NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 07

...Kalian tahu, jika tamu bisa datang tanpa undangan?...

...- Ardanayudha -...

Tamu tanpa memiliki undangan pasti akan membuat sang tuan rumah merasa ingin menyingkirkan orang itu dari hadapannya langsung. Namun sayangnya hal itu tidak termasuk dalam kamus hidup Yudha. Tersenyum hangat menyambut kedatangan pria muda yang memiliki hubungan dekat dengan artisnya.

Pria muda itu juga di bidang yang sama dengan Lingga. Hanya saja dia berada di naungan perusahaan yang berbeda. Jika pun rumah perusahaan mereka tidak sama, itu tidak membuat Yudha memberi larangan pada Lingga. Untuk tetap berteman dengan orang itu.

Malahan, Yudha selalu meminta Lingga untuk tetap berinteraksi dengan para publik figur yang lainnya. Agar Lingga memiliki koneksi yang benar-benar sangat menguntungkan kehidupan artisnya.

"Hai bro!" Sapa sang tamu dengan cara khasnya. Sebentar melambaikan tangannya keudara ke arah Yudha. Dan kini duduk di atas sofa seberang Yudha berada.

"How are you?" Tanya Yudha yang tidak begitu heran, jika sang tamu dapat masuk kerumah Lingga tanpa menekan bel. Karena Yudha sudah tahu, jika Lingga memang memberikan pasword pintu rumahnya kepada artis itu.

"Kabar ku baik. Bagaimana dengan mu sendiri?" Lontarnya, setelah melepas masker putih yang menutup sebagai wajah bawahnya.

"Aku baik-baik saja." Yudha memberi balasan, tanpa melunturkan senyumannya.

Sedangkan di sisi lain, seorang Lingga yang duduk di samping kanan temannya itu berdecak kesal. "Seharusnya kau menyapaku lebih dulu."

"Menyapa mu itu tidak perlu aku lakukan. Karena tadi pagi aku bertemu dengan mu." Balasan dari sang artis mampu membuat Lingga memainkan lidahnya di dalam mulut. Menatap temannya dengan sorot mata membunuh.

Sedangkan Yudha yang mendengar hanya bisa tersenyum lebar, melihat pertengkaran kecil dari orang di hadapannya saat ini. Sebelum beranjak dari duduknya, saat mendengar bel di pencet dari luar. Menandakan ada tamu yang ingin berkunjung sebentar di rumah Lingga.

Sebentar melihat ke arah layar kecil yang berada di samping pintu. Mendapati rekan kerjanya. "Apa yang ingin dia lakukan disini?" Gumam Yudha, mengerutkan samar keningnya. Dan membuka pintu itu, tanpa menyunggingkan senyumannya.

"Kenapa kamu lama sekali membuka pintunya?" Keluh Tama, sembari memberikan semua kantong plastik belanja itu pada Yudha secara sepihak. Dan tanpa mendapat ijin, Tama melangkah masuk melewati Yudha begitu saja.

Yudha beralih pada seseorang yang tersenyum hangat untuk menghindarkan diri dari rasa kesal Yudha. Setelah melihat sikap Tama yang benar-benar menjengkelkan.

"Hai?" refleks Yumna dengan canggung. Sebentar mengangkat tangan kanannya ke udara.

"Oh! Sella meminta mu untuk hal ini?" Sekilas Yudha menaikan kedua alisnya.

"Aku hanya membantunya. Dan itu sangat menyenangkan bisa membeli bahan makanan itu." Rasa canggung yang ada di dalam diri Yumna sangat terlihat jelas. Dan tidak membuat Yudha merasakan hal itu.

Jika Yudha ikut terbawa suasana, itu pasti rasanya tidak nyaman sekali. "Masuklah lebih dulu, aku akan membuatkan mu minuman." Pinta Yudha.

"Sepertinya itu tidak perlu. Karena aku pasti akan menjadi perempuan sendiri di dalam sana." Menolak jauh lebih baik. Dan Yumna melakukan hal yang benar, dari pada Yumna harus menerima tawaran itu yang mungkin akan menimbulkan skandal baru untuk artis perusahaan tempatnya bekerja.

"Kamu tidak perlu khawatir, karena Tama juga ada di dalam." Timpal Yudha yang menyakinkan Yuman, jika tidak akan terjadi apapun. Saat Yumna berada di rumah Lingga.

"Jika pun aku dengan Tama saling mengenal. Bukan berarti aku harus merasa lega jika ada orang itu. Apalagi, karena aku memang ingin pulang." Lagi, Yumna menyuarakan penolakan secara halus pada Yudha. Bagaimana pun juga, Yumna tidak mau menjadi tamu perempuan sendiri.

Karena sebaik-baiknya seorang laki-laki, ketika napsu menyelimuti akalnya. Itu akan sama saja seperti hewan buas yang tidak memiliki rasa kenyang setelah menelan mangsanya.

Yudha mengangguk pelan, mencoba untuk memahami. Pria itu juga tidak bisa menahan Yumna untuk tetap tinggal, jika pun sebentar. Lagi pula, ini hari pertamanya Yumna bekerja, pasti tubuh wanita itu sudah cukup lelah. Apalagi Sella melempar permintaannya pada Yumna.

"Jika seperti itu, aku tidak akan memaksamu. Tapi sebagai gantinya, aku akan mentraktir mu lain waktu." Ucap Yudha. Yang mendapat anggukkan kecil dari Yumna.

"Aku akan menantikannya. Tapi juga tidak bisa terlalu mengharapkannya. Karena waktu mu pasti sibuk mengurus pekerjaan mu. Apalagi kamu harus berada di samping artis mu sampai masalah itu selesai." Yumna memberi balasan.

"Jika pun itu sedikit lama, tapi aku tidak akan bisa ingkar janji." Ucapan yang terdengar sangat mustahil. Tapi Yudha bukanlah seorang yang melupakan perkataannya sendiri. Karena Yudha tidak mau dianggap sebagai penipu.

"Aku akan menunggunya." Diam sejenak. Yumna membasahi bibirnya sekilas. "Kalau begitu, aku permisi." Pamit Yumna yang tidak bisa lama-lama berdiri di tempatnya saat ini.

"Maaf, jika aku tidak bisa mengantar mu. Dan terima kasih untuk bahan makanan ini. Aku akan membalas mu secepat mungkin." Yudha merasa bersalah karena sudah merepotkan Yumna malam ini.

"Tidak masalah." Kepala Yumna mengangguk kecil, dengan kedua tangan yang mengibas di depan dada. Mengisyaratkan jika itu bukan hal besar baginya. "Aku pergi. Selamat malam."

"Malam. Hati-hati Yumna."

"Kenapa Lingga memberi akses orang asing ke rumahnya? Bukankah itu akan membahayakan Lingga?" Bukannya ingin tahu. Tama hanya tidak mau kejadian buruk menimpa Lingga. Karena mau bagaimana pun, Lingga juga masih berada di bawah pengawasannya.

"Dia punya nama. Dia bukan orang jahat. Dan kamu sendiri pun juga tahu dia siapa." Balas Yudha, mengeluarkan semua bahan makanan itu di atas meja.

Tama menggaruk sebentar lehernya. "Tapi waspada harus kita utamakan. Kamu juga harus ingat, jika saat ini Lingga dalam incaran banyak orang."

"Bagaimana dengan pencarianmu?" Alih Yudha, kini membalas tatapan Tama. "Apa kamu sudah menemukan kebenarannya?"

"Aku tidak bisa menghadapi Tirtha sebelum masalah Lingga selesai. Jika aku menatap mata Tirtha, itu membuat ku ingin pergi ke tempat semula." Mengeluh pada Tama, bukan hal baru bagi Yudha. Karena hanya pria itu yang bisa memahami perkataannya.

Tama menyisir surainya kebelakang dengan wajah lelah. "Lingga akan baik-baik saja. Semuanya akan kembali seperti semua. Dan kamu tidak perlu kembali ke tempat semula mu. Karena__"

"Tempat itu jauh lebih menyakitkan dari tempat mu saat ini. Apa kamu ingin mengulang lagi?" Sambung Tama. "Menjadi seorang pengangguran yang tidak memiliki penghasilan. Menjadi bahan omongan orang-orang yang tidak menghargai mu. Apa ka u bisa menahannya?"

Yudha menelan ludah getirnya. Membuang napas berat. Mencengkram ujung meja dengan kepala yang sedikit menunduk.

"Mungkin mendengar apa yang di katakan Tirtha itu memang sangat melelahkan. Apalagi Tirtha terus saja melempar kesalahan itu padamu. Tapi kamu juga harus tahu, Tirtha seperti itu juga hanya menjalankan tugasnya sebagai pemimpin utama perusahaan. Dia hanya ingin melindungi apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya saat ini." Jelas Tama. Menatap Yudha yang tengah berada di titik kebimbangan. Untuk tetap bertahan atau mundur secara perlahan.

"Dan kamu tidak perlu khawatir, Tirtha sudah menemukan pelakunya. Saat ini dia tengah bernegosiasi dengan orang itu. Jadi kamu bisa memasak bahan-bahan dengan tenang, agar rasa itu tidak hambar." Timpal Tama, yang membuat Yudha menenggakkan kembali lehernya.

"Benarkah?" Keraguan ada dalam diri Yudha. Karena pria di depan matanya saat ini sulit untuk Yudha percayai.

"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya padamu. Tapi melihat mu seperti ini, itu membuat ku prihatin. Karena wajah tampan mu itu harus di pertahankan, itu point penting dalam hidup." Akhir Tama, sebentar melihat Yudha. Sebelum duduk di kursi makan untuk menyumpal mulutnya dengan beberapa buah yang ada di atas meja.

1
Lepidoptera
Penulisannya unik, semangat jugaaaa❤️
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!