Aku bisa melihat mereka 2
Inara seorang gadis indigo, yang ternyata hidupnya di incar oleh seorang iblis yang menginginkannya menjadi ratu iblis.
Dapatkah Inara bisa lepas dari jerat iblis itu?
Lalu bagaimana dia menghadapi musuh lama keluarganya, yang selalu meneror dirinya dan keluarganya?
Bagaimana ceritanya? Ikuti terus ya Aku bisa melihat mereka 2.
Selamat Membaca 📖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Un.Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Malam hari Inara sedang belajar di ruang tamu dengan Iqbal. Inka sedang menonton tv diruang tengah.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu.
Inara langsung beranjak dan membuka pintu. Inara kaget saat melihat seorang pria sedang berdiri dengan raut penuh amarah.
"Mana bapakmu?" sentaknya pada Inara. Inara kaget karena orang itu tiba-tiba membentaknya.
"Masuk pak, ayah ada di dalam." jawab Inara.
Orang itu pun masuk. "Yah ada yang cari ayah." ucap Inara. Iqbal mengangguk.
"Silahkan duduk pak!" ucap Iqbal.
"Gak usah basa basi, saya mau anda kembalikan peliharaan saya." sentak orang itu.
Iqbal mengernyit bingung. Sedangkan Inara dia tersenyum, dia tau siapa yang di maksud orang itu.
"Oh jadi dia pemiliknya." gumam Inara pelan.
"Maaf pak saya tidak mengerti maksudnya?"
"Jangan pura-pura bego ya, saya tau anda yang sudah mengambil peliharaan saya." ucap bapak itu kesal.
Inka datang membawa minuman karena dia mendengar seperti ada tamu. Tapi dia kaget saat lihat tamu itu marah-marah pada suaminya.
"Dedek masuk dulu ya sayang ke kamar." bisik Inka. Inara mengangguk. Dia beranjak dan berlalu ke kamar tapi senyuman terus tersungging di bibirnya.
"Maaf pak saya benar-benar tidak mengerti maksud bapak?" tanya Iqbal bingung.
"Cepat kembalikan atau anda akan tau akibatnya." teriak orang itu geram.
Iqbal dan Inka bingung karena mereka tidak tau apa yang harus mereka kembalikan. Sedangkan Inara dia masih mendengarkan dari kamarnya.
Iqbal berusaha bicara baik-baik dengan orang itu, tapi orang itu tetap ngotot untuk minta dikembalikan peliharaannya dan terus mengancam. Terpaksa Iqbal pun mengusir orang itu karena sudah mengganggu kenyamanan keluarganya.
Orang itu semakin geram saat Iqbal mengusirnya, dia menatap marah pada Iqbal.
"Awas aja ya kalian akan tau akibatnya!!" Ancam orang itu.
Setelah orang itu pergi Iqbal segera menutup pintu dan mengunci pintu. Inka terlihat khawatir.
"Ayah kenapa orang itu marah-marah sama kita?" tanya Inka.
"Gak tau sayang, bunda tenang ya gak usah khawatir." jawab Iqbal. Inka mengangguk lalu dia memeluk suaminya.
Iqbal tau pasti ini ada hubungannya dengan Inara. Inara pasti tau sesuatu. Iqbal melepaskan pelukannya, lalu dia mengajak Inka menemui Inara.
Inara masih fokus belajar, Iqbal dan Inka masuk ke kamar Inara.
"Sayang!" Inara menoleh.
"Iya yah, bun ada apa?" tanya Inara.
"Ayah mau bicara sama dedek." Inara mengangguk.
"Dedek tau soal orang tadi?" Inara mengangguk. Iqbal dan Inka saling berpandangan.
"Dia yang selama ini memelihara tuyul dan yang mencuri uang warga." Jawab Inara. Inka dan Iqbal terperanjat.
"Dedek tau dari mana?" tanya Inka.
"Buktinya sekarang dia datang ke rumah kita untuk meminta peliharaannya, padahal peliharaannya sudah mati." jawab Inara.
"Mati?" tanya Iqbal dan Inka serempak. Inara mengangguk.
Lalu Inara menceritakan, saat bertemu tuyul itu di rumah pak Yus, awalnya Inara kira pak Yus yang memelihara tuyul karena tuyul itu terus berada di rumah pak Yus, tapi ternyata bukan.
"Tapi bagaimana tuyul itu bisa mati?" tanya Inka heran.
"Atas izin Allah." jawab Inara santai.
Sedangkan Iqbal dia merasa ada yang aneh dengan putrinya. Tidak biasanya putrinya jujur dengan apa yang dia lakukan, biasanya dia akan menutup-nutupinya. Tapi kali ini dia bicara blak-blakan tanpa ada rasa takut dirinya akan marah, padahal Iqbal sudah melarang Inara untuk berhubungan dengan hal-hal gaib lagi.
Dan juga bagaimana bisa tuyul itu mati? Siapa yang membunuhnya? Tidak mungkin Inara kan? Meski dia bisa melihat hantu, tapi dia tidak mungkin bisa melawan mereka apa lagi sampai memusnahkan mereka.
Pertanyaan-pertanyaan muncul di benak Iqbal. Dia pun merasa di kamar Inara suasananya berbeda dari biasanya, panas dan pengap.
"Ya sudah habis belajar dedek langsung istirahat ya." ucap Iqbal.
"Iya yah." Iqbal dan Inka keluar kamar Inara. Lagi-lagi Inara tersenyum saat orang tuanya keluar.
***
Pagi hari seperti biasa Inara sudah bersiap akan berangkat ke sekolah, dia sedang menunggu ayahnya untuk makan bersama. Tapi tiba-tiba Inara teringat sesuatu.
"Ya ampun Dito!" pekiknya.
Dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Dito. Nomernya tersambung tapi tidak diangkat oleh Dito. Inara menghubungi Dito berkali-kali, tapi tetap tidak di angkat.
Akhirnya Inara berhenti menghubungi Dito, semoga di sekolah dia bertemu dengan Dito dan Dito baik-baik saja.
Selesai sarapan Inara dan Iqbal pamit berangkat. Inka membereskan bekas makan anak dan suaminya, lalu dia mencuci piring. Setelah itu dia membersihkan rumahnya.
Selesai membereskan rumah Inka berniat akan membuat cemilan kesukaan anaknya. Tapi tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu.
Inka bergegas kedepan dan membuka pintu. Inka bingung ternyata suaminya yang mengetuk pintu. Biasanya dia langsung masuk dan mengucap salam, tidak mengetuk pintu dulu.
"Ayah berangkat ke kampus kapan?" tanya Inka.
"Siang." jawab Iqbal datar.
"Ya udah bunda mau bikin cemilan dulu buat dedek ya," ucap Inka. Tapi tiba-tiba saja Iqbal memeluk Inka dari belakang.
Inka kaget tiba-tiba suaminya memeluknya. Iqbal menciumi leher Inka.
"Ayah mau ngapain sih?" tanya Inka kegelian.
"Ayah kangen bun." bisik Iqbal. Inka tersipu saat suaminya bersikap seperti itu.
Inka berbalik menatap suaminya, tapi Inka merasa pandangan Iqbal berbeda. Tiba-tiba saja Iqbal mencium bibir Inka dengan agresif.
"Ayah.. mphhh.." Inka kewalahan mengimbangi suaminya itu.
Inka merasa ada yang aneh dengan suaminya, tidak biasanya Iqbal seagresif itu, biasanya Iqbal akan bersikap lembut padanya. Inka memukul-mukul dada Iqbal karena kesulitan bernapas. Tapi Iqbal malah semakin agresif.
Setelah merasa puas, Iqbal melepaskannya. Inka ngos-ngosan karena tidak di beri ruang untuk bernafas saat mereka berciuman. Inka bingung dengan sikap suaminya itu. Tiba-tiba saja Iqbal menggendong Inka dan membawanya ke kamar.
"Ayah mau apa sih? Ini masih pagi." tanya Inka tersipu malu. Iqbal tak menjawab dia menaruh Inka di kasur dan dia menatap wajah Inka lekat. Inka tersenyum menatap suaminya.
Saat Iqbal akan mencium bibirnya lagi, Inka memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba dia mendengar suara mobil di luar, Inka masih memejamkan matanya dan menikmati ciuman mesra dari suaminya.
Tapi tiba-tiba dia mendengar seseorang mengucap salam dan yang lebih membuat dia terkejut itu adalah suara suaminya. Jantung Inka berdegup kencang, jika suaminya baru pulang lalu siapa yang sedang menciumnya saat ini. Jantung Inka masih berdetak kencang, sentuhan di bibirnya masih terasa. Perlahan Inka membuka mata, Zonk!!
Tidak ada siapapun di dekatnya, tidak ada Iqbal. Inka beranjak dan mencari sosok suaminya tapi tidak ada, apa mungkin dia halusinasi. Tapi dia merasakan sentuhan itu. Tiba-tiba tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu semakin cepat, keringat dingin bercucuran. Lalu siapa tadi yang datang lalu memeluk dan menciumnya.
Lalu Iqbal masuk ke kamar. "Kirain bunda kemana ayah cariin." ucap Iqbal sambil menaruh jaketnya. Inka tak menjawab dia masih syok.
"Sayang!" panggil Iqbal. Inka masih diam membisu. Iqbal menghampiri Inka, terlihat wajah Inka pucat pasi, buliran keringat dingin bercucuran di wajah Inka. Iqbal panik melihat istrinya pucat seperti itu.
"Sayang kamu sakit?" tanya Iqbal khawatir. Inka masih terdiam dengan pandangan kosong. Dia masih benar-benar syok dengan kejadian barusan. Tiba-tiba Inka tak sadarkan diri.
"Bunda!!"
Bersambung..