NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MATI SEGAN HIDUP PUN MENYAKITKAN

Hawa dingin selalu menyelimuti desa yang terkenal tenang dan damai itu. Namun, sejak munculnya terror yang tak di ketahui dari mana sumbernya, desa itu pun tak lagi sedamai sebelumnya. Ketakutan demi ketakutan mereka rasakan saat ini. Di tambah hari-hari yang selalu di selimuti awan hitam tebal namun tidak ada tanda akan turunnya hujan, semua mengira kalau desa mereka sedang dalam kutukan, atau dalam pengaruh sihir manusia biadab, yang tak bertanggung jawab.

Terlebih penyakit jaka yang kian hari kian memburuk, 2 minggu sudah penyakit itu tak kunjung juga sembuh.

Walau bidan dan juga dukun-dukun kampung sudah Wati panggil untuk menyembuhkan suaminya, tapi semua nihil. Tidak ada yang sanggup menyembuhkannya.

Penyakit Jaka jugalah yang menjadi perbincangan terpanas sepekan terakhir ini.

"Jaka sakit apa ya? Seluruh badannya di penuhi benjolan-benjolan yang bernanah."

"iya, mirip penyakit cacar ya?"

"itu lebih parah dari cacar, Kang. Apa mungkin dia di santet?"

"Heh...! Kabarnya teh, itu penyakit, bukan karena di

Santet."

"Apa mungkin karma."

"Ah, pantes waelah, kalau itu karma. Jaka mah... nggak ada baik-baik nya jadi pemuda desa."

"Tapi, kalau menurut saya, desa ini yang mendapat karma." Azram yang lewat langsung menyahut sambil berjalan tanpa menoleh.

semua orang terpaku mendengar ucapan itu.

***

Di rumah Jaka. "Wati, Wat! Haduh... perih sekali, Wat. Tolong aku, Wati! Di area kemaluanku perih sekali.

Cepat kemari!" Rintih Jaka sambil berteriak, dia merasa sudah tidak kuat dengan penyakit yang di deritanya.

"Ya ampun, Mas. Aku lagi nyuapin Dimas, tunggu sebentar, biar Dimas makan dulu. Kasian dia makannya jadi nggak terurus gara-gara aku ngurusin kamu terus. Mana keluargamu tidak ada yang membantu. Heran aku sama keluargamu, sudah tau anaknya sakit parah, jangankan membantu, nengokin kamu aja cuma sekali." Gerutu Wati. Dia kesal pasalnya sudah berulang kali meminta bantuan sama keluarga suaminya, tapi mereka tidak ada yang mau datang. Dengan dalih, sawah mereka tidak ada yang mengurus, keluarga mereka sibuk, dan lain-lain.

"Wati! Nggak usah ngomel. Buruan ke sini, aku sudah tidak tahan lagi, Wati. Sialan! Istri macam apa kamu ini, suami sedang kesakitan malah ngomel-ngomel nggak jelas." Jaka terpancing juga emosinya.

Wati meletakkan piring makan anaknya dengan kasar.

Triing...!

"Iya-iya, ini aku datang!" Wati pun melangkah masuk ke dalam dan tak lupa mengunci pintu supaya Dimas tak main di luar.

"Penyakit sialan! Bangs*t! Aku akan bun*h, siapa saja yang telah membuatku seperti ini. Haduh... Wati, perih, Wat! Perih sekali." Jaka memaki dalam kesakitannya.

Wati pun sampai juga di dekatnya, seperti biasa, wati mengenakan kain untuk menutup hidungnya, karena bau busuk yang semakin hari semakin menguat.

"Sudah! Jangan berisik lagi. Aku mau cek kemualuanmu, Mas." Wati pun menyingkap kain penutup itu.

Matanya membulat sempurna kala kain telah ia buka.

"Astaga, Mas! Baru saja 30 menit yang lalu aku bersihin belatung ini, kenapa kini menjadi sebanyak ini?! Dan ini lebih banyak dari sebelumnya." Gerutu Wati. Kali ini perutnya terasa di kocok. Ia pun merasa sangat mual saat melihat itu.

"Uek! Ah! Aduh...! Nggak tahan aku, Mas!"

"Wati! Sudah, jangan banyak ngomel! Cepat singkirkan binatang-binatang itu. Aku sudah nggak tahan,Wat. Kamu kenapa sih? Belum bilang sama keluargamu agar mereka melabrak, si Wardah itu." Omel Jaka, geram.

"Ya ampun, Mas. Kan kelurgaku sudah membantu, manggilin beberapa dukun, dan kata mereka, ini bukan dari sana asalnya. Gimana keluargaku mau melabrak si Wardah. Makanya, jadi lelaki tu jangan kegatelan!

Akibatnya seperti ini kan?! Udah diam! Aku mau ambilin mereka. Menyusahkan sekali. Tobat makanya, Mas.

Tobat!" Cerca Wati sambil mengambil binatang-binatang itu dengan telaten walau perasaan sudah campur aduk.

Antara jijik, geli juga mual. Ia sengaja membuat tong sampah dari ember kecil yang sudah ia lapisi plastik bekas.

Wati semakin prihatin, melihat kepunyaan suaminya yang hampir habis.

Ya Tuhan. Apa ini bagian dari doaku? Atau ini karena dosa suamiku.

Wati membungkus binatang itu yang ia yakin sudah tidak ada yang tersisa lagi di sana. Dia pun hendak membakarnya di luar. Namun langkahnya terhenti kala melihat kedatangan Romli bersama Pak Imam.

"Asalamualaikum, Wati."

"Teh Wati."

"Walaikumsalam, Pak Imam, dan Bang Romli."

"Maaf, kami baru sempat berkunjung. Bagaimana keadaan suamimu, Wati?" Tanya Pak Imam sopan. Romli hanya diam menunduk, dan ia pun sudah menceritakan semua kisah di masa lalunya bersama ketiga temannya yang kini tinggal dua dan yang satu sedang mengalami sakit. Pak Imam pun menanggapinya dengan lapang dada walau memang kejahatan itu sangat tak termaafkan.

"Semakin parah, Pak Imam. Ini saja saya mau buang belatung yang barusan menggerogoti area kemaluan suami saya. Entahlah Pak Imam, saya heran, sudah saya panggilin Bidan, sampai orang pintar. Tetap tidak berpengaruh apa-apa untuk suami saya." Keluh Wati putus asa.

Romli menatap ngeri bungkusan plastic yang terikat penuh dengan reaksi gerakan di dalamnya.

"I-itu belatung, Teh?!" Tanya Romli ingin ketegasan.

"Iya! Saya mau bakar dulu ya? Kalian masuk saja. Mas Jaka jarang tidur kok, jadi pasti kedatangan kalian akan membuatnya senang." Wati lalu pergi agak menjauh untuk membakar binatang-binatang itu.

Romli makin menciut nyalinya. Ya Tuhan! Karma ini sungguh menakutkan.

Batin Romli yang tubuhnya bergetar, dan selalu menghela napas kasar berkali-kali.

"Sabar Rom, kita belum tau kebenarannya. Mari kita lihat temanmu." Ujar Pak Imam.

Romli mengangguk. Namun, baru saja masuk, matanya melihat penampakan wanita berbaju persih dengan apa yang di kenakan Seruni terakhir kali. Romli mendadak gugup tubuhnya makin bergetar ketakutan.

Tubuh wanita itu penuh luka sana-sini, area kemaluannya terus meneteskan darah, rambutnya yang panjang menjuntai acak-acakan, dan kulitnya terlihat mengepul, mengeluarkan asap tipis.

Romli mematung. Wajahnya memucat, dan terlihat keringat mulai membasahi wajahnya.

Pak Imam yang heran, menegur Romli yang masih terpaku di tempatnya, sambil menatap ke arah ujung kamar tanpa berkedip.

"Rom, Romli! Ayo masuk. Kamu kenapa terpaku di sini?"

"I-itu...! Itu, Pak Imam! A-ada..., Teh Seruni di sa-sana." Ucap Romli sambil menelan ludahnya kasar bldengan wajah yang tampak memucat. Tiba-tiba, kepala Wanita itu menoleh ke arah Romli dengan kedua matanya yang lepas dari tempatnya.

Hihi...! Romli...! Apa kamu masih menginginkanku, Rom? Ayolah... kemari, Romli. Dulu, kau terlihat sangat jantan, Romli... kemarilah...! Hihihi.....!

Romli yang ketakutan hendak berlari, namun naas! Kakinya tersandung mainan anaknya Jaka.

"Je-jangan, Teh. Ma-maafkan aku. Aku khilaf waktu itu. Maaf Teteh." Romli beringsut mundur.

Hihi...! KHILAF! KAMU BILANG KHILAF! KALIAN TELAH MENGHANCURKAN AKU BESERTA

KELUARGAKU! KAU BILANG KHILAF! TUNGGU GILIRANMU, ROMLI!!!

HAHA....! HIHIHI..."

"JANGAN!

To-tolong! Jangan, Teteh! Saya mohon, maafkanlah saya, Teteh! Saya menyesal... saya menyesal..." Teriak Romli memejamkan matanya.

Pak Imam yang panik, segera membacakan ayat-ayat Ruqiah kepada Romli.

Beberapa menit kemudian, Romli kembali sadar.

"P-pak Imam." Sebut Romli dengan suara lirih langsung memeluk tubuh Pak Imam kuat.

"Alhamdulillah, kamu sudah sadar juga. Tadi kamu jatuh terus berbicara sendiri sambil berteriak."

Romli langsung menangis.

"Pak Imam. Saya tidak mau mati mengenaskan, atau pun sakit lalu menyusahkan keluargaku, Pak. Tadi Teh Seruni datang, Pak. Bagaimana ini, saya takut, Pak."

Wati yang melihat Romli kesurupan tadi lalu mendekat penasaran.

"Sebenarnya apa yang kalian rahasiakan, Romli?

Apakah ada sangkutannya dengan suamiku?" Tanya Wati penasaran.

"Iya, Teh Wati. Begini ceritanya." Romli menarik napas dalam, lalu ia pun menceritakan kembali kisah mereka seeprti apa yang ia ceritakan kepada Pak Imam,

Tempo hari.

Wati langsung lemas. "Astaga! Kejamnya kalian. Pantas saja, apa pun obat tidak ada yang mempan. Huhu... jadi suamiku tidak akan tertolong?!" Wati terisak, walau dia tahu betul betapa buruknya sepak terjang suaminya. Namun, rasa cintanyalah yang membuatnya tidak ingin kehilangan suaminya.

Tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara Jaka yang tiba-tiba berteriak meminta tolong.

"Tolong! Tolong! Jauh...! Jauh...! Sana! Jangan mendekat. Jangan! Pergi..! Pergi..!" Teriak Jaka. Membuat Dimas yang bermain di kamar sebelah berlari menghambur ke pelukan Wati.

Wati segera memeluk anaknya yang menangis.

Pak Imam dan Romli segera masuk ke ruangan yang di huni oleh Jaka.

Mata Jaka tiba-tiba memerah. "Jaka! Kamu kenapa?" Tanya Romli.

"Romli! Si setan itu mengangguku. Setan Seruni selalu datang mengangguku. Kamu harus bantu aku, Rom. Bakar setan itu, Rom. Seperti kita membakarnya dulu. Agar dia tak mengganggu kita lagi, Romli. Di-dia mendekat! Pergi kau setan! Pergi! Jangan ganggu aku. Aku tau kamu cuma setan! Pergii!" Racau Jaka dengan matanya yang terlihat akan lepas menatap ke satu titik tanpa berkedip.

Di penglihatannya, Setan itu sedang merayap di tubuhnya sambil menjilati sekujur tubuh Jaka, dengan lidahnya yang menjuntai panjang. Jaka menahan napas, ingin berteriak kembali namun seolah lidahnya keluh.

Setan itu terus merayap sampai akhirnya...

"AAKKHHH!!!" Lehernya seakan ada yang mencengkeram kuat.

"Astagfirullahhalazim, Jaka! Istigfar, istigfar Jaka! Mari ikuti ucapan saya." Ujar Pak Imam sambil

membimbing Jaka supaya mengikuti ucapannya.

Namun, bukannya mengikuti, malah Jaka yang lidahnya bisa di gerakkan lagi, makin histeris berteriak dan memaki.

"Sial*n! Dasar Pela*ur! Mati saja kau! Mati! arrgghhtt!!!" Tiba-tiba leher Jaka terasa makin di cengkeram sangat kuat.

Lidahnya mulai menjulur, tak sanggup lagi berteriak atau pun berkata.

"MASSS!!!" Wati berlari mengahampiri suaminya sambil berusaha membantunya melepaskan tangan Jaka yang berada di lehernya sendiri.

"Jangan, Mas. Jangan menyakiti dirimu sendiri. MASS!!!" Wati yang panik berusaha mencari cara agar suaminya tak memegangi lehernya.

Pak Imam yang tau itu akan sia-sia, hanya berdoa yang terbaik untuk, Jaka. Romli menempel pada dinding kamar yang masih setengah permanent itu lesu. Air matanya terus mengalir.

Tiba-tiba tubuh Jaka menghitam, kulitnya pun terlihat melepuh, dan Jaka pun menghembuskan napasnya yang terakhir dengan mata yang melotot dan lidah yang menjulur keluar.

"Innalilahiwainnailaihiroziun." Ucap Pak Imam. Lalu ia memejamkan mata Jaka. Namun tetap saja tidak mau menutup. Pak Imam kembali beristigfar.

Wati tak bersuara. Dia hanya bisa menangis sambil memeluk putranya yang masih balita.

"Yang sabar ya, Wati. Ini sudah takdirnya. Mari kita doakan arwah suamimu, supaya tenang di sisi Nya."

Dan Romli segera kembali ke rumahnya dengan keadaan seperti orang linglung.

Tiba-tiba. BRAAAAKKKK!!!

Romli jatuh tak sadarkan diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!