"Ceraikan Rey, dan kembalilah padaku!"
"Aku tidak bisa." Ujar Amora dengan wajah datar.
Farhan menatap Amora dengan bingung.
"Kenapa? Bukankah kita sudah sepakat menjadikan Rey sebagai suami sementara agar kita bisa menikah kembali?"
"Aku mencintainya."
"Apa?"
"Kami saling mencintai dan sampai kapanpun kami tidak akan pernah bercerai. Terimakasih karena memilihkan Reyhan untuk menjadi suami sementara untukku. Tapi sekarang semuanya berbeda. Aku ingin dia menjadi suamiku selamanya. Dan maaf, aku tidak bisa kembali padamu."
Awalnya, Farhan memilih sepupunya yang bernama Reyhan untuk menjadi suami sementara bagi Amora sang mantan istri agar keduanya bisa rujuk kembali. Ia sudah menjatuhkan talak tiga, dan jika ingin kembali pada Amora maka Amora harus menikah dengan pria lain terlebih dahulu. Tapi siapa sangka, cinta tumbuh antara Amora dan Reyhan hingga mereka tak ingin berpisah. Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Republik Septy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar bos mesum
“Ayo turun!” suara Reyhan mengagetkan Amora yang masih memejamkan mata dengan tangan memeluk pria itu dengan erat membuat Reyhan tersenyum penuh arti.
“Apakah sudah sampai?” tanya Amora seraya membuka matanya perlahan. Ia melepaskan pelukannya dengan cepat. Baru menyadari mereka sedekat itu. Tubuhnya masih gemetar karena takut. Sepanjang perjalanan tak sedikit pun Amora melepaskan pelukannya pada Reyhan. Ia sangat ketakutan, dan tak berani untuk membuka mata.
“Jangan pura-pura! Bilang aja kamu tidak rela melepaskan pelukan dariku ‘kan?” Cibir Reyhan sambil menyeringai penuh kemenangan, sedetik kemudian di balas dengan pukulan yang mendarat di bahunya.
“Aduh, sakit. Kamu makan apa sih? Tenaganya seperti kuli! Sakit banget.” Reyhan mengaduh. Ia mengusap bahunya yang terasa sedikit sakit akibat pukulan Amora.
“Kadang makan paku, kadang juga besi malah kemarin makan kawat plus pengkhianatan yang di bungkus rapi dengan janji manis.” Jawab Amora dengan kesal. Ia melepaskan helm yang ada di kepalanya. Tapi ia terlihat kesulitan hingga membuatnya semakin kesal.
“Ini kenapa susah banget, sih.” Gerutunya seraya terus berusaha melepaskan helm berwarna hitam yang ada di kepalanya.
Reyhan mengulurkan tangan untuk membantu tapi segera di tepis oleh Amora.
“Mau apa kamu?” ia mendelik, menarik kepalanya ke belakang sedangkan Reyhan dengan sabar membantu melepaskan helm yang di kenakan Amora.
“Semua itu lakukan dengan hati, mbak. Jangan pakai emosi,” sindir Reyhan setelah kaitan helm terlepas. Pria itu segera melepaskan helm dari kepala Amora.
“Salah! Mana ada pakai hati. Yang benar itu pakai tangan! Dasar pria aneh.” Gerutunya seraya memperbaiki rambut yang kusut. Reyhan hanya tertawa mendengar Amora. Wanita itu segera meninggalkan Reyhan yang sedang sibuk meletakkan helm di bagian depan motornya.
Ketika Amora sudah menjauh, Reyhan baru menyadarinya.
“He, ke mana dia!” Reyhan celingukan mencari keberadaan Amora yang sudah tak terlihat.
“Astaga ! Mengucapkan terima kasih pun tidak.” Ujarnya seraya menggeleng kan kepala. Bukan ucapan terima kasih yang sebenarnya ia tunggu, tapi jika di beri waktu maka ia ingin lebih lama menatap wajah wanita yang selalu di hatinya itu.
Reyhan segera melajukan motornya meninggalkan pelataran gedung menuju kantor tempatnya bekerja yang tak jauh dari sana.
Amora berjalan dengan cepat menuju meja kerjanya.
“Datang juga kamu?” suara cempreng terdengar di belakang Amora. Membuat wanita itu terkejut bukan main. Ia sedikit berjingkat dan refleks memegangi dada, sedetik kemudian wanita itu segera menolehkan kepalanya. Ia menunduk sebentar lalu memberi salam.
“Pagi, Pak. Maaf saya sedikit terlambat.” Ujarnya dengan wajah bersalah.
“Sedikit katamu? Kamu pikir kantor ini milik Bapak kamu?”
“Maaf.” Amora menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Sudah-sudah. Untung cantik, kalau tidak sudah saya pecat kamu!” ucap pria berkepala plontos itu dengan pandangan mesum. Amora sangat tahu kelakuan bosnya karena ia sering memergoki pandangan pria itu seperti hendak menelanjanginya.
Jika saja mencari pekerjaan mudah seperti melupakan mantan, maka ia tidak segan-segan melemparkan surat pengunduran diri pada bos mesum itu. Ia bertahan karena tidak ada pilihan lain. Setidaknya pekerjaan ini yang membuatnya hidup beberapa tahun. Menjadi sekretaris dari seorang bos mesum yang menjijikkan membuatnya harus pandai menjaga diri.
Ia lebih memilih mengabaikan pandangan penuh nafsu dari bosnya. Bahkan bos mesum itu tidak segan-segan menunjukkan ketertarikannya pada Amora. Membuat wanita itu muak luar biasa. Ah ... Seandainya saja dia terlahir menjadi konglomerat, maka ia akan membeli perusahaan ini dan melempar jauh-jauh si bos mesum.
“Cepat siapkan berkasnya dan pergi ke ruang rapat! Aku tidak mau menunggu lama lagi.” Ujar pria itu seraya berjalan meninggalkan meja Amora.
“Baik, Pak.” Jawab Amora dengan masih menunduk.
Setelah suara sepatu bos itu menjauh, maka Amora dengan cepat mengangkat kepalanya yang terasa pegal.
“Dasar bos mesum gila!” umpatnya dengan kesal. Ingin sekali rasanya ia melemparkan high heels yang ia kenakan. Siapa tahu bisa membuat otak dan pikiran bos mesum itu menjadi normal. Amora segera menyiapkan semua berkas yang di butuhkan. Mengabaikan rasa kesal yang meluap. Bagaimana pun ia harus bersikap profesional.
“Untung aku sabar.” Ujar wanita itu sembari berjalan anggun menuju ruang rapat.
☘️☘️☘️
Amora pulang ketika hari mulai gelap. Matahari tak lagi menunjukkan sinarnya, berganti dengan bulan yang menyembul malu-malu. Amora memasuki apartemennya dengan tubuh yang lelah. Ia berencana akan berendam agar bisa merilekskan tubuh serta kepalanya yang penuh.
Baru beberapa langkah kakinya menapaki ruang tamu, ia mendengar suara gaduh yang berasal dari dapur. Bau masakan menguar berebut memasuki indera penciumannya. Membuat kampung tengah berdemo minta isi. Ia berjalan perlahan menuju dapur, meletakkan tas kerjanya ke sofa yang ada di ruang tamu.
Seorang pria terlihat sedang sibuk berkutat di dapur, dengan celemek yang menempel di tubuhnya. Amora menghentikan langkahnya tak jauh dari meja makan kecil dengan dua kursi yang tertata rapi. Terlihat beberapa masakan kesukaannya terhidang di sana. Ada sayur asem, tempe goreng dan sepiring perkedel. Masakan rumahan biasa tapi bisa membuat Amora kalap untuk menambah nasi.
Pria yang sedang berkutat dengan penggorengan itu tak menyadari kehadiran Amora yang sedang berdiri terpaku di tempatnya. Memperhatikan gerak gerik pria itu dengan pandangan yang tak bisa di jelaskan. Hingga ketika pria itu menyelesaikan masakan terakhirnya dan menoleh, barulah ia menyadari kehadiran Amora.
Ia terkejut. Dan hampir saja sepiring ayam goreng yang sedang ia pegang jatuh ke lantai. Mata mereka bertemu, sedetik kemudian pria dengan kaos berwarna hitam itu melangkah menuju meja makan.
“Amora, kau sudah pulang?” tanya pria itu sembari tersenyum. Ia meletakkan ayam goreng buatannya ke atas meja, lalu berjalan menghampiri Amora yang masih setia berdiri di tempatnya.
“Kenapa bisa ada di sini?” tanya Amora datar.
☘️☘️☘️
Hayo tebak, siapa itu? 🤭🤭
Jangan lupa like dan komentarnya ya zheyeng 😘
Di kasih mawar atau kopi lebih bagus lagi🤭🤭 biar author kuat begadang supaya bisa crazy up 🤣🤣
(Ngelunjak yah,)
Hahaha...🤣🤣
amora - evan = amora masih menunjukkan sikap baik saja, masih canggung menunjukkan sikap nyeleneh nya, masih tidak bebas berekspresi
amora - reyhan = disini amora merasa tampa bebas menunjukkan semua sikap, amora merasa bebas dan nyaman berekspresi apapun, jadi tampa sadar amora merasa nyaman berhubungan dengan reyhan yang akhirnya menimbulkan benih cinta
sampai episode ini sebenarnya aku masih tidak suka sikap amora yang tidak sadar statusnya dan kayak tidak menghargai dan menjaga harga dirinya sebagai seorang istri dia masih menunggu pria lain dan gampang berinteraksi berduaan dengan pri lain, tapi setelah episode ini aku suka sifat amora yang belajar dari kesalahan lalu dan belajar menjadi istri yang sesungguhnya dan menghargai suaminya dan satu lagi, amora wanita tanggu yang berani mengaku salah dan berjuang untuk dapat kesempatan
tampa kitasadarir sebenarnya novel ini sangat bagus karena teori sebab akibat terjadi di novel ini