"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Labirin Kebohongan dan Berkas yang Terbuang
Malam kembali menjatuhkan kegelapan yang pekat di atas kediaman Adiwangsa. Setelah seharian penuh dengan sandiwara dan ketegangan yang menguras emosi, rumah mewah itu mendadak sunyi bagai kuburan. Di dalam kamar tidur yang temaram, Aruna duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin. Pipi kirinya masih sedikit bengkak, dan sudut bibirnya yang pecah telah mengering, meninggalkan rasa perih yang konstan.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Adrian melangkah masuk dengan kemeja yang sudah dilonggarkan kancing atasnya. Wajahnya tidak lagi memancarkan kepanikan seperti malam sebelumnya; kepatuhan Aruna di ruang tengah tadi sore telah mengembalikan seluruh keangkuhan dan rasa percaya dirinya. Pria itu berjalan mendekat, lalu berdiri di hadapan Aruna dengan kedua tangan tenggelam di saku celana.
"Aruna," panggil Adrian, suaranya terdengar berat dan penuh wibawa yang dipaksakan. "Mari kita bicara serius. Dua puluh hari lagi pengadilan akan menjatuhkan putusan. Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya ada di dalam otakmu? Apakah kau benar-benar ingin perceraian ini terjadi, atau tidak?"
Aruna perlahan mengangkat wajahnya. Ia sengaja memasang tatapan mata yang rapuh, layu, dan penuh keputusasaan—tatapan yang selalu membuat Adrian merasa seperti seorang penguasa mutlak.
Adrian mendengus sinis melihat wajah istrinya yang tampak tak berdaya. Ia melangkah satu tindakan lebih dekat, lalu berkata dengan nada yang mengoyak hati, "Asal kau tahu, Aruna... jika saja kau tidak mandul, aku tidak akan pernah berpaling kepada Valerie. Pria mana pun di dunia ini membutuhkan penerus untuk dinastinya, untuk perusahaan ini. Kemandulanmu yang memaksaku mencari kehangatan dan masa depan di tempat lain. Kau yang menghancurkan pernikahan ini dengan kekuranganmu itu."
Kata "mandul" itu kembali diembuskan sebagai racun untuk meremukkan mental Aruna. Namun, di dalam hati Aruna yang sedingin es, ia hanya bisa mencemooh. Ia tahu rahasia yang tersimpan di balik kata itu, rahasia tentang siapa yang sebenarnya cacat, yang sebentar lagi akan ia buktikan.
Aruna menunduk, membiarkan rambutnya sedikit menutupi wajahnya agar Adrian tidak melihat kilat di matanya. "Aku tidak mau bercerai, Mas..." bisik Aruna dengan nada suara yang bergetar hebat, berpura-pura sedih. "Pernikahan ini adalah wasiat terakhir dari almarhum Ayah. Ayah ingin kita selalu bersama menjaga warisannya. Aku tidak ingin mengecewakan Ayah di alam sana."
Mendengar jawaban itu, ego Adrian seketika melambung tinggi ke angkasa. Ia merasa berada di atas angin. Skenario yang dirancang bersama Valerie di atas ranjang semalam tampaknya berjalan begitu mulus. Aruna benar-benar telah bertekuk lutut dan memohon untuk tidak dibuang.
"Oh, jadi kau mendadak ingat dengan wasiat ayahmu?" Adrian tersenyum licik, sebuah senyuman penuh kemenangan yang sangat arogan. "Baik. Jika kau memang bersikeras ingin membatalkan perceraian ini, caranya mudah. Besok atau lusa, kau harus pergi ke pengadilan agama, cabut laporanmu, dan katakan pada hakim bahwa kita sudah berdamai. Tapi ingat, ada syarat mutlak yang tidak bisa diganggu gugat."
Adrian membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan Aruna, mengembuskan napasnya yang beracun tepat di hadapan istrinya. "Mulai detik ini, kau harus patuh total padaku. Apa pun yang kukatakan, apa pun yang diperintahkan oleh Ibuku dan... Valerie, kau harus menurutinya tanpa membantah sedikit pun. Kau akan tetap memegang status sebagai istri tua di rumah ini, mengurus semua kebutuhan keluarga, sementara Valerie akan menjadi istri muda yang mendampingiku di luar. Bagaimana? Kau sanggup?"
Aruna meremas daster kusamnya, berpura-pura sedang mengalami dilema batin yang luar biasa hebat sebagai seorang wanita yang harga dirinya diinjak-injak. Setelah jeda beberapa detik yang penuh drama, ia mengangguk pelan.
"Iya... Mas. Aku akan nurut. Apa pun demi menjaga amanah Ayah," jawab Aruna lirih.
Adrian menegakkan tubuhnya kembali, tertawa puas dalam hati. Wanita di hadapannya ini benar-benar bodoh dan lemah. Namun, sebelum Adrian berbalik untuk meninggalkan kamar, Aruna membuka suaranya lagi dengan nada yang sangat polos, seolah-olah hanya sebuah obrolan acak tanpa maksud apa pun.
"Mas... kalau aku boleh tahu, di mana berkas-berkas lama milik Ayah dulu yang pernah kamu amankan dari ruang kerjanya? Aku... aku hanya tidak ingin kehilangan kenangan tentang Ayah. Aku ingin menyimpannya di kamarku jika boleh," tanya Aruna dengan mata yang berkaca-kaca.
Adrian mengibaskan tangannya dengan malas, sama sekali tidak menaruh curiga. Di dalam otak Adrian yang penuh dengan kesombongan, berkas-berkas lama itu hanyalah tumpukan kertas usang dari masa lalu perusahaan yang sudah tidak memiliki nilai jual.
"Ada di gudang belakang, aku menyimpannya di dalam dua kardus besar di pojok ruangan," jawab Adrian acuh tak acuh. "Buat apa kau mengurusi benda-benda seperti itu? Itu hanya berkas-berkas perusahaan lama yang sudah tidak berguna lagi sekarang. Jangan membuang waktumu untuk hal-hal sampah."
Adrian melangkah keluar dari kamar dan membanting pintu dengan kasar. Begitu sosok suaminya menghilang, Aruna perlahan menegakkan punggungnya. Air mata palsu di pipinya seketika mengering. Senyuman tipis yang sangat dingin terukir di bibirnya.
Berkas tidak berguna, katamu, Adrian? batin Aruna.
Adrian tidak pernah tahu bahwa di dalam salah satu kardus di gudang tersebut, almarhum ayah Aruna telah menyimpan sebuah dokumen vital—sebuah surat perjanjian notaris lama dan bukti transfer autentik yang menyatakan bahwa modal awal Adiwangsa Group seratus persen berasal dari aset pribadi keluarga Aruna, serta salinan dokumen pemeriksaan medis pra-nikah yang asli. Berkas yang dianggap sampah oleh Adrian itulah yang akan menjadi senjata pemungkas bagi Aruna untuk merobohkan seluruh dinasti yang telah dibangun suaminya dengan penuh kebohongan.
Keesokan paginya, suasana rumah tampak sibuk. Aruna memanfaatkan waktu ketika Adrian dan ibunya sedang sarapan di ruang makan untuk pergi ke gudang belakang. Di bawah temaramnya lampu gudang yang berdebu, ia menemukan dua kardus besar yang dimaksud. Dengan cekatan namun hati-hati, Aruna memilah seluruh dokumen di dalamnya.
Ia menemukan apa yang dicarinya: sebuah amplop cokelat tebal dengan segel notaris lama yang belum dibuka, dan sebuah map medis dari rumah sakit internasional dua tahun lalu. Aruna langsung menyembunyikan dokumen-dokumen krusial tersebut ke dalam tas pribadinya. Sisa berkas lainnya, yang berisi laporan keuangan lama dan arsip proyek, ia biarkan tetap di dalam kardus, bersiap untuk dipindahkan.
Aruna segera mengambil ponsel lamanya dan mengirimkan pesan singkat kepada Paman Aldo: "Paman, kirim orang atau mobil ke dekat gerbang belakang rumah sekarang. Aku punya dua kardus berkas lama Ayah yang harus diamankan sebelum mereka menyadarinya."
Paman Aldo yang selalu siaga demi keselamatan Aruna langsung bergerak cepat. Kurang dari tiga puluh menit, sebuah mobil boks kecil milik orang tepercaya Paman Aldo sudah terparkir di dekat pintu belakang pagar kediaman Adiwangsa.
Saat Aruna sedang menggotong salah satu kardus besar itu keluar menuju lorong belakang, langkah kaki berat Adrian menegurnya dari arah belakang.
"Aruna! Apa yang sedang kau lakukan dengan kardus-kardus itu?" tanya Adrian dengan kening berkerut, menatap istrinya yang tampak kelelahan membawa barang berat.
Aruna membalikkan tubuhnya, berpura-pura mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia memasang wajah bersalah yang biasa ia tunjukkan. "Ini, Mas... berkas-berkas lama Ayah yang di gudang tadi malam kita bicarakan. Benar katamu, setelah aku lihat-lihat, semuanya sudah berdebu dan tidak berguna lagi untuk perusahaan sekarang. Aku berniat membuangnya ke tempat pembuangan akhir di luar agar gudang kita menjadi lebih rapi."
Adrian menatap kardus itu sekilas, melihat tumpahan kertas-kertas usang di dalamnya. Sifat abai dan rasa superioritasnya kembali membutakan logika pria itu. "Baguslah kalau kau sadar. Memang sudah seharusnya sampah-sampah itu dimusnahkan. Cepat selesaikan, jangan sampai mengotori lantai selasar."
"Iya, Mas," jawab Aruna patuh.
Dengan bantuan seorang pelayan tua yang setia dan supir kiriman Paman Aldo, dua kardus besar itu berhasil dipindahkan ke dalam mobil boks dalam hitungan menit, tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun dari Adrian yang langsung kembali ke ruang tengah. Paman Aldo menerima berkas tersebut dengan aman di luar, siap untuk diserahkan kepada tim pengacara rahasia mereka.
Namun, ketenangan di rumah itu tidak bertahan lama. Kurang dari satu jam setelah mobil boks itu pergi, pintu depan terbuka dengan kasar. Valerie melangkah masuk dengan wajah yang dibuat penuh amarah dan kepanikan yang luar biasa dramatis. Ia membawa beberapa lembar kertas dokumen di tangannya, langsung menghampiri Adrian yang sedang duduk bersama ibunya di ruang keluarga.
"Adrian! Ini gawat! Benar-benar keterlaluan!" teriak Valerie, suaranya sengaja dikeraskan agar memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Adrian langsung berdiri, wajahnya ikut menegang melihat kepanikan selingkuhannya. "Ada apa, Valerie? Apa yang terjadi?"
"Proyek kerja sama kita dengan Purnama Grup... proyek yang nilainya puluhan miliar yang sudah kita sepakati minggu lalu... dibatalkan secara sepihak oleh direksi mereka hari ini!" Valerie mengempaskan dokumen itu ke atas meja marmer dengan kasar.
"Apa?! Bagaimana bisa dibatalkan? Kontraknya kan sudah hampir ditandatangani!" Nyonya Adiwangsa ikut histeris, wajah tuanya langsung pucat memikirkan hilangnya keuntungan besar.
Valerie melirik ke arah lorong dapur, di mana ia melihat Aruna sedang berjalan membawa kain lap. Sebuah senyuman licik berkelebat di mata Valerie sebelum ia kembali memasang wajah penuh penekanan provokatif.
"Tentu saja bisa batal, Adrian! Pihak Purnama Grup mengatakan bahwa mereka menerima telepon dan surel resmi dari orang yang mengaku sebagai Nyonya Adrian Adiwangsa! Wanita itu mengatakan pada sekretaris Purnama Grup bahwa Adiwangsa Logistik sedang mengalami masalah hukum internal dan tidak layak untuk menerima investasi!" Valerie menunjuk langsung ke arah Aruna yang baru saja melangkah masuk ke ruang tengah. "Aruna! Kau yang melakukannya, kan?!"
Aruna menghentikan langkahnya. Ia menatap Valerie, lalu beralih menatap Adrian. Suasana mendadak menjadi sangat dingin dan menekan.
Padahal, kenyataan yang sebenarnya jauh lebih mengerikan dan dipenuhi intrik busuk. Valerie tidak pernah murni mencintai Adrian. Di luar sana, Valerie sebenarnya sudah memiliki suami sah—seorang pria manipulatif dan licik yang sengaja menempatkan Valerie di Adiwangsa Logistik sebagai bidak catur. Kehadiran Valerie di hidup Adrian adalah rencana matang yang dirancang suaminya untuk menyabotase keuangan, merebut data internal, dan melakukan akuisisi paksa terhadap seluruh aset perusahaan Adiwangsa. Pembatalan dengan Purnama Grup hari ini adalah salah satu langkah taktis mereka untuk membuat perusahaan Adrian perlahan goyang dan jatuh ke pelukan mereka. Dan untuk menutupi jejaknya serta menghancurkan sisa posisi Aruna, Valerie menggunakan nama 'Nyonya Adrian' sebagai kambing hitam.
"Aku tidak tahu apa-apa tentang proyek Purnama Grup, Valerie," jawab Aruna dengan nada suara yang sengaja dibuat bergetar, seolah ia terkejut dan ketakutan atas tuduhan tersebut. "Seharian ini aku hanya membersihkan gudang dan dapur. Aku bahkan tidak memegang telepon rumah."
"Bohong!" bentak Valerie, melangkah maju mendekati Aruna dengan penuh intimidasi. "Hanya kau yang memiliki akses menggunakan nama Nyonya Adrian di rumah ini! Kau sengaja melakukan ini untuk membalas dendam pada kami, kan?! Kau ingin menghancurkan bisnis Adrian karena kau tahu posisimu akan digantikan olehku! Adrian, lihat kelakuan istrimu yang katamu sudah patuh ini! Dia menusukmu dari belakang!"
Nyonya Adiwangsa yang sudah terprovokasi langsung ikut bangkit dari sofanya, wajahnya merah padam menahan amarah. "Adrian! Sudah Ibu katakan, wanita mandul ini adalah pembawa sial! Dia sengaja ingin membuat keluarga kita jatuh miskin! Lihat bagaimana dia menghancurkan kerja kerasmu demi proyek Purnama Grup!"
Adrian menatap Aruna dengan pandangan yang dipenuhi oleh kemarahan yang meluap-luap. Logikanya benar-benar telah mati, tertutup oleh segala kebohongan Valerie dan provokasi ibunya yang bertubi-tubi. Pria itu mencengkeram kedua bahu Aruna dengan sangat keras, mengguncang tubuh istrinya tanpa memedulikan rasa sakit yang dialami wanita itu.
"Aruna!!! Tega sekali kau melakukan ini?!" bentak Adrian, suaranya menggelegar memekakkan telinga. "Aku sudah berbaik hati memberikanmu kesempatan untuk tetap menjadi istri tua di rumah ini! Aku sudah menuruti kemauanmu untuk tidak melanjutkan perceraian jika kau patuh! Tapi ini balasanmu?! Kau menghancurkan proyek terbesarku?!"
"Mas... demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya," rintih Aruna, air mata buatan mulai membasahi pipinya yang lebam, memainkan perannya sebagai korban manipulasi dengan sangat sempurna demi menjaga sisa waktu dua puluh hari ini. "Bagaimana mungkin aku bisa menghubungi Purnama Grup? Aku tidak punya kontak mereka..."
"Jangan berakting lagi di depanku, Aruna!" potong Adrian penuh kebencian, lalu mengempaskan tubuh Aruna hingga wanita itu terduduk di atas lantai marmer. "Mulai hari ini, hakmu untuk keluar rumah sepenuhnya dicabut! Kau tidak boleh menyentuh telepon atau alat komunikasi apa pun di rumah ini! Dan jangan harap aku akan membatalkan perceraian ini di pengadilan nanti! Kau akan keluar dari sini sebagai gelandangan tanpa membawa sepeser pun uang!"
Valerie tersenyum puas melihat Aruna yang terduduk di lantai, merasa rencana suaminya untuk melemahkan posisi keuangan Adrian sekaligus menyingkirkan Aruna dari benteng pertahanan Adiwangsa berjalan dengan sempurna. Nyonya Adiwangsa pun mendengus puas, memalingkan wajahnya dari menantunya yang dianggap sampah.
Di atas lantai yang dingin, Aruna perlahan menundukkan kepalanya, membiarkan rambutnya menutupi senyuman kelam yang kini mengembang di bibirnya. Air matanya berhenti seketika di balik kegelapan.
Terima kasih atas fitnahmu, Valerie. Dan terima kasih atas kebodohanmu, Adrian, batin Aruna dengan kepastian yang mengerikan. Kalian mengira telah berhasil mengurungku dan menghancurkanku. Adrian yang malang... dia begitu sibuk menuduhku, tanpa sadar bahwa ular yang sebenarnya sedang merayap di atas ranjangnya untuk menelan seluruh perusahaannya bulat-bulat. Dan dengan berkas-berkas Ayah yang kini sudah aman bersama Paman Aldo... kalian semua sedang berjalan menuju jebakan yang sama.