⚠️ Warning..!! Rate 21++
"pelan pelan tuan, saya sedang hamil"
"A..APAA.. MAKSUDMU?"
"siapa yang telah menanam benih di rahimu?
"apa maksud tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rieda mustafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Kemarahan
**Abaikan Typonya 😊
Happy Reading
🌷🌷🌷🌷🌷**
"Mungkin tuan akn mengurung anda sampai anda tak bisa berjalan lagi" jawaban Jimmy seperti ancaman Ansel waktu itu.
"Hhh.. baiiklah" lalu Mar pergi ke kamar mandi.
Setelah hampir 20 menit Mar keluar. Wajahnya sudah terlihat sangat segar.
Lalu 3 orang itu kembali memoles wajah Mar.
Hampir 1 jam Mar di rias oleh mereka ahirnya selesei.
Mar begitu sangat cantik dan anggun dengan penampilanya yg sekarang. Dres ungu dengan rambut yang di tata begitu rapi dan di beri sedikit hiasan pernik pernik yang berkilau.
Tak berselang lama, Jimmy datang untuk menjemput Mar.
Melihat penampilan Mar, Jimmy pun terpesona. "Seandainya gadis ini bukan milik tuan Ansel. Pasti aku sudah mengurungnya untuk ku jadikan istriku" ucap Jimmya dalam hati

**kurang lebihnya Seperti ini penampilan Mar**
"Jim.." panggil Mar, namun yang di panggil tidak menghiraukan
Lalu Mar pun menepuk pundak Jimmy "Jim.. apa yang kau pikirkan?" Sontak Jimmy langsung terkesiap karena tepukan Mar.
"Ohh ti.. tidak nona. Saya hanya melihat nona sangat berbeda hari ini" ucap Jimmy
"Ohh terimakasih"
Lalu Jimmy mangangguk dan tersenyum.
"Mari nona, tuan Ansel sudah menunggu" mereka pun berjalan keluar beriringan, sambil Jimmy sekilas melirik Mar.
Ansel yang melihat penampilan Mar pun terkagum. "Cantik" desis Ansel sangat pelan. Karena tak ingin kekagumanya itu di ketahui oleh orang lain.
Ansel langsung menghampiri Mar dan menggandeng pergelangan tangan Mar.
Mar menatap Ansel dengan senyum bahagianya.
Jimmy yanh melihat adegan itu pun merasa ada desiran panas. Jimmy sangat tidak suka dengan kemesraan mereka.
Lalu Jimmy membuka pintu untuk majikanya. "Silahkan tuan!" Mereka berdua duduk di belakang kemudi. Sedangkan Jimmy duduk di depan sebelah sopir.
Jimmy sekali kali melirik Mar.
Di dalam mobil mereka hanya diam.
"Tuan.. kita mau ke mana?" Tanya Mar, yang hanya mendapat tatapan tajam dari Ansel.
"Ishh.. nyebelin. Baru aja bersikap manis. Sekarang kembali seperti batu" gerutu Mar pelan. Namun masih bisa di dengar oleh Jimmy dan Ansel.
Jimmy hanya tersenyum melihat raut wajah Mar. Sedangkan Ansel masih sama tanpa expresi.
15 menit kemudian.
Mereka telah sampai hotel. Di mana tempat pesta di selenggarakan.
"Wah wah.. selamat malam tuan Zavindar" sambutan dari seseorang yang telah memberi keistimewaan pada Zavindar.
"Suatu kehormatan bagi kami atas kehadiran anda tuan" ucapnya lagi
Lalu Ansel pun mengulurkan tanganya dan mengucapkan selamat atas keberhasilan tuan Jassen sang pemilik acara. "Selamat tuan atas keberhasilan anda yang semakin melambung" ucap Ansel
"Jika tidak dengan bantuan anda. Bisnis saya ini belum seperti ini" ucap Jassen
Merasa di agungkan. Ansel pun berbesar kepala. "Ohh.. tentu saya akn membantu anda tuan jassen." Ucap Ansel
Ansel dan Mar pun di beri tempat vvip. Mereka duduk bersebelahan. Dari kejauhan terlihat ada pemuda yang tidak asing di mata Mar. "Andrian" pekik Mar
Ansel menoleh. "Siapa Andrian?" Tanyanya.
"Ehmm. Bukan siapa siapa. Dia hanya temanku" jawab Mar
Lalu Ansel kembali seperti patung. Yang hanya diam tanpa expresi apapun di wajahnya.
"Mar.." pekik Andrian yang melihat Mar juga hadir di sini.
Sedangkan Mar hnya tersenyum. Andrian menghampiri Mar.
"Mar.. kau di sini juga?" tanya Andrian
Mar hanya mengangguk.
"Wahh.. kamu cantik sekali Mar. Beberapa minggu saja tidak ketemu penampilanya sudah sangat berubah. Tidak salah jika aku mencintaimu" ucap Andrian lagi
Ansel yang mendengar ocehan Andrian pun menatap tajam Mar.
Sedangkan Mar mersa tidak nyaman di tatap seperti itu.
"Ka.. Kau ini bilang apa Ndri..?" tanya Mar
"Mar.. aku sangat mencintaimu. Sejak dulu, aku akn mengungkapkan padamu namun tidak ada kesempatan" mendengar ucap Andrian, Ansel begitu emosi dan ingin meninju lelaki ini.
"Jangan ganggu istriku bocah ingusan" gertak Ansel dengan menarik kerah baju Andrian.
"A.. apa maksud anda tuan?" tanya Andrian
"Apa kau tidak mendengar apa yang ku ucapkan?" tegas Ansel
Lalu Ansel melempar Andrian. Dan langsung menggandeng tangan Mar dan menarik keluar.
"Mar.. tunggu.. apa yang lelaki itu ucapkan? Katakan Mar jika itu tidak benar?" Andri mengejar Mar dan langsung di hadang oleh anak buah Ansel.
Mereka memasuki mobil dan memerintahkan untuk berjalan.
"Ada hubungan apa kau denganya?" tanya Ansel dengan menekan geraham Mar.
Mar tak sanggup menjawab karena bibirnya tak bisa di gerakkan. "KATAKAN..!"Benta Ansel
Melihat tuannya yang di penuhi emosi. Jimmy langsung ngerem mendadak.
Siitttt.... Ansel langsung melepas cengkramanya.
"Maaf tuan.. tiba tiba ada bayangan lewat" ucap Jimmy
Ansel hanya diam."LANJUT..!" Titahnya
Mobil pun kembali jalan. Sampai di depan mansion.
Mar langsung berlari, Ansel pun hendak mengikuti.
Namun di cegah oleh Jimmy
"sebaiknya tuan hadapi dengan kepala dingin. Agar nona mau menceritakan" ucap Jimmy
"TIDAK USAH NGAJARI AKU JIM..!" bentaknya dan menepis tangan Jimmy
Jimmy pun hawatir jika Tuanya itu kembali menyakiti Mar.
Sungguh Jimmy telah di buat jatuh cinta pada Mar. Hingga apa yg akan Mar hadapi sangat membuat Jimmy bersalah.
Karena dulu Jimmy yang mendukung tuanya itu untk menjadikan gadis itu sebagai jaminan hutang Dora
Ansel membuka pintu dengan kasar. Membuat Mar sangat ketakutan.
"Tu.. tuan. A.. apa yang akan anda lakukan?" tanya Mar ketakutan
Ansel tak menghiraukan pertanyaan Mar. Ansel langsung menyergap bibir Mar dengan sangat kasar.
Mar pun tak bisa membalas. Karena gigitan di bibir Mar sangat kuat. "Itu akibatnya jika kau tak mau mengatakanya." ucap Ansel
Lalu Mar dengan berani menampar pipi Ansel, yang membuat Ansel semakin frustasi dengan keberanian Mar.
"Bunuh saja saya tuan.. karena apapun yang akn saya jelaskan anda tidak percaya." Ucapan Mar barusan membuat Ansel terdiam lalu menyeringai dengan seringai yang licik.
"Kau memerintahku untuk membunuhmu hemm..? Baiklah akan aku turuti. Tapi sebelum itu aku akn mengoyak tubuhmu hingga tak bisa di kenali." ANC Ansel
Mar teediam. Mar menyesali atas apa yang ia ucapkan. "Ternyata pria itu benar benar menyramkan dan dia seorang penjahat." Batin Mar
Ansel dengan buasnya melepas semua pakaian Mar.
Dan kali ini Ansel akan bermain dengan Mar dalam keadaan kaki dan tangan Mar terikat. Semakin Mar bergerak. Maka ikatan itu akn semakin kuat.
Mar hanya pasrah. Apapun yang akn terjadi nanti Mar sudah tak peduli. Jika dirinya harus mati di tangan pria ini.
Mar menatap Ansel dengan tatapan dendam. Bukan lagi mengiba untuk di lepaskan seperti waktu itu.
Semua perlakuan Ansel akn Mar terima tanpa mengaduh atau meneteskan air mata. Karena ini yang Mar minta tadi dari seorang Ansel. Pria dengan sifat kejam.
Ansel mulai dengan menggigit gundukan dada Mar tanpa kelembutan.
Setelah meninggalkan beberapa luka Ansel pindah ke di bagian bawah.
Ansel menatap wajah Mar yang tanpa expresi takut atau mengiba.
Ansel mulai tertantang dengan tatapan mata Mar yang seolah olah tidak merasa takut padanya.
Kini Ansel mengambil ikat pinggang yang sudah dia siapkan. Ansel mulai mencambuk dari perut kanan lalu beralih ke kiri.
Namun Mar tak bersuara atau pun menangis. Ansel frustasi dan langsung melempar alat alat yang di gunakan tadi.
"Apa mau mu hemm?" tanya Ansel tepat di wajah Mar. Hingga wajah mereka saling bertatapan sangat dekat. Hingga hidung mereka yang saling bersentuhan..
...***Bersambung***...
benar hipersex tuh engsel pintu😂😂😂