5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Rahasia dibalik itu
Suasana mencekam menyelimuti lorong perpustakaan tua yang remang-remang. Xander melangkah maju, tekanan gravitasinya membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.
"Kalian tahu risikonya menyelinap ke sini, kan?" tanya Xander dengan nada dingin.
Azzura menoleh ke arah teman-temannya dan memberikan isyarat cepat. "Sekarang!"
Vera segera bertindak. Ia tidak hanya menggunakan kekuatannya pada tanah, tapi juga memanggil bantuan dari alam. Ia menempelkan telapak tangannya ke dinding batu tua perpustakaan. "Datanglah padaku!" bisiknya.
Tiba-tiba, dari kegelapan atap dan celah-celah dinding, muncul puluhan kelelawar besar dan tikus-tikus hutan yang berukuran tidak biasa. Kelelawar-kelelawar itu terbang berputar-putar di sekeliling Xander, mengepakkan sayap mereka dengan bising, sementara tikus-tikus itu berlarian di kakinya.
"Sial! Makhluk-makhluk ini menggangguku!" seru Xander sambil mencoba menepis gerombolan hewan tersebut dengan gelombang gravitasi.
Melihat fokus Xander teralih, Azzura maju ke depan pintu perpustakaan. Ia tidak ingin menghancurkan gemboknya dengan ledakan karena suaranya akan memicu alarm seluruh akademi. Ia harus menggunakan cara yang lebih halus.
"Rachel, Luna, bantu aku menstabilkan suhunya!" perintah Azzura.
Azzura memegang gembok rantai sihir ungu itu. Tangannya mulai mengeluarkan cahaya putih yang murni, mencoba menetralkan energi kutukan pada gembok tersebut. Di saat yang sama, ia mengalirkan aliran listrik kecil yang sangat terkendali untuk memicu mekanisme di dalam gembok.
Luna segera menempelkan tangannya di atas tangan Azzura, menyalurkan hawa Es untuk mencegah gembok itu menjadi terlalu panas dan meleleh, sementara Rachel menciptakan ruang hampa udara kecil di sekitar gembok agar percikan listrik Azzura tidak mengeluarkan suara crackel yang nyaring.
Klik.
Rantai ungu itu luruh ke lantai tanpa suara.
"Pintu terbuka! Ayo masuk!" seru Olivia yang sedari tadi bersiaga dengan akar-akar tumbuhan di tangannya untuk berjaga-jaga jika ada serangan tambahan.
Mereka berlima segera menyelinap masuk ke dalam kegelapan perpustakaan yang berdebu. Tepat sebelum pintu tertutup, Vera memerintahkan hewan-hewannya untuk berpencar, meninggalkan Xander yang masih kebingungan di lorong luar.
Di Dalam Perpustakaan Tua
Di dalam, suasananya jauh lebih menyeramkan. Rak-rak buku menjulang tinggi hingga ke langit-langit yang tak terlihat ujungnya. Buku-buku di sini sesekali berbisik sendiri, dan debu sihir beterbangan seperti kunang-kunang redup.
"Ingat pesan Ayah, ruang bawah tanah di bawah perpustakaan tua," bisik Azzura sambil menyalakan cahaya kecil di ujung jarinya sebagai senter.
Mereka berjalan menyusuri lorong buku yang pengap hingga sampai di tengah ruangan, di mana terdapat sebuah patung besar berbentuk naga yang melingkari sebuah bola kristal hitam.
"Lihat ini," Olivia menunjuk ke lantai di bawah patung naga. Terdapat ukiran lima simbol elemen yang sangat mirip dengan simbol di kalung mereka.
"Sepertinya kita harus berdiri di atas simbol masing-masing," saran Luna.
Saat mereka menempati posisi sesuai elemen mereka, lantai di bawah mereka mulai bergetar. Patung naga itu bergeser, menyingkap sebuah tangga melingkar yang menuju ke kegelapan yang lebih dalam.
"Siap untuk mengetahui kebenaran?" tanya Azzura, menatap satu per satu sahabatnya.
"Selalu siap, selama kita bersama," jawab Rachel mantap.
Mereka mulai menuruni tangga tersebut. Namun, di tengah jalan, mereka melihat sebuah lukisan tua di dinding tangga yang membuat langkah mereka terhenti. Lukisan itu menggambarkan lima putri legendaris dari masa lalu, dan wajah mereka sangat mirip dengan Azzura, Rachel, Luna, Olivia, dan Vera.
Namun, ada satu sosok lagi di belakang para putri itu—sosok bayangan yang wajahnya sengaja dirusak dalam lukisan, memegang sebuah kunci berbentuk bintang.
"Kunci Aether..." gumam Vera. "Itu pasti yang dimaksud ayahmu."
Tiba-tiba, suara pintu tangga di atas mereka tertutup dengan keras. Mereka terjebak di bawah tanah.