"Gue tegasin sekali lagi sama lo, jangan sampai identitas gue kebongkar! Kalau satu orang saja tau siapa gue sebenarnya, gue nggak akan segan-segan untuk ngebunuh lo Clara! dan mulai hari ini, lo harus jadi pacar gue, gue nggak terima penolakan!!! So, deal or dead?" Ucap Daren sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Nazhifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bismillahirrahmanirrahim.
---
Sesampainya di Cafe
"Mbak pesen nasi gorengnya dua ya, sama caramel macchiatonya dua juga," ucap Daren memesan.
"Eh ren, lo beneran besok malam pingin ngebunuh? duh mending nggak usah deh, gue dari tadi kepikiran terus tauk? kan bahaya!" ucap Clara lagi sedikit berbisik.
"Udah lo tenang saja, nggak bakalan ketahuan kok, kecuali lo ngelapor pak polisinya!" ucap Daren santai.
"Lah kok jadi gue?" tanyak Clara heran.
"Kan cuma elo satu satunya manusia yang tahu siapa gue sebenarnya" jawab Daren tersenyum simpul.
"Eh tapi bukan berarti gue juga kali" elak Clara kesal.
"Iya iya deh, yaudah mending kita makan" ucap Daren sambil mengelus pelan kepala Clara, yang membuat Clara kembali tersipu malu.
...
Setelah mengantar Clara pulang, Daren langsung menuju rumahnya.
"Masih berani pulang kesini ternyata," ucap Daren dingin kearah Mama dan Abangnya.
"Gimana kaki lo? masih patah? Syukur deh, jadi gue nggak perlu banyak ngeluarin tenaga buat ngehajar lo!"
"DAREE...!" ucap Mama berteriak namun seketika ia menutup rapat mulutnya.
"Kenapa? kok nggak jadi teriak?" ucap Daren tersenyum smirk sambil menarik dagu mamanya secara paksa.
"Ingat ya, ini peringatan yang terakhir kalinya buat lo berdua, kalau sampai lo berdua berani sok hebat lagi didepan gue, gue nggak bakalan segan-segan matahin leher lo berdua!"
"I-i-iyaa mama ng-ngerti" ucap mamanya terbata dengan air mata yang jatuh perlahan.
"B A G U S" ucap Daren sambil menuju kamarnya.
...
Pukul 06.35 Wib Daren sudah berangkat ke sekolahnya dan tidak lupa pula ia menjemput Clara.
"Pagi nona manis, How Are You?" ucap Daren tersenyum manis.
"Apaan sih ren? malu kali diliatin anak-anak" Clara berusaha mendorong Daren pelan.
"Hah? anak-anak? anak-anak kita maksudnya?" ucap Daren yang sukses membuat pipi Clara merona.
"Bukan itu, maksud gue anak-anak di sekolah ini," ucap Clara sambil menundukan wajahnya.
"Ceileh nggak usah ditekuk juga kali mukanya ra, nanti cantiknya ilang loh," ucap Daren kembali menggoda Clara sambil mentoel-toel pipi Clara.
"IIHH Dareenn" ucap Clara spontan sambil mendongakkan kepalanya menghadap Daren.
"Apa?" jawab Daren sambil mendekatkan wajahnya ke arah Clara.
"Eh kok pipi kamu merah-merah ra?" tanya Daren sambil mengelus pipi Clara.
"Loh loh kok makin merah kalau dielus gini?" ucap Daren pura-pura tidak tahu.
"Ihh mana ada pipi aku merah, enggak yaa, Ahh bodo gue mau ke toilet dulu," ucap Clara sambil menyentak pelan tangan Daren.
"Eh Ra kok gue ditinggal sih," ucap Daren terenyum geli sambil menyusul Clara.
...
"Aduuh pipi, lo kenapa sih nggak bisa banget diajak kompromi? kan gue malu ketahuan blushing di depan Daren." ucap Clara kesal sambil menangkup kedua pipinya yang benar-benar sudah memerah.
"Oke tenang ra, lo harus jaim dikit di depan Daren, jangan sampe ketahuan kalau lo suka sama dia" Clara berbicara sendiri didepan cermin.
"Huuffftt" Clara menghembus nafasnya pelan sebelum ia keluar dari Kamar mandi.
Namun baru selangkah menuju keluar, "Anjirrr lo ngapain disini? Dasar otak mesum!" cibir Clara sambil memukulkan tasnya ke arah Daren.
"Eh Tikus got Tanah Abang, enak aja lo bilang gue otak mesum" elak Daren tak mau kalah.
"Lah emang lo otak mesum, buktinya ngapain lo didepan toilet cewek kalau nggak pingin macem-macem." tuding Clara memicingkan sebelah matanya.
"Eh Clara Sayang, gue kesini mau nyusulin lo, nanti kalau lo mati didalam sana gimana? kan kasian mayat lo"
"Dasar lo Psikopat nyebelin, ya sudah kalau gitu gue mau kekelas duluan," ucap Clara pamit sambil menundukan wajahnya.
Setelah Clara pergi, Daren memukul pelan bibirnya "Aduuhh ni mulut main ceplos aja, kan tengsin ngomong begitu (sayang) didepan Clara."
"Ahh tau ah, pura-pura cuek aja dah gue," ucap Daren sambil pergi kekelas.
...
Pukul 22.30 Wib
"Gimana ki, sudah beres?"
"Sudah lo tenang saja, target kita sebentar lagi pasti lewat sini, mending sekarang kita sembunyi dulu."
"Oke sip"
...
"Dim, lo yakin kita lewat sini?"
"Ha elah, yakinlah, kenapa, lo takut bal?" ucap Dimas meremehkan.
"Ya enggak lah, ngapain gue takut, gue cuma ngerasa aneh saja, karena hawa disini tu agak lain-lain gimana gitu dim" ujar Iqbal bergidik ngeri.
"Ya sudah ayok jalan terus." ajak Dimas.
"Ren, bagian lo yang si Dimas itu, biar bagian gue yang penakut, hehe" ucap Dicky.
"Anjirr okedeh"
"Hello bocah-bocah," ucap Daren dan Dicky menghadang jalan mereka berdua.
"Mau apa lo hah?" teriak Dimas sok berani.
"Wuhuu santai dulu bro, kita mau main-main dulu bareng kalian berdua" ucap Dicky tersenyum smirk.
Tanpa basa basi Dicky langsung menarik kerah baju Iqbal, dan kemudian Dicky menghajar korbannya habis-habisan, namun sebelum nyawa korban melayang, Dicky langsung mengeluarkan pisau kater yang ada disaku jaketnya.
Kemudian ia mulai menggesekan pisau itu kearah korbannya. Mulai dari pipi hingga ketangan korban.
"Sreeet....Sreeeeet" darah korban menyucur dengan sangat deras.
Meskipun sang korban telah berteriak minta ampun, Dicky seakan tidak peduli, dia malah semakin asyik menggoreskan pisau tersebut ke leher korban, hingga akhirnya Dicky mengakhirinya dengan menusuk paksa leher korban dengan pisaunya.
"Cusshhhh," seketika seluru badan pisau milik Dikcy amblas tepat di kerongkongan si korban.
Melihat korbannya yang tewas seketika membuat Dicky tertawa puas. Namun aura ketakutan sangat terlihat dari raut wajah korban satunya lagi yaitu Dimas.
"M-mmau apa kalian? A-p-pa salah kami sama kalian?" ucap Dimas terbata ingin menangis karna saat ini posisi Dimas sudah terduduk dilantai dengan posisi tangan dan kakinya di ikat.
"Lo memang nggak ada salah apa-apa sih, tapi gue nggak suka aja dengan gaya lo yang sok keren itu," ucap Daren sambil mengarahkan pisau yang ada ditangannya keperut korban.
Tanpa ba bi bu, Daren menusuk pelan perut korban sampai seperempat pisau menembus perut korban.
Kemudian ia mencabutnya kembali dengan pelan, lalu menusuk bagian sebelahnya lagi sampai lima kali.
"Crusshhh, crusshhh" cipratan darah yang melambung kewajah Daren tidak diperdulikannya, karena Daren malah menyukai hal itu.
"Akkkhh S-sakiiitt, ammpun gue mohhoonnn," ucap korban menahan sakit luar biasa.
"Hahaa terus lah memohon," ucap Daren tertawa yang kini wajahnya sudah semakin penuh dengan darah.
Lalu untuk mengakhiri aksinya, Daren menendang keras kepala korban, dan memutar kepala korban secara paksa ke belakang. "KRRAACK" dan seketika nyawa korban benar-benar tiada.
Setelah mengetahui bahwa korbannya telah tiada, Daren dan Dicky tertawa puas, kemudian mereka membawa mayat tersebut ke tepi jurang, dan segera membuangnya.
Setelah itu mereka membersihkan diri di kediaman Dicky, karena Dicky tinggal sendiri di Apartemennya.
Tepat Pukul 00.30 Daren tiba dirumah, kemudian ia bergegas masuk ke kamarnya lalu tidur.
...
Pagi pukul 07.00 wib.
Seluruh murid kini sudah masuk kekelasnya masing-masing, begitu juga dengan Daren dan Clara.
Namun disaat mereka belajar, Kepala Sekolah masuk ke kelas dan memanggil Daren dan Dicky.
"Yang bernama Daren Alonso dan Dicky Defriyan di harapkan ke kantor saya sekarang! Ada polisi yang ingin berbica dengan kalian berdua" ucap Kepala Sekolah tegas.
...
Nah hayoo kenapa tuh Daren sama Dicky dipanggil, kok ada polisi ya? Apa jangan-jangan mereka ketahuan?
....
Makasih buat yang udah baca dan coment, see you next chapter ♥
...
salam hangat
suci nazifah
Menurut gue psikopat itu lebih suka ke wajah&suara kesakitan korbannya, bukan cuma pen bunuh doang. Tapi mereka punya keinginan liat muka orang takut, gituuuu...
sumpah gakk niat buat cerita ini author
padahal ceritanya bagus banget😫😫