NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.

Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertengkar

“Kamu ke mana saja sih, Rafa? Harusnya kamu jagain Dhea biar bajingan itu nggak datang ganggu lagi,” ucap Raka begitu mereka masuk ke dalam toko.

Rafalendra langsung melepaskan hoodie hitamnya dengan wajah lelah.

“Baru datang juga sudah diceramahin,” gumamnya pelan.

“Aku serius!”

Nada suara Raka terdengar penuh emosi. Dhea langsung panik melihat suasana mulai memanas lagi.

“Kak… udahlah.”

Namun Raka tetap menatap Rafa tajam.

“Kamu tahu sendiri Reno sering datang ke sini!”

Rafa menghela napas kasar sebelum duduk sembarangan di kursi dekat meja kasir.

“Terus aku harus gimana?”

“Ya jangan menghilang terus!”

Deg.

Ucapan itu langsung membuat Rafa terdiam beberapa detik.

Tatapannya perlahan berubah dingin.

“Jadi sekarang semuanya salah aku?” tanyanya pelan.

“Aku nggak bilang begitu.”

“Tapi cara bicaramu begitu.”

Raka langsung mengusap wajahnya kasar karena kesal.

Sedangkan Dhea hanya bisa berdiri cemas di tengah mereka. Ia paling tidak suka melihat kedua kakaknya bertengkar seperti ini.

“Kak Raka… Kak Rafa… jangan begini.”

Namun keduanya sedang sama-sama emosi.

“Kamu itu kakaknya Dhea, Rafa!” bentak Raka lagi. “Bukan cuma mabuk terus menghilang nggak jelas!”

Suasana langsung hening. Rafa tertawa kecil. Tapi terdengar pahit.

“Nah… keluar juga omongan aslimu.”

“Karena memang kenyataannya begitu!”

Rafa langsung berdiri dari duduknya lalu menatap Raka tajam.

“Kamu pikir hidupku gampang?”

“Kamu pikir hidupku juga gampang, ha?!” bentak Raka. “Aku rela kerja jauh-jauh buat ngidupin keluarga ini! Dan kamu bukannya bantu malah mabuk-mabukan nggak jelas! Bahkan uang Dhea terus kamu ambil buat beli minuman!”

Deg.

Ucapan itu langsung membuat Rafa terdiam.

Rahangnya mengeras, sementara tatapannya perlahan berubah.

“Kak, sudah… jangan dibahas lagi,” ucap Dhea panik sambil mencoba menenangkan suasana.

Namun Raka benar-benar sudah emosi.

“Aku capek, Rafa!” lanjutnya dengan napas memburu. “Aku kerja mati-matian, sedangkan kamu terus nyusahin!”

Rafa langsung tertawa kecil.

Tapi kali ini tawanya terdengar sangat pahit.

“Iya… aku memang sampah di keluarga ini, kan?”

“Aku nggak bilang begitu!”

“Tapi itu yang selalu kalian pikirin!”

Suasana toko bunga itu langsung dipenuhi ketegangan.

Dhea sampai menahan air matanya karena tidak sanggup melihat kedua kakaknya saling menyakiti seperti itu.

Rafa menatap Raka beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“Oke,” ucapnya pelan. “Aku pergi aja sekalian.”

Mata Dhea langsung membesar.

“Kak Rafa…”

Namun Rafa sudah lebih dulu mengambil hoodie miliknya dengan wajah dingin.

Sedangkan Raka langsung terdiam. Karena meski marah, sebenarnya ia tahu semua ucapan tadi pasti melukai Rafa sangat dalam.

“Bisa nggak kalian jangan bertengkar terus?!” teriak Dhea dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Seketika suasana langsung hening. Raka dan Rafa sama-sama menoleh ke arah Dhea.

Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, mereka sadar gadis itu benar-benar hampir menangis.

“A-aku capek…” ucap Dhea dengan suara bergetar.

Tangannya mengepal kecil di samping tubuhnya.

“Kenapa setiap ketemu malah selalu bertengkar…”

Raka langsung mengalihkan pandangannya pelan. Sedangkan Rafa terdiam sambil menggenggam hoodie miliknya erat.

Dhea menundukkan wajahnya.

“Aku nggak punya siapa-siapa selain kalian…” lanjutnya lirih. “Jadi jangan saling nyakitin begini.”

Kalimat itu langsung membuat dada keduanya terasa sesak. Karena mereka tahu, Dhea selalu berusaha tersenyum dan bertahan meski hidup mereka tidak mudah.

Dan sekarang, justru mereka yang membuat gadis itu menangis. Rafa menghela napas panjang sebelum akhirnya duduk kembali dengan kasar.

Sedangkan Raka mengusap wajahnya frustrasi.

“Maaf…” ucap keduanya hampir bersamaan.

Dhea langsung menghapus air matanya cepat-cepat. Melihat itu, Rafa terkekeh kecil pelan.

“Jangan nangis begitu,” gumamnya lirih.

Raka pun menatap adiknya dengan rasa bersalah. Karena sekeras apa pun hidup mereka, Dhea tetap menjadi alasan kenapa mereka masih pulang.

“Aku nggak masalah kalau uangku selalu diambil,” ucap Dhea dengan suara bergetar.

“Tapi aku mohon… yang aku punya selain ibu cuma kalian berdua.”

Air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

“Aku capek kalau kalian selalu bertengkar seperti ini…”

Suasana langsung berubah hening. Raka menundukkan kepalanya pelan sambil mengepalkan tangan.

Sedangkan Rafa hanya diam membeku di tempatnya.

Karena mereka sama-sama tahu Dhea selalu menjadi orang yang paling banyak mengalah. Selalu diam.

Selalu mencoba memahami keadaan mereka. Dan justru gadis itu yang paling sering terluka diam-diam. Rafa mengusap wajahnya kasar lalu menghela napas panjang.

“Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih,” gumamnya pelan.

Raka pun terlihat mulai menyesal.

“Aku juga cuma emosi…”

Namun Dhea menggeleng cepat sambil menghapus air matanya.

“Aku cuma ingin kita baik-baik saja.”

Kalimat sederhana itu justru membuat dada kedua kakaknya terasa semakin sesak. Karena di tengah hidup mereka yang berantakan, Dhea masih memikirkan keluarganya lebih dulu dibanding dirinya sendiri.

“Sudah, sekarang tutup saja tokomu. Kita pulang dan makan bersama,” ucap Raka kepada Dhea.

Dhea menatap kakak pertamanya itu dengan wajah sendu.

“Kakak hari ini nginep?” tanyanya pelan sambil menatap wajah Raka.

“Iya,” jawab Raka dengan senyum kecil. “Aku lagi cuti satu minggu. Makanya aku pulang.”

Mata Dhea langsung sedikit berbinar mendengarnya.

“Serius?”

Raka mengangguk pelan.

“Iya. Jadi selama seminggu ini aku di rumah.”

Seketika senyum kecil mulai muncul di wajah Dhea.

Karena sudah cukup lama Raka jarang pulang akibat pekerjaannya. Melihat perubahan ekspresi adiknya, Raka tanpa sadar ikut tersenyum tipis.

“Kamu senang banget, ya?” godanya kecil.

“Tentu saja senang,” jawab Dhea jujur. “Rumah jadi ramai kalau Kak Raka pulang.”

Rafa yang sejak tadi diam langsung terkekeh kecil.

“Terus aku dianggap hantu di rumah?”

Dhea langsung menoleh cepat.

“Bukan begitu, Kak!”

Melihat kepanikan adiknya, Rafa akhirnya tertawa kecil pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak pertengkaran tadi suasana di antara mereka mulai sedikit mencair kembali.

Lalu Rafa mengalihkan pandangannya ke arah Raka.

“Kalau kamu balik ke kota itu, aku ikut,” ucap Rafa tiba-tiba membuat Raka dan Dhea bingung.

“Untuk apa kamu ikut?” tanya Raka dengan wajah heran.

“Aku mau ikut kerja sama kamu.”

Jawaban itu langsung membuat mata Dhea membesar karena terkejut.

“Kak Rafa… serius?”

Rafa menghela napas pelan lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Aku capek hidup kayak gini terus.”

Suasana langsung hening.

Karena biasanya Rafa selalu menghindari pembicaraan soal pekerjaan atau masa depannya.

Namun kali ini, raut wajahnya terlihat benar-benar lelah. Raka menatap adiknya beberapa detik, seolah mencoba memastikan Rafa tidak sedang bercanda.

“Kamu yakin?” tanyanya akhirnya.

Rafa tertawa kecil hambar.

“Kalau nggak yakin, aku nggak bakal ngomong begitu.”

Dhea langsung menatap Rafa dengan mata berbinar kecil.

“Kakak mau berubah?”

Pertanyaan polos itu membuat Rafa menoleh pelan.

Lalu tanpa sadar, ia tersenyum tipis.

“Mungkin.”

Jawaban sederhana itu justru membuat hati Dhea terasa hangat. Karena akhirnya, Rafa mulai mencoba bangkit dari hidup yang selama ini menghancurkannya.

“Aku sadar bahwa dia bukan segalanya untukku. Bahkan sekarang, dia tidak pernah memedulikan bagaimana hancurnya hidupku,” jelas Rafa.

Penjelasan itu membuat Raka dan Dhea saling bertukar pandang. Baru kali ini mereka melihat Rafa benar-benar sadar.

“Sejak kejadian tadi, aku juga sadar. Seharusnya aku menjadi kakak yang terbaik untuk Dhea, bukan seperti kakak bajingan yang selalu mengambil uang adiknya sendiri demi keegoisanku,” lanjut Rafa.

Suasana langsung terasa hening. Tatapan Rafa perlahan mengarah kepada Dhea yang sudah berkaca-kaca.

“Aku minta maaf, Dhea,” ucapnya lirih.

Dhea langsung menundukkan wajahnya sambil menghapus air matanya cepat-cepat.

Sedangkan Raka hanya diam memperhatikan adiknya itu. Karena untuk pertama kalinya, Rafa benar-benar mencoba mengakui kesalahannya sendiri.

1
Dinda Putri
lanjut semangat thooorrr love sekebon deh
Dinda Putri
lanjut thoor 💪💪💪
Dinda Putri
nexs
Dinda Putri
up lagi thoorr jangan lama
Dinda Putri
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!