Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 Ibu Wei itu Pendendam
Di luar gerbang rumah yang sederhana dan nyaris roboh milik keluarga Lu, para warga desa bergerombol seraya saling berbisik mencemooh.
Kepala desa berteriak dengan nyaring, "Hei, Keluar!"
Wei Ying dan anak-anak yang hendak makan, segera berlari ke arah depan. Begitu Wei Ying muncul, seorang wanita dengan kurang ajar menunjuk ke arahnya seraya berteriak.
"Ini dia! Wanita ini mencuri ayam ku!"
Wei Ying terperangah dengan tuduhan wanita tersebut.
"Hah? Mencuri ayam mu? Sejak kapan kamu punya ayam? Lagipula mana bukti jika aku mencuri!" seru Wei Ying tak terima.
Wanita desa itu mendengus dengan seringai licik, "Cepat periksa rumahnya! Ayam itu bulunya coklat!" ujarnya.
Wei Ying mengerutkan keningnya hingga alisnya menukik tajam, tak terima dengan tindakan kurang ajar mereka dia menghandang pria yang hendak masuk menggeledah rumahnya.
"Minggir!" seru pria itu dan merangsek masuk.
Pria itu mengobrak-abrik rumahnya, hingga akhirnya ia melihat beberapa ekor ayam di halaman belakang rumah. Lalu dengan tak tau malu, ia mengambil ayam-ayam itu dan membawanya.
"Ini ayamnya!" teriak pria itu.
Warga desa yang ikut berkerumun di depan rumah Wei Ying saling berbisik, mencemooh jika Wei Ying adalah janda yang suka mencuri. Kini julukan Wei Ying bukan hanya ibu tiri yang kejam, tapi juga janda yang suka mencuri.
"Tidak, itu ayam punya ibu!" seru Lu Xue dengan menarik pakaian pria itu.
Tapi sebuah tepisan membuat tulisan tubuh kecil anak itu terguling di tanah, "Enak saja! Ini itu ayam ku!" seru wanIta desa tadi dengan berkacak pinggang.
"Sekarang kalian ketularan ibu tiri kalian ya, kerja sama untuk mencuri dan menyembunyikan barang orang lain."
Wei Ying sebenarnya sudah sangat jengkel dengan wanita itu, setelah di ingat wanita itu adalah orang yang sama dengan wanita yang mengajak ribut saat dirinya hendak ke gunung mencari sayuran liar tempo hari.
Lalu dengan emosi yang memuncak tapi berusaha ia tahan, Wei Ying maju dan menampar wajah wanita itu. "Ya sudah! Sana ambil ayam mu itu! Aku tak tau dari mana kau tau aku punya ayam! Tapi lihat saja, saat paceklik tahun ini semakin parah, jangan harap aku membagi makanan ku!" seru Wei Ying.
"Tunggu sebentar! Apa sungguh kamu mencuri ayam ini Wei?" tanya Kepala desa.
Wei Ying menatap pria tua itu dengan mata tajam, tak gentar dan dengan tegas menjawab "Tidak!"
Kepala desa lalu beralih pada wanita desa yang menunduh Wei Ying mencuri ayam, "Anhu, apa itu sungguh ayammu?" tanya kepala desa.
Wanita itu dengan cepat mengangguk, "Tentu saja!"
"Kapan kau melihat Wei Ying mencurinya?"
Anhu yang di tanya seperti itu terdiam sebentar sebelum menjawab, "Kemarin sore!"
"Kemarin sore, Ibu Wei ada di rumah bersama kami di rumah!" teriak Lu Xue. "Lagipula ayam itu tiba-tiba muncul di kamar ibu, bagaimana bisa itu jadi ayam mu!"
Kepala desa mengernyitkan alisnya, warga desa pun terlihat sedikit bingung. Wei Ying terkejut dan segera mencolek lengan Lu Xue.
"Hei, jangan beri tau orang lain kalo ibu Wei punya kemampuan aneh.." bisik Lu Shu pada Lu Xue.
"Pokoknya ayam itu milik kami!" seru Lu Xue.
"Kau anak kecil tau apa!" seru wanita desa itu dengan marah.
Wei Ying yang sudah muak dengan wanita desa itu, mengajak anak-anak untuk masuk. "Anak-anak! Ayo masuk saja. Kalian tak perlu khawatir dengan beberapa ayam itu, ibu punya segudang makanan enak!" serunya.
Setelah itu pintu gerbang kediaman Lu di tutup rapat dan di kunci.
"Dasar orang tak tau malu..." bisik Wei Ying.
Wei Ying ingat di novel yang ia baca ini, scene dirinya muncul saat ini kebetulan ada di masa paceklik. Ayah ketiga anak itu pergi untuk mencari uang dan membeli bahan dari kota besar, tapi naas malah tewas.
"Jika berdasarkan pada novel, tak lama lagi Lu Shu akan pergi mencuri uang yang di ambil oleh adik Wei Lu dan ketahuan, lalu dia di siksa dan berakhir Lu Xue mati." bisik Wei Ying.
Jarinya mengetuk-ngetuk meja makan dengan raut wajah serius.
"Sepertinya selain mengurus ke tiga anak ini, aku juga harus membuat daftar rencana untuk warga desa terutama wanita itu.." bisiknya dengan seringai licik.
Mereka tak tau jika Ibu Wei yang sekarang bukan Wei Lu, tapi jiwa asing dari dunia lain yang pendendam.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭