NovelToon NovelToon
Dendam Yang Diwariskan

Dendam Yang Diwariskan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Idol / Fanfic / Tamat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Alka hanya ingin hidup sederhana, mengejar mimpi, menjaga orang-orang yang ia sayangi, dan membuktikan bahwa kerja keras bisa mengubah masa depan.

Namun tanpa ia sadari, langkahnya tak pernah benar-benar bebas. Di balik kehidupannya, ada dendam lama yang terus tumbuh, dendam dari seseorang yang seharusnya menjadi tempat pulang.

Fellisya menyimpan luka dari masa lalu. Dan tanpa disadari siapa pun, dendam yang ia pelihara perlahan merusak kehidupan orang-orang di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri.

Hingga suatu hari, Lista ikut terseret dalam permainan yang tak pernah ia pahami. Persahabatan berubah menjadi luka, kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan, dan mimpi-mimpi yang dulu terasa dekat… kini hancur tanpa sisa.

Karena dendam tidak pernah berhenti pada satu orang. Ia akan terus hidup, menjadi dendam yang diwariskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08 Teman Baru

Suara riuh sekolah menyambut Alka yang baru saja tiba. Langkahnya ringan, tas disampirkan disebelah pundaknya.

Begitu sampai di kelas, Alka sudah melihat Alesha. Senyumnya melebar.

"Pagi, Aesh. Gimana kabar lo hari ini?" tanyanya, suaranya ramah.

Alesha mendongak, lalu menatap Jehan yang duduk disampingnya. "Ngapain lo nanya-nanya?" jawab Alesha ketus.

Alka nyengir lebar, matanya ikut menyipit. "Ahh, pantes ketus kayak gitu. Ada pacarnya ya," goda Alka, sambil menunjuk.

"Berisik lo, Ka." Jehan menepis tangan, Alka. "Hari ini gue ada rapat osis. Gue titip Alesha, tapi jangan lo godain." lanjut Jehan.

Alka duduk di kursi belakang mereka. "Aman! Lagian gue cuma menjalankan tanggung jawab."

Bell sekolah berbunyi nyaring. Membuat para siswa-siswi riuh berhamburan masuk ke dalam kelas.

Dari arah pintu wali kelas masuk. Di belakangannya gadis berparas cantik dengan tinggi sekitar 155 cm mengikutinya. Membuat suasana kelas menjadi hening.

"Baik, anak-anak. Pagi ini kalian belajar sesuai jadwal hari ini. Dan satu lagi, ada teman baru kalian. Saya harap kalian bisa berteman dengan baik." Guru itu mundur satu langkah, mengangguk pada gadis disampingnya.

"Pagi semua, perkenalkan namaku, Liona Maharani. Aku pindahan dari Surabaya. Semoga kita bisa berteman baik kedepannya. Terima kasih." suaranya lantang, tapi lembut. Senyumnya lebar, membuat paras cantiknya semakin bertambah.

Bisikan cowok-cowok di kursi belakang terdengar, saat Liona selesai memperkenalkan dirinya.

"Liona, kamu duduk disamping, Alka." kata guru itu, sambil menunjuk ke arah kursi Alka.

Alka tersenyum jahil, melirik ke Lista yang duduk di kursi jajaran sebelahnya. "Sikat, Ta," bisiknya.

Liona berjalan gugup ke arah Alka, bibirnya mengulum senyum tipis. "Nggak papa kan, kamu sebangku sama, aku?" tanya Liona, suaranya lembut.

Alka menatapnya, mengangguk sambil nyengir lebar. "Boleh banget, silahkan duduk." Alka meniup permukaan kursi disampingnya.

"Terima kasih." kepalanya mengangguk tipis.

Didepan kelas guru menjelaskan semua materi pelajaran. Tapi Alka terus menatap seseorang disampingnya.

Jam sudah berlalu, cahaya matahari masuk ke celah jendela. Angin berhembus, membawa hawa siang yang panas.

Suara bell istirahat berbunyi. Guru langsung menutup pelajaran dan pamit pergi. Sementara ruang kelas menjadi riuh.

Liona memasukan buku ke dalam tasnya, disampingnya, Lista berdiri mendekati Alesha.

"Lo, gabung bareng gue aja. Kita ke kantin bareng," ajak Alka sambil melipat lengan baju hingga siku.

"Emang boleh?" tanya Liona pelan.

"Boleh dong, emang siapa yang larang?" Lista ikut menyahut. Bibirnya tersenyum lebar.

Liona menatapnya lama, ia menyeritkan kening. "Bentar..." ia menatap Alka. "Kalian kembar?"

"Sesuai kepercayaan lo aja," jawab Lista singkat.

Liona tertawa pelan. Lalu mengikuti langkah mereka ke luar kelas.

Di koridor, Alka berjalan lebih dulu sambil mendorong kursi roda Alesha, sementara Lista dan Liona mengikuti dari belakang.

"Kalian tahu, nggak? Konon katanya, sekolah ini tuh bekas rumah sakit waktu zaman Belanda," kata Alka tiba-tiba. Nadanya dibuat serius.

"Emang, iya?" Liona menjawab cepat.

Alesha melirik malas. "Nggak usah ngada-ngada, Alka."

"Lo, bisa diem nggak, Ka?" sahut Lista, tangannya menepuk pundak Alka.

"Eh, tapi serius, kalau nanti tiba-tiba gue ngilang, kalian panggil nama gue tiga kali. Siapa tahu gue nongol di plafon." lanjut Alka dengan nada sok misterius.

Alesha mendengus, tapi bibirnya nyaris tersenyum. "Bodo amat!"

"Kalau cara bikin lo ngilang, gimana?" tanya Lista.

Liona menahan tawa kecil sambil menggelengkan kepala.

"Na, gue harap lo tahan ya dengerin cowok bawel ini," kali ini Lista menatap Liona.

"Nggak papa, Na. Justru yang bawel itu ngangenin. Apalagi kalau bawel perhatian sama kamu." Alka menoleh ke belakang, menatap Liona sambil menggerakkan alis.

"Gombal mulu, lo," Liona menepuk lengan Alka, disusul tawa pelan dari Alka.

Mereka duduk dibangku bawah pohon beringin. Semilir angin berhembus mengenai mereka yang masih tenggelam dalam obrolan, dan ocehan dari Alka.

Matahari semakin bergeser ke arah barat, tapi cahayanya masih memancar sempurna. Siswa-siswi berhamburan ke lapangan, suara riuh, klakson dan knalpot motor jadi satu.

"Ta, kalau lo ke cafe, tolong bilang sama, Cakra. Bawain motor gue disini," kata Alka, sambil mengutak-atik ponselnya.

Lista menoleh, menatapnya heran. "Kenapa nggak lewat whatsapp aja, Ka?"

Alka menghela napas pendek. "Udah, tapi centang satu. Athar juga sama."

"Emangnya, lo mau kemana?" tanya Lista.

"Gue mau nemenin, Alesha terapi. Papanya lagi sibuk, Jehan juga belum kelar," jawab Alka sambil menatap Alesha yang menunggu didepan gerbang.

"Terus, lo berangkat naik apa?"

"Di jemput Papa Aesh. Dia cuma nganter ke rumah sakit aja, terus balik lagi ke kantor." Alka berbalik, lalu berjalan menghampiri Alesha.

Dari lapangan, Liona berlari kecil menghampiri mereka.

"Kalian belum, pulang?" tanyanya dengan napas terengah.

"Jangan lari-lari, Na. Belum, lagi nunggu jemputan," jawab Alka, nadanya lebih santai.

Liona mengangguk, "Aesh, lo mau terapi ya? Semangat?" menatap Alesha sambil tersenyum.

"Makasih, Na. Do'ain biar cepet pulih, biar bisa lomba lari sama, lo," jawab Alesha, ada tawa tipis diujung nadanya.

"Siap," Liona mengacungkan jari jempolnya. "Ehh, yang jemput gue udah datang. Gue duluan, ya. Byee!"

"Bye, Ona. Hati-hati, sampai jumpa besok." teriak Alka sambil melambaikan tangannya.

Tak lama, mobil hitam milik Edgar kini tiba didepan gerbang sekolah. Alka membantu Alesha naik ke kursi mobil, lalu disusul oleh dirinya.

Jalanan sore ini belum begitu macet, jadi cukup cepat mereka sampai di tempat terapi.

Langit sore menua dijendela. Ruangan itu wangi minyak kayu putih, bunyi alat terapi bergantian.

Alesha terbaring, sementara Alka duduk dikursi, tangannya terlipat di dada. Tapi matanya terus memperhatikan tiap gerak kecil, Alesha.

"Aesh, lo pasti bisa. Kalau lo udah sembuh total, gue bakal ajak lo, dance," katanya tiba-tiba.

Alesha melirik sekilas. "Kalau gagal?"

"Gue tunggu sampai lo bisa, dan gue bakal terus ada disamping lo." tatapannya dalam ke Alesha.

Ada senyum kecil di bibir Alesha. Alka tak lagi bersuara, hanya mendengarkan suara alat terapi. Tubuhnya bersandar ke kursi. Matanya menatap langit gelap, ada beberapa bintang yang bersinar kecil.

Rasa lelah seharian kini ia rasakan. Sesekali ia menoleh ke Alesha. Ada ringisan kecil dari mulut Alesha saat perawat membantunya.

Ringisan kecil itu, membuat dada Alka sesak. Menyalahkan dirinya sendiri.

'Andai malam itu gue nggak ngantuk. Mungkin, Alesha nggak akan menderita seperti ini,' batinnya lirih.

Tapi angin malam tiba-tiba berhembus kencang, seolah sedang menghapus rasa sesal yang tak seharusnya ia sesali.

1
Its me
tamatlah sudah alkisah kami.
Its me
haduh salah sendiri kabur ga ngajak ngajak. giliran begini nyalahin orang
Its me
sepertinya memang benar Jehan anaknya Varel dan Renata
Its me
Ini bapaknya mana sih?
Its me
apa yang mau di lakukan Alesha. apa dia mau kabur
Its me
Dendam ny belom habis
masih ada varel yang akan di incar.
Its me
part ini nyesek
Its me
ya Allah
kalau gue jadi lista, bakal lompat ke luar mobil dan biarkan Felissya mati di dalamnya
Its me
semangat LISTA ada orang-orang yang mendukungmu
Its me
Dalang dari smua ini ya Nadira
Its me
membusuk aja kamu di penjara
Its me
Tangkap juga Felissya
Its me
semua ini adalah korban dari Nadira
Its me
pasti kerjaan Nadira
Its me
wkwkwkw ada ada aja si Athar
Its me
beberapa part Renata dan varel masih di suruh mendongeng ke anak-anak 😄😄😄
Its me
Terus terus kami juga mau dengar Tante
Its me
Ada ada aja nih mereka auto sepi cafe nya
yolan
wah kasian tuh twins /Grievance/
yolan
lama juga yah perjanjiannya 20 tahun..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!