"Aku milih kamu."
"Tapi kita berbeda, Tuan."
"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"
"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."
"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."
Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan lagi
"Bagaimana Arini? Apa kamu memaafkan aku?" desak Jessica karena ia sudah lelah berpura-pura di depan media yang sedang meliput dirinya sedari tadi.
"Saya maafkan Nona." Arini menatap Jessica yang kini tersenyum puas lalu tiba-tiba berbalik badan dan mengedipkan sebelah matanya dengan cepat pada media yang meliput agar wartawan itu memberhentikan liputannya dan dengan cepat meng-update nya ke sosial media agar reputasi perusahaan kembali normal dan sahamnya berangsur naik.
Tanpa mengucapkan terimakasih karena sudah dimaafkan oleh Arini, Jessica kini beralih menatap Arnold penuh cinta, "Kak--"
"Kita pulang, Arini." Arnold seketika berdiri yang membuat Jessica menghentakkan kakinya kesal namun tidak diindahkan oleh Arnold.
"Kamu pulang sama aku!" Arnold membuka pintu mobilnya yang membuat Arini menatap Devano, "Kak, gue dan Tuan Arnold kan belum mahram."
"Kita ketemu di Cafe terdekat dari sini." titah Arnold, lalu masuk ke dalam mobilnya.
***
Huft!
"Kenapa?" Devano bertanya saat mendengar Arini mengembuskan napas kasar.
"Enggak apa-apa Kak. Gue lagi banyak pikiran aja." Arini menyandarkan kepalanya pada bahu kursi mobil. "Belum menikah sama Arnold aja banyak yang enggak suka." keluhnya yang dijawab senyuman oleh Devano.
"Kok Lo senyum sih Kak?" Arini mengernyit, "Lo seneng gue susah?" tuduhnya yang membuat Devano menggelengkan kepalanya.
"Cewe kalau lagi badmood kenapa kayak gitu ya." Devano menatap ke depan, "sukanya nuduh yang enggak-enggak."
"Kak!" Arini membulatkan mulutnya, ia syok mendengar jawaban Devano. "Lo enggak lagi jatuh cinta kan Kak?"
"Ya enggak lah! Gue belum mikirin apa itu cinta, Rin. Fokus gue masih di perusahaan."
"Terus, kenapa Lo bisa ngomong kayak gitu tadi?"
"Ya itu kan fakta yang gue lihat dari Lo."
"Kak!" Teriak Arini lagi, yang membuat Devano terkekeh pelan lalu membelokkan mobilnya ke cafe di mana mobil yang dikendarai driver Arnold sudah memarkirkan mobilnya.
Arnold menunggu Arini dan Devano di belakang mobilnya, lalu meminta Devano untuk duduk di kursi berbeda di mana ia akan duduk berhadapan dengan Arini.
Arini menghela napasnya dalam, dan semakin dalam saat ia akan duduk di depan Arnold bersekat meja kecil di mana makanan yang akan ia makan sudah tersedia di meja.
Lalu, kapan Arnold memesannya? Sedangkan laki-laki itu sama sepertinya baru saja sampai cafe. Sepertinya Arini harus sadar kalau calon suaminya itu bukan orang sembarangan.
"Arini!" panggil Arnold sembari menatap Arini yang langsung menundukkan kepalanya.
"Ya!" Arini menjawab sembari memainkan jarinya di atas meja.
"Bentar lagi kita menikah." Baru kali ini ada momen berbicara hanya berdua dengan Arini, dan kali ini Arnold sedikit merendahkan nada suaranya.
"Ya."
"Kamu bahagia?" tanya Arnold yang membuat Arini kini mendongak lalu menatap manik biru milik Arnold.
"Saya harus jawab gimana, Tuan?" Arini berbalik tanya yang membuat Arnold kian menatapnya dalam.
Arini tau ia telah lancang bertanya pada laki-laki bermuka bengis di depannya, namun ia juga tidak bisa berbohong kalau dirinya tidak bahagia dan terpaksa akan menikah dengan Arnold, laki-laki yang belum ia cintai.
Apalagi Mom Celia, calon ibu mertuanya yang terlihat tidak menyukainya dan sangat memihak Jessica, semua itu membuatnya ingin sekali membatalkan pernikahan yang belum terjadi itu.
"Bahagia." titah Arnold dengan mengeraskan rahangnya.
"Oke!" Arini menganggukkan kepalanya yang membuat Arnold menghela napas.
"Oke?" tanya Arnold seraya menaikkan alisnya yang membuat Arini kembali mendongak sembari mengerutkan keningnya.
"Ada yang salah, Tuan?"
"Menurutmu?"
"Tuan mengajak saya ke cafe cuman untuk mengulang pertanyaan yang sama?" tanya Arini memberanikan diri yang membuat Arnold menatap segala arah untuk mengusir rasa kesalnya.
"Aku mengajakmu ke cafe untuk membuat kesepakatan lagi." aku Arnold kemudian.
"Kesepakatan apalagi?"
"Kamu dilarang ke perusahaan ku setelah menikah."
"Karena Mas Bagas?" Arini bertanya yang membuat Arnold menganggukkan kepalanya pelan.
"Mas Bagas yang sudah membatalkan lamaran kami, Tuan. Satu hal bodoh kalau saya mau dekat dengannya lagi." jelas Arini.
"Kamu masih sakit hati?"
"Tidak." tegas Arini yang membuat Arnold kembali menatapnya. "Saya mau bertanya apa boleh, Tuan?"
"Tanyakanlah."
"Apa nanti setelah menikah kita akan tinggal serumah dengan orang tua Tuan?"
"Tidak! Kita akan tinggal di mansion yang sudah Saya siapkan." Jelas Arnold yang membuat Arini mengembuskan napas lega seakan-akan beban yang menghimpit dadanya sedari tadi terlepas begitu saja.
"Cuman berdua?" Arini kembali bertanya dengan mengerutkan keningnya.
"Kamu takut serumah hanya dengan aku?" Arnold berbalik tanya, "Kita bakalan jadi suami istri. Wajar bukan kalau kita tinggal berdua?"
Arini tidak bisa untuk tidak menganggukkan kepala menjawab dua pertanyaan Arnold.
"Hanya itu? Arnold bertanya lagi sembari makan spaghetti di depannya.
"Ya?"
"Yang mau kamu tanyakan?" Arnold kembali bertanya dan Arini kembali menganggukkan kepalanya hingga tiba-tiba Devano menghampiri mereka.
"Rin! Lo ntar naik taksi pulangnya ya. Daddy tiba-tiba telpon kalau ada meeting yang mengharuskan gue ikut. Daddy enggak tau kalau kita mampir ke cafe dulu." jelas Devano yang membuat Arini ingin menangis saat itu juga.
"Pergilah Dev, aku kan ada driver. Kalau aku duduk di depan dan Arini duduk di belakang sendiri, tentu boleh kan walaupun kita belum mahram?" Arnold bertanya yang membuat Devano seketika menganggukkan kepalanya dan Arini tidak bisa berkutik dan menolak lagi.
"Ya udah. Gue ke perusahaan dulu ya, Rin. Baik-baik Lo." Arini menganggukkan kepalanya walaupun sedikit kaku karena ia akan benar-benar berdua dengan Arnold tanpa Devano yang mengawasinya.
Sepeninggal Devano, Arnold menyandarkan dirinya ke kursi lalu menyilangkan tangannya di depan dada sembari menatap Arini yang kini terus menatap mobil Devano yang keluar dari halaman cafe.
"Kita mau menikah, tapi aku belum juga tau nomor handphone kamu." Arnold mengangsurkan hapenya pada Arini.
"Jangan nomor kantor redaksi." titah Arnold yang membuat Arini mengernyitkan dahinya, "nomor kamu yang dikasih Bagas ternyata bukan nomor pribadi bukan?"
Tanpa menjawab, Arini pun mengetikkan nomor ponsel pribadinya pada Arnold dan Arnold pun ternyata memakai nomer yang berbeda saat biasanya ia berhubungan dengan Arini karena Arnold melakukan panggilan sejenak yang masuk ke dalam ponsel Arini.
Hubungan yang diawali karena Arnold yang memilih Arini, lalu memaksa Arini menerimanya dengan menyuruh Bagas membatalkan lamarannya pada Arini, membuat hubungan keduanya begitu kaku bahkan tidak pernah bertanya kabar satu sama lain bahkan sampai seminggu setelah lamaran Arini menghubungi Arnold hanya karena meminta tolong Chandra agar Uncle-nya itu menyuruh Arnold membatalkan percepatan pernikahannya.
Hal yang tidak lazim saat-saat akan menikah namun berlaku wajar mengingat hubungan keduanya yang memang awalnya tidak dekat.
Fitting baju yang dilakukannya tadi pun semua dijelaskan oleh Arini saat lamaran yang dilakukan oleh Arnold kemarin, karena tuxedo yang akan dipakai Arnold adalah tuxedo yang awalnya akan dipakai Bagas walaupun akhirnya Arnold menghubungi desainer tersebut dan meminta mengubah bentuk dan model tuxedo sesuai seleranya dan meminta kebaya muslimah yang akan dipakai oleh Arini pun berbeda dari yang awal di pesan Arini.
"Ayo masuk!" pinta Arnold sembari membuka pintu mobilnya. Hal yang sangat jarang ia lakukan, karena ia sendiri jika mau masuk mobil dibukakan pintunya oleh drivernya.
"Enggak apa-apa memangnya, Tuan?" Kalau boleh memilih, Arini lebih memilih naik taksi daripada semobil dengan Arnold walaupun dengan kursi berbeda.
"Cepat!" titah Arnold dengan menatap tajam Arini kembali saat Arini terlihat masih berpikir sembari menggigit bibirnya.
Mau tidak mau, Arini pun masuk ke dalam mobil Arnold dan diam-diam menghembuskan napas lega saat Arnold sama sekali tidak mengajaknya berbicara sampai mereka tiba di mansion milik Chandra.
"Aku langsung saja." Arnold berkata tanpa menoleh, namun Arini tetap mengangguk sebagai jawaban saat ia turun dari mobil Arnold tepat di depan gerbang mansion Chandra.
Bersambung...