NovelToon NovelToon
Love Journey Story

Love Journey Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Persahabatan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Geamul

Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.

Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.

Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.

Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.

Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian

5 semester, sudah Jia lalui, dan sekarang ia sedang menempuh semester 6. Uang yang selama ini ia tabung untuk membiayai kuliahnya dan sekolah adik-adiknya semakin menipis. Ia tak menyangka akan habis secepat ini. Jia tidak memberitahu masalah ini pada orang tuanya, karena ia tak mau membebani mereka.

Andai saja Jia bisa mendapatkan beasiswa di kampusnya. Tapi, sayangnya ia tak sepintar orang-orang yang berprestasi dalam bidang akademik. Jia pun harus berusaha lebih keras untuk membiayai perkuliahannya.

Bukannya Jia tak mau berusaha untuk menjadi mahasiswa berprestasi dan mendapatkan beasiswa. Sungguh ia sangat menginginkan hal itu. Tapi, dirinya tak mampu untuk melakukannya, walaupun bisa diusahakan namun itu sangat membutuhkan waktu yang lama.

Saat di kampus, Jia di panggil oleh bagian keuangan. Mereka bilang, Jia belum melunasi biaya untuk semester 6 ini. Ia berjanji akan segera melunasinya, namun Jia meminta keluangan waktu untuk membayarnya. Tetapi, bagian keuangan bilang ini peringatan terakhirnya, kalau tidak segera dibayar Jia tidak akan bisa mengikuti kelas lagi.

Jia pun sangat putus asa, rasanya ia akan benar-benar berhenti kuliah. Ia terus membujuk pada bagian keuangan untuk memberikan keringanan dalam membayar biaya kuliah. Saat Jia sedang memohon-mohon, ada seseorang yang menghampirinya.

“Ada apa ini?” tanya seorang laki-laki paruh baya.

Jia pun langsung terperanjat ketika ketua yayasan itu menghampirinya. Ia terdiam dan menunduk malu. Bagian keuangan pun menjelaskan permasalahan yang dialami Jia pada ketua yayasan yang bernama Pak Wijaya.

“Kalau begitu, saya yang akan membayarkannya,” lugas pak Wijaya.

Jia langsung mengangkat kepalanya, “Tidak usah pak, insya Allah saya akan membayarnya. Tapi, saya minta keringanan waktu Pak,” sahut Jia.

“Sudah, tidak apa-apa, anggap saja ini hadiah untuk mahasiswa yang rajin seperti kamu,” ucap ringan Pak Wijaya.

“Saya benar-benar berterimakasih banyak Pak, saya janji akan segera menggantikannya.”

“Tenang saja, tidak usah dipikirkan.”

Setelah selesai membereskan masalahnya, Jia diminta Pak Wijaya untuk datang ke ruangannya.

“Assalamu’alaikum, Bapak panggil saya ya?” tanya Jia yang berdiri diambang pintu.

“Iya, silahkan masuk!”

Jia sangat bingung, apakah ini ada hubungannya dengan biaya kuliahnya. Sehingga ia di panggil lagi oleh Pak Wijaya.

“Apakah kamu satu kelas dengan mahasiswa yang bernama Alvino? Dan apa kamu berteman dengan dia?”

“Iya pak, dia teman satu kelas saya. Kenapa ya pak?” Jia mulai penasaran, kenapa tiba-tiba Pak Wijaya menanyakan soal Alvino.

“Saya boleh minta tolong?”

“Insya Allah kalau sekiranya saya bisa, saya akan tolong pak.”

“Saya minta tolong sama kamu, bantu Alvino untuk merubah sikapnya menjadi lebih baik lagi,” permintaanya membuat Jia kebingungan.

“Maaf, maksud Bapak apa ya?”

“jadi, Alvino adalah anak saya. Kerjaannya selalu saja main dan gak mau kuliah, saya minta kamu untuk merubah sikapnya. Kamu, bisa kan?”

“Saya sudah sangat pusing mengurus anak itu, dia selalu tidak menuruti saya. Dan saya harap, kamu bisa membantunya untuk berubah,” sambung Pak Wijaya.

Jia sangat terperanjat saat Pak Wijaya mengakui bahwa Al adalah anaknya. Ia benar-benar tak percaya. Jia memikirkannya matang-matang. Di sisi lain, ia tak mau berurusan dengan Al lagi. Tapi, di sisi lain ia tak bisa menolak permintaan dari pak Wijaya yang telah berbuat baik padanya.

Dengan berat hati, Jia pun mengiyakan permintaan Pak Wijaya. Bagaimanapun juga semua ini demi membantunya, karena Pak Wijaya pun sudah membantu meringankan bebannya.

“Terimakasih ya, saya tahu kamu orang yang sangat baik. Kalau begitu, kamu bisa langsung bantu keseharian Al saat berada di kampus dan datang ke rumah saya setiap hari minggu untuk mengajari Al tentang pelajaran kampus,” jelas Pak Wijaya.

Jia hanya mengangguk lalu pamit meningalkan ruangan Pak Wijaya. Diperjalanan menuju kelas, tak henti-hentinya Jia memikirkan permintaan Pak Wijaya.

“bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Dan aku harus bilang apa sama Al?” gumamnya dalam hati.

Saat di dekat kelas, Jia melihat Al sedang berdiri sendirian. Ia pun segera menghampirinya, dan berusaha berbicara padanya mengenai permitaan Pak Wijaya.

“Al,” ucap Jia pelan namun masih terdengar oleh Al, dan Al hanya meliriknya.

“Hmm, barusan aku di panggil Pak Wijaya.”

“Mau ngapain?” sambar Al yang sangat penasaran.

“Aku udah tahu semuanya Al. Beliau bilang, kamu adalah anaknya.” jawab Jia, lalu seketika Al terdiam.

“Dan dia minta, agar aku bantuin kamu buat bisa berubah dan bantu mempelajari mata kuliah di kampus,” sambung Jia.

“Terus lo mau?” Jia hanya mengangguk.

“kenapa? Kenapa lo mau?” tanya Al kembali.

“Aku mana mungkin bisa nolak Al. beliau sangat baik sama aku, aku punya alasan kuat untuk menerima permintaanya.” Jawaban Jia selalu membuat Al terdiam.

“Terus aku juga disuruh Pak Wijaya buat bisa merubah penampilan kamu dan disuruh datang ke rumahnya setiap hari minggu,” sambung Jia.

“Terserah,” jawab Al sambil berlalu meninggalkan Jia.

Jia sangat jengkel dengan kelakuan Al. mulai sekarang ia harus banyak-banyak belajar bersabar menghadapi sikap Al. Dan semoga Jia benar-benar bisa mengubah sikap Al.

***

Pada malam hari, di kamar Jia.

Jia sedang mengerjakan tugas di kamarnya, terdengar ketukan pintu kamarnya dan suara yang memanggil namanya. Dibukakan pintu kamar dan ternya itu adalah kedua adiknya.

“Maaf kak, Yoga sama Yogi pengen bicara.”

“Boleh, sini masuk!” mereka pun memasuki kamar sang kakak.

“Ada apa nih? Gimana sekolahnya, lancarkan?” sambung Jia.

“Alhamdulillah kak semuanya lancar, dan Alhamdulillah Yoga sama Yogi selalu dapat nilai yang bagus,” jawab Yoga.

“Alhamdulillah kalau gitu.”

Jia mendengarkan cerita mereka sembari meneruskan tugasnya. Beberapa menit, keheningan menyelimuti mereka.

“Hmm, jadi gini kak. Kita belum bayar spp bulan ini,” terang Yogi.

“Oh iya ya, kakak lupa. Secepatnya kakak akan bayar ya, tapi bilangin ke bu guru maaf bayarnya agak telat.”

“Iya kak. Tapi kak, kalau kita kasih tahu Ayah sama Ibu gimana?” tanya Yoga.

“Gak usah, biar kakak aja yang urus semuanya,” jawab Jia dengan cepat.

“Iya kak kalau gitu, makasih ya kak. Kita ke kamar dulu,” ucap Yoga. Mereka pun beranjak dari kamar Jia.

“Aku harus cari kerja lagi, tapi dimana ya?”

tanya Jia pada dirinya. Jia termenung di meja belajarnya. Ia terus memikirkan tempat kerja yang cocok untuknya, dan yang tidak menganggu jam perkuliahan.

Setelah berpikir panjang, Jia pun menemukan tempat kerja yang cocok unntuk dirinya. Dan tempatnya tidak jauh dari tempat tinggalnya.

“Aku coba lamar ke kafe aja kali ya? siapa tahu mereka mau nerima aku,” gumam Jia.

Keesokan hari setelah pulang kampus Jia langsung pergi ke kafe, ia menemui karyawan disana yang sudah lama mengenalnya, namanya Mba Tia. Dia senantiasa membantu Jia untuk bisa bekerja di kafe itu. Dengan beberapa berkas yang disiapkan, ia pun menemui pemilik kafe singgah.

“Mari Mba saya antar ke ruangan Pak bos,” ajak Mba Tia.

Jia mengangguk dan membuntuti langkah Mba Tia. Saat sampai di ruangan, ia bertemu dengan seorang laki-laki berbadan tinggi namun sedikit kurus, mengenakan jas hitam dan dasi berwarnya army, kulitnya sedikit hitam tapi manis, dipadukan dengan rambut hitamnya yang membuatnya semakin manis.

“Silahkan duduk!” ucap pemilik kafe.

“Terimakasih Pak,” sahut Jia.

“Saya Surya, selaku penanggung jawab sekaligus pemilik kafe ini,” sambung Surya.

Jia terpesona dengan penampilan bos kafe itu. Bagaimana bisa, selama ini ia sering ke kafe ini dan tidak tahu sama sekali dengan pemilik kafe yang ternyata masih muda dan sepertinya umur laki-laki itu tidak terpaut jauh dengan Jia. Sungguh Jia sangat terkagum melihatnya.

“Iya Pak, nama saya Syajia. Saya kesini ingin melamar pekerjaan Pak,” ucap Jia sedikit gugup.

“Kebetulan sekali, kami sedang mencari karyawan tambahan.”

“Alhamdulillah. Tapi Pak mohon maaf sebelumnya, sebenarnya saya seorang mahasiswa. Jadi, apakah saya bisa bekerja setengah hari dari sore sampai malam?”

“Oh kamu sambil kuliah? jurusan apa?”

“Ekonomi Pak.”

“Baik, kalalu begitu, kamu bisa langsung kerja besok sebagai kasir. Kamu siap?”

“Alhamdulillah, saya siap Pak. Terimakasih banyak ya Pak.”

Jia sangat senang mendengar kabar baik itu. Akhirnya ia bisa mendpatkan penghasilan kembali dan bisa membiayai perkuliahan dan sekolah adiknya.

1
Aixaming
Aku gak pernah menyangka kalau membaca cerita bisa membuatku merasa sebahagia ini.
Ayu Geamul: terimakasih ya sudah membaca ceritaku🙌🏻
total 1 replies
Dianapunky
Cocok di hati nih.
Ayu Geamul: terimakasih kak 🥰 jangan lupa mampir lagi untuk baca bab selanjutnya 🤗☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!