"Aku ingin menikah lagi, Diah!"
Ucapan Mas Ruli bagai petir yang menyambar Diah di siang bolong.
Berdalih bosan dan merasa kurang diperhatikan oleh Diah Apriani, Ruliansyah tiba-tiba minta izin untuk menikah lagi dengan seorang gadis yang lebih muda yang bernama Siska Maharani.
Hubungan pernikahan Diah dan Ruli yang sudah berjalan selama lima tahun serta kehadiran sepasang malaikat dalam pernikahan Diah dan Ruli, rupanya tetap tak menyurutkan niat Ruli untuk menikah lagi.
Bahtera rumah tangga Diah dan Ruli seakan terombang-ambing tak tentu arah setelah permintaan konyol Ruli tersebut.
"Aku janji akan berlaku adil," Janji Ruli pada Diah.
Apakah pada akhirnya Ruli benar-benar akan bersikap adil pada Diah dan Siska?
Lalu alasan apa yang menjadi pertimbangan Diah, hingga akhirnya ia rela membagi cinta Mas Ruli dan membiarkan sang suami menikah lagi dengan gadis pujaan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI OLENG
"Hhhhhh! Mantep bener punyamu, Sis!" Racau Ruli yang masih intens bergerak di atas Siska.
"Bakal lembur sampai pagi ini," sambung Ruli lagi.
"Nggak capek, Mas?" Tanya Siska yang masih berusaha mengimbangi gerakan Ruli.
"Nggaklah! Kalau perlu, besok pulang kerja, kita encot-encotan lagi sampai pagi," jawab Ruli penuh semangat.
"Tapi besok kan jadwalnya Mas Ruli pulang ke rumah Mbak Diah," ujar Siska mengingatkan Ruli.
"Halah! Aku kesini dulu nggak apa-apa."
"Kita main encot-encotan dulu sampai aku puas, nanti baru aku pulang ke rumah Diah," jawab Ruli enteng.
"Terserah Mas Ruli saja! Siska, sih nurut aja sebagai istri yang baik."
"Kan memuaskan Mas Ruli adalah kewajiban Siska," tutur Siska panjang lebar, bersamaan dengan Ruli yang akhirnya terkapar di atas Siska.
"Huuhhh! Capek aku, Sis!" Gumam Mas Ruli yang sudah berguling dan pindah ke samping Siska.
"Nggak jadi lembur, Mas?" Tanya Siska yang sepertinya masih segar.
"Nanti lagi. Aku mau merem dulu sebentar," jawab Ruli yang sudah memejamkan matanya. Tak berselang lama, sudah terdengar dengkuran dari Ruli.
"Cepat sekali tidurnya," gumam Siska yang memilih untuk segera bangun dan bersih-bersih dulu sebelum ikut tidur bersama Ruli.
****
"Bund, Ayah kok belum pulang?" Tanya Naufal yang berulang kali mengintip ke jendela dan menunggu Mas Ruli pulang. Ini memang hari Kamis dan seharusnya suami Diah itu langsung ke rumah Diah sejak pulang dari pabrik.
"Mungkin ayah ada lembur, Fal! Sabar dulu, ya!" Jawab Diah lembut mencoba memberikan pengertian pada sang putra.
"Donat Naura keburu keras, Bund! Kok Ayah nggak pulang-pulang, sih?" Rengek Naura yang ikut-ikutan rewel.
Tadi siang Naura memang minta dibuatkan donat, dan gadis kecil itu ikut membentuk adonan donat yang disiapkan oleh Diah.
Sekalipun bentuknya tak karuan, tapi Naura bilang kalau itu akan ia berikan pada sang Ayah saat pulang kerja nanti.
Dulu, sebelum Mas Ruli menikah dengan Siska,suami Diah itu selalu pulang tepat waktu dan memang jarang lembur setelah menjabat sebagai HRD. Tapi sekarang sepertinya Mas Ruli sudah lupa dengan perjanjian untuk sehari pulang ke rumah Siska dan sehari pulang ke rumah Diah.
Diah tahu betul kalau Mas Ruli pastilah sekarang sedang berada di rumah Siska main encot-encotan. Padahal ini hari Kamis.
Ck!
Mungkin nanti Diah akan menggetok kepala suaminya itu pakai ulegan sambel biar nggak lupa-lupa lagi hari ini harus pulang ke rumah istri yang mana.
Suara deru sepeda motor SupraX 125 dari halaman depan langsung menyentak lamunan Diah.
"Ayah pulang!"
"Ayah pulang!"
"Hore! Hore!"
Naufal dan Naura langsung menghambur keluar dari rumah dan menyambut kedatangan Mas Ruli yang sudah amat sangat terlambat sekali. Ini bahkan sudah jam delapan lebih.
"Ayah, ayah! Lihat gambar Naufal, Ayah!"
"Ayah, ayah! Naura bikin donat buat ayah!"
Naufal dan Naura tak berhenti berceloteh seraya menunjukkan gambar dan donat hasil karya mereka pada Mas Ruli.
"Iya, gambarnya Naufal bagus!" Puji Mas Ruli seraya mengusap kepala anak laki-lakinya tersebut.
"Donatnya Naura juga enak," lanjut Mas Ruli masih sambil mengunyah donat yang tadi disuapkan oleh Naura.
"Ayo masuk!" Ajak Mas Ruli selanjutnya seraya menggandeng kedua anak kembarnya dan membawa mereka masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum!" Salam Mas Ruli memasang tampang manis pada Diah yang terlihat cemberut.
"Walaikum salam. Lembur, Mas?" Tanya Diah dengan nada menyindir.
"Nengokin Siska sebentar, Diah! Siska sedang tidak enak badan," jawab Mas Ruli jujur.
Ya,
Setidaknya tidak ada dusta di antara kita.
"Oh!" Hanya itu yang keluar dari bibir Diah.
"Jangan marah begitu! Kan aku sudah adil dan tetap pulang kesini sesuai janjiku!" Ujar Mas Ruli lagi mencari alasan dan pembenaran.
"Iya, siapa juga yang marah, Mas? Diah kan cuma bertanya," kilah Diah yang tak mau dituduh marah atau cemburu.
"Jadi, kamu masak apa hari ini, Diah?" Tanya Mas Ruli selanjutnya seraya memegangi perutnya yang sepertinya habis berbunyi.
"Garang asem kesukaan Mas Ruli." Jawab Diah sedikit nge-gas saat mengucapkan kata asem.
"Alhamdulillah. Cocok ini! Kamu dinginkan nasinya dulu sementara aku mandi, ya, Diah! Lengket semua badanku," perintah Mas Ruli yang sudah berlalu masuk ke kamar mandi.
Diah hanya berdecak dan sedikit membatin kesal.
"Memang tadi nggak bersih-bersih dan mandi sekalian di rumah Siska? Jorok sekali!"
****
"Diah, kamu marah to sama Ibu?"
Tanya Bu Eni to the point saat Diah baru mengangkat telepon dari mertuanya tersebut.
"Tidak, Bu! Kenapa Diah harus marah ke Ibu?" Diah balik bertanya dan merasa tak paham.
"Lha kalau memang tidak marah sama Ibu? Kenapa sekarang kamu jarang membawa Naufal dan Naura ke rumah? Sudah mau sebulan ini kamu tidak pernah ke rumah Ibu."
"Sudah tidak sayang kamu sama Ibu?"
"Ya Allah, bukan seperti itu, Bu!"
"Diah sayang sama Ibu! Diah nggak pernah marah sama Ibu juga." Jawab Diah sesabar mungkin mendengar cecaran serta tuduhan dari Bu Eni.
"Diah sedang banyak orderan saja bulan ini, Bu! Jadi nggak sempat main ke rumah Ibu," terang Diah lagi mencoba memberi pengertian pada sang ibu mertua.
"Ya mbok libur dulu barang sehari. Tengokin Ibu ke rumah! Ibu itu juga kangen sama kedua cucu Ibu! Harta nggak dibawa mati kok ya kamu yang nyari sampai ngoyo begitu!"
Jleb!
Nylekit sekali kata-katamu wahai Ibu Mertua!
"Iya, Bu. Nanti sore insyaa Allah Diah akan membawa Naufal dan Naura ke rumah Ibu. Sekarang Diah masih nggosok, Bu," janji Diah akhirnya pada sang mertua.
Memang sejak acara pernikahan Mas Ruli dan Siska waktu itu Diah belum berkunjung lagi ke rumah Bu Eni. Diah hanya malas saja mendengarkan Bu Eni yang selalu mengelu-elukan mantu barunya. Yang katanya sekarang Mas Ruli semakin wangi, semakin ganteng dan bersih setelah diurus Siska. Dan semakin sumringah juga.
Hhh!
Males pokoknya mau dengerin.
"Bener, ya! Nanti sore kamu bawa Naura dan Naufal ke rumah!"
"Iya,Bu! Insyaa Allah!" Jawab Diah seraya menghela nafas panjang berulang-ulang.
"Assalamualaikum!"
"Walaikum salam, Bu!" Jawab Diah bersamaan dengan panggilan telepon yang sudah terputus. Diah meletakkan ponselnya secara asal, sebelum kembali menggerakkan seterika di hadapannya.
****
"Ayah! Yeaaaay!"
"Ayah sudah datang! Ayah sudah datang!" Sorakan Naufal dan Naura terdengar bersahut-sahutan dari arah teras.
Diah mengintip sebentar dari jendela rumah untuk mengintip apa Mas Ruli datang sendiri atau sama Siska. Dan ternyata suami Diah itu memang datang bersama istri mudanya.
Diah hanya berdecak, dan lanjut mengerik punggung Bu Eni yang tadi mengeluh masuk angin saat Diah datang.
"Sudah belum, Diah?" Tanya Bu Eni.
"Sedikit lagi, Bu!" Jawab Diah bersamaan dengan ucapan salam dari Siska yang baru tiba.
"Assalamualaikum!"
"Walaikum salam!" Jawab Diah dan Bu Eni serempak.
"Sudah pulang, Sis? Bagaimana hasilnya?" Tanya Bu Eni tanpa menatap pada Siska yang baru datang dan langsung duduk leyeh-leyeh di kursi ruang tamu.
"Alhamdulillah beneran positif, Bu!" Jawab Siska seraya memasang wajah sumringah.
Positif?
Apa maksudnya positif?
Siska sudah hamil?
"Alhamdulillah! Ibu nambah cucu bentar lagi," celetuk Bu Eni yang langsung membuat Diah menghentikan gerakan mengeriknya.
Ternyata benar, Siska hamil.
"Sudah Diah?" Tanya Bu Eni kareana Diah sudah berhenti mengerik punggungnya.
"Sudah, Bu!" Jawab Diah yang langsung membereskan minyak angin bekas untuk mengerik, sekaligus uang koinnya. Diah juga langsung ke belakang untuk mencuci tangan.
Saat Diah kembali ke ruang tamu, Mas Ruli sudah duduk memangku Naura dan Naufal yang kini memegang kinder joy di tangan masing-masing.
"Ck! Kok dibeliin itu, sih, Mas? Jadi tuman nanti!" Protes Diah yang sejak dulu selalu menghindari Naufal dan Naura membeli jajanan mahal tersebut. Pikir Diah ketimbang beli mainan tak jelas seharga empat belas ribu kayak gitu, kan lebih kenyang kalau dibelikan bakso atau mie ayam saja.
"Siska yang beliin tadi, sekalian beli susu hamil di Indoapril," jawab Mas Ruli santai seraya mengendikkan dagunya ke dua kotak susu hamil di atas meja.
"Udah, nggak apa-apa, Mbak! Dibeliin sesekali kan nggak masalah," celetuk Siska santai.
"Iya nggak masalah buatmu! Tapi nanti kalau Diah ngajak si kembar ke Indoapril lagi pasti si kembar akan minta lagi. Siska mana paham hal itu!" Diah hanya menggerutu dalam hati.
"Bund, lihat! Naura dapat gangsing!" Celetuk Naura memamerkan hadiah yang ia dapat dari kinderjoy di tangannya.
Cuma gangsing!
Beli di Bude Parmi seharga dua ribu juga sudah dapat tiga!
Diah kembali menggerutu dalam hati seraya menahan geram.
"Malam ini aku nginep di rumah Siska lagi, ya, Diah! Besok baru ke rumah kamu," ujar Mas Ruli setelah si kembar turun dari pangkuannya dan sibuk dengan mainan baru mereka.
"Terserah Mas Ruli!" Jawab Diah seraya bangkit berdiri untuk selanjutnya mengangkat jemuran karena mendung sudah menggantung.
Siska mana peka!
Wanita itu ya tetap leyeh-leyeh seperti Nyonyah
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
kasian Diah berakhir
tapi gk gitu mereka berdua gak akan sadar dengan kesalahan masing²
sudah cukup dia selama ini menderita dari sejak kecil sampai rumah tangganya kandas
mungkin dengan dia meninggal dia bisa tersenyum 🥺
kenapa Diah gk minta² uang dia punya penghasilan sampingan hanya andalkan kamu mana cukup
sedangkan Siska gk kerja mikir jadi laki emang gk ada akhlaknya
Diah saja beban saja lebih berat masih waras 🤭
kok betah e ta 😂
mama mu Gimana kabarnya katanya punya istri baru hidupnya terurus yang ada tamah mumett.... 😂😂😂
setia dengan satu wanita istri pertama .setelah istri meninggal pun disuruh menikahi felli jangan dibandingkan² gak cocok 🤣🤣🤣