dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Laut Yang Menyimpan Luka
Langit sore ini tampak sedikit mendung, matahari perlahan turun meninggalkan semburat jingga yang samar diantara awan kelabu. Angin berhembus pelan, membawa aroma asin khas laut bahkan dari balik kaca mobil.
Namun sejak tiga puluh menit terakhir, isi kepala dari seorang dr. Nayla Azzura terasa jauh lebih berisik dibanding suara kendaraan dijalan. Karena dirinya sedang melakukan sesuatu yang terasa tidak biasa, bahkan bisa dikatakan sangat tidak biasa. Ia kali ini sedang pergi bersama seorang laki-laki yang bukan rekan kerja apalagi keluarga, tapi anehnya laki-laki yang usianya lebih muda tiga tahun darinya Arsen Mahardika.
Nayla diam menatap jalanan dibalik jendela mobil, kedua tangannya saling menggenggam satu sama lain diatas paha seolah sedang menyembunyikan rasa gugup dan tidak nyaman. Entah kenapa kali ini ia merasa asing dengan dirinya sendiri, jika biasanya ia selalu memiliki alasan untuk menolak, tapi kali ini ia datang meskipun sampai sekarang dirinya sendiri tidak tahu alasan apa yang tepat.
Mungkin karena terlalu lelah atau karena penasaran, atau mungkin karena seseorang itu terlalu sering hadir dalam hidupnya akhir-akhir ini banyak sekali kemungkinan yang terjadi.
" Kalau dokter mau pulang, bilang saya saja" suara Arsen memecah keheningan, suaranya santai tidak memaksa.
" Kenapa ngomong gitu?" ucap Nayla lebih tenang karena memang tidak merasa tertekan atau dijebak.
" Soalnya dokter keliatan tegang banget dari tadi" Arsen tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
" Perasaan kamu saja, aku biasa aja" Nayla refleks membuang muka.
" Tenang aja dokter, hari ini saya tidak akan mengajak untuk dinner mewah kok" Arsen kembali berbicara.
" Saya juga tidak akan mengajak dokter ke tempat yang ribet... Saya cuma mau aja dokter untuk istirahat sebentar" Arsen kembali melanjutkan ucapannya.
Dan anehnya, kalimat sederhana itu membuat Nayla diam karena sudah sangat lama. Tidak ada yang benar-benar memikirkan apakah dirinya lelah atau tidak.
Pantai itu terlihat tidak terlalu ramai sore ini, meskipun langit sudah mulai berubah warna menjadi jingga gelap saat keduanya sampai. Ombak datang perlahan sebagai tanda sambutan, angin laut menyapu lembut wajah, terlihat beberapa anak kecil masih bermain pasir dan sebagian pasangan duduk diam memandang ke arah laut.
Namun anehnya, tempat itu terasa tenang bahkan terlalu tenang membuat Nayla tidak ingat kapan terakhir kali dirinya merasa setenang ini. Arsen berjalan santai disampingnya, tidak banyak bicara seolah tahu jika Nayla bukan tipe orang yang nyaman dengan terlalu banyak pertanyaan.
Arsen dan Nayla kini duduk diatas pasir sedikit menjauh dari keramaian, menghadap laut luas yang tidak pernah benar-benar diam. Untuk beberapa menit tidak ada yang bicara, hanya suara ombak dan angin membuat Nayla kini memeluk lututnya pelan dengan tatapan kosongnya.
" Aneh ya..." gumam Arsen tiba-tiba.
" Apa?" Nayla melirik kecil.
" Laut tuh rame, tapi bisa bikin kepala kita jadi lebih tenang" tatapan Arsen ikut kedepan.
Hening... Anehnya kini Nayla menyetujui ucapan Arsen, sejak datang dadanya terasa sedikit lebih ringan. Meskipun pikirannya masih berisik. Arsen tidak buru-buru kembali bicara, tidak memaksa obrolan dan tidak ada godaan seperti biasanya membuat Nayla terlihat lebih nyaman dan lebih rileks.
" dok..." Arsen membuka suara pelan.
" Hmmm"
" Belakangan ini kaya lagi sibuk banget kepalanya, Ya?" ucap Arsen.
Nayla diam dengan tatapan yang kini turun ke pasir, harusnya ia biasa saja menutup diri lagi. Tapi hari ini mungkin karena langit dan suara laut yang terlalu tenang atau mungkin karena seseorang yang berada disampingnya tidak terasa mengancam.
" Kamu pernah enggak, takut sama sesuatu yang bahkan belum dimulai?" suara Nayla pelan.
Arsen menoleh tapi tidak menjawab cepat, tidak menyela hanya menjadi pendengar saja kali ini.
" Saya takut banyak hal... Saya takut berharap, saya takut percaya sama orang..." Nayla tersenyum pahit
" Lucu ya? Umur segini tapi masih banyak takutnya " tawa kecil itu terasa hambar.
" Enggak ada yang lucu..." Jawaban Arsen cepat dan terasa begitu tulus.
Nayla sedikit terdiam, lalu untuk pertama kalinya tembok itu retak lebih jauh.
" Ibu saya pergi waktu saya masih sangat muda, tanpa rasa bersalah beliau meninggalkan saya sama Ayah..." suara Nayla semakin pelan.
Arsen benar-benar menjadi pendengar kali ini, tatapannya tidak berubah, tidak mengasihani membuat Nayla terus bicara.
" Dulu rumah saya baik-baik saja, sampai suatu hari semuanya runtuh dimana saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana hancurnya Ayah... Bagaimana seseorang bisa berubah padahal katanya cinta..." tatapan Nayla kosong menerawang jauh.
" Tapi ternyata bisa pergi juga" suaranya Nayla kini bergetar.
Laut tetap bergemuruh kecil didepan mereka, namun tidak bisa menutupi suara Nayla yang terasa jauh lebih rapih dibandingkan ombak.
" Makannya saya tidak pernah percaya sama suatu hubungan... Apalagi pernikahan" Nayla tertawa sumbang memperlihatkan kepahitan.
" Dan kamu... lebih muda tiga tahun, saya takut suatu hari kamu sadar kalau perempuan yang lebih muda lebih menarik" Mata Nayla sedikit memerah menatap sekilas wajah Arsen.
Arsen tidak menjawab apapun, cukup lama menjadi pendengar bukan karena bingung melainkan Arsen sedang memilih katanyang tepat. Karena untuk pertama kalinya Nayla benar-benar jujur, dan ia tidak ingin merusah momen itu.
" Nayla...." Arsen menghadapkan tubuhnya kearah Nayla dengan tatapan lembut dan hangat.
Nayla yang dipanggil namanya kini sedikit menoleh dan entah bagaimana bisa cara Arsen memanggil namanya terasa berbeda, lebih dekat dan tulus.
" Aku tidak bisa merubah masa lalu kamu, aku juga tidak bisa memaksa kamu untuk mempercayai aku sekarang" Arsen diam.
" Tapi..." angin kembali berhembus namun entah mengapa suara Arsen terasa lebih menenangkan.
" Takut juga enggak apa-apa... aku enggak memaksa kalau kamu merasa belum percaya cinta" Arsen tersenyum kecil.
" Kasih aku kesempatan untuk membuktikan pelan-pelan sama kamu, saya tidak bisa menjanjikan kesempurnaan... Tapi saja janji akan terus berusaha membahagiakan dan membuktikan" ucap Arsen.
Jantung Nayla terasa sesak namun bukan sebuah kesakitan, melainkan sesuatu yang terlalu lama hilang kini hadir dengan penuh kehangatan. Rasa Aman yang kini terasa begitu nyata, justru membuat Nayla semakin takut jika ini hanyalah sementara.
Dan untuk pertama kalinya mata Nayla benar-benar berkaca, bukan karena kesedihan tapi karena sudah sangat lama tidak ada yang memilih untuk tinggal.
Nayla dan Arsen kembali menatap laut, kali ini terasa berbeda tidak ada perasaan canggung, ataupun asing. Melainkan rasa nyaman yang entah sejak kapan jarak diantara keduanya terasa sedikit lebih dekat.