NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN ALIANSI

PERNIKAHAN ALIANSI

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:868k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aa zigant

“Aku bisa pacaran dengan siapapun, bahkan dengan orang idiot pun aku bisa, tetapi aku tidak bisa berpacaran denganmu. Berhenti berharap, Velicia!” Suara Arnold bagaikan sebilah pisau tajam yang tepat mengenai hati Velicia.

Velicia Arista, pewaris tunggal dari keluarga paling berkuasa di kotanya harus menjalani pernikahan aliansi dengan Tuan Muda kedua dari dari keluarga Setyawan.

Arnold Setyawan memiliki sikap dingin dan tak berperasaan. Tidak merelakan wanita yang dicintainya, tapi juga tidak bisa melepaskan Velicia.



Akankah pernikahan Velicia dan Arnold bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aa zigant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA TUAN BESAR SETYAWAN

"Kamu masih menginggatku, gadis kecil?" tanya pria itu.

Velicia tidak menjawab dia merasa orang yang dicintainya dalam ingatan muncul di depan mata, Velicia bernafas dengan hati-hati.

"Di mana kamu tinggal, gadis kecil?" 

“Villa keluarga Arista," jawab Valicia

Pria tersebut mengantarnya pulang, sesampainya di villa Arista keduanya berhenti. Velicia bertanya, "Mau minum dulu atau tidak?"

"Tidak, terimakasih saya pulang dulu karena malam sudah larut," jawab pria itu lembut.

Valecia menatap kepergian Arnold, dia masih berpikir kalau Arnold akan segera menikah, mana mungkin dia mau tinggal untuknya, dia benar-benar berada dalam dunianya sendiri, tapi malam ini pria itu begitu lembut dan ramah, tidak seperti dengan Arnold yang selama ini ia kenal.

Valecia sempat berpikir tidak mungkin ada dua Arnold di dunia ini, hanya satu pria itu mantan suaminya yang sebentar lagi akan menikah dengan Viona wanita yang benar-benar dicintai oleh Arnold.

Valecia masuk ke dalam villa, dia berjalan menuju ke ruang keluarga. Dihempaskannya tubuhnya yang terasa begitu letih. Ia merasakan perut bagian bawahnya mulai nyeri, baru ingat kalau sehari ini belum meminum obat pereda nyeri, tapi mau ke atas lantai dua rasanya dirinya sudah tidak sanggup lagi.

Valecia memegang perut bagian bawahnya, wanita itu beranjak dari duduknya. Berjalan tertatih menuju ke arah tangga, sekuat makin dia mencoba menopang tubuhnya di besi agar tidak terjatuh, walau dia tahu umurnya tidak akan lama lagu, Namun, dia tidak ingin mati konyol dengan jatuh dari tangga.

Napas Valecia tersengal, sebisa mungkin wanita itu cepat sampai di kamarnya. Dibukanya perlahan pintu kamarnya. Wajahnya mulai pucat, ia mendekati tasnya untuk mengambil obat pereda nyeri itu.

Setelah meminum obat, Velicia langsung membaringkan tubuh lemahnya. Wanita itu kini merasakan tubuhnya merasa kedinginan, dan kepalanya terasa berdenyut. Karena pengaruh obat yang dikomsumsinya akhirnya Velicia terlelap.

***

Pagi hari udara terasa begitu segar, Valecia membuka balkon kamarnya dimana cahaya hangat  itu langsung masuk melalui pintu dan celah ventilasi. Saat sedang menikmati apa yang membuatnya nyaman, suara ponselnya berdering tanda ada yang menelponnya padahal hari masih pagi.

Valecia masuk kamar untuk mengambil ponselnya, dilihatnya nama sahabatnya yang tertara di benda pipinya itu. 

"Halo, ada apa?" tanya Valecia.

"Valicia, kamu sudah bangun jam segini?" tanya Merry seperti baisa terdengar begitu bahagia.

"Iya, gara-gara kamu aku jadi terbangun, apa kamu puas!" kata Valecia sambil tersenyum membayangkan wajah sahabatnya itu pasti sedang kesal.

"Halo, dimana-mana namanya wanita itu harus bangun pagi, woe ...!" terika Merry dari seberang sana.

Velicia menjauhkan ponselnya dari telinganya, dia sudah lama tidak mendengar teriakan dari wanita yang dari dulu terkenal bar-bar itu

"Ada apa kamu sepagi ini mengganggu tidurku, Nona?" tanya Valicia sambil membaringkan tubuh lemahnya.

"Valecia aku menemukannya!" seru Merry.

Valecia terdiam, wanita itu masih belum paham apa maksud dari sahabatnya itu membuatnya harus bertanya, "Menemukan apa?"

"Hansen Wijaya," jawab Merry lirih.

"What? kamu serius! Merry kamu enggak salah orang,' kan?" rentetan pertanyaan dari Valicia.

"Iya dia masih hidup, aku merasa kalau pria ini belum meninggal," kata Merry lirih.

Valecia mendengar suara Merry yang terisak, ia yakin sahabatnya itu tidak salah orang, tapi kemana pria itu selama ini, itu yang menganjal di hati Valicia.

Merry menceritakan kepada Valecia saat kecelakaan itu terjadi, Merry tidak dapat menemukan jenazah Hansen di manapun, jadi dia selalu merasa kalau Hansen belum meninggal.

Merry sudah mencarinya selama hampir delapan tahun, akhirnya Merry menemukannya sekarang.

"Di mana dia sekarang?" tanya Valicia

"Hansen berada di rumah neneknya di desa, tapi dia menjadi orang cacat karena kecelakaan itu," ujar Merry sambil terisak.

"Sebaiknya kamu tenangkan diri dulu, sebelum pergi ke tempat neneknya Haseen di desa," kata Velicia mencoba menenangkan Merry.

"Iya, aku akan tenangkan diri dulu," jawab Merry di seberang sana.

"Hansen sekarang dia adalah orang cacat, takutnya akan sulit untuk melewati masalah psikologi," ujar Valecia.

Setelah menutup telepon, Velicia teringat dengan Arnold yang keterlaluan lembut semalam, kemudian mulai memasak untuk dirinya, belum selesai memasak, terdengar ponselnya berbunyi lagi dia menerima panggilan telepon dari Tuan Besar Setyawan yang memintanya untuk bertemu.

Velicia menyelesaikan masakannya perlahan-lahan, walau selemah apapun keadaannya sekarang, tapi tak membuatnya harus tergantung kepada orang lain. Masakannya sudah selesai, ia makan terlebih dahulu untuk bisa mengahdapi apa yang akan dibicarakan oleh Tuan besar Setyawan nantinya.

Makan pagi sendiri membuat hatinya semakin miris kalau dia tidak memiliki siapa-siapa lagi, walaupun tadi pelayan di rumah yang akan membuatkan sarapan Velicia menolaknya dengan lembut. Ia mengatakan kalau sedang ingin masak sendiri.

Selesai masak makan Valecia tidak lupa meminum obat, karena dia tidak ingin ada sesuatu yang terjadi saat bertemu Tuan besar nanti. Wanita itu segera membersihkan dirinya, setelah limabelas menit ia segera merias dirinya. Ingin tampil cantik saat bertemu mantan mertuanya nanti.

Valecia mengenakan deres selutut dengan kardigan berwarna biru gelap, dilihatnya penampilan dirinya di depan cermin. Dia tersenyum manis melihat wajah cantiknya. Tanpa menunggu lama ia menyambar tas kecil yang berisi dompet dan handponenya.

Velicia keluar dari Villanya menuju ke mobil, wanita itu tidak akan sedih lagi di akhir-akhir ajalnya nanti, dia akan selalu bahagia dengan waktu yang diberikan yang sekarang kurang dari tiga bulan lagi.

Mobil yang dikemudikan Valicia membelah kemacetan di kota Ternate, dia sengaja membuak kaca jendelanya untuk menghirup udara pagi yang segar. Setelah tiga puluh menit  ia sampai di kediaman Tuan besar Setyawan.

Valecia turun, dengan wajah cerianya, ia sampai pintu sudah dibukakan pintu oleh salah satu pelayan yang mengenalnya.

Wanita itu masuk menuju ruang keluarga di mana sudah ada Tuan Besar dan Arnold, Valecia tetap menghormati pria paruh baya itu walaupun tidak menjadi mertuanya lagi.

"Apa kabar, Nak?" tanya Tuan besar.

"Baik, ada apa Tuan besar memanggilku?" tanya Valicia.

Tuan besar tersenyum hangat kepada Velicia," Panggil papa seperti biasanya saja, Nak."

Valicia tersenyum sambil mengangguk, menatap pria paruh baya itu. Mata Valicia beradu dengan mata tajam Arnold, pria itu sama sekali berbeda dengan yang dia temui tadi malam, tampangnya masih saja sangat dingin kepadanya.

"Saya mau kalian berdua berbaikan kembali," kata Tuan besar Setyawan.

Arnold dan Velicia saling tatap, pria itu menggelengkan kepalanya menatap Papanya, karena dia bingung dengan keinginan orang tuanya itu. berbaikan seperti apa yang di maksud.

"Apa maksud, Papa?" tanya Arnold.

"Kembalilah lagi untuk menjadi suami-istri," ujarnya.

"Tidak!" tolak Arnold tegas.

"Ingat Arnold! Papa tidak akan mengizinkan Viona melangkahkan kaki ke dalam rumah ini apapun alasannya!" teriak Tuan besar kepada putranya

Velicia juga bingung mau jawab apa, satu sisi dia mencintai Arnold, tapi di sisi lain ingin pria itu merasakan bahagia. Arnold pergi begitu saja menyiksakan  mantan istri dan Papanya di ruang keluarga.

"Pa, kalau tidak ada yang ingin dibicarakan Velicia pamit," katanya lembut.

Tuan besar hanya mengangguk menanggapi ucapan mantan menantunya itu.

Velicia pergi, saat dia  keluar dari parkiran, dia dihentikan oleh Arnold, pria itu sedang merokok dengan santai, dan berkata, " Cia kita harus bicara."

Velicia terbangun dari angan-angannya semalam, lalu bertanya, "Apa yang ingin kamu bicarakan, Arnold?"

Arnold berjalan menghampiri Valicia, pria itu masih tetap sama ekspresinya dan bertanya, "Kamu pengen banget pacaran?”

1
antha mom
wahhhh keren thor ceritanya
antha mom
kenapa kamu nggak jujur tentang sakit mu ke Arnold CIA, jujur lah jangan ada Kamu sembunyikan
Sri Lestari
bahasanya amburadul..ketikannya bnyak yg salah...duhh kesel bacanya
Wanda Pratiwi
good
Andi Fitri
Andreas jodohkan sama shinta aja thor kasian shinta cinta dlm diam..
Andi Fitri
Luar biasa
Aster
aku binggung certany
ⓚⓐⓗف
aneh jg nih cia, cantik, kaya, kok otaknya agak kurang
Ika Rizka
bagus👍
Ayusudi
bagus bget cerita nya love you Thor...
Sulati Cus
cinta buta kyknya
dyve
apa kamu kiraa
Umisah Asther
mudah banget km balik Ama Jhon penjahat kelamin itu...kayak GK ada laki2 lain aja
Rm63709127
lanjut
Bella Fitriani Jufri
tinggalin aja CIA laki model kyk gitu biar tau rasa aja sekalian
Gedeg bgt sumpah
Aa zigant: buang kelaut aja ya kak
total 1 replies
Desak Ariani
tidak bisa hamil lagi bukan berarti harus nikah lagi kan,konyol itu namanya,kan msih ada jln lain,adopsi atau ajak anak dari keluarga yg msih ada hubungan keluarga,itu yg laki yg pengen punya istri muda kali bener2 arnol gk enggak bisa berkaca dari masa lalu
Bella Fitriani Jufri
ini malah jdnya nusuk dr belakang, semangat aja CIA
Dewi Tina
u-,*,*
Nanda anastasya
seru
Cahaya yani
bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!