NovelToon NovelToon
INGRID: Crisantemo Blu

INGRID: Crisantemo Blu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: I. D. R. Wardan

INGRID: Crisantemo Blu💙

Di balik nama Constanzo, Ingrid menyimpan luka dan rahasia yang bahkan dirinya tak sepenuhnya pahami. Dikhianati, dibenci, dan hampir dilenyapkan, ia datang ke jantung kegelapan-bukan untuk bertahan, tapi untuk menghancurkan. Namun, di dunia yang penuh bayangan, siapa yang benar-benar kawan, dan siapa yang hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk dari bayang-bayang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I. D. R. Wardan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Il Ritorno Del Passato

"Putriku."

"Apa?!" Vilia terkejut mendengar pernyataan suaminya. Apa maksudnya? Apa gadis yang duduk di kursi roda itu adalah putri suaminya bersama wanita lain? "Apa yang kau maksud dengan putrimu, Suamiku?"

"Kau tidak mengenali putrimu sendiri, Vilia?"

Vilia kembali tersambar petir dengan pernyataan suaminya. Apa dia ...

"Apa maksudnya ini?" gumam Ingrid tanpa melepaskan tatapan tajamnya kepada dua orang di hadapannya.

"Ingrid ..., Bibi akan menjelaskan semuanya padamu."

Vilia menoleh ke arah kakak iparnya begitu nama Ingrid disebut. Jadi benar.

Tatapan Vilia seketika berubah penuh kebencian.

"Ayo, kita kembali," kata Vilia dingin kepada keluarganya. Namun matanya masih tertuju pada Ingrid dengan pandangan tak mengenakkan.

Tatapan Ingrid yang awalnya dipenuhi keterkejutan kini berubah dingin. Kebenciannya begitu kentara, menyelimuti atmosfer di sekelilingnya seperti kabut di pagi musim gugur.

Ia menggerakkan kursi rodanya, berniat pergi dari tempat terkutuk ini. Namun, roda kursinya terhenti.

Frenzzio menahannya.

"Lepaskan," Ingrid berkata dengan penuh tekanan.

Frenzzio diam, hanya menatapnya dengan sorot mata yang tidaka dapat dijelaskan dengan pasti.

"Beginikah caramu menyambut orang tuamu, Ingrid? Apa ayah angkatmu tidak mengajarimu tata krama?"

Ingrid mencibir mendengar ejekan itu.

"Ayahku mengajarkanku tata krama dengan sangat baik. Dia juga mengajarkanku siapa yang layak dihormati dan siapa yang seharusnya tidak."

Marcello segera menengahi. "Ayah, biarkan dia pergi."

"Ayah?"

Kata itu terdengar seperti bel kematian bagi Ingrid.

Segalanya semakin memuakkan.

Tanpa pikir panjang, Ingrid berusaha berdiri dari kursi roda. Namun, tubuhnya goyah. Baru dua langkah, ia nyaris terduduk di lantai jika saja Frenzzio tidak menangkapnya.

"Frenzzio, bawa dia."

Tuan Giorgio memerintahkan dengan suara tak terbantahkan.

Navarro dan keluarganya melakukan perlawanan, tapi para pengawal sudah siap menahan mereka.

"Ingrid!" seru pamannya.

Marcello bergerak cepat, dia menahan Frenzzio yang ingin membawa Ingrid, lalu menggendong Ingrid.

Ingrid tidak tinggal diam. Ia meronta, menendang, dan memukul-mukul Marcello.

"Kau seperti anak liar," gumam Marcello, namun tetap menahan Ingrid erat.

Frenzzio, yang mulai kehilangan kesabaran, mengeluarkan sapu tangan, menyemprotkan sebuah cairan, setelahnya dia membekap hidung dan mulut Ingrid dengan benda itu.

Mata Ingrid membelalak. Ia memberontak, tetapi tenaga Frenzzio terlalu kuat.

Kesadarannya perlahan memudar.

"Akhirnya dia tenang," ujar Frenzzio ringan.

Marcello menatapnya tajam. "Kau tidak perlu melakukan itu!"

Frenzzio hanya tersenyum tipis dan berjalan mendahului mereka.

Marcello menggendong Ingrid yang tak sadarkan diri, lalu berbisik, "Maaf, kau harus terlibat dalam semua ini."

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

"Ayo, makanlah, Ingrid. Sedikit saja. Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu sendiri?"

Ingrid sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia mengacuhkan keberadaan Marcello. Sejak kemarin malam dibawa paksa ke mari, Ingrid sama sekali tidak berbicara ataupun makan. Ia benci berada di sini, ia benci orang-orang yang tinggal di rumah ini. Tidak terbayangkan baginya akan berada satu atap dengan orang-orang ini.

Ingrid sedari tadi menatap keluar jendela yang mengarah ke taman dan kolam renang yang luas. Entahlah karena Ingrid tak memiliki apapun lagi yang pantas di pandangnya, dia kehilangan minat pada segala di sekitarnya. Ingrid perlahan memutar arah pandangannya hingga matanya bertubrukan dengan mata biru milik Marcello yang tampak redup.

Marcello menunggu Ingrid mengeluarkan kalimat yang akan diucapkannya. Tapi, setelah beberapa saat, Ingrid tidak kunjung mengatakan apapun dan hanya menatapnya dengan intens. Hingga saat Marcello baru saja akan membuka suara. Ingrid lebih dulu menyela dengan berkata sesuatu yang membuat perasaan Marcello menjadi campur aduk.

"Ian."

Marcello membatu.

Melihat reaksi yang ditunjukkan Marcello, Ingrid langsung membuang muka.

"Keluar ... "

"Ingrid ... "

"Keluar!"

"Maafkan aku, tolong dengarkan penjelasanku."

Air mata Ingrid jatuh tanpa bisa dicegah. "Keluar ... " suruh Ingrid dengan suara serak menahan tangis.

"Maaf ... "

"Bodoh sekali aku, hingga bisa ditipu oleh kalian semua. Keluar kau, aku membencimu. keluar! Aku membencimu." Ingrid histeris berteriak sambil melemparkan bantal-bantal ke arah Marcello. Ia juga meraih lampu tidur beserta gelas berisi air minum di meja kecil di samping tempat tidurnya.

Marcello terkejut dan reflek menjauh dari Ingrid. Ia memandang Ingrid dengan sedih penuh penyesalan. Ia memang telah menduga Ingrid akan membencinya. Tapi, ia tidak menduga akan sampai seperti ini. Ia bingung, ia tidak ingin menjauh tapi juga tidak bisa mendekat. Ini yang takutkan, namun ini pantas baginya.

Karena suara gaduh yang ditimbulkan Ingrid, nyonya Vilia datang untuk melihat apa yang tengah terjadi di dalam rumahnya. Matanya yang dihiasi oleh riasan melotot. melihat kamar yang berantakan. Bantal-bantal berserakan di lantai dan pecahan kaca yang bertebaran. Marcello berdiri diam seraya memegang piring berisi makanan sementara Ingrid berteriak histeris.

Emosi terpancar jelas di matanya. ia berjalan mendekati Ingrid.

Suara tamparan menggema di seluruh sudut ruangan itu. Pipi Ingrid langsung terasa panas, perih menjalar seperti api kecil yang menjilat kulitnya. Kepalanya sedikit tersentak ke samping akibat pukulan itu, helaian rambutnya berantakan menutupi wajah. Sejenak ia terdiam, tangan kanannya terangkat pelan menyentuh bekas tamparan yang terasa membakar.

Ingrid terkekeh dingin.

Tatapannya terangkat, bertemu dengan mata penuh amarah di depannya. Bibirnya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena emosi yang bercampur aduk, terhina, marah, dan mungkin sedikit patah hati.

"Beraninya kau ...," suaranya rendah, namun menggema seperti ancaman yang menunggu ledakan. Marcello terbelalak dengan tindakan ibunya.

"Tidak pernah berubah ... Ayo, tampar aku lagi! Lakukan, Nyonya Vilia!"

Nyonya Vilia yang masih sangat dikuasai emosi terpancing dengan perkataan Ingrid. Tangannya bergerak kembali untuk menampar Ingrid untuk kedua kalinya. Akan tetapi, kali ini Marcello berhasil mencegah. Ia menahan tangan ibunya yang akan kembali menyakiti Ingrid.

"Hentikan, ibu." Marcello memandang ibunya dengan penuh keteguhan.

"Menyingkir, Marcello. Ibu akan memberi anak sialan ini pelajaran!"

"Ibu, cukup!"

"Minggir, Marcello, " desis Ingrid dengan penekanan pada nama Marcello, "jadilah penonton seperti biasanya, jangan berlagak menjadi pahlawan."

"Hentikan, Ibu," kata Marcello dengan nada tenang, meski wajahnya mengeras.

"Marcello! Jangan ikut campur!" suara nyonya Vilia naik satu oktaf, sarat dengan kemarahan. "Anak ini harus diajari cara berbicara yang benar!"

"Ibu," Marcello menatap mata ibunya, sorotnya penuh keteguhan. "Dia putri ibu! Ibu sudah sangat keterlaluan."

Ingrid mendongak, menatap Marcello dengan ekspresi campuran antara keterkejutan dan kecurigaan. "Oh, jadi sekarang kau peduli?" tanyanya dengan nada sarkastik, matanya menyipit tajam.

Marcello menghela napas panjang, tetapi tidak melepaskan cengkeramannya pada tangan ibunya. "Maaf." hanya kata itu yang dapat Marcello gaungkan.

Nyonya Vilia menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Marcello. "Marcello, kau tidak tahu apa yang kau bicarakan! Anak ini—"

"Anak ini adalah keluarga kita," potong Marcello dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya. "Kita seharusnya melindungi satu sama lain, bukan saling melukai."

Ingrid terkekeh dingin. menatap mereka berdua dengan mata penuh kemarahan yang kini bercampur dengan kesedihan yang tersembunyi.

"Keluarga, ya? Lucu sekali mendengar itu dari kalian."

"Ingrid—" Marcello mencoba mendekatinya, tetapi Ingrid mengangkat tangan, menghentikannya.

"Jangan, Marcello. Jangan berpura-pura peduli sekarang." Suaranya rendah, hampir seperti bisikan, tetapi tajam seperti pisau. "Kau selalu diam, selalu menonton. Jadi tetaplah seperti itu."

Marcello terdiam, kata-kata Ingrid menghantamnya lebih keras dari tamparan apa pun. Ia ingin membantah, tetapi tidak tahu harus berkata apa.

"Sejak dulu kau selalu menyulitkan orang lain. Kenapa kau harus datang lagi dalam hidupku, anak sialan? Enyahlah dari rumah dan keluargaku! Seharusnya kaulah yang pantas mati bukan putriku."

"Ibu!"

Nyonya Vilia berbalik pergi tanpa menghiraukan teguran putranya.

Ingrid diam. Tidak ada kemarahan, tidak air mata.

"Kau memang tidak seharusnya ada di sini."

"Kau pikir, aku ingin berada satu atap dengan orang-orang seperti kalian? Sebuah kutukan berada di sini."

"Adikku ..." gumam Marcello pelan, nadanya penuh penyesalan. "Aku hanya ingin melindungimu."

Ingrid tersenyum tipis, penuh ironi.

Hening.

"Apa yang telah kulewatkan, amore?"

1
minato
Terhibur banget!
I. D. R. Wardan: makasih udah mampir, semoga gak bosan ya🥹💙
total 1 replies
Yuno
Keren banget thor, aku jadi ngerasa jadi bagian dari ceritanya.
I. D. R. Wardan: Makasih ya🥹
total 1 replies
Yoh Asakura
Menggugah perasaan
I. D. R. Wardan: Makasih ya🥹 author jadi makin semangat nulisnya 💙
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!