Spin off Hati Untuk Arya
.
.
Ari putra wongso, mencintai seorang perempuan bernama Karina, namun tanpa sepengetahuannya sang kekasih mencintai sahabatnya sendiri. Ari selalu merasa Karina tak mencintainya,namun ia memilih bertahan dan berharap Karina akan mencintainya. Namun di penghujung jalannya ia menemukan sebuah jalan buntu. Rasa percaya dirinya runtuh karena takut tak bisa membahagiakan orang yang ia cintai.
Sementara Airil Karina Yatri menantang Ari untuk melangkah ke jalan yang serius, ia berjanji akan mencintai Ari setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Namun Ari gugup untuk melangkah, tak yakin cinta bisa tumbuh semudah Karina mengatakannya.
Kehadiran seorang janda bernama Vanessa aulia putri memberi warna berbeda bagi laki-laki yang tengah dilanda rasa kesepian karena mengakhiri hubungannya dengan Karina. Kedewasaan Vanessa membuat Ari begitu nyaman dengannya.
Siapakah yang akan menjadi penghujung hati Ari? sang kekasih Karina atau sang janda Vanessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catatan kecil di sudut buku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Setelah 5 hari mengunjungi projeknya di beberapa daerah, Ari kembali ke ibukota. Projek besarnya di Kalimantan sedikit bermasalah, namun masih bisa ia atasi. Perizinan dan amdal sempat dipertanyakan disana, apalagi perusahaan asing, cukup mendapat sorotan dari beberapa kalangan dan komunitas.
Namun bagi Ari bukanlah masalah besar, ia sudah banyak belajar dari sang ayah untuk bernegosiasi dan adu argumen dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.
Setelah istirahat di rumah seharian penuh, hari berikutnya Ari segera kembali ke 3A Sahabat. Ia datang cukup kesiangan, namun tidak terlalu masalah, Arbi sudah menghandle pekerjaannya dengan baik.
“pagi pak” sapa Vanny, sekretaris Ari saat Ari berjalan menuju ruangannya.
“kamu menyindirku Van” ucap Ari yang memang datang ketika mataharihari sudah naik lebih sepenggalannya. Jelas sudah tidak pagi lagi.
Vanny menunduk, “aduh pak, bukan itu pak” ucapnya dengan rasa bersalah. 'kenapa sensitif amat si bos ini sekarang' batinnya.
Ari mendengus kesal, ia berjalan menuju pintu ruangannya dengan cepat.
"ada tamu yang menunggu bapak dari tadi” ucap Vanny dengan cepat sebelum Ari menarik gagang pintu.
“Siapa?” tanya Ari dengan singkat.
“namanya dr. Arfi pak, dia mau diskusi soal desain kliniknya” ucap Vanny.
“kenapa nggak kamu suruh menemui tim arsitektur aja di lantai 4?” tanya Ari.
Vanny menelan salivanya, kenapa ia tidak terpikirkan hal itu tadi? “maaf pak, tadi pak Arbi udah pergi duluan sebelum beliau datang, saya juga enggak kepikiran untuk menyuruhnya menemui tim arsitektur kita tadi, soalnya dia juga mau bahas masalah kontrak” jawab Vanny.
Ari kemudian masuk tanpa menanggapi ucapan Vanny, membuat gadis berambut sebahu itu melepas nafas panjang, ia kemudian kembali duduk di kursi kerjanya. Si bosnya itu sedikit berubah beberapa hari ini, tidak sehumble biasanya.
Di dalam, Ari melihat sosok pria paruh baya dengan rambut yang sudah sedikit beruban duduk di sofa, pria itu berkacamata, keriput kulit wajahnya masih samar. Mungkin ia merawat kulitnya dengan baik.
Ari melepas nafas kasar dna kemudian mendekat, “siang pak, maaf saya membuat anda menunggu” ucap Ari dengan menyalami dr. Arfi.
“tak masalah, kamu pasti sangat sibuk” jawab dr. Arfi.
“saya Ari pak” ucap Ari dengan sedikit menunduk memberi hormat untuk memperkenalkan dirinya
“Arfi, Arfian Yatri, aku harap kamu sudah tahu siapa aku” ucap dr. Arfi berbasa-basi.
Ari tersenyum tipis, sudah pasti ia tahu dengan sosok dr. Arfi yang selalu dibanggakan oleh Karina. Dari dulu ia ingin mengenal dr. Arfi, namun Karina memiliki cara pandang yang berbeda.
Jika ingin menemui orang tuanya harus dengan niat baik dan jelas. Tidak sekedar basa basi untuk mencari muka, tapi datang untuk sesuatu yang serius. Namun Ari belum siap untuk itu, Karina sendiri yang membuatnya ragu untuk melangkah selama ini.
“silahkan duduk pak” ucap Ari mempersilahkan dr. Arfi duduk kembali, “bapak mau minum sesuatu?” tawar Ari.
“jangan repot-repot Ri, aku kesini untuk membicarakan klinik baruku” jawab dr. Arfi.
Suara dr. Arfi terdengar berwibawa, pembawaannya cukup bijak, dan nada berbicara terdengar ramah, sepertinya ia sudah terlatih untuk berbicara seperti itu. Mungkin itu karena pengalamannya selama ini, sama seperti ayahnya Ari, sudah sering berhadapan dengan orang penting, sehingga cara bicaranya pun ikut terlatih dan terbawa menjadi kebiasaan.
“Karina sering cerita tentang bapak, saya merasa terhormat bapak datang kesini” ujar Ari.
dr. Arfi tertawa tipis, merasa sikap Ari terlalu berlebihan untuknya. Namun cara bicara Ari cukup membuatnya nyaman.
“pantas saja perusahaan berkembang cepat, ternyata pemimpinnya adalah orang sepertimu” puji dr. Arfi.
“jangan terlalu memuji pak, ini juga berkat bantuan orang tua saya” jawab Ari merendah.
“saya senang Karina bekerja sama dengan orang sepertimu, apalagi beberapa tahun belakangan ini dia rutin memeriksa kesehatan karyawanmu disini” ucap dr. Arfi berbasa basi.
Ari tersenyum tipis, ia menarik nafas panjang dan ia tatap lagi wajah dr. Arfi yang masih tampak berseri di usia senja.
“jadi gimana desain klinik baru bapak? apa ada masalah?" tanya Ari yang tak ingin berbasa basi lagi.
Kali dr. Arfi yang menarik nafas panjang, ia buka dokumen hasil rancangan arsitektur 3A Sahabat yang sudah dikirim kepadanya kemarin.
“aku datang kesini karena Karina kerja sama disini, aku juga ingin tahu dengan orang seperti apa putriku kerja sama” ucap dr. Arfi,
“melihatmu aku cukup merasa nyaman dia
memiliki rekan kerja sepertimu” lanjut dr. Arfi.
“ini klinik baruku Ri, aku bakalan pensiun di rumah sakit ku dalam waktu dekat, aku ingin mengembangkan klinik ini sebagai pengabdianku selanjutnya”
“wah bapak sungguh luar biasa, Karina sering cerita bapak sering ke kampus untuk mengajar, dan sekarang bapak masih memikirkan untuk mengabdi di usia segini” ucap Ari yang takjub dengan niat dr. Arfi.
dr. Arfi kembali tertawa tipis, “sedekat apa kamu dengan Karina Ri? apa dia banyak cerita tentangku?” tanya dr. Arfi.
deg, hati Ari terasa ditusuk sembilu disana, dekat, ia bahkan ingin lebih dekat dari kedekatan dr. Arfi dengan Karina. Tapi entah kenapa nasib tak sejalan dengan keinginannya.
Ari mencoba tersenyum. “kami sering bicara banyak hal pak, untuk mengisi waktu kosong selama Karina memeriksa karyawan saya” ucap Ari dengan tenang.
dr. Arfi tersenyum senang mendengarnya, sikap Ari cukup sopan dan ramah. Kalimatnya juga tertata baik, cukup pandai dia memainkan kata dan menghargai orang. Mungkin Ari bisa jadi negosiator ulung nanti, pikirnya.
“gini Ri, aku sudah cukup puas dengan desain klinik ini" ucap dr. Arfi memperlihatkan desain di tangannya.
"tapi aku rasa perlu sedikit revisi saja, karena untuk layanan kesehatan memang sedikit perlu diperhatikan, ada prosedur kesehatan yang harus diikuti untuk membuat sebuah klinik” jelas dr. Arfi.
“hmmmm, jadi perlu revisi lagi ya pak, mungkin jika bapak ada waktu, bapak bisa diskusi dengan tim arsitektur kami pak” ucap Ari.
“atau jika perlu, nanti saya kirim salah satu arsitek untuk konsultasi dengan pihak terkait untuk klinik ini”
dr. Arfi tersenyum senang dengan jawaban Ari, “kamu memang totalitas Ri, pantas saja Karina sering memuji perusahaan mu ini, aku sudah ada beberapa yang aku siapkan untuk klinik ini, nanti mereka yang akan mengurus semuanya dengan arsitekmu” ucap dr. Arfi dengan santai, ia merasa nyaman berbicara dengan Ari.
dr. Arfi pamit setelah berdiskudi singkat dengan Ari, termasuk dengan biaya kasar projek klinik itu. Kepergian dr. Arfi di lepas Ari dengan perasaan tak menentu. Ari mengusap kasar wajahnya melihat gedung-gedung tinggi di dinding kaca ruangannya.
‘mau sampai kapan lo seperti ini Ri, ayo move on, biarkan Karina bahagia dengan pilihannya’ gumam Ari menyesali perasaannya sendiri saat itu.
Ari kembali ke kursi kerjanya, ia harus fokus kembali dengan pekerjaannya. Ada beberapa laporan yang harus ia selesaikan. Di sela kesibukannya, Chris masuk ke dalam ruangan itu untuk menemuinya.
Laki-laki bertubuh tegap itu berjalan pelan dan berdiri tepat di depan meja kerja Ari.
“gimana Chris? apa hasil kerjamu?” tanya Ari yang menghentikan sejenak pekerjaannya.
Chris melihat wajah bosnya itu, sedikit ragu ia melaporkan apa yang ia temui. Takut kabar itu akan menjadi kabar buruk bagi bosnya yang
selama ini seperti diabaikan oleh Karina.
apalagi Karina yang katanya didikan agama nya lebih dari Ari
dan itu sangat jarang...