NovelToon NovelToon
Not Our Time

Not Our Time

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Keluarga
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"

Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.

Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.

Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?

~~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Angin yang berembus di antara deretan pohon willow di pemakaman eksklusif Bel-Air itu mendadak terasa begitu menyiksa.

Suaranya tidak lagi terdengar seperti simfoni alam yang syahdu, melainkan bisikan menyeramkan yang menertawakan seluruh kewarasan Vexana Valerio.

Dunia di sekelilingnya seolah bergetar hebat. Hamparan rumput hijau yang dipotong rapi, langit biru California yang bersih, hingga sosok Andriana yang berdiri di depannya, semuanya tampak buram.

Fokus mata Vexana terkunci sepenuhnya pada ukiran huruf emas di atas marmer putih yang selama empat tahun ini dia rawat dengan air mata: Amara Zamora.

"Enam tahun lalu...?" Suara Vexana nyaris tak keluar. Tenggorokannya terasa kering dan terikat kuat. "Tidak, Dre. Kau salah. Kau pasti salah. Amara meninggal empat tahun lalu. Saat usia kami dua puluh tahun. Aku... aku ingat betul!"

Dengan gerakan panik yang tidak terkontrol, Vexana mencengkeram perut bagian bawahnya, tepat di balik gaun kremnya di mana bekas luka operasi sepanjang sepuluh sentimeter itu bersembunyi.

Luka itu adalah satu-satunya bukti fisik yang dia miliki atas tragedi yang merenggut sahabatnya.

Bagaimana mungkin garis waktu di kepalanya bisa melesat sejauh dua tahun?

Andriana melangkah maju, menangkap kedua pergelangan tangan Vexana yang bergetar.

Sepasang mata Andriana memancarkan kecemasan yang mendalam, campur aduk dengan kengerian melihat bagaimana sahabatnya yang selalu memegang kendali atas segalanya, kini tampak seperti selembar kertas yang siap robek ditiup angin.

"Vexa, lihat aku!" seru Andriana, menuntut fokus dari manik mata Vexana yang bergerak liar. "Aku tidak mungkin salah tentang tahun kematian Amara. Malam di mana kecelakaan itu terjadi... Itu terjadi enam tahun lalu, Vexa! Tepat dua tahun setelah kita lulus high school!"

"Lalu... lalu jika Amara meninggal enam tahun lalu, kenapa nisan ini..." Vexana menunjuk dengan jari yang gemetar hebat ke arah marmer putih di bawah mereka.

Tangannya begitu lemas hingga nyaris tidak bisa tegak. "...kenapa di sini tertulis empat tahun yang lalu? Dan nisan siapa ini, Andriana?! Kenapa ini jadi makam Amara?!"

Andriana menurunkan pandangannya ke arah nisan tersebut. Kerutan di keningnya semakin dalam saat dia membaca baris demi baris informasi yang terpahat di sana. Ada sesuatu yang sangat ganjil, sesuatu yang terasa dipaksakan secara sengaja.

"Aku tidak tahu nisan siapa ini, Vexa," bisik Andriana dengan nada ngeri yang merayap di suaranya. "Tapi yang pasti, ini bukan makam Amara Zamora sahabat kita. Makam Amara yang asli berada di blok pemakaman umum ujung selatan. Orang tuanya memakamkannya di sana secara sederhana sebelum mereka menjual seluruh aset mereka di Los Angeles dan pindah ke Eropa karena tidak kuat menahan rasa duka."

Andriana menjeda kalimatnya, menatap Vexana dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Vexa... siapa yang membawamu ke makam ini untuk pertama kali? Siapa yang memberi tahu bahwa di sini tempat Amara bersemayam?"

Pertanyaan Andriana bertindak laksana godam yang menghantam dinding pertahanan mental Vexana. Ingatannya mendadak berputar, mencoba melompat kembali ke masa empat tahun lalu—atau yang dia yakini sebagai empat tahun lalu.

Dia mengingat momen ketika dia baru saja keluar dari rumah sakit setelah koma berhari-hari.

Tubuhnya masih sangat lemah, jiwanya terguncang hebat akibat trauma kehilangan Amara.

Saat itu, dia terus menangis, berteriak histeris menuntut untuk diantarkan ke makam Amara.

Dan orang yang menggandeng tangannya yang lemas, orang yang dengan penuh kasih sayang memeluknya dan menuntun langkahnya ke tempat ini, mendudukannya di depan nisan putih ini sambil membisikkan kata-kata penenang adalah...

Daddy.

Maximilian Valerio.

Seketika itu juga, bayangan wajah sang Daddy yang tersenyum hangat di meja makan tadi pagi berkelebat di benak Vexana. Kata-kata sang Daddy satu jam yang lalu kembali bergema: "Daddy akan tunggu di mobil ya, sayang. Berbicaralah pada Amara, berikan dirimu waktu."

Kenapa Daddy selalu menungguku di mobil? Pikiran itu mendadak muncul permukaan, tajam dan menusuk.

Selama bertahun-tahun dia berkunjung ke sini, Maximilian tidak pernah sekalipun melangkah mendekat ke nisan ini bersamanya.

Pria paruh baya itu selalu memilih untuk berdiri jauh di belakang, atau memilih menunggu di dalam mobil sedan mewahnya.

Apakah karena sang Daddy menghargai ruang privasinya untuk berduka... atau karena sang Daddy tahu bahwa nisan ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang dengan rapi?

"Tidak... tidak mungkin Daddy membohongiku," bisik Vexana, menggelengkan kepalanya dengan kuat, menolak pemikiran mengerikan yang mulai merayap di otaknya.

Keluarga Valerio adalah pelindungnya. Rumah mewah di Bel-Air adalah tempat sucinya. Bagaimana mungkin sang Daddy terlibat dalam distorsi waktu gila yang mengurung jiwanya selama ini?

"Vexa? Ada apa?" tanya Andriana, menyadari perubahan raut wajah Vexana yang mendadak berubah pucat pasi laksana mayat.

Sebelum Vexana sempat menjawab, suara langkah kaki yang tergesa-gesa di atas jalan setapak berkerikil mengejutkan mereka berdua.

Vexana menoleh dan menemukan sosok Maximilian Valerio sedang berjalan cepat ke arah mereka. Wajah tegas pria paruh baya itu tidak lagi menampilkan ketenangan seorang pengusaha sukses; ada guratan ketegangan dan kepanikan yang sangat nyata di sana saat matanya menangkap sosok Andriana yang berdiri di sebelah putrinya.

"Vexana," panggil Maximilian, suaranya berat dan sarat akan otoritas yang mencoba menutupi kegelisahan. Pria itu langsung berdiri di antara Vexana dan Andriana, seolah ingin memisahkan mereka secara fisik.

"Daddy melihat dari kejauhan kau tampak sangat terguncang. Dan... siapa gadis ini?"

Andriana, yang mengenali ayah dari mantan sahabatnya itu, perlahan menurunkan kacamata hitamnya dan membungkuk hormat.

"Selamat pagi, Tuan Valerio. Saya Andriana... teman high school Vexa."

Mendengar nama 'Andriana', rahang Maximilian tampak mengeras selama sepersekian detik.

Sepasang matanya yang tajam menatap Andriana dengan pandangan menilai yang sangat dingin, seolah-olah kehadiran gadis itu adalah sebuah ancaman besar yang baru saja mengacaukan skenario yang telah disusunnya bertahun-tahun.

"Andriana. Aku ingat dirimu," ucap Maximilian dengan nada suara yang mendadak datar dan tidak bersahabat. "Kudengar kau berada di luar negeri. Dan kurasa, ini bukan waktu yang tepat untuk bereuni di tempat seperti ini. Putriku sedang tidak sehat, aku harus membawanya pulang sekarang."

"Dad..." Vexana melangkah maju, memegang lengan kemeja daddynya. Tangannya masih gemetar, namun sepasang matanya kini menatap Maximilian dengan pandangan yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya—pandangan penuh tuntutan dan keraguan yang mendalam.

"Ada apa, sayang? Ayo, kita pulang. Mommy sudah menunggumu untuk makan siang," ajak Maximilian, mencoba memutar tubuh Vexana agar menjauh dari nisan tersebut.

Namun, Vexana menolak untuk bergerak. Dia melepaskan tangannya dari lengan Maximilian, lalu menunjuk ke arah nisan di belakang mereka.

"Dad, tolong jawab aku dengan jujur," suara Vexana mengalun, kali ini tidak ada keanggunan yang tertata; yang ada hanyalah keputusasaan seorang anak yang merasa dunianya sedang dimanipulasi. "Tahun berapa sekarang?"

Pertanyaan itu membuat atmosfer di sekitar mereka membeku seketika. Bahkan Andriana yang berdiri di samping mereka menahan napasnya, menyaksikan konfrontasi tegang antara ayah dan anak dari keluarga paling berpengaruh di Bel-Air tersebut.

Maximilian Valerio terdiam. Untuk beberapa saat yang terasa seperti keabadian, pria paruh baya itu hanya menatap putrinya dengan pandangan mata yang sulit diartikan.

Riak kepanikan yang tadi sempat muncul di wajahnya kini telah lenyap, digantikan oleh topeng dingin seorang pengusaha yang terbiasa menyembunyikan rahasia besar.

"Tentu saja tahun dua ribu dua puluh enam, Vexa," jawab Maximilian tenang, terlalu tenang hingga terdengar tidak alami. "Kenapa kau menanyakan hal yang sudah jelas?"

"Jika sekarang tahun dua ribu dua puluh enam..." Vexana merasakan air matanya kembali mengalir, namun kali ini panas oleh rasa takut yang luar biasa. "...dan kita lulus high school di tahun dua ribu delapan belas, itu berarti usiaku sudah dua puluh enam tahun, Dad! Bukan dua puluh empat tahun!"

Vexana melangkah mendekati daddynya, mencengkeram lengan pria itu dengan kedua tangannya, menuntut sebuah kepastian yang bisa menyelamatkan kewarasannya.

"Tapi kenapa di kepalaku... kenapa Mommy, Daddy, bahkan AJ memperlakukanku seolah-olah aku masih berusia dua puluh empat tahun?! Kenapa setiap kali aku bertanya tentang masa kuliahku, kalian selalu mengatakan aku berada di tahun terakhirku di usia dua puluh empat?! Dan nisan ini... kenapa di sini tertulis Amara meninggal empat tahun lalu, padahal Andriana bilang Amara dimakamkan di tempat lain enam tahun yang lalu?!"

"Vexana, cukup!" bentak Maximilian pelan namun tajam, memotong kalimat putrinya dengan ketegasan yang mutlak.

Pria itu mencengkeram bahu Vexana, menatap langsung ke dalam mata putrinya yang dipenuhi ketakutan. "Kau sedang berhalusinasi akibat kelelahan pasca ujian. Teman lamamu ini pasti telah mengatakan hal-hal konyol yang mengacaukan ingatanmu."

Maximilian kemudian menoleh ke arah Andriana, matanya memancarkan kilat ancaman yang sangat kentara. "Andriana, kuhargai kunjunganmu hari ini. Tapi kumohon, tinggalkan kami sekarang juga. Jangan pernah mendekati putriku lagi dengan cerita-cerita palsumu."

Andriana yang merasa disudutkan secara tidak adil, langsung menegakkan punggungnya. Sebagai seorang wanita yang kini sudah menjadi seorang ibu, dia tidak lagi bisa diintimidasi dengan mudah oleh kekuasaan keluarga Valerio seperti saat dia masih remaja dulu.

"Saya tidak berbohong, Tuan Valerio," balas Andriana dengan suara lantang dan tegas.

"Anda bisa memeriksa seluruh catatan sipil dan berita pemakaman di Los Angeles. Amara Zamora meninggal enam tahun lalu. Dan jika Anda menyembunyikan sesuatu dari Vexana selama dua tahun itu, itu adalah urusan keluarga Anda. Tapi jangan sebut saya pembohong!"

"Andriana, pergi!" perintah Maximilian dengan nada suara yang merendah namun sarat akan bahaya.

Vexana menatap interaksi di depannya dengan perasaan hancur yang teramat sangat. Reaksi defensif dan otoriter dari sang Daddy justru menjadi jawaban paling nyata atas semua keraguannya.

Daddynya tidak menyangkal dengan penjelasan yang logis; daddynya hanya mencoba membungkam Andriana. Itu berarti... apa yang dikatakan Andriana adalah kebenaran.

Ada dua tahun dalam hidup Vexana Valerio yang hilang tanpa bekas. Dua tahun yang sengaja dihapus, dimanipulasi, dan dikondisikan oleh orang-orang di sekitarnya agar dia percaya bahwa dia masih berusia 24 tahun.

Kenapa? Apa yang terjadi di antara usia dua puluh empat dan dua puluh enam tahunku?

Pertanyaan itu berputar laksana tornado di dalam kepala Vexana, memicu rasa pening yang luar biasa hebat hingga pandangannya mulai menggelap di sudut-sudutnya.

"Vexa!" Andriana berseru panik saat melihat tubuh Vexana mulai limbung.

Maximilian dengan cepat menangkap tubuh putri sulungnya sebelum jatuh ke atas rumput.

Pria paruh baya itu mengangkat tubuh Vexana yang lemas ke dalam gendongannya dengan wajah yang dipenuhi kecemasan yang mendalam. Dia menatap Andriana sekali lagi dengan pandangan dingin yang mematikan.

"Jika terjadi sesuatu pada putriku karena bicaramu hari ini, Andriana... aku pastikan kau dan keluargamu tidak akan pernah memiliki tempat lagi di kota Los Angeles ini," ancam Maximilian kejam, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat membawa Vexana yang setengah sadar menuju mobil sedan mewahnya.

Andriana berdiri terpaku di tempatnya, menatap kepergian mobil mewah keluarga Valerio yang meninggalkan area pemakaman dengan kecepatan tinggi.

Dia memegangi perutnya yang buncit karena kehamilan keduanya, merasakan debaran jantungnya yang tidak beraturan.

"Ada yang tidak beres dengan keluarga itu," gumam Andriana lirih pada nisan marmer putih di depannya. "Dua tahun yang hilang... apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari putrimu sendiri, Tuan Valerio?"

Sementara itu, di dalam mobil yang melaju kencang membelah jalanan Los Angeles, Vexana berbaring di kursi penumpang dengan kesadaran yang timbul tenggelam.

Di tengah rasa pening yang menyiksa, air matanya terus mengalir melewati pelipisnya.

Pikirannya mendadak melayang pada sosok Landon Desmon—pria yang kemarin menuduhnya sebagai wanita yang penuh drama dan terobsesi pada masa lalu.

Landon... batin Vexana di tengah kegelapan kesadarannya yang mulai merayap naik.

Jika daddy membohongiku, jika duniaku adalah sebuah kebohongan... apakah kau juga tahu tentang dua tahun yang hilang dalam hidupku ini? Ataukah kau adalah alasan mengapa dua tahun itu harus dihapus dari ingatanku?

Badai yang sesungguhnya kini telah resmi dimulai, dan kali ini, badai itu tidak hanya datang dari luar, melainkan dari dalam diri Vexana sendiri—sebuah pencarian melelahkan untuk merebut kembali potongan fragmen hidupnya yang telah dicuri oleh orang-orang yang paling dia percayai.

1
Mei TResna Rahmatika
ngakak bangett🤣dady maximilian ada aja idenya ngerjain landon🤣
Ros 🍂: susuai reques pembaca 🤭😭😭😭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
satu kata buat pak Desmon"MAMPUSSS" ketawa jahat dulu aku Thor hahahahaha aduh sampai kering ini gigi ketawa Mulu dari tadi🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: huhuhu terharu loh aku kak, Kalo Cerita bikin ketawa 🤭🤣🤣🤣
btw ini kenapa pada musuhan sama bapak Desmon 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru bogem daddy max nihh,,, mana nih grandpa kensingtone,, gk mau kasih salam bogem jg,, 😌
Ros 🍂: entah kenapa Saya sulit menghadirkan para Tetua kak 🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
belum puas cuma tiga kali doang harusnya sampai masuk UGD🤭🤣🤣
Ros 🍂: kak astagaaa 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Vibesnya kayak ketemu musuh bebuyutan waktu masa kcil lihat mommy Eleanor dan daddy max,, 🤣
Ros 🍂: Udahlah kak Author nggak tanggung-jawab sama mereka 🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Hukumannya ringan itu,, harusnya larinya pake baju balet warna pink,,,!!
Ros 🍂: kak😭 ngakak aku kak🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aaah cuma sepuluh kali doang harusnya hukumannya yg lebih berat misal nyapu halaman mansion,nyabutin rumput mansion🤭🤣🤣🤣🤣🤣 itu terlalu ringan Thor mohon tambahkan hukuman pak Desmon🤭🤣
Ros 🍂: hahaha sesuai request para Reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
emaknya Mr. Desmon kocak asli🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader suka nggak ?🤭😅
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
akhirnya😍 gak sia" perjuangan landon🤣
Ros 🍂: Wkwkw 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nunggu daddy max ngasih bogem dan khotbah sama landon,, 😌
Ros 🍂: wah ide bagus itu kak🤭 sesuai request 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh landon siap bertarung ngadepin daddy max
Ros 🍂: semangatin kak🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
jreng jreenngggg akhirnya pak Desmon bisa liat jagoannya juga😍😍😍
Ros 🍂: Yahoooo🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya bomnya meledak juga
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yunie
akhirnya mulai terungkap
Ros 🍂: iya kak🫶
total 1 replies
Yunie
ada apa selama 2 tahun?
Vanni Sr: ohh Aj ank ny vexa dn london , tp daddy ny nutupin seolah itu makam ank mereka , mkny london benci vexa.
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
pliss thorr abis ini bkin mereka sama" mengakui masih cinta😭 nyesek bangett baca dr bab 1 nangisin mereka mulu
Ros 🍂: huhuhu Maafkan author yaa kak 🤭🙏🏻 nanti dibuat sesuai request 😅
total 1 replies
N I S
kak ceritamu bagus banget😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🫶🥰
total 1 replies
Thee-na Tooth
ayoo kak up maraton 🤭
Ros 🍂: siap ya kak🫶
total 1 replies
Kristina NellaWara
semngt up thorrr
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Kristina NellaWara
lnjut thor
Ros 🍂: siap kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!