Asmara dan Andra jarang mengobrol walau pun sudah 10 tahun bertetangga, dan rumah mereka berseberangan. Namun suatu kejadian tragis malah mendekatkan mereka. Herannya, masalah datang bertubi-tubi, sampai Asmara mendapati kalau Andra adalah Boss baru di kantornya.
Sejak itu mereka saling mengamati. Lagipula... Tetangga itu memang adalah CCTV terbaik, bukan?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Asmara
Sambil menatap nanar ke depan, Andra dan Revan mengiringi kepergian Pak Waru yang terseok-seok masuk ke arah pasar di samping beton gang buntu. Katanya ia tidak ingin terlihat aparat, jadi arah datang dan arah pulang harus berbeda.
Pak Waru dan Ibunya Revan selama awal-awal Revan diadopsi oleh Andra memang rutin mengunjungi Revan sebulan sekali.
Mutia waktu itu tak setuju, menurut wanita itu kedatangan Pak Waru mengganggu waktu liburnya. Kalau begitu ingin Revan kembali ya sudah ambil saja anak itu, jangan setiap bulan datang.
Tapi Andra tidak berpandangan sama dengan Mutia, walau pun ia tidak mendebat wanita itu secara langsung karena menghindari keributan. Jadi setiap bulannya, Andra membawa Revan jalan-jalan berdua saja, makan eskrim atau fast food, sambil diam-diam bertemu dengan Pak Waru dan ibunya Revan. Revan cukup mengerti posisinya, dan ia menyayangi kedua ayahnya dan kedua ibunya.
Namun saat Revan memasuki usia 10 tahun, Pak Waru dan Ibunya Revan tidak pernah datang lagi. Sampai saat ini.
“Bapak sudah tua…” desis Revan sedih.
“He’em…”
“Dia bahkan nggak mau bilang di mana kuburan ibu.”
“Hm…”
“Aku harus gimana Ayah?”
“Nurut saja sama bapak. Daripada dia khawatir.” kata Andra. Walau pun sebenarnya dia tidak setuju juga dengan sikap Pak waru. Bagaimana pun seorang anak, apalagi anak laki-laki yang diingatannya lekat sekali kehangatan ibunya, berhak untuk tahu detail kabar ibunya sendiri. Surganya telah hilang sekarang. Jadi wajar kalau Revan berduka.
Di lain pihak, Andra juga tak ingin lebih menyusahkan Pak Waru, lebih membuat khawatir Pak Waru.
“Ayah?” Revan menoleh ke Andra.
“Ya?”
“Mau menolong kami sekali lagi?”
Andra tahu ke arah mana pertanyaan Revan.
Ia hanya bisa menarik nafas panjang dan mengalihkan pandangannya.
“Menikah sebentar saja juga tak apa, Ayah. Yang penting adik Revan bisa diadopsi.” kata Revan mulai merajuk.
“Maksud kamu nikah kontrak?”
“Ya gitu deh, apa kek namanya. Nikah dengan tujuan tertentu.”
“Menikah itu harus dengan tujuan mendapatkan Ridho Tuhan, Revan…”
“Tapi banyak kok yang Nikah Kontrak, Yah.”
“Menikah tidak bisa asal ijab-kabul, Revan…dan pernikahan kontrak itu kok rasanya terasa salah ya dihati Ayah… nikah kontrak itu seakan merugikan kaum wanita karena hanya diumpamakan seperti benda yang dipindah dari satu orang ke orang lainnya hanya untuk tujuan kepuasan tertentu saja, salah satunya syahwat, atau kewarganegaraan… atau bisnis.”
Revan pun menghela nafas panjang lalu menunduk. “Benar juga… tidak adil untuk pihak istri ya...” gumamnya makin sedih. Ia akhirnya berpendapat sama dengan Andra, jangan sampai masalahnya kali ini malah membuat orang lain jadi iku-ikutan susah.
“Ayah akan cari cara agar bisa memindahkan adik kamu ke sini. Ke samping kamu. Dengan cara yang legal. Ayah akan cari dulu keberadaan Pak Waru diam-diam. Mungkin menyewa jasa Private Investigation.” kata Andra kemudian sambil meletakkan tangannya di atas kepala Revan.
Ia tahu anak itu sekarang sangat berduka, juga kebingungan.
Revan adalah anak yang dia tahu selalu bersikap santai, ceria, mudah bergaul. Waktu dia dilarang berhubungan dengan Kitty saja ia masih terlihat cengengesan.
Tapi, saat ini mimik anak ini berbeda. Melihat raut wajahnya yang muram seperti ini membuat hati Andra seakan teriris.
“Revan? Kenapa?” tanya Kitty sambil menghampiri mereka berdua. Gadis itu sudah dengan seragam sekolah dan tasnya, siap untuk berangkat sejak satu jam yang lalu, tapi Revan tidak keluar dari rumah, jadi dia memutuskan untuk menunggu. Ya jelas saja telat, tapi Kitty merasakan ada yang tidak beres sejak bapak-bapak berpakaian lusuh tadi masuk ke dalam rumah Andra. Kitty sempat melihat Revan memeluk bapak-bapak tadi soalnya. Gadis itu jelas bertanya-tanya.
Apakah kerabat? Atau seseorang yang berarti buat Revan? Yang jelas Kitty belum pernah melihat bapak-bapak tadi.
Asmara berjalan ke arah Andra sambil mengernyit. “Pak Andra, itu Pak Waru kan ya?”
Andra mengangkat alisnya, “Ibu kenal?”
“Kenal, tapi sudah lama sekali tidak bertemu. Dulu dia suka ke rumah Pak Andra kan? Nah suami- eh mantan suami saya, minta tolong dia buat cari sumber air untuk cadangan air tanah. Langsung ketemu Pak. Sejak itu dia tidak ke rumah Pak Andra lagi.”
“Iya…” Andra tersenyum tipis.
Tapi lalu senyumannya sirna karena matanya langsung reflek ke arah dada Asmara.
“Pak Waru itu saudaranya Pak Andra?” tanya Asmara.
“Hm… bukan, sih…” Asmara katanya hari ini cuti, jadi wanita itu hanya memakai kaos polos. sebenarnya bagian lehernya tidak terlalu ke bawah, tapi memang dasar otak kotornya Andra saja yang langsung menguasai.
“Pak Waru itu Bapak Kandung saya, Tante.” jawab Revan.
Kitty dan Asmara langsung memekik tertahan.
Apalagi setelah itu Revan menunduk dan mulai terisak.
“Dia… huk… dia datang untuk mengabarkan kalau ibu saya…” Revan tidak mampu meneruskan kalimatnya. Pemuda itu langsung berlutut di tanah sambil menutupi wajahnya, ia sesenggukan menangis.
Revan sudah tidak peduli lagi kalau ia berada di depan rumahnya, orang-orang yang berjalan ke arah pasar melalui pintu penghubung melihat ke arahnya, bertanya-tanya mengenai keadaan dirinya. Berhenti sejenak sambil menatap Andra dengan pandangan bertanya, tapi Andra hanya bisa menunduk memberi hormat dan mempersilakan warga untuk lewat.
Revan hanya ingin menangis.
Kitty memeluknya dengan wajah sedih, tapi tidak mampu mengucapkan kata-kata apa pun karena gadis itu juga kebingungan.
“Ibu Revan baru saja meninggal, dan meninggalkan seorang adik yang masih bayi.” Jelas Andra selanjutnya.
“Dimana bayinya? Ada di dalam?” tanya Asmara sambil menunjuk pintu masuk Andra.
Andra pun menggeleng, “Pak Waru tidak ingin memberi tahu kami, sampai…” Andra pun terdiam, sambil berpikir. Masalah serumit ini apakah ia perlu memberitahukannya ke Asmara?
“Sampai?” tanya Asmara lagi.
“Terlalu rumit sih bu, masalahnya.”
“Tapi apa tega melihat anak-anak seperti ini?” tanya Asmara, “Siapa tahu saya bisa membantu.”
Andra menggeleng. Masalah Asmara sudah terlalu banyak. Bisa-bisanya wanita ini malah menawarkan bantuan.
Lalu Andra pun tersenyum, “InsyaAllah akan saya selesaikan.” Lalu membantu Revan berdiri dan masuk ke dalam rumah bersama Kitty.
Asmara berdiri diam di depan pagar sambil berpikir.
Tapi kemudian ia dikejutkan dengan suara keras sekali berdentum di belakangnya.
BRUAGHH!!
Ia pun berbalik dan ternganga, tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini.
Atap rumahnya ambruk!!
“Kenapa ini? Kok bisa?!” serunya panik.
“Buk! Rangka atapnya habis semua dimakan rayap Buk!” seru para tukang sambil berlarian menjauh.
“Astaga…” Asmara melihat rumahnya sambil mengelus dadanya.
Dalam hatinya ia mengucapkan syukur.
Bayangkan… kalau atap itu rubuh tadi malam, saat ia dan Kitty ada di dalamnya! Atau 5 menit yang lalu saat Kitty leha-leha di ruang tamu karena menunggu Revan keluar dari rumah!
“Mah? WOAAAHHHH Gilaaaa!!” seru Kitty kaget melihat rumahnya. “Aku 5 menit sebelum ini masih duduk di ruang tamu Mah!!” serunya panik. “Emang paling bener nginep di rumah Rosa aja!”
“Ya Tuhan… Ya Allah…” Asmara berjongkok di trotoar mengatus nafasnya yang tersengal. Ia dan Kitty selamat kali ini. “Ya Tuhan, kita selamat Nak…”
“Tapi kita nggak punya rumah Mah!”
“Yang penting kamu nggak kenapa-napa…” desis Asmara sambil memeluk Kitty.
Andra dan Revan hanya bisa memandang kejadian itu dengan terdiam. Lalu sama-sama mengusap wajah mereka.
aahh, aku ralat.. yang KEREN ADALAH MADAM @Angspoer
yakin madam makannya hanya nasi dkk doank? canggih banget sumpah isi otaknya.... aku padamu madam.. @Angspoer