NovelToon NovelToon
My Crazy CEO

My Crazy CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:408.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ria Mariana

Update kalo ingat.

NOTE : CERITA INI BIKIN NGAKAK SALTO-SALTO

Sekuel Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

"Roseline, ku perintahkan kau untuk menjadi pacarku!" ucap Navier Alister.

Roseline yang baru saja menjadi sekertaris Tuan Muda Navier hanya terheran. Orang aneh dan idiot seperti Navier menyuruh untuk menjadi pacarnya.

"Tuan muda Navier yang tampan tapi somplak mengajakku berpacaran?" gumam Roseline.

Roseline mundur perlahan ketika Tuan Muda Navier mendekatinya, perlahan lahan semakin dekat, semakin dekat. "Ku tunggu jawabanmu malam ini," ucap Navier.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Hidung Seline - Visual tokoh

"Hai, cewek kurang ajar," sapa Navier.

Tubuh Roseline seakan membeku. Jantungnya berdegup kencang dan rasanya ingin meledak. Dia menundukkan kepala tidak mau menatap Navier.

Ekor mata Seline justru melihat disekelilingnya yang seperti ruangan anak kecil.

Parah, cowok ini memang sinting. Ada ya ruangan bos besar terdapat boneka boneka?

"Hei!" bentak Navier.

"Ya?" jawab refleks Seline.

"Tak cuman matamu saja yang bermasalah sepertinya telingamu juga bermasalah."

Sial, malah kebelet pipis. Batin Seline.

Navier berdiri, ia melangkah mendekati Seline. Semakin dekat, semakin dekat sampai tubuh Seline bergetar hebat. Ketika Navier ingin memegang sesuatu dikepala Seline tiba-tiba saja ia berteriak kuat.

"Uaaaaaaaah... GAK TAHAN!" teriak Seline.

Navier terkejut, ia hanya memperhatikan larinya Seline. Navier mengerutkan kening dan menduga jika cewek itu benar-benar aneh.

Apanya yang gak tahan? Gak tahan melihat ketampananku? Gak tahan melihat kekerenanku?

Disisi lain, Seline berlari kearah lift. Dia kebelet pipis sampai ke ubun-ubun dan sampai menitikkan air mata. Saat lift terbuka ia bertemu Ali. Ali keluar dari lift dan keheranan tetapi belum sempat bertanya si Seline sudah masuk lift duluan dan memencet tombol.

Ali tidak menghiraukan, ia justru berjalan cepat ke ruangan sang presdir. Dia melihat adik sepupunya itu sedang berkaca dengan ekspresi yang membingungkan.

"Kau apakan dia?" tanya Ali.

"Huh.. Dia tidak tahan dengan ketampananku. Kau tau aku ini begitu tampan."

Ali melempar berkas ke meja, Navier menatapnya dengan tajam.

"Ups... tidak sengaja tuan muda," ejek Ali.

**

Sean mengantar putrinya ke stasiun kereta api. Hari ini Seina harus bekerja kembali, Sean sudah menyuruh Seina mencari pendamping hidup karena Seina sudah sangat matang untuk menikah tetapi Seina selalu berkata tunggu waktu yang tepat.

"Pah, papa yakin jika ibu Darsen sudah meninggal?" tanya Seina didalam mobil.

"Dale sudah tidak ingin membahas itu. Papa juga tidak ingin ikut campur masalah Dale, kau tahu sendiri 'kan sifat Daleon bagaimana? Dia mudah depresi."

Seina menganggukkan kepala. Ingin sekali dia mengatakan jika dirinya lah ibu dari Darsen yang malang. Dia bahkan hidup berjauhan dengan putranya.

Setelah menempuh waktu setengah jam, akhirnya sampai juga di stasiun. Seina menarik koper kecilnya dan mencium tangan sang Papa.

"Aku berangkat dulu, pah."

"Iya, hati-hati! Jangan telat makan disana!"

Seina menganggukkan kepala. "Pah, jika aku menikah nanti aku tetap butuh seorang wali. Ayahku belum diketahui keberadaannya apakah masih hidup atau justru telah meninggal. Aku juga tidak punya saudara dari kerabat ayahku," ucap Seina.

"Sein, papa akan menjadi walimu. Bagaimanapun aku tetap papamu. Papa yang membesarkanmu."

Apa jika aku menikah dengan Dale, papa tetap mau menjadi waliku? Itu yang selama ini aku pikirkan.

Setelah mengantar Seina, Sean memutuskan untuk mampir ke kantor putranya. Beberapa hari setelah dipimpin oleh Navier, perusahaan baik-baik saja. Tidak sia-sia, ia memperkenalkan bisnis kepada Navier sedari kecil.

Dikantor,

Navier sedang membaca dokumen penting dan sedari tadi Seline berdiri didepan meja direkturnya. Navier belum memperbolehkan Seline untuk duduk.

"Pak Navier, bolehkah saya mulai bekerja?" tanya Seline.

"Pak katamu? Bahkan kau lebih tua dariku. Huh.. Panggil aku, tuan!"

Seline menganggukkan kepala, dia bingung harus melakukan apa. Navier masih menatap Seline dengan seksama. Dia berdiri lalu mendekati Seline, tangannya langsung memencet hidung mancung Seline.

"Ini hidung silikon?" tanya Navier.

"Anda menuduh saya operasi plastik?"

Navier terus saja memencet hidung pegawai barunya membuat gadis itu tidak nyaman lalu mundur menjauhi Navier.

"Kenapa kau mundur?" tanya Navier mendekati Seline.

Seline terus mundur kebelakang sampai ia menabrak sofa dan dirinya akan terjatuh ke belakang. Navier seketika refleks menahan punggung Seline agar tidak terjatuh. Mereka saling bertatapan, memandang setiap sorot mata yang seolah mengikat satu sama lain.

"Navi?" ucap suara yang tidak asing yaitu Sean.

Navier dan Seline langsung memandang Sean. Seketika Navier segera melepaskan punggungnya dan Seline jatuh kebelakang dan kepalanya membentur tembok.

Duaaaaak...

Navier dan papanya terkejut, Navier malah kembali ke kursi direkturnya dan seolah tidak terjadi apa-apa.

Awas kau Tuan Navier! Kau memang tidak sopan. Batin Seline.

Sean membantunya berdiri. "Ada yang terluka?" tanya Sean khawatir.

Seline menggelengkan kepala, ia memegang rok span belakangnya yang robek. Seline sangat terkejut dan memegangi roknya.

"Kenapa?" tanya Sean.

"Ingat mama dirumah, pah! Lihat cewek cantik modusin mulu," sindir Navier sambil melanjutkan pekerjaannya.

Sean memelototi Navier, Navier menahan tawanya. Seline memutuskan untuk segera keluar tetapi Sean mencegahnya.

"Tanggung jawab kau, Navi! Kau melukai perempuan dan membuat roknya sobek," ucap Sean.

"Tidak Papa, paman. Ini bisa dijahit. Saya permisi," ucap Seline sambil menundukkan kepala.

Seline keluar dari ruangan Navier, saat berjalan dia merasa tidak nyaman dan memegangi rok belakangnya. Sean menatap anaknya yang merasa tidak bersalah lalu mendekatinya.

"Kau harus sopan dengan perempuan."

"Sudahlah, pah. Papa kenapa datang kesini?" tanya Navier.

Sean menarik kursi lalu duduk, dia menjelaskan jika ia baru mengantar Seina di stasiun. Navier terus membaca dokumen pentingnya dan mendengar keluh kesah dari papanya.

"Papa tidak usah mengurusi rumah tangga orang! Itu sudah keputusan Tante Sera," ucap Navier.

"Tantemu itu tetap adik papa. Keputusannya bersama Louis itu salah, kasian Kim dan Ali."

"Oh my... Terus Navi harus bagaimana, pah? Berlari menuju stasiun TV terus rebutan microphone dengan pembawa acara lalu harus teriak-teriak didepan kamera gitu?"

Sean menatap kesal putranya itu, ia berdiri. Curhat dengan putra kampretnya satu ini memang tak ada gunanya. Kakinya mulai melangkah meninggalkan ruangan Navier.

"Awas kesandung, pah! Nanti nangis, mengadu mama," ejek Navier.

"Anak setan kau! Tidak ada sopannya dengan orang tua. Memangnya aku temanmu kau ajak bercanda begitu," ucap Sean sambil melepas sepatunya dan akan melempar kearah Navier.

"Ampun, pah!" ucap Navier langsung bersembunyi dibawah kolong meja.

Sean tersenyum menyeringai.

"Ular... Ular... Ular dibawah meja," teriak Sean.

Navier terkejut, ia langsung berdiri tetapi kepalanya terbentur meja dengan kuat.

Duaaaaak...

"Buahahahha... Kualat kau! Itulah sebabnya jangan main-main dengan orang tua. Nangis... Nangis... Nanti mengadu mamanya," ejek Sean sambil tertawa terbahak-bahak.

Navier mendengus kesal, ia mengusap kepalanya. Dia langsung mengirim pesan kepada mamanya saat sang papa sudah keluar.

Navier

Mama, papa nakal. Kepalaku terbentur meja karena papa.

Mama

Apa sih, Navi? Sudah besar begitu saja mengadu pada mama.

Navier

Malu lagi jika mengadu pada Tuhan, mah.

Mama

Sudah lanjutkan pekerjaanmu, nanti malam mama buatin pudding.

Pintu terbuka, Seline masuk ruangan. Dia mengeha nafas panjang dan berdoa didalam hati supaya sang tuan menyuruhnya langsung bekerja.

Navier segera langsung menyuruhnya mendekat, Seline merasa kebingungan.

"Lihat kepalaku! Apakah terluka? Tadi aku terbentur meja," ucap Navier.

Navier duduk kursi direkturnya dihampiri oleh Seline. Seline melihat kepala Navier lalu menggelengkan kepala.

"Tidak ada, tuan."

"Lihat yang benar!"

Seline melihat dengan seksama dengam membungkuk ke kepala Navier. Navier menengok kearah Seline dan kini mereka bertatapan lagi. Seline mundur dan hampir terjatuh lagi, dengan cepat Navier memeganginya.

"Kau miss jatuh, dalam sehari bisa jatuh berapa kali?" ucap Navier.

***

Navier Alister.

Agatha Roseline.

1
Lies Atikah
kim hobi nya menanam benih
Lies Atikah
rumit tapi seru thor lanjut
Dwi apri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Dwi apri
walah....bener2 bikin ngakak guling2🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ros Liana
lama trus updatenya,jg gk seru
Uyun Syarukhan
lanjut kak lg seru2 y....ne cerita y....🥰🥰🥰
armanto Manto
.
sakura71
ak mewekkk tentang kim.lnjut ngakakk parah
sakura71
thorrr ngakakkk
Neng Luthfiyah
ini ceritanya ko gantung gk ada terusannya pdhal seru🤔
Noel Sentia Lena Stg
y...mna kelanjutannya kk,,,,,
Noel Sentia Lena Stg
darsen panggil navier = om napret
navier panggil darsen = darman
navi dan darsen sama2 lucu...
Noel Sentia Lena Stg
kok kim nika lg,aduh,..............
Noel Sentia Lena Stg
rasa2 merinding q bc,trus tiba2 nangis liht navi dbuat sprti tu...sabar y navi.......
Noel Sentia Lena Stg
hahahaa.ketawa melulu smpe sakit perut
Noel Sentia Lena Stg
sumpah dhe ..ketawa2 sndiri jd nya🤣🤣🤣
Ati Pct
😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣
SeQuer ThinTacel AgusTin
jgn" pacar Ali anaknya Mauren si jeni
SeQuer ThinTacel AgusTin
kasian navier
SeQuer ThinTacel AgusTin
ku udh baca cerita dewa tp mlah blm baca cerita Sean
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!