🏆 Juaranya 2 Lomba Tema Chiklit - Wanita Kuat S3
Aku Lucia. Seorang agent peringkat SSS di sebuah organisasi yang mengembangkan Sistem Reinkarnasi dunia modern di masa depan.
Masalah muncul pada dunia kecil yang terus bermunculan akibat manusia terus membuat novel dan komik.
Aku sebagai salah satu agent menjalankan reinkarnasi dan memainkan peran untuk mengubah isi novel atau komik karena permintaan dan ketidakpuasan pemeran pendukung pada bagian akhir cerita.
Aku bersama Momo si pendamping sistem menjelajahi berbagai dunia kecil dan dengan cepat meraih peringkat tinggi di organisasi.
"Nona, ada misi lagi. Wah, hadiahnya besar sekali kalau bisa menyelesaikan dengan peringkat sss."
Aku mendorong Momo ke pinggir hingga dia terjatuh karena kucing gemuk itu menutupi layar.
"Menjelajahi dunia kecil dan membersihkan sampah-sampah ini. Misi yang begitu mudah dengan hadiah yang besar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Lucia, Lion, dan Edith serta Momo kembali ke Kediaman Lamboerge. Wajah Lion sedikit muram karena dia harus membayar 4,5 juta koin emas dari belanjaan Lucia.
Setelah tiba di kediaman, Edith nampak enggan berpisah dengan Momo sehingga Lion harus menarik paksa Edith kembali ke Istana Emerald.
Mereka semua melewatkan waktu makan malam bersama sehingga mereka makan di kediaman masing-masing.
"Nona Lucia, kebencian dari Selviana itu lumayan tinggi -45%. Nona tinggal menunggu 55% lagi untuk mencapai -100%."
"Aku tidak percaya saat Nona bilang dia bodoh kebenciannya meningkat 20%. Nonaku memang hebat." Ekspresi Momo terlihat bangga meski di kedua tangannya memegang cemilan.
Lucia merasa khawatir dengan berat badan Momo yang semakin bertambah. "Momo, Sekarang berat badanmu mungkin hampir 8 kilogram. Aku punya ramuan untuk menurunkan berat badan."
Lucia mengeluarkan ramuan aneh berwarna hijau dengan bau yang cukup menyengat membuat Momo bergidik ngeri.
"Aku tidak mau minum itu, aku tidak mau," teriak Momo menggema di kamar. Tapi Lucia terus mengejar dan menyuapi Momo minuman pelangsing aneh itu.
Momo tertangkap dan Lucia menyuapinya dengan paksa. Mereka berakhir dengan Momo yang muntah dan menangis kencang.
Keesokan paginya Lucia dibangunkan lebih awal karena hari itu adalah hari pertemuannya dengan guru tatakrama yang bernama Sofia.
Setelah sarapan dan basa-basi dengan Duke serta ketiga Tuan Muda, Lucia menemui Nyonya Sofia yang telah menunggunya.
Nyonya Sofia McLaren adalah guru tatakrama terbaik di Kerajaan Salvavor. Dia tegas dan hampir tidak pernah tersenyum.
Lucia masuk keruangan dan mata Nyonya Sofia tak pernah terlepas dari penampilan wanita berambut hitam itu. Lucia memberi salam dan duduk di hadapan Nyonya Sofia dengan anggun.
Nyonya Sofia cukup puas dengan keanggunan alami yang dimiliki Lucia. Memang garis keturunan tidak bisa berbohong. Nyonya Sofia menghentakan kipas yang dibawanya.
Dia berkata dengan tegas, "pelajaran tatakrama akan segera di mulai. Ini tidak akan mudah. Jangan berpikir karena Nona Lucia adalah anak seorang Duke maka Nona akan di perlakukan dengan spesial. Dalam ajaran saya tidak ada yang seperti. Semua murid akan diperlakukan dengan sama."
Lucia mengangguk dan tersenyum. Dia berkata, "baik Nyonya Sofia." Pelajaran Tatakrama pun berlangsung. Pelajarannya terbagi atas beberapa materi. Yang pertama adalah cara memberi salam kepada Raja, Duke dan lainnya. Kedua, mempelajari silsilah Kerajaan. Ketiga, mempelajari cara berbahasa, istilah, dan makna dari sebuah pembicaraan. Keempat, mempelajari tatacara makan ala Kerajaan. Kelima sekaligus yang terakhir adalah mempelajari dansa dan alat musik.
Lucia harus menyelesaikan semua materi pelajaran sebelum ulang tahun Edith akan diadakan. "Coba ulangi apa yang sudah aku ajarkan tadi!" Perintah Nyonya Sofia pada Lucia.
Lucia sedikit membungkuk dengan salah satu kaki berada dibelakang dan mengucapkan sapaan yang memang ditujukan untuk Raja. "Salam pada Raja pemilik Kerajaan Salvavor. Semoga cahaya mentari menyinari keagunganmu dan kerajaan kita akan abadi selamanya."
"Kalau untuk Ratu?" Tanya Nyonya Sofia.
Lucia menjawab, " Salam pada Ratu pemilik cahaya Raja Kerajaan Salvavor. Semoga cahaya rembulan menyinari keagunganmu dan Kerajaan kita akan abadi selamanya."
"Untuk Pangeran dan Putri?" Tanya Nyonya Sofia lagi. Lucia pun menjawab lagi. "Kalau untuk pangeran, Salam untuk Pangeran Pemilik Cahaya Kerajaan Salvavor. Semoga cahayamu meliputi Kerajaan yang abadi selamanya."
"Untuk putri, Salam untuk Putri pemilik cahaya Kerajaan Salvavor. Semoga cahayamu meliputi Kerajaan yang abadi selamanya."
"Untuk putra mahkota, Salam untuk Putra Mahkota pemilik cahaya Kerajaan Salvavor. Semoga cahayamu meliputi Kerajaan yang abadi selamanya."
Nyonya Sofia menganggukkan kepalanya tanda cukup puas dengan hasil belajar Lucia tapi ucapan selanjutnya dari Nyonya Sofia membuat Lucia cukup kesal.
"Sebenarnya, Keluarga Lamboerge tidak perlu memberi salam penghormatan untuk keluarga kerajaan Salvavor. Aku memberitahumu hanya sekadar untuk kau tau dan belajar saja. Jadi kedepannya Lucia boleh tidak memberi salam. Kamu mengerti?"
"Iya aku mengerti." Tatapan kesal dari Lucia hampir saja tertangkap oleh Nyonya Sofia. Untungnya dia dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya. Momo yang dari tadi berada di atas kursi duduk dengan santai sembari memakan camilan hanya terkikik melihat ketidakberdayaan Lucia.
"Kau pasti bertanya-tanya mengapa keluarga Lamboerge tidak perlu memberi salam penghormatan. Itu karena Leluhur dari Keluarga Lamboerge telah menerima hak khusus karena telah menyelamatkan Kerajaan Salvavor dari musuh. Hak khusus itu adalah tidak perlu memberi Salam Penghormatan pada anggota Kerajaan Salvavor." Lucia mendengarkan penjelasan dari Nyonya Sofia dengan seksama.
Nyonya Sofia pun melanjutkan beberapa pelajaran lagi. "Sebulan lagi Nona Lucia akan menghadiri pesta ulang tahun Tuan Muda Edith. Maka dari itu Kau harus bisa berdansa dengan baik dan memainkan minimal sebuah alat musik."
Lucia dengan penuh percaya diri berkata, "Saya yakin bisa berdansa dengan baik dan memainkan alat musik."
Nyonya Sofia terlihat skeptis dan meremehkan. Dia lalu mengatakan, "aku tidak begitu yakin dengan kemampuanmu sebelum aku melihatnya sendiri. Berdansa dan memainkan alat musik bukan hal yang mudah. Bukan hal yang sekali lihat kau bisa melakukannya. Kau harus berlatih terus menerus untuk meningkatkan kemahiran."
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan dan Sosok tampan berambut hitam dan bermata merah terlihat dari balik pintu. Itu adalah Edith.
"Aku ingin melihat adikku belajar." Ucapan singkat dari Edith terlintar dari bibir merahnya. Setelah itu Edith langsung duduk di sebuah sofa pas di sebelah Kucing oren gendut itu.
Momo tampak sedih melihat piringnya yang kosong. Dia pun melihat Edith dengan mata berair. Momo terlihat kasihan. Dia menunjuk piring kosong di depannya. Edith merasa Momo sangat lucu dan imut. Dia kemudian mengeluarkan banyak camilan dari balik baju dan meletakkannya di piring momo.
Mata Momo berbinar. Dia mengelus tangan Edith sebentar dan langsung melahap camilan di depannya. Nyonya Sofia dan Lucia membatin, "dasar kucing yang rakus."
Nyonya Sofia kemudian memanggil seorang asistennya dan mengajari Lucia caranya berdansa. Sekali lihat Lucia juga sudah bisa menghapal tiap-tiap gerakan Nyonya Lucia. Hingga lagu berakhir dan dansa pun selesai.
Nyonya Sofia kemudian meminta bantuan pada Edith untuk menjadi pasangan Lucia saat berdansa. "Tuan Muda Edith, bisakah anda menjadi pasangan untuk Nona Lucia belajar berdansa?"
Edith melihat mereka dengan datar dan sedikit menganggukkan kepalanya. Edith sudah melihat gerakan dansa dari Nyonya Sofia dan asistennya. Gerakan dansa itu sudah dia pelajari sebelumnya sehingga tidak ada kesulitan untuk mengajari Lucia.
Edith memegang pinggang ramping Lucia di tangan kanannya dan menggenggam tangan Lucia di tangan kirinya. Edith pun mulai melangkahkan kaki mengikuti irama. Alunan irama musik klasik terdengar seiring tiap langkah tarian Lucia dan Edith.
Tarian Lucia dan Edith mampu menyihir Nyonya Sofia, asistennya, dan Momo si gendut. Tiap langkah yang di ambil terlihat anggung. Edith dan Lucia pun terlihat serasi karena rambut mereka yang sama hitam.
Saat Lucia berputar gaunnya mengembang dan memperlihatkan sepatu hak tinggi dan kakinya yang indah. Rambut yang indah segelap malam pun bergoyang mengikuti gerakan tarian mereka.
Saat musik berhenti dan tarian mereka berakhir Nyonya Sofia tersadar akan tepukan tangan dari asisten di sebelahnya. Nyonya Sofia merasa sedikit malu dengan kata-kata sebelumnya dia pun bertepuk tangan mengikuti asistennya.
"Aku tidak percaya ada seseorang yang bisa mengikuti tarian ku dalam sekali lihat. Sudah jelas putri Duke Lamboerge ini jenius. Kenapa selama ini di sembunyikan?"
"Banyak juga rumor yang tidak menyenangkan seperti rumor bahwa dia ditelantarkan oleh Duke, ini tidak benar kan?" batin Nyonya Sofia di pikirannya.
Setelah menunjukkan kepiawaian Lucia dalam berdansa. Nyonya Sofia dikejutkan lagi dengan kepandaiannya dalam bermain musik.
Sementara itu di tempat lain Pangeran Damian sedang menulis surat untuk Lucia dan berharap bisa bertemu kembali dengan Lucia.