NovelToon NovelToon
Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Status: tamat
Genre:Duda / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Tamat
Popularitas:559.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Anissah

Ceria Skalane Waktu, wanita karir berusia dua puluh lima tahun. Ia terjebak perasan nyaman dengan seorang duda beranak satu, yang memiliki selisih usia enam belas tahun lebih tua darinya. Sejak kecil, ia kehilangan sosok ayahnya, membuatnya begitu rindu dan mengidamkan sosok dewasa dan kebapakan seperti Kenandra.

Sayangnya, Kenandra sudah memiliki kekasih idamannya. Wanita dewasa, berusia tiga puluh delapan tahun dengan jejak pendidikan yang membuat Kenandra semakin berat pada Putri.

Sedangkan Ria, ia mampu berada di posisi tertinggi dalam perusahaan keluarga kakak iparnya karena kepercayaan keluarga saja. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, bahkan ia tidak pernah bersekolah karena keadaan keluarganya yang begitu rumit saat itu.

Bertambah rumit usahanya untuk mendapatkan Kenandra, karena kerumitan-kerumitannya semakin menjadi, dengan masalah kian bermunculan. Hal tersebut membuatnya berpikir untuk terus maju mengejar cinta Kenandra, atau mundur dengan segenap rasa kecewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MD10. Debit Kenandra

“Besok kita kabur, yang jauh. Jalan-jalan kita, tak usah bilang ayah kau. Biar dia kalap nyariin. Nanti kalau ayah telpon, bilang ya Bunga dijual sama Kak Ria?“ Gemasnya sekali anak ini langsung mengangguk.

Aku tertawa terbahak dengan menciuminya, kemudian menggendong Bunga masuk ke kamarku. Aku harus beristirahat dulu, agar esok tenagaku full untuk membuat rumit Kenandra sialan itu.

Terbukti perjalanan cintaku begitu sial. Aku pergi membeli sarapan, berpapasan dengan bang Ken yang tengah joging bersama Putri. Begitu ya rupanya? Aku pagi-pagi repot anaknya kebelet BAB, minta mandi dan minta makan. Ia malah berolahraga dengan kekasihnya.

Kutandai kau ya Kenandra!

“Ada tak uangnya, Dek?“

Meledek?

Tidak tahu kah dia, jika gaji dan bonusku sebulan sudah menyentuh angka tus-tusan juga?

“Tak punya! Aku cuma anak tukang galon!“ Aku memberi pelototan tajam.

Ia malah mendekat dan tersenyum simpul. Ia seolah tidak memiliki masalah denganku, dengan entengnya ia malah mencubit pelan pipiku, kemudian merogoh kantong celana olahraganya itu.

Aku akan benar-benar menandainya. Contohnya, memberi bekas c******* di dahinya begitu. Agar Putri melihat jelas, bahwa Kenandra bercumbu dengan perempuan lain.

“Rencana hari ini mau ajak Bunga ke mana aja? Pegang debit Abang nih, Dek.“ Ia menyerahkan kartu pipih dengan logo suatu Bank terbesar di Indonesia.

Aku tidak ragu mengambil debitnya. Sekalian nanti akan aku alihkan dananya besar-besaran.

“PINnya tanggal lahir Bunga,” lanjutnya lirih.

“Abang stay di mana?“ Aku benar-benar ingin membubuhkan cap merah di dahinya.

“Kenapa sih? Nanti Abang ke rumah, kalau kau butuh Abang.“ Senyumnya itu sungguh cabul.

Aku tidak pernah tahu, bagaimana caranya ia menangani pasien-pasiennya dengan sifat cabulnya itu. Tapi pasti ia sudah disumpah juga sih, tak mungkin ia mengumbar sifat cabulnya pada pasien-pasiennya.

“Mau keluar sama Putri kah?“ Aku melirik Putri sekilas. Ia berada lima langkah di belakang bang Ken, ia tidak sejajar berdiri di sebelah bang Ken.

“Tak, kemarin udah dikeluarkan.“

Eh? Jika hal yang seperti ini saja, aku mengerti.

“Kenapa?“ Ia tertawa kecil dengan meraup wajahku lembut.

“Tak apa.“ Aku tidak mengatakan tujuanku.

Lagian, agak gila juga membeli sarapan menggunakan debit. Sebungkus nasi kuning di sini masih lima ribu rupiah, pedagang pun tidak menyediakan ATM portabel.

“Abang keliling dulu.“ Sempat-sempatnya tangan nakal itu mengusap punggungku tepat di bagian pengait wadah dada.

Matanya mengerling, ketika ia mulai melajukan kakinya menjauh dariku. Definisi laki-laki mata keranjang, ya seperti ini.

“Dek….“

Aku celingukan karena familiar dengan suara itu.

“Ya, Mah.“ Aku menghampiri beliau yang berada di perempatan jalan.

“Eh, Canda di rumah sakit lagi. Kau tengok keadaan keponakan kau, nanti Mamah buat daftar juga untuk kau belikan daftar alat tulis keponakan kau yang harus kau beli. Syukur-syukur, kau mampu bawa keponakan kau jalan-jalan juga.“

Kabar buruk lagi rupanya. Cendol si kakakku itu, mengalami masalah dalam kehamilannya. Doaku, agar hanya kak Canda selamat saja. Bukannya aku tak menginginkan ia melahirkan keponakan untukku lagi, tapi lebih baik ibunya dulu yang diselamatkan, karena pasti ia bisa untuk membuat anak lagi ketika sehat.

“Mustahil, Mah. Apalagi, Bunga dipegang sama aku sekarang. Aku anterin dia ke ayahnya di Malaysia, malah ayahnya balik nganterin Bunga lagi ke sini. Ngerepotin aku aja anak angkat Mamah itu.“ Aku ngedumel tidak jelas.

“Ya udah, nanti minta anterin sama Ken. Nanti belikan juga beberapa barang keperluan rumah, nanti Mamah buatkan daftarnya juga.“ Mamah berbalik badan dan melangkah menjauh.

“Nek, dititipkan uang tak?“ Bujang tanggung itu menunggu neneknya yang sedang berbicara padaku di sisi jalan lainnya.

“Nih, nih, nih. Belikan makanan untuk adik-adik kau juga, Nenek belum sempat masak.“ Mamah Dinda menyebrang jalanan kecil ini, dengan merogoh kantong dasternya.

Ya sudahlah, biarkan. Aku kembali untuk berkeliling, membeli makanan yang aku inginkan. Mumpung Bunga anteng di depan TV, menonton kartun pagi dengan ditemani ibu.

Aku akan menggunakan kesempatan untuk jalan bersama bang Ken nanti. Biar Putri tahu rasa, jika laki-lakinya malah lebih memilih pergi denganku ketimbang menemaninya. Aku yakin bang Ken tidak akan menolak perintah dari mamah Dinda, karena mamah Dinda adalah orang tua angkatnya.

Selesai menyuapi Bunga dan menyampaikan kabar buruk itu pada ibu, aku langsung berbenah dan memperindah diriku. Ibu menyuruhku untuk mengantarkan makanan ke rumah sakit tempat kakakku dirawat, karena bang Givan menolak ibu untuk menemaninya di sana. Aku tahu alasannya, yaitu karena ibu malah menangis di sana dan membuat keadaan mbak Canda semakin khawatir pada dirinya sendiri.

Titik penjemputan dimulai. Ia sudah stay di depan ruko galon ibu, dengan memandangi kendaraannya yang berukuran cukup besar. Mobilnya, seperti mobil ukuran Pajero. Tapi entah apa namanya, aku tidak mengerti jenis mobil. Yang jelas, warna mobilnya adalah silver.

“Ayah, aku tadi bolak-balik aja ke rumah ambil baju.“ Bunga mendekati ayahnya dengan memeluk boneka Barbie.

Ia dibangunkan sebuah rumah di area halaman rumah samping kakak iparku. Deretan rumah Bunga, beriringan dengan rumah Jasmine, anak Putri dan Ceysa, anak mbak Canda dan mantan suaminya selain bang Givan. Jadi, model rumahnya itu seperti perumahan subsidi. Anak-anak itu pun tinggal sendiri dengan para pengasuhnya, kecuali Chandra. Ia sudah menolak tinggal bersama pengasuh, dengan alasan karena ia sudah baligh.

“Iya ya? Ayah lupa ambilkan baju Bunga. Mau beli baju lagi tak? Atau mau beli seragam sekolah dan pensil aja?“ Bang Ken merapikan baju anaknya.

Aku tengah menunggu ibu membungkus hasil masakannya khusus mbak Canda, tanpa micin karena saran terbaiknya seperti itu. Mbak Canda mengidap kista dermoid, sedangkan dalam keadaan dirinya mengandung juga.

Ini adalah liburan kenaikan kelas, libur selama dua pekan dan aku malah membawa anak ini kembali liburan di rumah. Bukan di Malaysia saja, menikmati menara kembar.

“Pegang daftarnya, Dek. Agak-agak tak sanggup aku tengoknya.“

Oh, jadi bang Ken tengah melamuni daftar belanjaan ini?

Aku meraihnya dan melihat daftar isinya. Tidak begitu banyak berpindah tempat, tapi memang belanjaannya banyak. Sudah ada ukuran untuk seragamnya juga, jadi aku tinggal mendatangi toko seragam dan menyebutkan ukuran yang aku butuhkan. Alat tulis dan tas sekolah pun, sudah dituliskan keterangannya. Contohnya, seperti tas ransel ukuran SMP dengan warna coklat, ungu dan pink. Dengan daftar yang paling bawah, aku harus membeli beberapa telur dan daging sapi beku. Tidak lupa dengan susu formula beberapa jenis dan ukuran yang sudah tertulis.

“Mudah aja ini, Bang. Uangnya pakai uang aku kah kata mamah?“ Aku tidak mungkin hitung menghitung, tapi pastinya bang Givan akan menggantinya. Dengan catatan, uangku harus jelas terkumpul.

“Kata Abang pakai uang Abang aja, Givan yang bayar gaji pengasuh sama makanan Bunga tak tau-tau soalnya. Jadi, itung-itung timbal balik.“ Timbal balik yang cukup besar. Aku yakin, biaya perlengkapan sekolah lima orang anak ini akan mencapai biaya jutaan.

“Nih, Dek. Nanti minta dibuka ya Tupperware-nya kalau udah sampai sana, masih panas semua soalnya.“ Ibu memberikan rantang kekinian dengan warna kuning dan merah.

“Iya, Bu. Aku pergi dulu, assalamualaikum.“ Ibu tahu, jika aku diminta pergi untuk membeli perlengkapan sekolah.

Perjalanan dimulai.

...****************...

1
Lismardiana
hhh
Lismardiana
ingat bg givan banyak sdah memperingatkan kau ria.
Lismardiana
ia disini aq jadi emosi ke laki2 nya
Lismardiana
benar itu
Lismardiana
aq suka sikap ria. jngan mau d mapaat kn.
Yunia Spm
Luar biasa
Yunia Spm
ampun.... mbak nisa....
pengen gigit mbak nisa deh 😁
Batriani Betty
kkk. pelangi diawan seseorang udah tayang kah?
IG : anissah_31: sudah kak. langsung aja ketikan judulnya di pencarian.
total 1 replies
Yulia Dewi Arizki Yulia
menghibur dan cukup mendidik. semangat terus Thor. saya sangat suka ceritanya.
Rosita💖
Suka banget sama ceritanya...
Ga bosen2 aku bacanya....
Love you Thor...😘
Red Velvet
jangan sampai ketinggalan nih cerita cerita seru dari kak Nisa😌
Wilyani
udah selesai aja kisah cinta riut,bang Ken,ayang avin👍👍👍
Hi Dayah
aduh lupa kalo sudah tamat , masih di buka aja😁
nengLomon😍
happy ending 👏😘
Red Velvet
jd ingat mamah Dinda yg hamil kembar ditahun yg sama setelah melahirkan Ghifar😁
Red Velvet
Syukurlah baby triplets lahir dgn sehat dan selamat🥰🥰🥰
Windarti
makasih kak nissa.bener bener bagus ceritanya.mabuk janda udah mabuk duda udah.kayaknya cerita poligami belum kak nisssa.poligami yg berhasil .poligami yg sama sama memberi dan menerima.bukan poligami kayak papah adi ghafi itu.aku penasaran dengan perkawinan poligami yg rukun2 itu.bener rukun atau cuma pura pura.ada ditempatku tapi cenderung tertutup kehidupan mereka
Edelweiss🍀
Akhir bahagia yg begitu manis... Perjalanan penuh lika liku Ria akhirnya membuahkan hasil, mendapat suami yg lebih muda tp sosok idaman bagiku sebagai perempuan. Meski lelaki tetap aja plus minus nya ada😅
HIATUS NYONYA Ris
masih ada cerita mama Dinda dong... sama papah Adi...

ceritain singkat singkat dong.... kisah ghavi waktu pdkt ke Tika seblum Tika mualaf....

kisah ghava yg sempat cerai dari Winda...

kisah icut bisa dapat jodoh orang jauh
Mafa
yahhhh tamat padahal blm liat kerepotan gavin menuhin janjinya😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!