"Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mencintai ku, dan jika pun cinta segitiga ini tetap harus berlanjut maka aku akan pastikan bahwa aku akan menjadi pemenang nya. apapun yang terjadi nantinya." ucap Daisy yang sudah putus asa karena tidak bisa melepaskan diri dari cinta yang terus membelenggu nya.
Dengan luka dan tetes air mata gadis cantik itu melanjutkan langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Hmm... Lirih Daisy.
"Oh iya kenalkan dia calon tunangan ku, dan kami disini sedang mengambil gaun pesta, aku baru ingin memberitahu mu tadi, tapi kamu sudah menghubungi ku duluan jadi anggap saja ini sebagai kejutan."ucap Tiana yang kini terlihat begitu bahagia.
"Oh wow, aku sangat terkejut sayang jadi kau benar-benar akan menikah, lalu bagaimana dengan kuliah mu?"ujar Daisy yang kini terlihat sangat bahagia mendengar kabar baik itu.
"Aku tidak lanjut kuliah, untuk apa lagi kuliah kalau nantinya aku dilarang untuk bekerja, dan lagi dia sudah terlanjur kaya. Apa kau tau bahwa dia ternyata kakak nya Jeny kita."ujar Tiana yang kini berbicara panjang lebar.
"Benarkah itu, selamat dan semoga kamu bahagia selama-lamanya oh iya satu lagi apa kamu tau dimana Jeny saat ini?" ujar Daisy dengan sengaja.
"Apa dia belum menghubungi mu, saat ini dia sedang berada di Kanada, dia pindah kuliah, tapi bukankah kalian satu jurusan?"ucap Tiana yang kini membuat Daisy mengangguk.
"Ya kami satu jurusan tapi dua minggu ini aku sibuk mengurus acara tahlilan Mama ku."ucap Daisy.
"Did aunty die then why didn't you tell me, sorry darling, lately I've been too busy with my affairs that I didn't know what happened to you, I hope you can be strong, okay? Maafkan aku."ucap Tiana yang kini terlihat menahan air mata sambil memeluk erat Daisy.
Gadis cantik itu benar-benar tidak tahu tentang duka yang dialami oleh Daisy termasuk tentang gangguan yang dia dapatkan dari pria yang saat ini menatap dingin kearahnya.
"Tidak apa-apa sayang aku bisa mengerti,"ucap Daisy yang kini mencoba untuk tersenyum.
"Dy kamu juga kurusan sekarang, pasti semua sangat sulit, yang tabah ya...kalau butuh bantuan kamu bisa hubungi aku Dy."ucap Tiana.
"Hmm... terimakasih, oh iya sayang sepertinya aku tidak perlu menemani mu lagi, sudah ada dia jadi aku pamit untuk berbelanja kebutuhan rumah, keburu malam kamu tidak apa-apa kan?"ujar Daisy.
"Hmm... tadinya aku ingin kamu orang pertama yang tau tentang apa yang akan aku kenakan, dan siapa tau kamu bisa berikan masukan."ucap Tiana.
"Hmm... biarlah menjadi kejutan sayang, dan lagi kamu tau sendiri sejak dulu aku tidak pandai memilih outfit ku sendiri dan mana yang selalu siapkan semua itu untuk ku, jadi tidak mungkin aku bisa berikan masukan."ucap Daisy yang kini melirik kearah pria yang sejak tadi terlihat tidak suka melihat kedekatan mereka.
"Ah baiklah kalau begitu hati-hati di jalan ya, ingat untuk menghubungi ku."ucap Tiana.
"Hmm..."lirih Daisy sambil mengangguk pelan.
Daisy pun kembali berjalan menuju mobilnya, dia langsung melambaikan tangannya pada Tiana yang lebih dulu melambaikan tangannya pada Daisy.
Hingga saat Daisy pergi, mereka pun memasuki butik, sementara Daisy sendiri kini sibuk dengan fikiran nya, dan hampir saja menabrak seseorang jika dia tidak langsung mengerem.
Daisy pun menghela nafas panjang kemudian meminta maaf dan akhirnya pergi menuju pusat perbelanjaan.
Daisy buru-buru turun dari mobil dan berjalan menuju tempat troli berada, dia mungkin akan berbelanja banyak hari ini karena dia melihat kebutuhan rumah sudah hampir habis.
Daisy pun memasuki super market dan mulai mengambil perlengkapan mandi dan perlengkapan rumah lainnya, setelah itu dia belanja bahan makanan seperti daging dan seafood yang biasa dia makan berikut berbagai macam sayuran yang dia beli saat ini, saat dia hendak meraih bumbu seketika itu pergerakan tangan nya terhenti saat seseorang menahan tangan nya itu.
"Kenapa kamu pergi, dan kenapa kamu tidak bilang padanya bahwa kita sudah saling mengenal dan kamu adalah kekasih saya."ucap pria tampan yang kini berwajah muram, dia tidak lain adalah Aksa.
"Lepas tuan, apa yang anda bicarakan saya tidak mungkin mengakui itu karena anda dan saya tidak punya hubungan apapun."ucap Daisy.
"Benarkah,"ucap Aksa yang kini menatap lekat mata Daisy.
"Itu faktanya tuan, jadi tolong berhenti mengganggu saya."ucap Daisy tegas.
"Setelah semua yang terjadi pada adikku."ucap Aksa yang kini meraih beberapa bumbu instan yang ada di sana dan memasukkan nya kedalam troli belanja milik Daisy.
"Semua yang terjadi itu bukan kesalahan saya, saya turut prihatin dengan apa yang terjadi pada Jeny, tapi tolong tanya dia apa pernah saya meminta dia untuk dekat dengan fathan atau laki-laki lainnya, Jeny sudah dewasa dia bukan anak kecil dia tau mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya sendiri."ucap Daisy yang kini hendak pergi namun troli belanja nya ditarik oleh Aksa yang kini terlihat sangat kesal.
"Tuan itu belanjaan saya."ucap Daisy.
Tapi pria itu tidak menggubris Daisy dan Aksa terus berjalan menuju kasir.
"Tuan apa yang anda inginkan?"tanya Daisy.
"Saya ingin kamu hadir di pertunangan kami itu saja."ucap Aksa tegas.
"Saya ada acara, jadi saya tidak bisa."ucap Daisy menolak.
"Aku tidak terima penolakan."ujar Aksa.
"Jika saya menolak anda mau apa?"ucap Daisy yang kini menatap lekat wajah tampan itu.
"Kamu akan menerima akibatnya."ucap Aksa.
"Apa itu kebiasaan anda?"ujar Daisy yang kini merebut troli tapi tidak bisa karena pria itu menahan nya.
"Terserah kamu mau menilai bagaimana yang jelas aku tidak main-main."ucap Aksa.
"Oh tuhan, kenapa harus bertemu dengan dia"ucap Daisy lagi.
Aksa pun tiba di depan kasir, dia meraih dompet miliknya dan menyodorkan black card miliknya.
"No, ini belanjaan saya."ucap Daisy yang kini memberikan kartu ATM miliknya.
Pegawai kasir bagian keuangan itu pun kini menatap bingung pada keduanya."Jadi yang mana yang saya harus ambil?"ujar wanita cantik itu.
"Ini saja, lagipula dia istri saya hanya saja dia sedang badmood biasa urusan pasangan, setelah selesai tolong diantar ke mobil saya."ucap pria yang kini membuat Daisy memalingkan wajahnya muak dengan sikap Aksa yang semena-mena dia pun hendak pergi tapi Aksa langsung menghentikan pergerakan Daisy.
"Tunggu honey, semua belum selesai."ucap Aksa yang kini membuat orang yang ada di sekitarnya baper saat melihat pria tampan itu begitu perhatian terhadap gadis cantik itu.
"Ini tuan, seluruhnya tiga juta empat ratus ribu lima ratus rupiah. Terimakasih telah berbelanja di tempat kami."ucap wanita itu dengan senyum ramah, sementara Aksa hanya mengangguk pelan sambil memasukkan struk belanja dan black card miliknya.
"Ayo honey"ucap nya.
...*****...
Malam pun tiba, Daisy baru saja kembali dari luar dengan mobilnya setelah perdebatan panjang dengan Aksa yang kini tadi memaksanya untuk mampir ke rumah barunya.
Namun Daisy tetap kekeuh menolak hingga Aksa membawa nya ke sebuah restaurant mewah dan ruang VVIP yang mereka masuki, Daisy sudah menolak tapi Aksa tidak bisa ditolak begitu saja.
Pria itu tetap memaksa Daisy untuk makan bersama dengan nya, hingga perdebatan itu kembali terjadi saat Aksa menyatakan cintanya.
Daisy jelas menolak itu, dia tidak mungkin menerima cinta dari pria yang sudah jelas akan menikah dengan sahabat nya sendiri, namun Aksa mengancam akan membeberkan seluruh fakta yang ada yang menurutnya telah mencelakakan Jeny adik semata wayangnya itu.
Tapi Daisy mengajukan syarat lain, dia meminta Aksa untuk membebaskan Fathan dan membiarkan dia untuk menyelesaikan kuliahnya, tentu saja Aksa juga menolak karena dia tidak bisa mengampuni pemuda itu. Hingga Daisy berkata sambil memohon pada Aksa.
..."Flashback on" ...
"Tolong lah tuan, setidaknya biarkan dia menyelesaikan kuliahnya sampai dia lulus kuliah nanti, dan bebaskan dia dari tuntutan hukum jangan biarkan orang tuanya menderita karena kesalahan nya." ucap Daisy yang langsung membuat Aksa menggebrak meja hingga Daisy terkejut setengah mati.
"Kau pikir keluarga saya tidak menderita karena ulahnya, lagipula saya heran kamu itu teman Jeny atau laki-laki bajingan itu. Kenapa kamu sampai rela memohon untuk nya?!"ucap Aksa dengan nada tinggi.
"Bukankah tuan sendiri tau bahwa saya adalah sahabat Jeny sejak kecil, dan bukankah Anda juga tau bahwa Jeny dan Fathan berhubungan tanpa paksaan, jadi apakah Fathan pantas mendapatkan hukuman disaat hubungan itu dilakukan secara sadar oleh mereka berdua. Seharusnya anda tidak egois dengan menyelamatkan nama baik keluarga dan mengorbankan salah satu pihak atas semua yang terjadi, dan bayangkan jika Anda berada di posisi Fathan saat ini... saya tidak tau cara berfikir orang kaya seperti anda bagaimana tapi menurut saya anda begitu picik."ucap Daisy yang langsung berbalik pergi tanpa menghiraukan perkataan Aksa yang begitu marah dan tidak terima atas perkataan nya.
"Flashback off.
Daisy pun langsung bersih-bersih meskipun tidak mandi tapi setidaknya dia mencuci tangan dan kaki juga membersihkan wajah dari makeup tipis nya itu, hingga membasuh muka dan gosok gigi sebelum akhirnya ia menggunakan piyama tidur nya.
Daisy pun berbaring di atas ranjang empuk nya dan menyelimuti diri setelah mengganti lampu terang dengan lampu temaram.
Dia berulang kali menghela nafas pelan sebelum akhirnya ia pun memejamkan mata, Daisy yang kini tidur dalam keadaan gelisah pun tetap mencoba untuk menutup mata hingga akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.
Sementara itu di tempat lainnya, Aksa kini masih berada di ruang baca dengan tumpukan file di samping nya, dan sesekali ia menggelengkan kepalanya karena tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya itu disaat bayangan Daisy terus melintas di pikirannya.
Dia tidak terima saat Daisy dengan mudahnya meminta dia untuk membebaskan Fathan dari tuntutan hukum yang sudah berjalan satu minggu lalu, dia juga tidak habis pikir kenapa Daisy bisa memohon untuk pria yang tidak iya cintai bahkan selalu ia tolak menurut penuturan Jeny.
"Daisy apa sebenarnya yang kau inginkan."ucap Aksa lirih.
Malam pun semakin larut tapi semua orang tetap pada keputusan nya masing-masing, hingga akhirnya pagi menjelma, Daisy pun bangun seperti biasanya, saat ini dia langsung berkutat dengan pekerjaan rumah, namun yang dia lakukan lebih awal adalah mengeluarkan belanjaan yang semalam buru-buru ia simpan di kulkas tanpa membereskan atau membersihkan sayur dan daging juga seafood yang dia beli kemarin.
Saat ini Daisy sibuk memilah dan membersihkannya dengan telaten dan satu persatu ia simpan di dalam kotak penyimpanan sesuai yang tertera di kotak tersebut, mungkin bi Cece yang menulis di kertas label yang tertera di setiap kotak penyimpanan tersebut.
Setelah semua dibersihkan dan dipisahkan, Daisy pun kembali merapihkan nya di dalam freezer dan chiller yang kini cukup terisi penuh, Daisy hanya menyisakan bahan yang akan dia masak saat ini untuk sarapan pagi nya.
Daisy yang kini menggunakan hotpants dan tanktop nya itu pun terlihat seksi, tapi tidak masalah toh itu didalam rumah dan tidak akan ada orang yang tahu, lagipula pagar rumah mewah itu pun menjulang tinggi dan cukup tertutup jadi masih aman saat Daisy membersihkan halaman sekali pun.
Daisy sibuk mencuci baju mengepel rumah dengan peralatan khusus, dan tidak hanya itu, dia juga sambil memasak makanan yang dia inginkan untuk makan siang nanti.
Hari ini Daisy libur kuliah, dan dia akan menghabiskan waktu nya di rumah, dia pun lanjut bersih-bersih hingga ia menghabiskan waktu empat jam untuk membersihkan seluruh bagian rumah dan merapihkan nya hingga benar-benar terlihat begitu bersih dan rapi.
Tubuhnya kini dipenuhi keringat, Daisy juga terlihat kelelahan tapi dia tersenyum karena dia merasa bangga bisa melakukan pekerjaan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Jika dulu dia hanya terima beres, maka saat ini dia tau bagaimana rasa lelah asisten rumah tangga dan juga sang Mama yang selama ini selalu menyelesaikan semuanya bersama-sama demi memberikan kenyamanan terhadap dirinya.
Saat Daisy hendak mencuci mobil nya, dia mendengar bel pintu pagar berbunyi, dia tidak langsung membuka pintu pagar, melainkan melihat siapa yang datang dari atas pos satpam yang tidak jauh dari area pagar.
"Dy sedang apa kamu disana turun!" teriak seseorang yang tidak lain adalah Tiana.
Daisy pun langsung turun dari atap pos tersebut, dan kini berjalan cepat untuk membuka pintu pagar yang secara otomatis akan terbuka saat Daisy memencet tombol power mesin penggerak pagar itu.
Tiana hendak memeluk nya, tapi Daisy langsung menolak dan memberitahu Tiana bahwa dia sedang sangat berkeringat banyak.
"Dy kamu habis nge-gym?"ujar Tiana yang kini berjalan berdampingan dengan Daisy yang tidak menyadari bahwa mobil Tiana saat ini dikemudikan oleh seseorang yang kini membawa mobilnya itu masuk ke halaman rumah yang cukup luas itu.
"Nge-gym apanya, aku habis bersih-bersih rumah, kamu lihat kan semua sudah rapi, dan sekarang aku mau cuci mobil ku dulu, kau masuklah dan buat minum sendiri juga sarapan sudah ada di meja."ucap Daisy yang kini mengambil selang air dan memutar keran air nya yang kini menyemburkan air dan membasahi seluruh permukaan mobilnya.
Dengan santai nya Daisy mulai menyabuni bagian luar mobilnya hingga tidak sadar sedari tadi ada pria yang tengah menatap kearahnya dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.