Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
Lexi yang sebenarnya masih kesal terhadap mommy akibat perjodohan konyol yang telah diatur oleh wanita itu, pada akhirnya luluh dengan perkataan lembut ibu sambungnya tersebut hingga mempersilahkan mommy untuk memilih cincin pernikahan untuknya, setelah selesai membantu Leon dan Zira untuk memilih cincin pernikahan mereka.
"Bagaimana mungkin mommy meminta mas Lexi memilih cincin pernikahan sedangkan calonnya saja belum ada, mom." Leon tak habis pikir dengan saran Mommy untuk sang kakak. Leon juga sadar kalau Lexi terpaksa mengiyakan saran Mommy.
"Bagaimana jika nantinya cincinnya justru kekecilan atau kebesaran, mom?." Lanjut Leon semakin tak habis pikir melihat antusiasme mommy dalam memilih cincin pernikahan untuk kakaknya.
Mommy mengabaikan begitu saja perkataan Leon. Bagaimana tidak diabaikan, ini merupakan kesempatan langka di mana seorang Lexiano Fernandez bersedia memilih cincin pernikahan walaupun kenyataannya calon istri saja belum punya.
"Sepertinya cincin yang ini cantik." Lexi yang sejak tadi lebih banyak diam kini terdengar bersuara seraya menuding ke arah cincin yang dimaksud olehnya.
"Benar, cincin ini cantik. Mommy juga suka dengan modelnya, simple tapi kelihatan mewah." Mommy ikut berkomentar, setuju dengan cincin pilihan Lexi.
Zira terkejut bukan main saat mommy memintanya membantu untuk mencoba cincin pilihan Lexi. Zira ingin sekali menolak namun Leon mengangguk padanya, seolah turut memintanya untuk membantu mencobakan cincin tersebut. Dengan berat hati Zira mencoba meraih cincin tersebut dan menyematkannya di jari manisnya, sementara cincin pernikahannya dan Leon kini berada di dalam kotak beludru berwarna merah dan rencananya baru akan disematkan oleh Leon ke jari manisnya dihari pernikahan mereka nanti.
Lexi sontak memfokuskan pandangannya pada Zira yang kini tengah menyematkan cincin tersebut dijari manisnya.
"Wah... cincinnya cantik sekali." Mommy terlihat bahagia karena membayangkan cincin pernikahan tersebut tersemat dijari manis istrinya Lexi suatu hari nanti. "Bagaimana menurut kamu, Lexi?." Mommy menanyakan pendapat Lexi.
"Cantik." Jawab Lexi, namun bukan memandang pada cincin di jari manis Zira melainkan menatap pada wajah Zira.
"Terima kasih sudah membantu mencobanya, sayang. Sekarang kamu boleh melepasnya!." Kata Mommy dan Zira pun mengangguk.
Zira mengernyitkan dahi saat usahanya untuk melepaskan cincin tersebut tidak membuahkan hasil. Cincin tersebut sulit dilepaskan dari jari manis Zira.
"Ada apa, sayang?." Tanya Leon melihat perubahan pada raut wajah calon istrinya itu.
"Cincinnya sulit dilepaskan, Leon." Adu Zira.
"Masa' sih?." Leon lantas meraih tangan Zira hendak membantu melepaskan cincin tersebut, tapi kenyataannya Leon pun merasa kesulitan melepaskannya. "Kenapa cincinnya sulit dilepaskan, Tante?." Leon mengadu pada pemilik cincin berlian sekaligus pemilik toko perhiasan terkenal di kota Surabaya tersebut. Sama seperti Leon di awal, sahabat mommy tersebut pun seperti tak percaya.
"Masa' sih." Ia pun ikut membantu melepaskan cincin tersebut namun sama saja, cincin tersebut tetap tidak berhasil dilepaskan dari jari manis Zira. Hal itu pun mulai menimbulkan rasa panik di hati Zira.
"Sepertinya aku perlu membalur nya dengan busa sabun agar bisa terlepas." Ucap Zira. Mommy dan Leon pun mengangguk setuju, mempersilahkan Zira menuju toilet. Berbeda dengan yang lainnya, Lexi justru terlihat tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apapun.
"Kenapa cincinnya tidak mau terlepas sih." Gumam Zira sambil berusaha melepaskan cincin dijari manisnya yang kini telah dibaluri oleh busa sabun. Zira yang panik tanpa sadar menangis.
Sudah hampir setengah jam namun Zira belum juga kembali dari toilet hingga akhirnya Leon pun memutuskan untuk menyusulnya.
"Sayang..... sayang..... Azira..." Leon menyerukan nama Zira di depan pintu toilet tamu yang berada di lantai bawah.
Ceklek.
Zira membukakan pintu untuk Leon.
"Cincinnya tetap saja tidak mau terlepas, Leon." Adu Zira. Melihat Zira menangis, Leon pun mencoba menenangkan.
"Sudah, jangan menangis! Kalau memang cincinnya tetap tidak mau terlepas, nanti kita temui tenaga professional untuk membantu melepaskannya. Untuk sementara waktu biarlah cincin ini tetap tersemat di jari manis kamu, sayang!." Walaupun dalam hati Leon mulai merasakan keanehan dengan kejadian ini, tetapi di depan calon istrinya, pria itu tetap berusaha terlihat tenang.
"Tapi_."
"Tidak perlu takut, mas Lexi pasti mengerti. Dia pasti tidak akan marah." Potong Leon yang berpikir Zira takut pada Lexi karena masalah cincin itu.
Zira tidak bisa protes lagi, kalaupun ia terus-menerus protes Leon tetap tak paham akan ketakutan di dalam hatinya sekarang ini. Leon dan Zira pun berlalu meninggalkan toilet dan kembali bergabung bersama yang lainnya di ruang tengah.
"Bagaimana sayang, apa cincinnya berhasil terlepas?." Tanya mommy sekembalinya Zira dan Leon dari toilet. Zira menggelengkan kepalanya dengan lemah. Perasaan mommy pun langsung berubah tidak enak atas kejadian malam ini. Wanita paruh baya tersebut melirik pada putra sambungnya. Hanya melirik tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun dari kacamatanya sebagai seorang ibu, Mommy mulai mengendus aroma kejanggalan.
"Jangan khawatir, besok Leon akan mengajak Zira menemui tenaga ahli dalam bidangnya untuk membantu melepaskan cincin ini dari jari manis Zira, mom!." Kata Leon dan mommy pun mengangguk setuju. Sementara Lexi, pria itu dengan santainya meraih cincin pasangan dari cincin pernikahan yang kini tersemat di jari manis Zira lalu menyematkannya di jari manisnya. Melihat tindakan Lexi tersebut semakin membuat perasaan mommy tidak enak. Entah mengapa, mommy merasa Lexi sedang menyembunyikan sesuatu.
Kini di tangan kiri Zira tepatnya di jari manis sebelah kanannya tersemat cincin pertunangannya dengan Leon, sedangkan di jari manis sebelah kirinya tersemat cincin pernikahan milik Lexi yang sulit dilepaskan.
Zira semakin gundah gulana, hubungannya dengan keluarga Fernandez semakin pelik bagaikan benang kusut yang sulit untuk dirapikan. Zira khawatir akan kehilangan kewarasan jika terus berlarut-larut dalam situasi seperti ini, hingga ia pun bertekad untuk berterus terang kepada Leon di saat Leon mengantarkannya pulang nanti.
Zira sudah tidak sabar untuk segera membicarakan hal penting ini pada Leon, sehingga wanita itu pun meminta calon suaminya tersebut untuk segera mengantarkannya pulang.
Sama seperti ketika Zira datang beberapa saat lalu, kini Lexi kembali mengamati pergerakan wanita itu memasuki mobil adiknya melalui jendela kamarnya.
"Bahkan alam pun tahu, di jari manis siapa seharusnya cincin itu tersemat." Gumam Lexi seraya menyaksikan mobil Leon yang kini mulai merayap perlahan meninggalkan gerbang kediaman keluarga Fernandez. Setelah mobil Leon tak lagi terlihat oleh pandangannya, Lexi beranjak dari posisinya berdiri di tepi jendela kamarnya. Kini pria itu merebahkan tubuhnya telentang di atas ranjang, dengan kedua tangannya sebagai tumpuan, menatap langit-langit kamar dengan pikiran jauh melayang.
*
"Leon...." Ditengah perjalanan tiba-tiba Zira menyerukan nama Leon dengan nada yang terdengar begitu berat.
"Ada apa, sayang?." Leon menoleh ke samping sambil mengulurkan tangan kirinya untuk mengelus rambut panjang Zira.
"Apa kau benar-benar mencintaiku?."
"Tentu saja, Azira. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu, hm?." Leon mengernyit bingung, mengingat tak biasanya Zira mengutarakan pertanyaan seperti ini, karena kenyataannya Zira tahu betul seberapa besar cinta Leon untuknya.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, Leon. Boleh kita mampir sebentar ke taman tempat biasa kita mengobrol!."
"Tentu saja, sayang." Leon adalah pria pengertian. Mungkin jika itu adalah pria lain, pasti akan mendesak dan meminta pasangannya untuk mengobrol di mobil saja, mengingat jarak antara lokasi mereka saat ini dengan taman yang dimaksud oleh Zira masih lumayan jauh.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣