang satu per satu.
Di sajikan dengan rapi dan elegan.
Mawar sempat terdiam melihatnya. "Kelihatan mahal," gumam-nya pelan.
Rison menatapnya sekilas. "Lalu ?"
Mawar mengangkat bahu kecil. "Takut nggak cocok sama lidah aku."
Rison mengambil gelasnya. "Kalau tidak cocok, berarti lidahmu yang harus belajar."
Mawar langsung menatap-nya. Lalu tanpa sadar ia tertawa kecil.
Pendek.
Ringan.
Dan itu membuat Rison berhenti sejenak. Tatapan-nya tertahan pada Mawar. Ekspresi itu… jarang ia lihat. Dan entah kenapa ia tidak keberatan melihatnya lebih lama.
"Kamu sering seperti ini ?" tanyanya tiba-tiba.
Mawar mengernyit. "Seperti apa, Pa ?"
"Tertawa." Jawaban itu terlalu jujur.
Mawar sedikit tersipu. "Kalau situasi dan orangnya mendukung… iya."
Rison mengangguk pelan. "Cantik."
Satu kata. Namun nadanya pelan. Lebih… Berbisik terpesona.
Mawar mengangkat gelasnya perlahan. Jemari-nya terlihat sedikit gemetar… atau sengaja di buat seperti itu.
Rison memperhatikan-nya. Detail kecil yang seharus-nya sepele, justru terasa mencolok.
"Kenapa ?" tanyanya.
Mawar menggeleng cepat. "Tidak apa-apa… mungkin aku sedikit gugup."
"Gugup ?"
"Iya…" Mawar ragu sejenak, lalu menatap Rison sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangan. "Ini pertama kalinya aku makan berdua seperti ini… dengan Papa."
Kalimat itu sederhana.
Tapi cara Perempuan mengucapkan-nya… Ada jeda. Ada nada yang menggantung. Dan itu cukup untuk membuat maknanya terasa berbeda.
Rison terdiam. Untuk pertama kalinya, ia kehilangan respon cepatnya.
Aroma lezat memenuhi meja.
Namun perhatian Rison… bukan lagi pada makanan.
Mawar mengambil pisau dan garpu. Tangan-nya sedikit kaku seolah benar-benar tidak terbiasa.
Potongan dagingnya nyaris terlepas.
Refleks, Rison langsung bergerak.
"Tunggu." Tangan-nya meraih pergelangan Mawar. Sekilas. Singkat. Namun hangat. "Biar aku bantu."
Dengan gerakan tenang, ia memotongkan makanan itu. Rapi. Presisi.
Mawar terdiam. Menatap. Lalu perlahan tersenyum. "Terima kasih, Pa…"
Suaranya lebih lembut dari sebelum-nya. Lebih dalam. Dan lebih personal.
Rison tidak langsung melepaskan pisau itu. Tatapan-nya bertemu dengan Mawar.
Sekali lagi.
Terlalu lama.
Detik berjalan. Sunyi di antara mereka justru terasa semakin bising. Dan tanpa di sadari, Rison sudah melangkah lebih jauh dari batas yang seharusnya ia jaga.
Sementara Mawar… Menunduk pelan, menyembunyikan senyum tipisnya.
'Semakin lemah wanita…' bisik Mawar dalam hati. 'Semakin laki-laki itu terlihat tertarik.'
Beberapa menit berlalu dalam suasana yang jauh lebih santai.
Tidak ada tekanan berlebih. Tidak ada tatapan yang terlalu menekan. Hanya percakapan ringan yang mengalir pelan.
"Kamu suka kopi ?" tanya Rison.
"Suka. Tapi yang manis," jawab Mawar.
"Berarti bukan kopi."
"Itu kopi juga, Pa. Versi bahagia."
Rison terdiam. Lalu ia menggeleng tipis. "Ares tidak pernah menyebutkan itu."
Mawar mengangkat bahu. "Ares nggak terlalu perhatian soal hal kecil."
Kalimat itu terlontar begitu saja. Namun setelahnya Mawar langsung tersadar.
Suasana sempat hening.
Mawar menggigit bibirnya pelan. "Maaf, aku—"
"Tidak apa-apa," potong Rison. Tenang. Tidak tersinggung.
Justru… ada sesuatu di matanya. Seperti sedang memahami sesuatu yang baru.
"Laki-laki memang sering melewatkan hal kecil," lanjutnya. Nada suaranya lebih rendah. Lebih dalam.
Mawar menatap-nya.
Ada kesan berbeda dari kalimat itu. Seolah… bukan hanya tentang Ares. Seolah…tentang dirinya juga.
Dan untuk beberapa detik tatapan mereka bertemu. Namun kali ini tidak canggung.
Tidak menekan.
Lebih… hangat.
Mawar tersenyum tipis. "Kalau begitu… Papa termasuk yang memperhatikan atau melewatkan ?"
Pertanyaan itu ringan. Tapi cukup berani.
Rison menyandarkan tubuhnya. Menatap Mawar tanpa menghindar.
"Aku selalu belajar… untuk tidak melewatkan." Jawaban sederhana. Namun penuh makna.
Mawar mengangguk pelan. "Bagus. Berarti hidup papa cukup detail."
Rison mengangkat alis. "Detail ?"
"Iya," jawab Mawar santai. "Soalnya aku suka orang yang seperti itu."
Untuk pertama kalinya Rison benar-benar tersenyum. Tipis. Tapi jelas. Dan perlahan tanpa disadari, ia mulai menyesuaikan diri dengan kedekatan itu.
Bukan lagi menolak.
Bukan lagi menjaga jarak.
Tapi… menerima.
Sementara di balik ekspresi polosnya, Mawar menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang hampir tak terlihat.
'Uji batas pertama… berhasil.' Seringainya dalam hati.
0o0__0o0
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣