NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Joshua tak habis pikir. Wanita ini masih berani menggurui nya.

"Tenang saja, aku akan mengurus mereka nanti."

"Aku tidak bermaksud apa pun. Hanya saja ketakutan mu itu, justru bisa mencelakai dirimu sendiri."

"Baiklah aku mengerti. Jadi maksud mu, dengan kamu menceritakan hal barusan, aku hendak mencelakai adikku sendiri. Lalu... Baiklah, aku bisa menghukum mereka, karena mereka hampir membuat mobil yang ditumpangi adikku celaka."

Joshua kembali mendekat pada Dian.

"Dan kamu, hukuman seperti apa yang akan kamu terima?"

"Hukuman, apakah perlu?"

"Iya, karena aku sudah menyelesaikan aduan mu, mengenai pengawalku yang bertindak sembrono.

Berarti kamu juga harus dihukum, karena kamu membawa mobil dengan laju, sehingga membuat kami kehilangan jejak kalian. Bagaimana jika terjadi sesuatu saat kamu kurang hati-hati, bukan kah sama saja, kamu juga hampir mencelakai adikku."

Dian menarik nafas berat. Dirinya yang terlalu berani, membuat keluarga Joshua panik, dan kini membawanya ke dalam situasi sulit seperti ini. Dan ia memang harus bertanggung jawab, atas kesalahannya itu.

"Baiklah, kuterima. Hukuman apapun, akan kuterima."

"Benarkah, dan harus dilakukan!"

"Iya..." Dian menyadari sesuatu, Joshua yang begitu dekat padanya, serta senyuman nakal di wajah pria itu, membuat ia menjadi takut.

"Jangan yang aneh-aneh. Bahkan tidak dengan tubuhku." Dian menutup tubuhnya, menyilangkan kedua tangannya, depan dadanya.

Joshua memperhatikan dengan senyuman sarkasnya.

"Tenang saja. Aku juga tidak berpikiran ke arah sana. Tapi kamu yang terang-terangan mengatakannya. Jadi pikiran siapa yang paling kotor."

"Apa?" Dian segera menurunkan kedua tangannya. Ia memasang wajah tebalnya, agar tidak kentara kalau ia malu pada perbuatan nya sendiri.

"Aku cuman mengingatkan. Baguslah kalau pikiran mu tidak seperti itu. Jadi apa hukuman nya?"

"Hukumannya, kamu harus pergi kencan denganku."

"Apa? Bukankah kita sepakat untuk membatalkan perjodohan kita?"

"Apakah aku pernah mengatakan nya, bahwa aku setuju? Aku tidak pernah setuju denganmu. Aku hanya mau lihat, bagaimana cara mu membuat ku ilfeel. Dan itupun kalau berhasil. Tapi, makin lama, aku makin suka padamu." Kata Joshua sambil merapikan rambut Dian yang sedikit berantakan, dan di sisipkan pada tepi telinga Dian.

"Hukuman harus seperti itu? Kalau hukuman yang lain tidak bisa? Aku bisa melakukan yang lain."

"Baiklah, jika kamu tidak mau. Maka selama sebulan, kamu harus jadi asisten pribadi ku. Mengurus apapun yang aku perlukan. Tapi karena itu merupakan sebuah pekerjaan juga, maka aku tetap akan membayar mu dengan gaji sebagai karyawan."

"Emang berapa gaji asistennya?"

"Aku biasa memberikan gajinya 20jt sebulan."

Asisten digaji. 20 juta lumayan besar juga. Uangnya kan aku bisa simpan buat kebutuhan mendadak ku. Meskipun selama ini aku diam-diam bekerja di belakang si tua bangka itu, dan menabung untuk jerih payahku sendiri, seengaknya sudah 60-an juta tabunganku saat ini. Kalau ditambah lagi, bisa banyak nanti.

Tapi kalau selama sebulan melihat wajahnya terus-menerus, aku bisa bosan.

"Kalau kencan berapa hari?"

"Sebulan juga."

Apa? Kencan selama sebulan bersamanya, yang ada aku muak dan muntah setiap hari. Tapi persyaratan ini terdengar mudah baginya dan sulit untuk ku.

"Apa kau tidak salah? Atau otak mu sudah kegeser. Selama sebulan, dan setiap hari harus bersama mu. Yang sudah punya pasangan kencan mereka juga nggak setiap hari. Bagaimana dengan kita, yang kenal aja baru beberapa hari yang lalu."

"Tidak. Jika begitu terdengar aneh, maka kuganti dengan menemani ku makan malam bersama. Tapi kau nurut, dan harus berperan layaknya pasangan ku, tidak boleh kaku."

Apaan sih orang ini, ngatur segala hidupku. Baiklah karena ini hukuman, aku akan melakukan apapun yang dia minta. Tapi maaf, aku skip kencan itu.

"Baiklah, aku terima syarat menjadi asistenmu. Tapi aku punya permintaan. Aku mulai besok akan mengajak adikmu ke suatu tempat, sampai hari H ulang tahun temannya. Karena aku sudah janji sama Cindy. Aku akan menjaganya, dan mengantar nya selamat sampai tujuan."

Ternyata adikku masih diincarnya. Baiklah, untuk sementara, aku akan ikut kemauannya.

"Aku setuju, tapi sampai adikku terluka sedikit saja, kau harus bertanggung jawab. Jika kau merasa khawatir padaku, kirimkan saja satu bodyguard untuk menjaganya, biar dia bisa langsung memantau apa yang akan kami lakukan."

"Iya, aku janji. Jadi kapan aku mulai jadi asisten mu?"

"Ternyata kau tidak sabar untuk segera bersama ku."

"Kau mimpi ya, aku hanya ingin segera menyelesaikan hukuman ku. Hukuman yang bahkan terdengar aneh dan justru lebih memberatkan ku."

"Ya kurasa kita sama-sama sepakat. Jadi kamu bisa kerja dengan ku mulai besok. Aku akan mengirimkan alamat padamu."

"Besok, baiklah. Tertera kan juga jam berapa sampai jam berapa. Karena aku harus mengantar Cindy."

"Apa aku bisa pulang sekarang, aku ada urusan. Dan sudah malam juga."

"Apa perlu ku antar?"

"Tidak usah. Aku membawa mobilku sendiri. Jadi tidak perlu repot-repot."

"Kalau begitu, Hati-hati nona."

Dian keluar dengan malas meninggalkan ruangan Joshua. Dian dituntun asisten Joshua sampai ke depan pintu.

"Hati-hati nona!"

Dian pergi tanpa menoleh. Berharap urusan nya segera selesai dengan Cindy dan Joshua.

Dari balik jendela, Joshua memperhatikan. Sambil tersenyum melihat mobil Dian meninggalkan perkarangan rumahnya.

"Dalam sebulan, aku pasti bisa mengendalikan mu."

.........

Dian yang serius menyetir mobilnya sedikit kaget setelah mendengar nada dering handphonenya.

"Siapa sih telpon disaat seperti ini?"

Dian menyingkirkan mobilnya ke pinggir jalan agar tidak mengganggu lalu lintas. Ia segera mengambil ponselnya yang ditaruh di dalam tas.

Setelah membaca nama si pemanggil, membuat bola matanya berputar malas.

"Halo!"

"Halo Dian. Pulanglah! Ada hal penting yang harus kami bicarakan."

"Aku..."

"Aku tidak suka dibantah. Datang saja!" Telepon dimatikan.

"Ah, sial." Dian memukul setir mobilnya.

"Apa si maunya pria tua bangka itu? Aku juga punya kehidupan sendiri yang harus kuurus. Aku ada janjian sama Emil malam ini. Ah terserah! Aku nggak peduli."

Bzzzz Bzzzz

Pesan masuk, Dian membacanya dengan mata berkaca-kaca.

"Akhirnya...." Dian membuka meletakkan ponselnya di bangku kosong dengan pelan, setelah itu ia mulai menjalankan mobilnya dengan cepat.

Kami dapat kabar mengenai adikmu. Segeralah kemarin jika kamu ingin mengetahuinya!

Tidak pake lama, sebelum kami berubah pikiran.

Dian tiba di depan halaman rumahnya. Ia keluar dari dalam mobil dan segera berlari masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu, Pak Edo dan istrinya duduk dengan santainya. Yang satu membaca majalah, yang satunya lagi sibuk meminum teh cangkirnya. Mereka bersama melihat ke arah Dian, saat gadis itu berdiri menghadap mereka dengan kondisi yang sedikit berantakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!