Setelah akhirnya memasuki masa pensiun, Raya memutusakan menghabiskan hari tuanya seorang diri di sebuah vila mewah yang telah ia beli dengan hasil kerja keras selama puluhan tahun.
Namun, nasib seolah mempermainkannya. Baru sehari menikmati kehidupan sebagai pensiunan kaya, keesokan paginya ia terbangun di dunia yang sama sekali asing.
Bukan hanya itu, ia kini menghuni tubuh seorang wanita berusia tiga puluhan yang terkenal genit dan mesum.
Beruntung, ia mengetahui satu rahasia besar.
Halaman belakang rumah reyot yang tak diinginkan siapa pun itu ternyata terhubung dengan zaman lain.
Dalam ruangan penghubung dimensi, ternyata menyimpan kekuatan yang mengubah nya selangkah demi selangkah menjadi abadi.
2 Agustus 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pagi harinya.
Su Wanwan terbangun di ranjang rumah kecilnya di zaman kuno, saat dia membuka matanya, atap kayu lapuk dengan pencahayaan temaram lah yang menyambut nya. Bukan lampu gantung mewah nya di kamar villa.
"Bukankah aku tidur di kamar villa ku? Mengapa ada di sini?" Bingung Su Wanwan.
"Apakah ada waktu untuk bisa bertahan di dunia modern?"
"Tunggu, kemarin saat pertama kali masuk aku menghabiskan 2 jam. Kedua kalinya aku menghabiskan waktu sekitar 8 jam, dan semuanya 10 jam. Apa mungkin itu batas waktu ku ada di dunia modern?"
Su Wanwan tidak mengetahui nya secara pasti, namun dia bisa membuktikan nya hari ini.
Tok!
Tok!
Tok!
"Nyonya, apakah anda sudah bangun? Waktunya sarapan."
Su Wanwan bangkit dari ranjangnya, ia merapikan pakaiannya hingga akhirnya keluar. "Baik"
Di atas meja, terdapat satu periuk berisi bubur yang masih mengepul hangat. Su Wanwan melirik mereka bertiga yang berdiri berjajar rapi menghadap meja, dan di sebrang meja tepat tempat kursi duduknya.
Su Wanwan menatap isi periuk itu, mengaduknya beberapa kali dan sedikit mengerutkan kening. "Siapa yang memasak?" tanya nya menatap mereka bertiga.
Ketiga pemuda itu hampir tidak pernah melihat nyonya mereka yang begitu datar dan dingin, sosok wanita yang genit, serakah dan tidak masuk akal itu telah lenyap. Tergantikan dengan sosok yang dingin, datar dan cukup mengintimidasi.
"S-saya nyonya, saya salah, memasak beras milik nyonya tanpa seizin nyonya." Bai Rongxin dengan takut-takut segera bersujud, entah kenapa rasa takut menyeruk ke dalam hatinya. Beras yang di masak nya memang beras putih yang berharga, awalnya dia ragu, namun karena harus memasak untuk sarapan dia tidak ada pilihan lain selain mengambil sedikit untuk di masak bubur.
Mungkin dia sedikit lancang karena nyonya nya sudah baik memberikan nya makan nasi putih semalam.
Su Wanwan terdiam, sesuatu seperti film singkat berputar di otaknya. Saat pemilik tubuh asli marah besar karena tidak ada sarapan di meja, sampai melukai Bai Rongxin yang bertugas memasak saat itu.
Su Wanwan mengkerutkan keningnya, 'apakah ini ingatan tubuh ini, sial, pantas sekali reaksi Bai Rongxin seperti itu.'
Ia menghela napas pelan, "bangun. Nyalakan apinya, buburnya belum matang." ucapnya sambil membawa periuk itu ke atas tungku.
Ketiga bujang. "?"
Meskipun yakin buburnya sudah matang, namun Bai Rongxin tetap berdiri dan segera menyalakan api. Su Wanwan memasukkan beberapa genggam beras lagi ke dalam periuk, Bai Rongxin tidak mengatakan apapun dan hanya menuruti ucapan nyonya nya, entah kenapa dia jadi merasa segan dan takut untuk berbicara di depannya.
"Berasnya terlalu sedikit dan airnya terlalu banyak, tambahkan sedikit beras. Masak dengan api sedang selama seperempat Sichen."
Bai Rongxin mengangguk patuh. "Baik"
Su Wanwan memeriksa bahan makanan lainnya, dia mengambil sedikit daun seledri. "Potong kecil-kecil" ucapnya pada Bai Rongxin.
"Baik"
Su Wanwan mengambil beberapa daging mentah sisa bahan semalam dan mencium aromanya. "Masih bisa di olah"
Dia mengambil pisau dan memotong nya memanjang mengikuti serat dagin lalu memasukkan nya ke dalam periuk bubur. "Tambahkan garam secukupnya dan setelah seperempat Sichen, masak lagi dengan api kecil selama seperempat Sichen. Mengerti?"
Bai Rongxin sedikit terpana, saat melihat nyonya nya sedang fokus memasak dan menjelaskan... Entah kenapa dia tidak merasa takut ataupun jijik. Malah entah kenapa sesuatu di hatinya menghangat tanpa dia sadari sepenuhnya.
"B-baik"
Dalam setengah Sichen, bubur daging yang lembut tidak terlalu kental juga tidak terlalu encer telah siap. Wanginya tidak kalah dengan wangi masakan semalam, wangi kaldu daging dan gurih tercium menyiksa perut.
"Bawa ke meja"
"Baik"
Bai Rongxin membawanya ke atas meja, sementara Su Wanwan mencari beberapa barang yang di simpan nya di dalam lemari dapur. Dia membawa lada bubuk, minyak bawang dan potongan seledri.
Setelah duduk di kursinya, ia mengambil bubur dan mengisi nya dengan minyak bawang, lada dan seledri. Setelah itu memakannya dengan puas.
"Ambil saja sendiri, tambahkan benda-benda ini sepertiku jika ingin." ucap Su Wanwan masih acuh namun tidak begitu dingin.
Hu Zheng dan Shen Yuzhi sedari tadi berdiri diam bingung harus melakukan apa, hanya menonton Nyonya mereka memasak. Sejujurnya laki-laki dewasa seperti mereka pun juga ikut terintimidasi. Hingga saat Bai Rongxin mulai mengambil bubur, mereka pun ikut mengambil.
"Nyonya, ini untuk apa...?" Tanya Bai Rongxin menunjuk lada dan minyak.
Su Wanwan meliriknya, sebentar hingga akhirnya berbicara. "Ini minyak bawang, menambah aroma dan meningkatkan cita rasa. Ini lada, sedikit pedas dan jangan sampai kena hidung atau mata."
Bai Rongxin tersenyum dan mengangguk, dia mengambil minyak dan menambah lada serta seledri.
"Rasanya jadi lebih enak!" Serunya.
Hu Zheng dan Shen Yuzhi diam-diam mendengarkan dan mengikuti seperti yang Bai Rongxin tambahkan.
Selesai makan.
"Siang sampai sore ini jangan ganggu aku, aku akan istirahat. Jika kalian lapar kalian bisa memasak bahan yang ada di dapur, dan Hu Zheng buatlah beberapa kursi dan peralatan dapur."
Hu Zheng cukup pandai membuat kursi dan peralatan sederhana seperti sendok, sumpit dan mangkuk. Jadi Su Wanwan tanpa sungkan memerintah nya.
"Siap nyonya, akan aku lakukan"
Su Wanwan berbalik dan segera masuk kembali ke dalam kamarnya.
Shen Yuzhi melirik Bai Rongxin dan Hu Zheng, keningnya berkerut seolah tak menyukai namun tangannya sedikit mengepal seolah tak terima.
***
Kembali masuk ke dalam ruang dalam pintu, Su Wanwan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan nya sambil meregangkan badannya.
"Nyaman sekali, sedikit sakit karena salah posisi tidur ini langsung menghilang dalam sekali tarikan napas. Benar-benar ruangan ajaib."
Mata Su Wanwan bersinar seperti melihat tambang emas, dia mulai melakukan gerakan meninju dan beberapa gerakan kaki sebagai pemanasan tubuh selama beberapa waktu hingga akhirnya berhenti.
Dia menatap tangannya dan mengepalkan nya. "Jika aku melakukan gerakan ini di luar ruangan ini, aku pasti sudah terkapar kelelahan."
Setelah beberapa waktu di ruangan, Su Wanwan akhirnya masuk ke Villa dan mandi air hangat di dalam bathtub sambil tangannya memegang ponsel miliknya.
Ia membuka aplikasi belanja dan memesan beberapa stel pakaian modern ukuran jumbo dan beberapa barang yang menurutnya bagus.
Dia juga memesan beberapa skincare perawatan wajah dan tubuh. Body lotion kualitas terbaik, serum wajah, sunscreen, facial wash dan beberapa bagian yang mungkin akan panjang jika disebutkan.
Dia benar-benar harus merawat diri, setelah berkaca cukup lama Su Wanwan baru sadar betapa parah kondisi tubuh dan wajahnya ini. Wajah agak berminyak, komedo, kusam dan sedikit jerawat semuanya di borong. Daki di tubuh cukup menumpuk membuat nya terlihat gelap seperti tertempel lumpur membandel.
Sekarang dia mandi dan menggosok semua bagian tubuhnya dengan teliti, hingga beberapa saat kemudian...