Di sarankan membaca "SANG PENGANTIN BAYARAN" lebih dulu, karena semua tokoh berkaitan erat dalam novel tersebut.
Alexavier Bancroft, menjadi duda di usianya yang masih muda. Istrinya, Melanie Rendra, meninggal satu hari setelah melahirkan bayi perempuan cantik secara prematur yang di beri nama, Sunny Chalondra Bancrof.
Berbagai tekanan dari keluarga mertuanya membuat Alex berusaha move on dari masa lalunya, namun sulit bagi dia untuk kembali membuka hati pada wanita manapun yang ia temui.
Keluarga Rendra, menjodohkan Alex dengan keponakan mereka bernama Felicia, namun hati Alex berkata lain, ia tertarik pada wanita yang menjadi pengasuh putrinya, Nora Arabella.
Akankah Alex bisa bertahan dengan hatinya untuk memilih Nora, atau memilih untuk mundur dan menerima perjodohan itu dengan rela?
---
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Felicia
Felicia, gadis berkulit putih dan berperawakan tinggi itu sangat cantik dan menarik. Postur tubuh ideal dengan penampilan glamour menunjang keseluruhan kecantikannya.
Di umur yang baru menginjak 26 tahun, gadis itu sudah berkarir cemerlang sebagai model dan seorang artis terkenal, ia pernah menjuarai kontes kecantikan mewakili negara asalnya, Vietnam. Felicia adalah keturunan Indonesia Vietnam yang sudah pindah ke negara asal ibunya ini sejak usianya 10 tahun.
Siang ini, gadis itu begitu anggun dalam balutan gaun berwarna biru tanpa lengan, belahan dada rendah membuatnya terlihat seksi dan penuh pesona.
Namun, Alex bahkan tidak sedikitpun melirik dengan ketertarikan, ia hanya memandang sekilas, menyapa, lalu kemudian fokus pada yang lainnya.
Alex tampak seperti bukan lagi dirinya. Jika dulu, ia tidak akan sungkan menggoda, melirik dengan terang-terangan, dan bahkan menawarkan diri untuk berkencan, kini dia tidak lagi begitu. Hanya soal waktu, Alex hanya butuh waktu untuk membiasakan diri.
Sekilas, Alex hanya memperhatikan Sunny yang sangat antusias berbicara dengan Felicia, begitupun Felicia, ia terlihat sangat perhatian dan dekat pada Sunny, meskipun ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Pada dasarnya, Sunny adalah anak yang pemalu, tidak mudah bergaul apalagi mengobrol dengan orang asing, namun Felicia terlihat punya sesuatu yang berbeda.
"Kapan aku bisa menandatangani kontraknya, Tuan Alex?" tanya Felicia.
"Panggil saja Alex. Kita bisa bertemu di jam kerja, kamu bisa berkunjung ke kantor," jawab Alex.
Felicia yang duduk bersebelahan dengan Sunny, lalu berdiri dan mendekati Alex.
"Simpan nomorku, Alex. Ini akan mempermudah komunikasi kita." Felicia menyodorkan ponselnya di hadapan Alex, namun laki-laki itu menolaknya.
"Nggak perlu. Aku ada sekretaris yang bisa mengurus segalanya. Kamu bisa dapatkan nomor dia nanti sewaktu tanda tangan kontrak ke kantor. Dia yang akan mengurus semua kontrak kerjamu dan apapun yang kamu perlukan."
"Alex," sela nyonya Gio. "Lebih baik jika kalian saling bertukar nomor ponsel. Lagipula Felicia juga masih kerabat kita, ini bukan sekedar urusan bisnis."
Untuk kali ini, Alex tidak bisa membantah. Nyonya Gio sudah seperti mama kandungnya sendiri, segala perhatian dan kasih sayang wanita paruh baya itu benar-benar Alex rasakan, hingga untuk menolak keinginannya pun Alex merasa enggan.
"Baik, Ma," jawab Alex. "Ini nomorku, kamu bisa simpan." Alex menyerahkan kertas berukuran kecil yang berisi tentang kartu namanya.
"Ah, baik. Aku akan menghubungimu jika ada perlu, Alex. Terimakasih," ucap Felicia.
"Bukan masalah."
Semua orang saling mengobrol dan bertukar kisah saat mereka tidak bisa bertemu. Keluarga Maheswari sempat pindah ke luar negeri selama 6 tahun terakhir untuk mengurus bisnis mereka yang bergerak di bidang properti, itu membuat mereka tidak bisa hadir saat pernikahan Melanie bahkan sampai kematiannya.
Alex memang sering mendengar cerita tentang keluarga ini, Alex tau bahwa keluarga mertuanya sangat mengeluh-eluhkan mereka. karena dari sikap dan penampilan Antonie Maheswari, memperlihatkan bahwa keluarga itu sangat di hormati dan di segani oleh kalangan mereka.
Tidak main-main, Maheswari termasuk dalam jajaran top orang-orang dengan bisnis terbaik dan keluarga terkaya di asal negara mereka, Vietnam. Namun mereka tidak cukup sampai di situ, Indonesia pun menjadi sasaran mereka dalam mendirikan berbagai perusahaan besar yang di kelola oleh keluarga intinya.
Ada rasa penasaran yang begitu besar dalam diri Alex. Dengan bisnis dan kekayaan yang melimpah ruah, mengapa mereka mengizinkan Felicia berkarir menjadi artis dan model yang bayarannya tidak seberapa di banding jika ia turut menggeluti bisnis keluarganya.
Namun Alex menahan diri untuk tidak menanyakannya, menjadi apapun dan siapapun adalah hak setiap orang. Alex pun merasa tidak ingin ikut campur tentang hal itu. Toh, dia tidak merasa di rugikan. Justru dengan hadirnya Felicia menjadi bagian dari produknya, itu akan mendatangkan keuntungan besar bagi PT. Emily Beauty.
Setelah obrolan sana sini dari yang penting hingga sekedar basa-basi, mereka semua akhirnya di minta oleh nyonya Gio menuju meja makan untuk makan siang bersama.
Berbagai hidangan tersaji di atas meja, membuat siapapun akan menelan ludah mencium aromanya.
"Duduk di sini, Princess," ucap Alex pada Sunny, ia menepuk kursi di sampingnya.
"Sunny mau duduk sama Aunty," tolak Sunny sambil menunjuk kursi kosong di samping Felicia.
"Baiklah, Aunty akan pindah kesana, Sayang." Felicia berdiri, ia berpindah tempat di dekat Alex, dan Sunny duduk di antara mereka.
Semua orang dalam ruangan menatap penuh harap pada kedekatan yang sudah mulai terjalin sejak pertemuan pertama. Ada suatu maksud yang di sembunyikan oleh mertua Alex yang menyebabkan mereka melakukan pertemuan keluarga sekaligus membawa Felicia sebagai brand ambassador di perusahaan mereka.
Tuan Gio dan Istrinya tidak berharap banyak, karena mereka merasa tidak berhak mengatur dan membatasi kehidupan Alex selanjutnya. Tapi kasih sayang dan cinta pada cucu mereka, membuat keduanya harus ikut campur dalam mencari pengganti Melanie untuk menantunya.
"Mau makan yang mana, Cantik?" tawar Alex.
"Yang itu!" Sunny menunjuk ayam bakar madu yang di bumbui rempah-rempah dengan aroma yang menggugah selera.
Alex lalu memberikan satu potong ayam bakar dan meletakkannya di piring Sunny. Gadis itu makan dengan lahap, sesekali Alex memergoki gadis kecilnya bertukar senyum dengan Felicia, namun Alex tidak terpikirkan apapun.
"Ih, makannya belepotan," ujar Felicia pada Sunny, ia lalu meraih tisu dan membersihkan pipi dan bibir Sunny dengan lembut.
"Terimakasih, Aunty."
"Sama-sama, Cantik. Makan pelan-pelan, nggak ada yang mau merebut ayam bakarmu kok," ledek Felicia, sambil mencubit gemas pipi Sunny.
Sunny tampak bahagia hari ini, wajahnya yang murung saat pertama kali Alex datang menyapa, kini sudah berubah ceria saat bertemu Felicia.
Usai makan siang selesai, Alex berniat untuk kembali ke kantor, ada beberapa pekerjaan yang harus ia tangani sendiri karena tidak mungkin ia menyerahkan semua tugas pada sekretarisnya. Namun tuan Gio menolak, ia tetap meminta Alex di rumah dan melupakan tentang pekerjaannya untuk hari ini saja.
Orang-orang tua sibuk bercengkrama di ruang tengah, sedangkan Alex, Sunny dan Felicia bermain di teras. Alex hanya duduk sebagai penonton, sedangkan Sunny dan Felicia asik bermain boneka.
"Berapa umurmu, Cantik?" tanya Felicia pada Sunny.
"Akhir bulan nanti Sunny mau ulangtahun yang ke empat. Artinya, sebentar lagi Sunny mau umur 4 tahun, Aunty," jawab Sunny.
"Wah, sudah besar."
"Aunty nanti datang ke ulangtahunku, ya. Nanti Sunny minta daddy buat kasih undangan ke rumah Aunty."
"Oke, Cantik. Aunty usahakan untuk datang, ya."
"Janji?"
"Hmm, janji." Sunny dan Felicia saling mengaitkan jari kelingking. Keduanya bertukar tawa sambil menikmati cemilan yang di hidangkan para pelayan.
Alex mengulum senyum, ia memperhatikan raut kebahagiaan di wajah putrinya. Mungkin, ini adalah pertama kalinya Sunny terlihat sangat ceria lebih dari biasanya.
🖤🖤🖤
Felicia Maheswari