NovelToon NovelToon
Akan Ku Ubah Takdirku

Akan Ku Ubah Takdirku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen Sun044

dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan Ketidakpercayaan

Keesokan harinya, suasana di sekolah kembali terasa tegang karena hari ini adalah jadwal ulangan harian yang sudah diumumkan oleh Bu Guru sejak kemarin. Meski hatiku masih terasa beku dan perasaanku mati rasa terhadap urusan pertemanan, soal pelajaran aku tidak pernah main-main. Ini adalah salah satu caraku bertahan, dan aku ingin membuktikan—setidaknya pada diriku sendiri—bahwa aku bisa.

Malam sebelumnya, aku sudah belajar mati-matian. Di bawah sinar lampu tembolok yang remang di kamarku yang reyot, aku membaca buku berulang-ulang, mencatat poin-poin penting, dan mencoba mengingat setiap detail. Otakku harus bekerja ekstra keras, jauh lebih keras daripada teman-teman yang lain, untuk bisa memahami dan menyimpan materi itu di kepalaku. Aku lelah, tapi aku memaksakan diri. Aku harus bisa, kataku dalam hati berkali-kali.

Saat ulangan berlangsung di kelas, aku menunduk serius mengerjakan soal-soal di kertas ujian. Benar saja, beberapa soal membuatku harus berhenti sejenak, mengerutkan kening, dan memutar otak untuk mengingat kembali apa yang sudah aku pelajari semalam. Rasanya berat, tapi aku tidak menyerah. Aku menjawab sebaik mungkin, perlahan tapi pasti.

Ketika hasil ulangan dibagikan, jantungku berdegup kencang. Bu Guru berjalan melewati barisan demi barisan. Akhirnya, dia sampai di mejaku dan meletakkan kertas ulanganku.

Dengan tangan gemetar, aku membalik kertas itu. Angka merah besar tertera jelas di sana: 90.

Mataku terbelalak. Aku mengerjap-ngerjap, memastikan aku tidak salah lihat. Sembilan puluh! Itu adalah nilai tertinggi yang pernah aku dapatkan seumur hidupku bersekolah. Meskipun itu bukan nilai sempurna 100, bagiku angka 90 itu bagaikan permata yang sangat berharga. Itu adalah bukti bahwa lelahku belajar semalam tidak sia-sia. Senyum kecil tanpa sadar terukir di bibirku. Ini akan menjadi nilai favoritku.

Namun, kebahagiaanku itu tidak bertahan lama.

Tiba-tiba, Bu Guru yang sedang berjalan keliling mengawasi siswa berhenti tepat di samping mejaku. Dia melihat nilai di kertas ulanganku, lalu menatapku dengan tatapan tajam yang tidak biasa. Wajahnya yang biasanya datar tiba-tiba berubah menjadi marah.

Dengan kasar, Bu Guru menyambar kertas ulanganku dari meja.

"Laras!" serunya dengan suara keras yang membuat seluruh kelas menoleh ke arah kita. "Nilai sembilan puluh? Kamu yakin ini hasil kerjamu sendiri?"

Aku terkejut, senyumku langsung hilang digantikan oleh rasa bingung dan takut. "I... Iya, Bu. Ini saya kerjakan sendiri," jawabku pelan, suaraku bergetar.

"Jangan bohong!" bentak Bu Guru, matanya menyala penuh kecurigaan. "Selama ini kamu kan murid yang biasa saja, bahkan sering dapat nilai di bawah rata-rata! Tiba-tiba sekarang dapat sembilan puluh, hampir mendekati sempurna? Menurutmu aku akan percaya begitu saja? Pasti kamu menyontek, kan? Atau kamu menyalin jawaban dari orang lain?"

Rasa kecewa yang luar biasa menyergap hatiku lagi. Rasanya seperti disiram air dingin yang membeku. Begitu besar usahaku, begitu lelahnya aku belajar, tapi yang dia lihat hanyalah kecurigaan bahwa aku curang. Hanya karena aku Laras yang "bodoh", aku tidak diperbolehkan untuk mendapatkan nilai tinggi?

"Benar, Bu... saya tidak menyontek. Saya sudah belajar semalam," coba kupertahankan, air mataku mulai menggenang.

"Alasan!" potong Bu Guru ketus. Dia melempar kembali kertas ulanganku ke atas meja dengan kasar. "Saya tidak percaya murid sepertimu bisa dapat nilai selangit begini tanpa curang. Nilai ini saya tarik dulu. Saya akan periksa ulang, dan kalau terbukti kamu menyontek, siap-siap saja saya beri nilai nol dan laporkan ke kepala sekolah!"

Bu Guru berjalan pergi dengan wajah kesal, meninggalkanku yang terpaku di tempat dudukku. Teman-teman sekelas mulai berbisik-bisik, ada yang menatapku sinis, ada yang tertawa kecil. Rasa bangga yang baru saja tumbuh di dadaku hancur lebur digantikan oleh rasa perih dan hancur yang familiar.

Ternyata, bagi mereka, Laras yang bodoh tidak boleh berhasil. Laras yang bodoh harus tetap berada di bawah. Dan ketika aku mencoba naik sedikit saja, dunia seakan bersatu untuk mendorongku jatuh kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!