Zaman sekarang mau dijodoh-jodohkan, siapa yang mau?. Bram, sepupu Byakta Aryasatya berusaha menjodohkan sepupunya itu dengan sepupu istrinya. Tahu sendiri keluarga dari sebelah Bella, istri Bram banyak yang alumni pondok pesantren bahkan ada yang memiliki pondok pesantren. Sementara pemahaman Bella sendiri standar saja meskipun dia menutup aurat juga. Byakta menolak tawaran Bram.
Di hari pertama, Byakta masuk kerja karena menggantikan posisi Manajer Keuangan yang resign, dia dikejutkan oleh ruangan divisi keuangan yang ramai bak pasar. Banyak karyawan perempuan sedang sibuk memilih-milih barang.
Zeevana yang punya lapak langsung dipanggil Byakta keruangannya. Gadis itu dilarang buka lapak di dalam kantor. Zeevana sangat kesal dengan Byakta padahal dia tidak mengganggu jam kerja. Byakta saja yang datangnya kepagian. Sejak hari itu Zeevana bersikap tidak bersahabat dengan atasannya itu.
Ternyata Zeevana adalah sepupu Bella. Bella juga akan menjodohkan Zeevana dengan sepupu suaminya.
Akankah Zeevana menerima perjodohan dari sepupunya ?
Impian Zeevana yang ingin memiliki suami yang bisa menjadi imamnya dunia akhirat akankah terwujud ?
Sementara Byakta yang sudah mengetahui dengan siapa dia akan dijodohkan, jadi berpikir ulang untuk mencoba mengenal Zeevana lebih dekat dengan caranya sendiri.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Yuk lanjut baca aja 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rabiha Adzra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10 Ditraktir Bos
'Aku lebih suka dia marah-marah deh daripada didiamkan seperti ini. Kok, malah jadi seperti perang dingin saja. Padahal sebelum acara pengenalan dan sekaligus lamaran itu kami biasa-biasa saja,' pikir Zeevana sambil mengetuk-ketuk bolpointnya di atas meja. Salah satu kebiasaan Zeevana kalau dia sedang melamun.
“Zee, istirahat woi!!,” teriak Mike memukul pundak Zeevana sekaligus membuyarkan lamunannya.
“Astaghfirullah Mike!!. Kebiasaan jelek kamu, ya,” gerutu Zeevana kesal.
“Kamu nggak lapar, Zee?,” tanya Vera melewati kubikel Zeevana.
“Lapar sih, Mba. Tapi aku lupa bawa dompet tau nggak,” jawab Zeevana lemas.
‘Mana nggak ada yang bayar kreditan, jadi merana banget nggak bawa uang,' batin gadis itu.
“Wah, rencana kita pulang dari kantor untuk cuci mata ke mall batal, dong,” ujar Vera tidak bersemangat.
“Jadi dong, Mba. Kalau Mba Ve mau jadi donatur?,” ucap Mike semangat memberi ide.
“Kalau Zee mau pinjam uang, aku tidak keberatan. Aku pinjamkan, kok,” balas Vera setuju asalkan rencana mereka ke mall tetap terlaksana.
Di kantin perusahaan
“Kok, ramai amat nih kantin. Tumben ya,” tanya Mike.
Mereka melihat suasana ruang kantin yang penuh sesak oleh karyawan dari berbagai divisi. Zeevana pun tampak heran. Emang tidak biasanya suasana kantin seramai hari ini.
“Zee, buruan sini,” teriak Icha memanggil Zeevana dan teman-temannya sambil melambaikan tangan ke atas.
Kebetulan kursi yang ada di depan Icha kosong, karyawan yang makan di depannya telah selesai.
“Hei, kalian dari divisi keuangan sendiri kok nggak tahu kalau semua makanan dan minuman di kantin ini sudah dibayar oleh Pak Byakta. Jadi semua karyawan bisa makan dan minum gratis hari ini,” celoteh Icha.
Zeevana mengeryitkan dahinya.
“Dalam rangka apa, ya?,” tanya Zeevana heran.
“Nggak ada, sih. Kata beliau cuma sebagai perkenalan darinya saja karena beliau belum sempat silaturahim dengan karyawan lainnya,” jawab Icha.
‘Apakah ini sisi lain dari seorang Byakta, yang tidak sayang dengan uang untuk membahagiakan karyawannya?,’ batin Zeevana.
“Wah, curang nih, Pak By. Masa kita bawahannya sendiri nggak dikasih tahu,” omel Mike tidak terima. Padahal siapa sih, Mike ?.
“Iya nih, kita demo aja,” kompor Vera setuju dengan usul Mike.
“Aduh, kenapa Pak By yang ganteng mau didemo, sih?. Pak By sudah berbaik hati memborong semua isi kantin. Kan kasihan,” bela Vemy yang memang sekarang menjadi fans berat Byakta.
“Udah ah, ribut saja kalian. Perut udah keroncongan. Masa bodoh soal itu,” ujar Zeevana tidak mau tahu dia menghampiri showcase mengambil minuman dingin yang masih bersisa beberapa botol lagi.
***
Setelah jam makan siang Mike menghadap ke ruangan Byakta. “Ada apa Mike?,” tanya laki-laki tampan itu.
“Pak, saya boleh protes nggak?,” tanya Mike halus, sehalus putri keraton.
“Hmm. Soal apa itu?,” Byakta balik bertanya kepada Mike.
“Kenapa kami di divisi keuangan yang notabene karyawan Bapak langsung, kok tidak diberitahu adanya makan gratis di kantin perusahaan yang semua makanan dan minumannya sudah dibayar oleh Bapak?,” tanya Mike kecewa.
Oh, jadi masalah itu yang mau ditanyakan Mike. Byakta jadi ingin senyum sendiri namun dia tahan. Dia memang sengaja melakukannya.
“Saya sengaja tidak memberitahu kalian karena saya mau mentraktir karyawan divisi keuangan di tempat lain. Apa kalian keberatan?,” jelas Byakta.
Wajah Mike yang tadinya tampak kecewa kini berubah ceria setelah mendengarkan alasan Byakta.
“Benaran, Pak?. Bapak nggak PHP, kan?,” tanya Mike hampir tidak percaya.
Byakta mengangguk saja. 'Apaan sih Mike. Memang tampangku suka PHP- in anak orang apa,' batinnya.
“Kapan, Pak?,” tanya Mike tanpa basa-basi lagi.
“Pulang dari kantor bisa. Atau terserah kalian bisanya kapan,” jawab Byakta. memberinya pilihan.
“Oya, Pak. Saya dan teman-teman kebetulan mau ke mall pulang nanti. Gimana kalau sekalian aja, Pak?,” ujar Mike.
“Oke. Saya akan pesankan tempat makan yang ada di mall yang kalian tuju. Nanti saya kabari, jadi kalian bisa langsung ke sana saja,” kata Byakta setuju.
“Baik, Pak. Makasih sebelumnya ya, Pak,” ujar Mike pamit keluar dari ruangannya.
***
Tiba di mall, gadis-gadis dan satu orang janda itu melihat-lihat pakaian branded yang lagi nge-trend sekarang.
“Zee, mau dong yang ini. Kamu kreditkan gih ke aku,” ujar Vemy dengan wajah melasnya. Matanya tidak bisa lepas lagi dari baju setelan berwarna peach itu.
“Ya Allah, Mba Vem. Cek dulu sana ke donaturnya. Kira-kira saldo di ATM-nya masih banyak nggak,”lirik Zeevana ke arah Vera.
“Cukuplah. Ambil saja, Zee,” perintah Vera.
“Mike, kamu nggak beli?. Dari tadi kok ngeliatin ponsel saja,” sungut Vera padahal dia yang paling getol ngajak ke mall.
Mike tersenyum lebar setelah membaca chat dari bosnya.
“Hey, everybody. Hari ini kita dapat traktiran spesial di King Food,” ujar Mike memberitahu teman-temannya.
King Food adalah tempat makan yang terkenal kelezatan makanannya. Menu makanannya juga bervariasi. Hampir setiap mall ada cabangnya. Walaupun harganya lumayan menguras dompet tapi tempat makan itu tidak pernah sepi.
“Hah!. Benaran, Mike?. Siapa?,” tanya Vera tidak percaya mereka mau makan di King Food.
“Nanti kalian tahu sendiri, kok,” jawab Mike tersenyum misterius.
“Kalau gitu kita siap-siap sholat maghrib dulu, nih. Ntar sampe rumah udah masuk Isya lagi, kalau mau nunggu sholat maghrib di rumah,” ajak Zeevana mengingatkan teman-temannya.
Mereka berempat akhirnya mencari mushola untuk sholat. Detelah itu baru mereka menuju ke King Food. Selesai sholat mereka lanjut ke King Food yang berada di lantai empat mall.
Mike mendekati salah satu waiters untuk menanyakan meja yang telah dipesan bosnya.
“Silahkan ke meja nomor delapan atas nama Byakta Aryasatya,” ucap si waiters tersenyum mempersilahkan mereka berempat ke sana.
“Astaga, Mike!!. Jadi yang mau mentraktir kita makan itu Pak By?,” ujar Vera melongo tidak percaya.
“Mike, jadi kamu menghadap Pak By tadi mau minta ini, ya?,” tanya Zeevana menatap Mike tidak suka.
Sikap Mike benar-benar keterlaluan. Bagaimana kalau Byakta beranggapan bahwa itu usulan dari dia juga. Padahal Zeevana tidak tahu apa-apa.
“Nggak, kok. Aku menemui Pak By cuma bertanya saja. Kenapa kita karyawannya sendiri malah nggak tahu soal makan gratis itu. Ternyata Pak By memang mau mentraktir kita semua di tempat yang berbeda,” jawab Mike jujur sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke hadapan teman-temannya. Mike tidak mau teman-temannya jadi salah sangka dengannya. Dia nggak serendah itu, kok.
“Bagaimana dengan Onni?. Kenapa dia nggak diajak sekalian?,” tanya Vera.
“Udah, Mba. Tapi Onni nanti menyusul karena dia mau mampir ke tempat lain dulu,” jawab Mike.
“Lha, terus bagaimana ini?. Kita mau makan apa?. Orang yang mau bayar juga nggak ada,” tanya Vemy cemas.
Terus terang saja, Vemy tidak punya uang banyak untuk membayar satu porsi makanan dan minuman di King Food.
“Tenang saja. Pak By sebentar lagi datang, kok. Kata Pak By, kita langsung pesan saja,” jawab Mike menenangkan teman-temannya.
Mike sudah memberitahu lokasi tempat makan mereka kepada Onni. Jeda sepuluh menit Onni menghampiri mereka.
“Ya Allah, beruntung banget ya kita punya bos kayak Pak By. Udah ganteng, baik pula. Seumur-umur baru kali ini aku makan di King Food,” puji Onni kegirangan.
“Ealah, lebay banget nih cowok,” ujar Vera melempar Onni dengan gumpalan tisu.
“Lebay...lebay!!. Sekarang jujur saja, ya?. Apa kalian semua sudah pernah makan di sini?,” tanya Onni menatap mereka satu persatu. Mereka pun menggelengkan kepalanya.
“Ehem.”
Suara deheman Byakta mengalihkan perhatian mereka yang sedang ribut mulut dengan Onni. Sontak mereka pun terdiam melihat kedatangan atasan mereka..
“Kalian sudah pesan semua?,” tanya Byakta duduk di kursi kosong yang berada di sisi kanan Zeevana.
“Sudah, Pak. Tinggal Bapak dan Onni saja,” jawab Vera tersenyum.
Byakta melihat raut wajah Zeevana dari tadi ditekuk melulu. “Apa di sini ada yang tidak suka saya traktir?,” tanya Byakta basa-basi sekalian menyindir Zeevana.
“Ya Allah, Bapak ganteng. Hanya orang bodoh yang nggak suka ditraktir di tempat makan seperti ini. Ya, nggak?,” jawab Vemy jujur.
Teman-temannya yang lain pun mengangguk setuju. Hanya Zeevana yang bergeming. Zeevana membisu, dia tahu kalau bosnya sedang menyindirnya.
“Zee, kamu yang nggak suka, ya?. Kok diam saja, sih,” tebak Mike menatap heran Zeevana yang duduk berhadapan dengannya.
“Suka,” jawab Zeevana datar lalu menginjak kaki Mike yang berada di bawah meja. Tapi Zeevana melihat wajah Mike biasa saja, Mike tidak merasakan kesakitan sedikit pun.
***
Byakta meringis menahan sakit karena ada yang menginjak kakinya. Kalau bukan Mike pasti Zeevana. Byakta melirik Zeevana yang tampak serba salah. Berarti memang dia.
“Kenapa, Pak?,” tanya Mike melihat raut wajah Byakta yang sedang menahan sakit. Injakan kaki Zeevana lumayan juga.
“Nggak apa-apa. Kayaknya ada semut gajah menginjak kaki saya,” jawab Byakta asal.
Kompak Vera, Mike, Vemy dan Onni tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Byakta. Zeevana hanya menutup mulutnya dengan tangan.
“Gigit kali, Pak,” celetuk Vemy.
Bagaimana juga rasanya kalau semut menginjak kaki manusia. Ada-ada aja.
“Permisi.”
Dua orang waiters menghampiri meja mereka dan meletakkan semua makanan yang sudah mereka pesan. Tawa mereka pun berhenti karena melihat meja sudah penuh dengan makanan.