yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP: 7 Buah Pir
“aku tidak lapar” Ucap Yovada dengan suara yang pelan dan lemah di atas kasur
“makanlah, aku sudah mengupaskannya untukmu.” Ucap Kesya dengan suara yang datar dan juga pelan. Tahu bahwa Yovada akan menolak makanannya, ia tetap menahan garpunya di depan mulut Yovada. Ia merasa bahwa Yovada sudah mulai jengkel dengan Kesya karena memaksanya untuk memakan buah itu. Kesya yang melihat itu langsung menarik garpunya perlahan dari depan mulut Yovada. Yovada yang melihat itu mulai memalingkan wajahnya ke samping membelakangi Kesya yang ada di sebelah kirinya.
Kesya yang melihat itu hanya menghela nafas dan kemudian mulai membicarakan masalah kesehatan Yovada. “dokter mengatakan bahwa kamu harus di rawat selama 3 hari atau lebih. Mereka melihat punggungmu dengan luka memar itu butuh waktu yang tidak lama dan begitu juga dengan kepalamu. Namun ada beberapa hal yang membuatmu harus di rawat lebih lama lagi.” Ucap Kesya kepada Yovada dengan nada datarnya sambil menatap Yovada dengan tatapan serius namun tetap berasa seperti tatapan dingin dan tanpa kepedulian.
Yovada yang mendengar itu langsung memalingkan wajahnya ke Kesya dengan serius. Ia menatapnya dengan penuh penasaran dan juga kebingungan dengan apa yang ia katakan. “aku hanya terjatuh dari tangga saja dan mendapat benturan. Seharusnya tidak seburuk itu hingga aku harus di rawat berhari hari di rumah sakit bukan. Jadi aku yakin aku akan keluar besok dengan kedua kakiku sendiri.”
Kesya menggelengkan kepalanya dengan pelan dan ia berkata dengan pelan kepada Yovada. “kamu terkena infeksi lambung. Dokter mengatakan bahwa infeksi lambungmu sudah berlangsung beberapa saat. Mereka mengatakan bahwa mustahil jika seseorang tidak merasakan dirinya mengenai penyakit infeksi lambung, namun anehnya kamu masih bisa berjalan beberapa hari dan hingga kamu pingsan di perpustakaan sekolah itu setelah tertimpa aku.” Ucap Kesya kepada Yovada seperti yang ia dengar dari dokter di luar ruangan tadi.
Yovada yang mendengar itu hanya terdiam karena ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dirinya terdiam dan matanya terpaku ke langit-langit rumah sakit. Ia merasa bahwa ini akan membuatnya ketinggalan beberapa pelajaran yang ada di sekolah. Matanya terlihat pasrah seperti tidak sanggup menerima hal ini. Kesya yang melihat itu langsung memahami bahwa Yovada mengkhawatirkan sesuatu. Ia melihat Yovada yang gelisah dengan gerak-gerik dari tangan dan kakinya. Kesya yang merasa bersalah karena membuat Yovada berada di rumah sakit langsung bertanya tentang apa yang ia inginkan di rumah sakit.
“Yovada, aku minta maaf jika semua ini adalah salahku. Namun aku ingin tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu nyaman di sini?” Ucap Kesya kepada Yovada dengan nada yang sedikit lebih lemah lembut dari biasa yang datar.
“huh... aku? Jangan khawatirkan aku. Aku tidak papa di sini. Setidaknya di sini tidak seburuk tempat yang aku pernah bayangkan tadi. Kamu tidak perlu khawatir padaku karena aku akan baik-baik saja di sini. Kamu boleh pulang dan menjalani kehidupanmu.” Ucap Yovada kepada Kesya dengan nada datar sambil memalingkan kawahnya yang kembali membelakangi Kesya. Ia terlihat sangat tidak peduli dengan apa yang di khawatirkan Kesya padanya. Ia menarik selimutnya lalu berusaha tidak memedulikan Kesya yang masih ada di belakangnya.
Kesya yang melihat itu langsung menaruh piring dan juga pisau yang di gunakannya untuk memberi makan buah Pir ke Yovada tadi di atas meja di sebelah Yovada tadi. Ia duduk di sebelah Yovada beberapa saat tanpa berbicara sedikit pun. Ia hanya menatap Yovada dengan tatapan dingin seperti memikirkan sesuatu. Ia kemudian melihat sekitar dan kemudian memperhatikan keadaan di sekitar. Banyak orang yang sakit dan juga tidak di kunjungi orang terdekatnya. Ia melihat seorang pak tua di sebelah Yovada yang tertidur pulas tanpa ada interaksi sekitarnya. Ada pula seorang anak muda yang kakinya cedera dan kemudian harus di rawat inap di sana. Keadaannya sangat tidak nyaman dan membuat merasakan rasa tidak menyenangkan dalam hatinya.
Ia membereskan tasnya kemudian mulai berdiri dari kursinya. Ia berkata pada Yovada “sepertinya kamu tidak menyukai kedatangan aku ke sini. Aku mengerti perasaanmu, jangan khawatir aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan menyuruh Aulia untuk menjagamu di sini nanti. Ia akan memperhatikanmu lebih dari yang aku berikan.” Ucapnya kepada Kesya kepada Yovada dengan suara yang kembali datar kepadanya sambil berjalan pergi dari sisi kasurnya Yovada.
“jika kamu menyuruhnya datang sekali lagi ke sini, aku akan menyuruh satpam di depan untuk mengusirnya dan melarangnya masuk ke sini selama aku ada di sini” Ucap Yovada kepada Kesya dengan suara yang terdengar lebih keras dari biasanya. Mengingat kelakuan Aulia kepada Yovada tadi membuatnya sangat tidak nyaman di sini. Kesya yang mendengar itu langsung tersenyum kecil sambil membelakangi Yovada. Ia berbalik menghadap Yovada dan kemudian kembali duduk di sebelahnya.
“yah... aku tahu ia menyebalkan. Namun kamu harus tahu bahwa kami di suruh untuk menemanimu dan yang dipilih adalah aku dan Aulia. Jika kami tidak melakukannya maka kita berdua akan mendapat masalah dari sekolah nanti. Jadi kamu harus memilih antara kami berdua untuk menjagamu atau opsi lainnya adalah memilih kami berdua untuk menjagamu.” Ucap Kesya dengan tenang kepada Yovada.
Yovada yang mendengar itu langsung terdiam dan matanya melotot seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengar tadi. Dalam hatinya ia berkata. “sialan, sekolah macam apa yang memberi peraturan macam itu. Andai mereka tahu bahwa aku lebih baik di temani oleh buku dan juga pulpen agar aku bisa membaca sesuatu yang bermanfaat dan lebih baik dari pada di temani dua wanita yang membuatku tidak nyaman di sini. Ucap Yovada dalam hatinya yang membuatnya memikirkan sisi yang lebih baik dari pada sisi yang lain walaupun tidak ada sisi yang bagus untuk saat ini untuk Yovada.
“baiklah, baiklah. Aku akan memilih kamu untuk menemaniku. Setidaknya kamu tidak menggangguku dan penghuni rumah sakit yang lain seperti Aulia. Selain tidak ada pilihan lain dan memang tidak ada sisi yang menguntungkan aku, aku lebih baik memilih yang tidak membuat aku tersiksa bukan?” Ucap Yovada kepada Kesya yang ada di sebelahnya dengan suara yang lebih pelan dan tenang.
Kesya kembali duduk di sebelahnya dan kemudian duduk menatap Yovada dengan sedikit lebih perhatian karena kini ia memiliki tanggung jawab untuk menemani Yovada hingga dirinya sembuh. “baiklah, karena kamu memilihku maka seperti peraturan sekolah, aku harus mematuhi apa yang kamu inginkan namun kamu sendiri harus patuh dengan apa yang aku suruh dan tidak boleh membantah.” Ucapnya kepada Yovada yang ada di sebelahnya.
Mendengar itu, Yovada langsung terdiam seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Kesya tadi. Namun ia tahu bahwa Kesya tidak akan membuatnya merasa lebih buruk dari Aulia yang merawatnya. Ia berbaring dengan lebih tenang dan berkata “jika itu yang di katakan maka katakan padaku apa yang harus aku lakukan sekarang jika itu perintahnya?” Ucap Yovada kepada Kesya dengan penasaran namun juga merasa malas karena pada dasarnya Yovada bukanlah orang yang mudah di perintah apa lagi oleh seorang wanita.
Kesya hanya tersenyum kecil dan kemudian mengambil buah pir yang ada di piring dan kemudian mengarahkan ke mulut Yovada. “kamu harus memakannya sekarang. Setidaknya kamu mendapat asupan gula yang cukup dari buah pir ini. Aku tidak ingin seseorang yang ada di bawah pengasuhanku menderita karena kekurangan gula.” Ucapnya dengan suara yang pelan dan juga lebih perhatian kepadanya.
Yovada yang mendengar itu hanya mendengar apa yang di katakan Kesya tadi langsung mencoba mematuhi apa yang di suruh olehnya. Ia membuka mulutnya dan kemudian memakan potongan kecil Buah pir yang di potong oleh Kesya. Ia memakannya dan mengunyahnya dengan perlahan. Dirinya mulai memalingkan perhatiannya, karena sejauh ini Yovada tidak pernah di suapi oleh siapa pun kecuali oleh ibunya dan itu pun hanya waktu kecil. Ia mengunyahnya dengan perlahan dan juga dengan tenang.
Kesya yang melihat itu langsung berbicara dalam hatinya “keras kepala sekali pria ini. Seandainya ia mematuhiku dari tadi maka tugasku akan berjalan lebih cepat selesai. Namun... di satu sisi ia memilik tingkah laku yang lebih baik di banding pria pada umumnya. Cara makannya saja memiliki adab dan etika yang baik. Setidaknya ini akan menjadi mudah untuk selanjutnya” Ucap Kesya dalam hatinya dengan wajah yang tetap menjaga sikap datarnya.
Di sisi lain, Yovada menerima suapan dan Kesya kembali dan kini ia berbicara dalam hatinya. “wanita ini... kenapa ia bersikeras untuk aku memakan buah yang ia kuupaskan untuk? Apa ada suatu niat yang ia inginkan dariku atau bagaimana? Namun sebaiknya aku mematuhinya saja agar tugasnya lebih mudah dan ia tidak terlalu menggangguku. Namun setidaknya ia memiliki adab dan etika dalam menjenguk orang sakit dari menjaga ketenangan dan juga membawakan buah tangan. Yah... ini bukanlah hal yang buruk untuk aku sekarang.” Ucap Yovada dalam hatinya sambil memandang Kesya yang menyuapinya dari tadi.
Suapan demi suapan di berikan Kesya untuk Yovada hingga akhirnya buah pir yang ada di atas piring tadi habis. Kesya membereskan barang-barangnya dan kemudian ia pergi pamit untuk pulang kepada Yovada.
Yovada yang mendengar itu mengizinkan Kesya untuk pulang dan ketika Kesya berbalik dan membelakangi Yovada, ia mencium aroma yang membuatnya terkejut. Aroma manis dan juga sangat mencolok tercium di antara bau rumah sakit yang ia cium. Matanya melebar dan matanya terpaku hingga Kesya keluar pintu rumah sakit dan meninggalkannya sendiri.
Yovada terpaku di sana sambil berbicara dalam hatinya yang mencium aroma Kesya.
“astaga... jadi ini aroma Kesya itu? Aromanya lebih mengerikan dari pada apa yang ada di bajuku kemarin. Ini gila sekali...” ucapnya dalam hati dengan tatapan yang mulai menyadari dirinya sendiri. Ia mulai berbaring sambil memikirkan dirinya yang kini berada di rumah sakit hingga ia mengingat satu hal yang ia lupakan.
“oh iya... cucian aku belum aku antar ke penatu... sepertinya aku akan kehabisan baju sekolah untuk hari selanjutnya....”