NovelToon NovelToon
Mendapatkan Hati Sang Antagonis

Mendapatkan Hati Sang Antagonis

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Tamat
Popularitas:448.8k
Nilai: 5
Nama Author: sang senja

Karya pertama ku. jangan ada plagiat di antara kita❌❌❌


Apa jadinya, jika sang putri mafia, bertransmigrasi ke dalam sebuah novel cinta remaja. Menjadi tokoh figuran sebagai sahabat sang Antagonis wanita.
Yang akan mati di bunuh oleh sang Antagonis pria.
Sang antagonis pria, yang di gambar kan sangat terobsesi dengan sang protagonis wanita.
Dia yang akan membunuh sang antagonis wanita beserta kedua sahabat nya.
Namun sang Antagonis pria pun mendapat kan akhir yang buruk.
Mampu kah sang penjelajah waktu ini, merubah alur novel asli?
Atau, dia akan mati sama seperti di novel yang pernah ia baca?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penyusup

Sepulang sekolah, Amelia diajak Jenny dan Aurora untuk nongkrong di kafe langganan mereka. Sudah cukup lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama sejak insiden kecelakaan yang menimpa Amelia. Karena itu, Jenny dan Aurora bersikeras menyeret sahabat mereka itu keluar rumah.

Mereka memilih duduk di sudut kafe yang cukup tenang. Aroma kopi dan kue yang baru dipanggang memenuhi ruangan.

Jenny terus bercerita tentang gosip terbaru di sekolah, sementara Aurora sesekali menimpali dengan komentar-komentar pedas yang membuat mereka bertiga tertawa.

Namun, di tengah obrolan santai itu, perhatian Amelia tiba-tiba teralihkan.

Matanya menangkap sosok yang terasa sangat familiar.

Seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah tampan yang sebagian tertutup topi.

Ardiansyah.

Amelia menyipitkan mata.

"Aku ke toilet sebentar," ujarnya santai.

Tanpa menunggu jawaban, Amelia berdiri dan mengikuti pria itu dari kejauhan.

Rasa penasaran mendorong langkahnya.

Beberapa menit kemudian, ia melihat Ardiansyah memasuki sebuah area yang lebih sepi di belakang kafe.

Dan di sana...

Seorang gadis telah menunggunya.

Shofia.

Sudut bibir Amelia langsung terangkat membentuk senyum tipis.

"Jadi benar..."

Amelia segera bersembunyi di balik sekat tanaman hias yang cukup besar.

Dari tempat itu, ia bisa melihat dan mendengar percakapan mereka dengan jelas.

Shofia terlihat menangis.

Bahunya bergetar pelan.

Ardiansyah duduk di sampingnya sambil mengusap punggung gadis itu dengan penuh perhatian.

"Kak..." suara Shofia terdengar lirih. "Aku kesepian banget di apartemen."

"Aku kangen Tante Grace, Om Aska, sama Kak Sean."

Air mata kembali mengalir di pipinya.

"Sekarang Kak Sean juga seolah menjauh dariku."

"Tolong nasehatin Kak Sean supaya sesekali menjenguk aku."

"Aku yakin mereka semua menjauhiku karena hasutan Kak Lia."

Shofia menggigit bibirnya.

"Kenapa sih Kak Lia benci banget sama aku?"

"Bahkan tadi di sekolah dia dan teman-temannya menghujat aku habis-habisan."

"Mereka nuduh aku merebut tunangan teman mereka."

Dan kalimat berikutnya membuat Amelia hampir tertawa.

"Bahkan... Kak Lia tadi sempat nampar aku."

"Apa?!"

Ardiansyah langsung berdiri.

Wajah tampannya berubah gelap karena marah.

"Lia berani nampar kamu?"

Tangannya memegang dagu Shofia dengan hati-hati.

Ia memperhatikan pipi gadis itu.

Dan benar saja.

Pipi Shofia tampak sedikit memerah dan bengkak.

Pemandangan itu langsung menyulut amarah dalam diri Ardiansyah.

"Perempuan sialan itu..."

"Dia memang harus diberi pelajaran."

"Sesuatu yang bisa membuatnya benar-benar jera."

Sementara itu, Amelia yang menyaksikan semuanya hanya tersenyum sinis.

"Lihatlah..."

"Betapa bodohnya anjing peliharaan Shofia ini."

"Mau saja diperalat."

Amelia menyandarkan tubuhnya ke dinding.

"Gue gak nyangka pemeran utama perempuan ternyata jago banget mengadu domba."

"Bermuka dua pula."

"Yang diam aja difitnah."

"Apalagi kalau gue benar-benar berulah."

Ia menggeleng pelan.

Dan yang lebih lucu lagi...

Ardiansyah mempercayai semua perkataan Shofia tanpa sedikit pun keraguan.

Tidak heran jika dalam kisah asli novel ini nasibnya begitu tragis.

Dia mengotori tangannya dengan darah demi melindungi Shofia.

Membunuh.

Menyiksa.

Menghancurkan siapa saja yang dianggap menghalangi gadis itu.

Namun pada akhirnya?

Shofia bahkan tidak memilihnya.

Gadis itu justru berakhir bahagia bersama Alexio.

Sedangkan Ardiansyah mati dalam kesendirian.

Dilupakan.

Ditinggalkan.

Seolah semua pengorbanannya tidak pernah ada.

"Kasihan sekali."

"Padahal dia lebih tampan daripada Alexio."

"Lebih kaya juga."

"Sayangnya Shofia tidak tahu kalau dia sebenarnya cucu seorang mafia."

Amelia kembali memandangi wajah Shofia.

"Lalu kenapa pipinya benar-benar bengkak?"

"Jangan-jangan..."

"Dia melukai dirinya sendiri lalu menuduhku?"

Kemungkinan itu sangat masuk akal.

Karena Amelia yakin dirinya sama sekali tidak pernah menyentuh gadis itu.

Sudut bibirnya kembali terangkat.

"Sepertinya sebentar lagi ada orang yang datang mencariku."

"Untuk membalas kesalahan yang bahkan tidak pernah kulakukan."

"Sangat menarik."

"Mari bermain, Tuan Tampan."

"Setelah sabotase mobil dan racun."

"Mainan apa lagi yang akan kau siapkan untukku?"

Setelah merasa cukup, Amelia berbalik dan kembali ke meja tempat Jenny dan Aurora menunggu.

Sebelum salah satu dari mereka menyadari keberadaannya.

*

*

*

Malam harinya.

Kediaman keluarga Sudibyo telah tenggelam dalam keheningan.

Semua lampu mulai dipadamkan.

Seluruh penghuni rumah telah terlelap.

Di kamar Amelia.

Gadis itu tampak tidur nyenyak di atas ranjang besar miliknya.

Namun, beberapa saat kemudian...

Bayangan hitam melesat masuk melalui jendela yang sedikit terbuka.

Gerakannya cepat.

Ringan.

Dan sangat terlatih.

Seluruh tubuhnya tertutup pakaian hitam.

Bahkan wajahnya pun dibungkus kain hitam hingga hanya menyisakan kedua mata.

Penampilannya benar-benar menyerupai seorang ninja.

Di tangan kanannya tergenggam sebuah belati tajam.

Langkah demi langkah.

Ia mendekati ranjang Amelia.

Tanpa suara.

Tanpa keraguan.

Hanya tersisa satu langkah lagi.

Tiba-tiba...

Mata Amelia terbuka.

Dalam sekejap tubuhnya melompat ke sisi lain tempat tidur.

Gerakannya begitu cepat hingga membuat penyusup itu terkejut.

Dan yang lebih mengejutkan lagi.

Di tangan Amelia telah tergenggam sebuah pistol Colt M1911A1.

Moncong senjata itu tepat mengarah ke kepala sang penyusup.

Amelia tersenyum miring.

"Selamat malam."

Penyusup itu membeku.

Ia jelas tidak menyangka Amelia akan terbangun.

Lebih dari itu...

Ia tidak menyangka gadis remaja itu memiliki senjata api.

Situasi langsung berbalik.

Kini justru dirinya yang berada dalam bahaya.

Jika Amelia menarik pelatuknya, suara tembakan pasti akan membangunkan seluruh penghuni rumah.

Misinya akan gagal total.

Tanpa berpikir panjang, penyusup itu berbalik dan berusaha kabur melalui jendela.

Namun Amelia sudah bergerak lebih dulu.

Tubuhnya melesat seperti anak panah.

Brak!

Tendangan keras menghantam punggung penyusup hingga pria itu terjatuh.

Perkelahian sengit pun tak terhindarkan.

Belati beradu dengan tangan kosong.

Tendangan.

Pukulan.

Kuncian.

Keduanya bertarung dengan kemampuan yang jauh di atas manusia biasa.

Namun pada akhirnya, Amelia tetap unggul.

Sejak kecil ia telah dilatih langsung oleh sang daddy dan kedua kakaknya yang gila.

Bahkan berkali-kali ia pernah menghadapi pembunuh bayaran yang dikirim oleh musuh-musuh ayahnya.

Karena itu, menghadapi satu orang penyusup bukanlah masalah besar.

Beberapa menit kemudian.

Pria berpakaian hitam itu telah terikat erat di lantai.

Tubuhnya dipenuhi luka.

Sedangkan Amelia bahkan tidak terengah-engah.

Dengan santai gadis itu berjongkok di depannya.

Lalu menarik kain penutup wajahnya.

Srek!

Wajah tampan Ardiansyah pun muncul.

Amelia tersenyum manis.

"Selamat datang, Tuan Tampan."

"Permainannya seru, bukan?"

Ardiansyah hanya menatapnya tajam.

Sementara Amelia terus berceloteh.

"Wah, siapa ini?"

"Bukankah kamu teman Kak Sean yang sering datang ke rumah?"

"Hmm..."

"Kira-kira bagaimana reaksi Kak Sean kalau tahu sahabatnya sendiri mencoba membunuh adik kandungnya?"

Amelia memiringkan kepala.

"Oh iya."

"Mungkin karena aku anak yang diabaikan."

"Jadi menurutmu itu bukan masalah?"

Tatapannya berubah tajam.

"Dengar ya, Ardiansyah."

"Aku Sudah menahan diri mengenai racun yang kau kirimkan."

"Tapi sekarang..."

Amelia mencengkeram dagu pria itu.

Senyumnya tetap manis.

Namun matanya dingin seperti es.

"Kamu masuk ke kamarku sambil membawa belati."

"Kamu sungguh berani."

1
Rosmianti
Amel jodoh yg lebih dewasa Thor CEO mgkn😁
Erna Ladi Yanti
mampir thor🙏
Indah Rahayuni
Ok
shesil
obsesi bukan opsesi
shesil
vila bukan fila
Sashimi Bee
kakak, klo ada bahasa asing baiknya dicek di kamus biar penulisannya benarrr 💪
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ: terimakasih saran nya Kaka 💕
total 1 replies
Restu
good
Restu
terimakasih thor ceritanya.👍👍
Restu
mampir'. thor
Hadi Mulyono
ceritanya bagus cuma agak lama berbelit .endingnya jg kurang pas agak ngambang .tp suka nikmati ceritanya
Hadi Mulyono
yg cewek foto Lusi yg cowok dilan wang
Hadi Mulyono
Amelia tunjukkan siapa dirimu sebenarnya
Hadi Mulyono
ayo sesama mafia bertemu ..blm tau Amelia anaknya mafia jg
Hadi Mulyono
benci banget SM Sofia ..ga tau diri
Dyta Kusnani
jujur crta awal nyampe akhir bagus bgt ,, TPI kok ending jelek ya ,, hrusnya ending nya pernikahan Amelia n Ardiansyah
cowettttttt
yg aku aneh itu sama otak cowok nya kan tau emang si Sofie bukan anak Mereke dan masih ortu ..klu d usir wajar ..atau kasih lah kemewahan sama si Ardi ini bukan malah mau harta org
cowettttttt
gila nya ini iklan d NT banyak banget sekarang
Siti Aisyah
/Puke/
Kikin
ok
Diana Wati
jujur aja alurnya bagus, tapi banyak banget typo dan tanda baca yg nggk sesuai, pengolahan katanya juga kurang. semoga untuk selanjutnya lebih bagus dan rapi lagi thor 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ: terimakasih kaka atas masukannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!