Bagiku pulang adalah kembali bersamamu, tanpa peduli harus berapa banyak kehilangan yang harus kulalui.
Gadis miskin sepertiku memang tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengejar mu, ongkos menuju kediamanmu saja aku tidak punya, konon lagi skill untuk memenangkan hatimu.
But, Appa i miss you. Aku hanya ingin menemui mu dan tetap bersamamu.
Love,
-Joelin-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diwelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Goedan-Petunjuk Baru
"Kenapa aku selalu membawamu pulang?" Mickey bergumam sambil memandangi Joelin yang terlelap seperti bayi.
Mickey memandang ke arah arloji yang melingkar manis di tangannya, waktu menunjukkan pukul 13.30.
"Dia akan baik-baik saja di sini" gumam Mickey. Dengan gerakan hati-hati Mickey membenarkan selimut yang menutup tubuh Joelin. Kemudian melangkah perlahan keluar kamar, dia memilih kembali ke Lab.
-Di kampus-
"Gimana si berisik itu?" tanya Si An.
"Dia hanya kelelahan." Jawab Mickey.
"Itu akibatnya kalau dia terlalu berisik, hehehe." kekeh Si An.
"Kau bisa saja." Mickey merespon Si An sambil tersenyum membenarkan. Bukan karena ingin meledek Joelin, tapi gadis itu memang sangat berisik dan cerewet.
"Bagaimana Joelin?" Mark yang baru datang tiba-tiba bertanya.
"Dia tewas." canda Si An.
"Hahaha.. Kau bisa saja." Tawa Mickey.
"Dia baik-baik saja, tapi lebih baik jika dia istirahat dan tidak masuk ke Lab. aku merasa lebih damai." Jawab Si An panjang lebar.
"Apa masalahmu dengannya Bro?" tanya Mark.
"Joelin selalu mengganggu ku saat aku sibuk dengan komputerku. Menyebalkan sekali." Jawab Si An
"Haahaahaa, kau marah karena dia selalu memgganggumu yang sedang bermain game?" tanya Mark sedikit meledek.
"Terutama yang itu." jawab Si An.
"HAHAHA" serentak ketiga pria tampan itu tertawa. Untuk sejenak mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing tentang Joelin.
Lalu mereka kembali pada aktifitas masing-masing. Mark yang sibuk membaca jurnal, Si An yang menganalisis ulang data yang sudah dia kumpulkan hari ini, sementara Mickey memilih kembali melakukan penelitiannya.
\*\*\*
Goedan POV
Sudah tiga bulan Goedan tidak mendapatkan informasi dari Joelin. Sudah ratusan kali juga dia mencoba stalking di sosial media gadis itu, dengan harapan mendapatkan informasi apakah Joelin sudah tiba di Negara yang sama dengannya, dan di daerah mana gadis itu kini tinggal. Memikirkan bahwa Joelin mungkin berada di Negara yang sama dengannya membuat Goedan begitu bersemangat.
Seperti biasa, sore ini sepulang dari kampus Goedan duduk di sofa yang terletak di ruang tamu apartemennya sambil sibuk memainkan ponsel. Geodan mengunjungi seluruh akun media sosial Joelin, Facebook dan Twitter nya tidak menampilkan pembaharuan terkini.
"Huffffth, kamu kemana aja Joe?" ucap Goedan lirih sambil terus stalking, kali ini dia mengunjungi propil Ins**gram Joelin.
"something new." ujarnya tersenyum sambil menekan foto propil Joelin.
"Apa? Siapa lelaki ini? Dan tulisan ini? ini bukan karakter huruf Mandarin. Joelin kamu dimana?" Geodan bertutur lirih pada dirinya sendiri sambil memandangi wajah lelaki yang diupload oleh Joelin. Wajah siapa lagi kalau bukan Mickey, bahkan snapg*am itu diunggah sendiri oleh Mickey saat mereka sarapan pagi tadi.
Geodan memutuskan untuk memeriksa lokasi yang tertera di Snapg*ram Joelin.
"Korea? Bukan di China?" tanya Goedan pada dirinya sendiri. Kini benaknya dipenuhi pertanyaan tentang Joelin. Bukan hanya bertanya-tanya, dia juga gelisah perihal gadis itu pergi ke negara lain tanpa kabar apa-apa pada Geodan. Sementara yang Geodan tahu, selama ini Joelin tidak pernah bertindak tanpa berdiskusi dengannya.
"Joelin Angelo, apa kabar kamu? " Geodan memutuskan menghubungi Joelin lewat direct messages (DM) di Inst*gram.
semenit, dua menit, tiga menit, Goedan menunggu balasan dari Joelin. Namun jangankan jangankan dibalas, pesan itu bahkan belum dibaca oleh sang pemilik akun tujuan.
Setelah berperang dengan hatinya sendiri Goedan memilih menghubungi Joelin lewat aplikasi What*apps.
"Syukurlah, terhubung." batin Goedan, seketika senyumnya merekah kala panggilannya diterima oleh Joelin.
"Hi bang, apa kabar?" tanya Joelin lemah.
"Baik. kamu kenapa berangkat dari Indonesia tanpa memberi kabar padaku? dan kenapa kamu di Korea bukan China?" tanya Goedan.
"Aku, ah.. ceritanya panjang bang." jawab Joelin singkat.
"Tanpa peduli keadaanku kamu malah menuntutku menjelaskan ini dan itu. Kamu sendiri berangkat meninggalkan tanah air tanpa berbagi kabar denganku." batin Joelin
"Hallo, Joelin. Masih disana?" Tanya Goedan yang menyadari keheningan Joelin.
"Eh, iya bang." Jawab Joelin.
"Udah dulu ya Joelin, saya harus mengerjakan sesuatu." merasa komunakasi diantara mereka begitu kaku, akhirnya Goedan memberi alasan untuk mengakhiri telepon.
"Okay bang, semangat di sana." jawab Joelin.
"Kamu juga." Dan sambungan terputus.
Joelin POV
Dengan malas gadis itu membuka kedua kelopak matanya. Akhirnya dia bangun dari tidur lelapnya. Rasa nyeri diperut Joelin kini mereda. Gadis itu melangkah turun dari tempat tidur. Sadar bahwa dia terbangun di rumah Mickey membuatnya spontan keluar kamar dan mencari pria itu di seluruh penjuru rumah. Namun usahanya gagal, Mickey tidak menunjukkan batang hidungnya di gedung itu. Joelin memutuskan kembali kekamar, dia berpikir untuk menelepon Mickey untuk menanyakan keberadaannya. Namun tiba-tiba nomor yang selama ini akrab dengannya sedang memanggil ke ponsel Joelin. Siapa lagi kalau bukan Goedan, dan percakapan mereka selalu berakhir kaku seperti biasa.
"hmmmmh" Joelin menghela nafas panjang sambil membuang ponselnya dengan malas diatas tempat tidur, dia lupa niat awalnya untuk menghubungi Mickey.
"Who is that?" pertanyaan Mickey yang tiba-tiba sukses membuat Joelin terkejut.
"A friend" Jawab Joelin singkat.
"a Girl or a Boy?" tanya Goedan penuh selidik, dia penesaran dengan wajah Joelin yang berubah sendu selama perbincangan melalui telepon tadi. Bahkan gadis itu tidak menyadari kehadiran Mickey.
"a boy." jawab Joelin singkat.
"it should be a boyfriend." ujar Mickey sambil berlalu, meninggalkan Joelin di kamar.
Joelin yang masih gundah pasca menerima telepon dari Goedan memilih mengabaikan pernyataan Mickey. Dia memilih sibuk dengan pikirannya sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur tidur Mickey.
Sementara Mickey memilih melangkah ke ruang tamu untuk beristirahat sejenak di sofa.
"Siapa lelaki itu? Kenapa Joelin terlihat begitu sedih dan marah? ada apa sebenarnya?" gumam Mickey pelan.
"ah, apa peduliku? toh dia bukan siapa-siapa." jawab Mickey kemudian.
Lelaki itu memilih memejamkan matanya dan beristirahat sejenak dari segala kesibukannya hari ini.
19.00, Mickey terbangun dari tidurnya karena suara alarm ponsel yang sibuk bersenandung. Setelah sadar sepenuhnya Mickey melangkah kekamar untuk mencari Joelin.
"Ayok makan malam." ajaknya pada Joelin yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
"ayok." Joelin langsung bangkit dan berjalan menghampiri Mickey.
Kedua insan itu pergi ke sebuah restoran makanan untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan. Seusai makan, Mickey mengantarkan Joelin pulang ke asrama.
"Jangan lupa minum obatmu." pesan Mickey saat akan meninggalkan Joelin di depan asrama.
"Siap bos. byeeee!!" seru Joelin berlari ke dalam gedung.
Mickey melangkah menjauh dari asrama, menuju area parkir. Setelah sekian menit mengendarai sepeda motornya Mickey tiba di rumah.
"Sepi sekali tempat ini." Gumamnya tanpa sadar, entah sejak kapan dia merasa kesepian begini.
sukes iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan lelaki letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
terimakasih 🙏
SEMANGAT Anna Divya Lin