Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 TERSENYUM
"Jadi untuk tanggal pernikahan Alisha dan Amar kapan?"tanya Dirga yang tidak sabar untuk bisaa menjadi bagian dari keluarga Wicaksana.
"Kalau itu secepatnya," jawab Joni.
"Memangnya kenapa harus buru buru?aneh sekali," ucap Jesika sambil memutar bola matanya.
"Aduh, bukan begitu nyonya jesika. Saya sama Mas Dirga selaku orang tua dari Alisha, mau cepat halal aja," jawab Reni sambil menepuk paha Jesika.
Kakek Adikara yang sedari tadi diam segera berkata, "Kalau seperti itu, menurut keluarga Darma kapan cocoknya diadain untuk pernikahan ini."
Dirga dan Reni saling tatap tatapan seolah mereka berdua sudah menentukan atas jawaban dari pertanyaan itu.
"Menurut saya bagaimana bulan depan tepatnya setelah Alisha selesai memamerkan lukisannya?"tanya Dirga sambil tertawa.
"Bagus..baguss, kalau seperti itu nanti keluarga Adikara mempunyai menantu yang pintar," ucap Joni sambil terkekeh.
Selang beberapa menit, berbincang Kael segera turun sambil menatap datar dan buru buru mengajak Zidan untuk berdiri.
"Kek, Kael pulang duluan dan yang lain saya pamit dulu," ucap Kael datar lalu pergi begitu saja meninggalkan kediaman Damar.
Sang kakek hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah cucu kesayangannya itu, sedangkan yang lain hanya diam. Di arah parkiran Zidan memperhatikan ekspresi dari bosnya itu entah kenapa ada yang janggal.
"Silahkan masuk tuan," ucap Zidan membukakan pintu mobil itu lalu bergegas ikut masuk mobil teatnya ke bagian supir.
Di dalam mobil suasana hening, Zidan fokus menyetir sedangkan Kael masi mengingat kejadian di rumah Damar, entah kenapa hatinya terasa sedikit bahagia saat bertemu gadis itu.
"Dasar gadis bodoh," gumam Kael sambil tersenyum.
Zidan yang tengah fokus menyetir, sempat melirik ke kaca spion. Ia melihat sesuatu yang langka Kael Adikara, sang pria dingin tanpa emosi, tengah menatap kosong ke luar jendela sambil tersenyum kecil.
Bibir Zidan bergerak, menahan tawa. Ia bahkan sempat memastikan kalau ia tidak salah lihat. Tapi ya, benar, Kael Adikara orang yang bahkan tidak pernah tersenyum saat menerima penghargaan bisnis terbesar tahun lalu kini tersenyum sendiri seperti remaja yang sedang dimabuk cinta.
"Ehem…" Zidan pura-pura berdeham agar Kael bisa fokus.
"Tuan, sepertinya suasana hati Anda hari ini cukup baik?" ujarnya hati-hati, tapi nada menggoda jelas terdengar.
Kael menoleh cepat, ekspresinya langsung berubah datar seperti biasa.
"Apa maksudmu?" tanyanya tajam.
Zidan segera menatap ke arah jalan, agar Kael tidak tahu kalau Zidan sesekali menatap Kael.
"T-tidak, tidak ada, Tuan. Mungkin saya salah lihat."
Kael menatap lurus ke depan, menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, lalu dengan suara berat ia berkata.
"Kalau kau sempat salah lihat lagi, pastikan matamu sudah benar besok, agar siap bekerja."
"Baik, Tuan," jawab Zidan cepat-cepat, menelan ludah.
Tapi ia bisa melihat dari ujung mata Kael berusaha menahan senyum yang hampir muncul lagi.
Zidan menggeleng pelan melihat wajah tuannya itu, entah kenapa malam ini Kael terlihat sangat bahagia.
"Astaga, gadis itu pasti benar-benar berbeda sampai bisa membuat pria kejam ini kehilangan kendali begini," batinnya.
Namun suasana canggung itu segera pecah saat Kael membuka berkas yang dibawanya. Nada suaranya kembali tegas, dingin, dan penuh tekanan.
"Bagaimana dengan perusahaan Valenta Group? Sudah ada kabar?" tanya Kael tanpa basa-basi.
"Masih belum, Tuan. Mereka masih menolak untuk bekerja sama dengan Adikara Corporation. Mereka bilang ingin tetap independen," jelas Zidan cepat.
Kael menatap keluar jendela, mata tajamnya kembali seperti sedia kala.
"Kalau begitu, kirimkan pesan pada mereka." Ia berhenti sejenak, suaranya berubah dingin.
"Jika mereka masih tidak mau tunduk, hancurkan. Aku tidak peduli berapa banyak saham yang harus kita beli dan berapa banyak nyawa yang akan melayang."
Zidan mengangguk. "Baik, Tuan. Saya segera atur."
"Pastikan mereka tidak bisa main main dan semena mena setelah itu," tambah Kael datar.
"Siap, Tuan."
Mereka berdua terdiam kembali. Namun Zidan, yang sudah bekerja lama bersama Kael, tahu betul nada Kael kali ini tidak sekeras biasanya. Tatapan dinginnya memang kembali, tapi sesekali matanya tampak melayang, seolah pikirannya tak lagi berada di dunia bisnis.
"Pasti karena gadis itu… Seyna Damar,"pikir Zidan.
Zidan ingin sekali menanyakan lebih jauh, tapi ia tahu batasannya. Kael Adikara bukan pria yang bisa menjelaskan apa yang ia rasakan.
Namun sebelum ia benar-benar fokus kembali menyetir, Kael tiba-tiba berkata pelan.
"Zidan."
"Ya, Tuan?"
"Cari semua data tentang keluarga Damar. Lengkap. Termasuk yang tidak ada di catatan publik," ucap Kael tanpa menatapnya.
"Apa mungkin gadis itu disiksa?"gumam Kael mengingat bahwa gadis itu bilang semua orang jahat.
Zidan terdiam sejenak. "Baik, Tuan. Tapi… boleh saya tahu alasannya?" tanyanya hati-hati.
Kael hanya menjawab pendek.
"Karena ada sesuatu yang tidak beres di dalam keluarga Damar."
Zidan menatap Kael lewat kaca spion. Sekilas ia melihat lagi senyum samar itu di wajah sang bos. Senyum yang jarang, tapi jelas menyimpan ketertarikan.
Dan saat mobil mereka melaju meninggalkan halaman rumah Damar, Zidan hanya bisa bergumam dalam hatinya.
"Sepertinya, untuk pertama kalinya, bukan perusahaan yang akan tunduk pada Tuan Kael tapi hatinya sendiri."
Seyna sedang duduk di kursi taman, didepannya ada canvas dan beberapa cat air untuk melukis.
"Taman ini selalu mengingatkanku dengan bunda," ucapnya pelan.
Seyna hanya menatap ke arah hamparan bunga, sambil sesekali mengingat momen indah bersama keluarganya, hingga pikirannya buyar saat mendengar suara dari sepupunya itu.
"Kenapa kau bengong, segera selesaikan sepulih lukisanku!" tegas Alisha menghampiri Seyna yang sedang menatap ke arah taman bunga.
"Aku ingin segera memajukan pameran karya seniku,agar aku bisa segera masuk menjadi keluarga Wicaksana," ucapnya sinis sambil duduk di sebelah Seyna.
Seyna hanya menunduk ketakutan, dan buru buru melukiskan sesuatu.
"Dasar bodoh, untung saja kau bisa melukis. Jadi bisa kumanfaatkan kau untuk ketenaranku," ucapnya sambil menatap ke arah lukisan itu.
Seyna hanya diam, tangannya menggores gores canvas itu dengan kuas berwarna hitam. Alisha yang menatapnya ia tidak peduki Seyna mau membuat apa, yang terpenting bagi dirinya adalah lukisan itu cepat selesai.
"Oh ya Seyna, kalau kau bisa cepat menyelesaikan lukisan ini dalam satu minggu. Akan aku ajak kau ke salah satu pameran seni," ucap Alisha tiba tiba.
Seyna yang mendengar itu segera menoleh menatap ke arah Alisha.
"Apa aku boleh ikut?"tanyanya kedua bola matanya berbinar.
"Ya, asal kau segera menyelesaikan lukisanku," uca Alisha.
"Aku mau ikut ikut," ucap Seyna lalu dengan cepat menggores gores kuas itu.
"Yasudah segera selesaikan, aku mau pergi dulu," Alisha segera berdiri dan pergi meninggalkan Seyna sendirian.
Seyna hanya menatap datar kepergian Alisha, ia akhirnya bisa menemukan rencana baru lewat pameran Seni itu.
.....
MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH
Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!