"Apa ini? ternyata selama ini kamu selingkuh di belakangku? setelah apa yang aku berikan padamu?"
Fee melempar foto-foto mesra Ronald bersama dengan Dinda, sekretaris pribadinya.
"Aku minta maaf, aku khilaf. Tapi aku tidak bisa melepasnya begitu saja, karena dia sedang hamil anakku?"
Fee tersenyum sinis," apa kamu yakin jika ia hamil anakmu?"
PLAk!
Satu tamparan mendarat di pipi Fee.
"Baiklah, kalau begitu!"
Apakah yang akan di lakukan oleh, Fee pada Ronald dan Dinda?"
Mari kita simak kisah Fee, yang tegar menghadapi permasalahan hidupnya karena di hianati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran Dengan Sosok Misterius
Fee hanya bisa menggelengkan kepalanya pada saat melihat kepergian suaminya," heran, datang-datang menuduh macam-macam. Aku sibuk nggak ada waktu untuk mengurusi dirinya sampai sedetail itu menyebar aibnya kepada setiap perusahaan besar. Pikiranku nggak sampai sejauh itu."
"Salut aku dengan orang yang melakukan hal itu. Sama saja membantuku untuk memberikan pelajaran setimpal untuk si tukang selingkuh."
Fee menelpon Boby untuk masuk ke dalam ruang kerjanya, karena ada hal yang ingin ia katakan padanya. Secepat kilat Boby pun datang dan kini sudah ada di hadapan Fee.
"Bob, ada tugas penting untukmu. Usahakan kamu berhasil ya. Jika perlu kamu kerahkan seluruh anak buahmu untuk mencari orang yang aku inginkan," ucap Fee.
"Memangnya siapa orang yang sedang, Non Fee inginkan?" Boby memicingkan alisnya.
Fee menceritakan pada Boby tentang sosok misterius yang telah mengirimkan surat dan bukti foto-foto mesra perselingkuhan antara Ronald dan Dinda.
Fee meminta pada Boby untuk menemukan sosok itu, karena dirinya ingin mengucapkan terima kasih dan juga akan memberinya imbalan untuk balas jasa.
"Aduhhhhhh... tugas yang tidak mudah. Karena sosok misterius itu adalah aku sendiri. Lantas bagaimana caranya aku beralasan pada, Non Fee jika aku tidak bisa melakukan tugas ini ya?" batin Boby.
"Bob, kenapa kamu diam dan kesannya nggak bersemangat seperti itu? biasanya kamu sangat bersemangat jika aku beri tugas?" tegur Fee yang melihat wajah Boby begitu masam.
"Bukan begitu, Non Fee. Karena tugas anda kali ini terbilang susah juga. Karena buktinya kurang akurat untuk mencari tahu keberadaan si sosok misterius itu," ucap Boby.
"Hem, tumben kamu menyerah sebelum berperang? hari ini aku tidak melihat sosok Boby yang seperti biasanya. Ada apa? apakah kamu sedang ada permasalahan pribadi? katakan saja padaku, siapa tahu aku bisa bantu sedikit memberikan sebuah solusi untukmu," ucap Fee terus saja menatap ke arah Boby yang terus saja menunduk.
Boby semakin dilema, karena memang dia sedang ada masalah hati. Dimana dia jatuh cinta dengan bos-nya sendiri. Dan itu tidak mungkin ia ceritakan pada, Fee.
"Ya sudah, jika kamu enggan untuk bercerita padaku. Aku juga bukan tripikal orang yang memaksa. Aku minta kamu coba dulu menjalankan tugas dariku ini. Jika memang nantinya kamu tidak berhasil, aku tidak akan marah padamu."
Boby hanya mengiyakan saja, tetapi dia tidak akan melakukan apapun. Karena tugas itu menyangkut dirinya sendiri. Tugas untuk menyelidiki sosok yang membantu menguak perselingkuhan suaminya. Karena sosok itu adalah dirinya sendiri.
"Ya sudah, kamu kembali ke mobil. Sebentar lagi kamu istirahat siang dan aku ingin kamu memesankanku makan siang di cafe kesayanganku ya."
Boby hanya menganggukkan kepalanya perlahan setelah itu pamit meninggalkan ruangan tersebut.
"Aneh, nggak seperti biasanya Boby kurang bersemangat pada saat di beri tugas. Biasanya dia paling antusias kalau di beri tugas tentang penyelidikan. wajahnya terlihat masam, bahkan tidak seperti biasanya tidak mau menatapku saat berbicara padaku. Sebenarnya ada apa dengannya ya?" gumam Fee.
Dia pun berinisiatif akan mencari sendiri sosok misterius itu jika memang Boby tidak berhasil menemukannya. Karena dia sangat berhutang budi pada sosok tersebut.
Jika tidak ada bantuannya, mungkin Fee tidak akan tahu hingga saat ini tentang perselingkuhan suaminya tersebut. Sejak dia mengetahuinya, kadang dia merasa jijik sendiri.
"Aku selalu membayangkan betapa bodohnya aku jika Ronald sering melakukan hubungan intim dengan si Dinda, terus melakukannya denganku."
"Bodoh banget ku, tidak peka dengan perselingkuhan suamiku. Apa karena Ronald begitu lihai menutupinya ya?"
"Yang aku heran, bagaimana bisa sosok itu menangkap basah Ronald ya? ah, kok aku jadi terus memikirkan sosok misterius itu ya? bahkan aku memikirkan dia itu seorang wanita atau pria?"
Fee terus saja melamunkan sosok misterius tersebut. Jika dia belum berhasil menemukan sosok itu, dia akan terus penasaran.
Sementara saat ini Ronald terus saja mengumpat di dalam hatinya," sialan banget orang yang telah menyebarkan aibku pada setiap perusahaan besar yang ada di kota ini. Jika aku telah mengetahuinya, aku akan menghancurkan balik orang itu! entah dia wanita atau pria, aku tidak akan gentar!"
Ronald terus saja memikirkan siapa kiranya orang yang telah menghancurkan dirinya.
"Apakah dia, Dinda? aku rasa bisa saja Dinda yang melakukan hal ini. Aku harus segera ke rumah Dinda Sekari juga untuk menanyakan apa maksud perbuatannya padaku."
Ronald mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah, ia justru menyambangi rumah Dinda.
"Pintu rumah kok nggak di kunci ya?"
Ronald membuka secara perlahan pintu rumah tersebut.
Dia pun melangkah perlahan tanpa bersuara mencari keberadaan, Dinda.
"Aaahhhh...yeeeessss.... terus...
sayang.... goyang... yang... lebih kenceng lagi..."
Terdengar jelas suara, Dinda sedang melenguh keenakan.
"Hhee....mantap sekali..kue apemmu ini....legit menggigit sekali... sayang..."
Kini terdengar suara seorang pria, hal ini membuat Ronald semakin penasaran.
Dia pun mencari sumber suara yang ternyata ada di dapur. Dengan kata kepala sendiri, Ronald melihat penyatuan tubuh yang sedang di lakukan oleh, Dinda dan pacarnya.
Dimana posisi Dinda membelakangi sang pemuda tersebut.
"Dasar wanita murahan!" teriak Ronald murka.
Sontak saja Dinda dan pemuda yang sedang asik melakukan penyatuan tubuh tersebut terhenyak kaget. Dinda menyambar pakaiannya yang ada berserakan di lantai. Begitu pula dengan pemudanya tersebut.
"Sayang, siapa pria ini? kenapa main masuk saja, menggangu kita saja!" hardik pemuda itu tidak merasa malu sama sekali.
Ia mengenakan pakaiannya di hadapan Ronald.
"Makanya kalau mau mes*um di kunci dulu pintunya, jangan dibiarkan terbuka lebar," Ronals menyela Dinda yang akan berbicara.
Barulah Dinda berkata," kamu saja yang lancang masuk rumah orang!"
"Dia seseorang yang pernah suka padaku, tetapi aku tolak. Hingga kini dia terus saja mengejar-ngejar aku, sayang," ucap Dinda berbohong.
Pemuda yang saat ini sedang bersama Dinda lain lagi dengan pemuda yang waktu itu pernah Ronald lihat sedang berciuman di ruang tamu bersama, Dinda.
"Sayang, kamu urus pria itu dulu! aku ada urusan, mamahku tiba-tiba menelpon. Nanti kita berkabar ya?"
Pemuda tersebut berlalu pergi begitu saja seraya menganggu telpon dari seseorang.
"Ada apa sih, mas? kamu datang lagi kemari? apa belum jelas juga dengan yang aku katakan waktu itu, jika kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi!" umpat Dinda kesal.
"Dasar wanita menjijikan! aku benar-benar menyesal telah memperjuangkan dirimu!"
"Apa maksudmu mengasut para pemimpin perusahaan besar di kota ini dengan mengatakan jika aku telah selingkuh, hah?"
Dinda melongo mendengar tuduhan yang di lontarkan oleh Ronald.