GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.
Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.
Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.
Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kepala Berbunga Tanah, Rahasia Kekaisaran, dan Pasien Tak Diundang
Asap pekat yang mendidihkan udara mulai tersapu embusan angin dingin Planet Gun'Mar. Udara di sekitar tepi hutan itu dipenuhi bau menyengat dari ozon dan tanah yang meleleh.
Sepersekian detik sebelum senjata plasma mematikan itu meletus, bos alien Varkan tersebut telah melompat ke samping dan bertiarap menelungkup, menyembunyikan kepalanya di balik kedua tangan.
Kini, setelah getaran hebat di tanah berhenti dan hawa panas mereda, ia membuka matanya. Si bos Varkan bangkit berdiri, mengebaskan sisa lumpur basah dan debu hangus dari eksoskeletonnya. Di depannya, tepat di titik tempat Pipi berdiri beberapa detik lalu, kini hanya tersisa kawah berlubang hitam yang mengepulkan uap panas.
Tidak ada sisa tubuh. Tidak ada sisa seragam keamanan GPS.
"Fiuuuh..." Bos Varkan itu menghela napas lega. Senyum puas mengembang di wajah serangganya. "Untung aja berhasil. Nggak rugi kita bayar mahal-mahal buat senjata ilegal dari Grundam."
Dari dalam mobil lapis baja yang kaca depannya sedikit retak akibat gelombang kejut, alien kurus bersisik abu-abu yang tadi menarik pelatuk senjata melongokkan kepalanya. "Gimana, Bos? Mati si cebol itu?"
"Aman!" jawab si bos sambil menepuk-nepuk debu di pahanya. "Kita bisa terusin lagi kerjaan kita sekarang."
Namun, rekannya yang duduk di kursi kemudi, seekor alien bermoncong panjang dengan kulit pucat, masih memicingkan mata dari balik kaca, menatap kawah berasap itu dengan ragu.
"Bos... yakin Bos?" tanya si sopir, suaranya sedikit bergetar. "Itu ras Grovax, lho. Bos aja bisa menghindar dengan melompat mundur, berarti dia harusnya punya kesempatan buat menghindar juga, kan?"
"Heh, banyak omong kau!" sahut si alien abu-abu tak terima senjatanya diremehkan. "Cepetan tembakanku lah! Plasma Ion itu kecepatannya setara cahaya!"
"Kau nggak lihat apa di luar?! Di situ cuma tinggal lubang! Gosong jadi abu dia!" tambah si bos Varkan memutar bola matanya, muak dengan perdebatan dangkal di tengah misi. "Udah, nggak usah banyak teori! Kalian berdua cepat keluar, bawa senjata cadangan. Kita lanjutin misi jemput si Kahlia itu sekarang."
"Tapi, Bos...?" si sopir bersikeras tak mau keluar dari mobil.
"Tapi apa lagi, hah?!" bentak si bos.
"Nggak boleh gitu nggak, sih?"
Sebuah suara melengking ceria menyela dari sebelah kiri pinggang si bos Varkan.
"Sama anak buah sendiri tuh harus saling percaya."
Tanpa menoleh dan masih diselimuti rasa kesal terhadap anak buahnya, si bos Varkan refleks membalas ucapan itu.
"Iya, harusnya sih gitu!" gerutu si bos sambil berkacak pinggang. "Tapi dia tuh orangnya parnoan, bikin kesel tahu nggak..."
Ucapan si bos Varkan melambat. Matanya berkedip lambat. Gerakan rahangnya terhenti. Hawa dingin merayapi tengkuk cangkangnya.
Tunggu dulu. Suara siapa yang barusan menasihatinya?
Dengan gerakan patah-patah layaknya engsel mesin berkarat, bos Varkan itu menunduk ke sebelah kirinya.
Pipi berdiri di sana.
Gadis Grovax itu sedang menyandarkan sikunya di paha si bos Varkan yang menjulang tinggi, melipat tangan di dada sambil meniup debu imajiner dari seragamnya yang tidak kotor sedikit pun.
Ternyata firasat si sopir benar.
Semua alien di dalam mobil yang baru saja akan mendorong pintu untuk keluar, membeku. Napas mereka tercekat di tenggorokan.
Keheningan menyelimuti lokasi itu. Suara gemuruh angin seakan lenyap selama tiga detik.
Lalu...
"AAAAAAAARGGGHHHHH!"
Jeritan teror melengking bersahut-sahutan memecah keheningan hutan Gun'Mar, menerbangkan ratusan burung liar dari dahan pepohonan.
Disusul dengan paduan suara yang tidak ramah didengar telinga:
Bugh! KRAK!
"Ampuuun, Mbaaaak!"
BAAAAM!
"Tulaaaang rusukkuuuu!"
Jleb! Brak!
Di waktu yang sama, di anjungan kemudi kapal kargo GPS Andromeda, suara jeritan, tangisan pilu, dan permohonan ampun itu tersiar dengan kualitas audio yang jernih melalui speaker utama di langit-langit kapal.
Arka duduk mematung di kursi kaptennya. Kelopak matanya setengah terpejam, menahan pusing yang mulai berdenyut di kepalanya.
Dengan gerakan pasrah seorang pria yang baru masuk kerja namun sudah kelelahan mental, Arka melepas alat komunikasi dari telinganya. Ia menekan beberapa tombol di layar holografik dan mematikan saluran audio eksternal. Suara jeritan menyedihkan itu pun terputus, mengembalikan keheningan profesional ke dalam kokpit.
Arka menekan tuas kursinya, lalu bangkit berdiri dengan gontai.
"Mau ke mana, Bos?" tanya YUI yang duduk di tepi meja navigasi, memandangi layar radar.
"Mau nyeduh kopi," jawab Arka parau. "Oh iya, YUI, tolong panggilin Galactic Patrol sektor terdekat ke koordinat mereka. Panggilin ambulans udara sekalian. Takutnya preman-preman itu malah mati kalau telat dirawat."
Eiden, perwira operasi baru yang menatap layar monitor dengan wajah pucat, mengangkat tangannya pelan. "Terus... orang-orang Mizura yang jadi target mereka itu gimana nasibnya, Kapten?"
Lyra, tanpa mengalihkan pandangan matanya dari panel perhitungan bahan bakar, langsung menyahut dengan kecepatan mengetik yang konstan. "Bawa aja sekalian ke kapal, Kapten. Bukannya perempuan itu tadi bilang kalau dia Tuan Putri? Kalau kita menyelamatkan anggota kerajaan, secara logika kalkulasi, kita bakal dikasih uang hadiah yang lumayan nanti."
Arka menghentikan langkahnya sejenak. "Ide bagus. Tapi itu nanti aja tunggu polisi datang dan urusan birokrasi di darat selesai. Dah, aku mau bikin kopi dulu ke pantry belakang."
Baru saja sepatu bot Arka mengambil satu langkah...
"BWAHAHAHAHAHA!"
Tawa berat dan menggelegar dari Brakkor meledak, beresonansi ke seluruh dinding logam kokpit.
Arka menoleh heran, memandangi teknisi mesin raksasanya itu. "Kenapa Pak Brakkor ketawa segitunya?"
Brakkor menunjuk ke layar monitor utama dengan jarinya yang besar, sambil tertawa dan menghapus air mata dari sudut matanya.
"Kapten nggak lihat, ya? Dari tadi kita kan bisa lihat visual real-time mereka dari kamera belakang drop-ship. Lihat tuh alien-alien bodoh itu! Semuanya nyungsep!"
Arka berjalan mendekati layar monitor. Di sana, tertampil pemandangan yang surealis. Si bos Varkan, si alien abu-abu, dan si sopir bermoncong panjang sudah tak berdaya. Tubuh mereka tertanam sejajar dan tegak lurus, dengan kepala yang masuk sepenuhnya ke dalam tanah berlumpur. Hanya kaki-kaki mereka yang bergerak-gerak lemah di udara bak cacing kepanasan.
"Pasti kepalanya dimasukkan ke tanah satu-satu kan sama Pipi?" tebak Arka datar.
Brakkor menghentikan tawanya, menatap Arka dengan takjub. "Hahaha! Kok Kapten tahu?!"
"Dari zaman SD di Bumi tabiat anaknya udah gitu," keluh Arka, matanya menerawang mengenang masa-masa di sekolah dasar. "Kalau Pipi lagi ngehukum anak cowok nakal di sekolah, kepalanya pasti ditanam kayak singkong begitu."
Mendengar konfirmasi historis itu, Brakkor kembali meledak dalam tawa lepas.
***
Beberapa jam kemudian.
Setelah armada lapis baja Galactic Patrol dan tim medis darurat tiba di permukaan lembap Gun'Mar, komplotan alien penyerang itu akhirnya diringkus. Petugas kepolisian harus bersusah payah menggali mereka keluar dari tanah sebelum memborgolnya.
Karena alasan keamanan dan status mereka sebagai saksi korban, Pipi, Razor, dan Harry memutuskan membawa Kahlia serta bodyguard-nya, Jin, naik ke dalam drop-ship dan mengungsi ke kapal kargo induk GPS Andromeda.
Kini, mereka berada di Ruang Medis Utama kapal.
Fasilitas kesehatan Andromeda luas, didominasi cahaya putih bersih dan bunyi dengungan halus dari alat penyokong kehidupan. Di salah satu sudut ruangan, Jin sedang diobati intensif oleh Dr. Ismail, seorang dokter manusia berusia 45 tahun yang memakai jas putih rapi.
Sementara di sudut lain, Putri Kahlia tengah dirawat oleh Dr. Tale. Saat dokter bertubuh tinggi itu menunduk untuk mengoleskan salep hidro-gel ke kulit Kahlia, bintik-bintik energi di balik kulit biru transparannya memancarkan pendar redup. Cahaya kelap-kelip yang menyerupai rasi bintang itu mengikuti setiap pergerakan tangannya, ciri khas ras Nebula Elf yang memukau.
Di dekat ranjang perawatan Kahlia, Arka duduk melakukan sesi interogasi singkat. Sikap tubuhnya sengaja dibuat kasual agar tidak terlihat mengancam. Ia membalikkan kursi berodanya, duduk mengangkang dengan dada bersandar pada sandaran kursi.
Di sebelahnya, YUI duduk bersila di atas kursi pasien kosong. AI gotik itu tampak tidak peduli pada pembicaraan diplomasi di depannya. Ia asyik menekan-nekan kaca lampu magma elastis di meja nakas, membiarkan benda cair di dalamnya bergerak naik turun membentuk pola.
"Jadi..." Arka memulai pertanyaannya, suaranya tenang namun menuntut jawaban. "Kenapa bisa seorang putri pewaris dari kekaisaran besar berakhir dengan pakaian robek-robek seperti ini?"
Kahlia menundukkan kepalanya, jari-jarinya yang berselaput tipis meremas selimut putih di pangkuannya. "Maafkan saya. Kami tidak bisa menceritakannya kepada publik. Ini masuk ke ranah rahasia internal keluarga kekaisaran."
Arka menghela napas panjang. "Hmm... baiklah. Saya tidak akan menanyakan masalah keluarga kalian. Tapi sebagai kapten yang bertanggung jawab penuh atas kapal ini, saya tidak bisa sembarangan membawa penumpang yang sedang menjadi target pembunuhan. Mohon maklum, Tuan Putri, armada kami ini hanya kurir logistik."
Kahlia bergumam. Matanya memancarkan rasa putus asa bercampur tekad. "Begitu, ya... hmm, kemarilah sebentar, Kapten Arka."
Arka memajukan roda kursinya mendekat. Kahlia menoleh sejenak ke arah Dr. Tale dan Jin, memastikan tak seorang pun memperhatikan mereka. Kahlia mencondongkan tubuhnya ke depan dan membisikkan sesuatu ke telinga Arka. Pelan, menyerupai desisan udara.
Mendengar bisikan itu, mata Arka melebar. Ia berkedip-kedip memproses untaian kalimat tersebut. Tubuhnya kaku, dan warna wajahnya memudar. Beban gravitasi seolah baru saja dijatuhkan seberat satu ton ke bahunya.
Setelah selesai membisikkan rahasianya, Kahlia kembali bersandar ke posisi semula dengan anggun, membiarkan Dr. Tale melanjutkan perawatannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Dr. Tale menegur pelan. "Jangan gerak-gerak dulu, Yang Mulia. Luka kulit ras Mizura biasanya cepat sembuh kalau direndam total dalam air laut murni, kan?"
"Iya, Dok," angguk Kahlia.
"Kalau begitu, setelah perban darurat ini selesai, Tuan Putri langsung pindah ke Ruang Khusus Akuatik saja, ya? Biar suamiku di sana yang mengatur suhu tangkinya. Oke, Mas?" seru Dr. Tale melirik suaminya di sudut lain.
"Siap, Sayang! Sebentar lagi yang ini selesai!" sahut Dr. Ismail sambil membalut lengan Jin yang kokoh.
Arka berdiri dari kursinya dengan gerakan sedikit goyah. Ia memberi kedipan kode kepada YUI untuk mengikutinya keluar.
"Ya sudah, kalau begitu kalian saya tinggal beristirahat," ucap Arka serak. "Setelah kalian keluar dari ruangan akuatik besok, langsung temui saya di ruang rapat utama. Kita bicarakan langkah selanjutnya."
Arka berbalik membelakangi ranjang dan berjalan gontai keluar dari Ruang Medis Utama. YUI melompat turun dari kursinya dan mengekor di belakang sang kapten.
Begitu pintu geser otomatis tertutup rapat dan menyegel suara mereka dari dalam ruangan, udara di lorong logam itu terasa hening.
"Bisik-bisik apa dia barusan, Bos?" selidik YUI, matanya memancarkan pendar ungu penasaran.
"Kepo kamu, ya?" jawab Arka tanpa menoleh, langkahnya diseret berat.
Langkah YUI berhenti. Robot bergaun gotik itu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap tajam punggung kaptennya. "Mau saya retas pintu palka udara sekarang dan melempar Bos keluar kapal tanpa spacesuit, Bos?"
Arka menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap AI-nya dengan senyum pasrah yang terlihat lelah. "Nggak bisa diajak bercanda sedikit apa kamu, ya? Main lempar keluar segala."
Arka memalingkan wajahnya, kembali menatap ujung lorong yang panjang dan sunyi. Ia membuang napas berat.
"Yah... intinya ini masalah pribadi yang menyangkut kedaulatan kekaisarannya," jelas Arka gusar. "Ada sesuatu yang disembunyikan. Nanti kita omongin bareng aja sama kepala divisi lain kalau sang Putri udah pulih."
"Tetap saja aneh," protes YUI, memiringkan kepalanya. "Padahal mereka bisa ikut polisi atau tim medis militer di bawah tadi agar lebih aman. Kenapa mereka malah menolak diselamatkan aparat dan bersikeras milih ikut kapal sipil kita yang lambat ini?"
Arka menatap asisten cerdasnya itu sejenak. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia hanya mengangkat kedua bahunya, memiringkan kepala ke satu sisi, dan membuka kedua telapak tangannya menghadap ke atas.
Sebuah gestur pasrah yang menggambarkan bahwa ia sendiri pun tidak tahu harus berbuat apa. Namun dari raut wajahnya, satu hal sudah tergambar jelas: rutinitas damai ekspedisi pengiriman paket mereka baru saja hancur berantakan.