NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Hannah

Di Balik Cadar Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.

Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.

Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fotografer Ukhti

Hannah baru saja mencoba membujuk Faz. Setidaknya, itulah yang ia sampaikan kepada Farah.

“Aku senang banget, Kak. Kakak mau membantuku,” ujar Farah dengan wajah berbinar.

Kini mereka berdua sudah berada di perusahaan brand Arfa.

“Semoga saja berhasil, Far. Aku belum yakin apakah Faz benar-benar akan mau,” kata Hannah. Ia tidak ingin membuat Farah terlalu berharap.

“Yang penting sudah ada kemajuan, Kak. Kalau pun nanti tidak berhasil, aku akan tetap berusaha. Aku ingin bisa bekerja sama dengan Kakak.”

Hannah tersenyum mendengar semangat Farah.

Entah kenapa, gadis itu mengingatkannya pada dirinya sendiri beberapa tahun lalu. Semangat yang sama. Keyakinan bahwa selama seseorang mau berusaha, selalu ada jalan yang bisa ditemukan.

“Lewat sini, Kak.”

Farah menunjukkan jalan menuju studio pemotretan.

Baru beberapa langkah memasuki area utama perusahaan, Hannah mulai menyadari beberapa pasang mata mengikuti mereka.

Ada yang sekadar melirik.

Ada pula yang menatap sedikit lebih lama.

Hannah berusaha bersikap biasa saja, tetapi perasaan tidak nyaman mulai muncul di dadanya.

Berbeda dengan Farah yang tampak santai dan sama sekali tidak memedulikannya.

Mereka akhirnya sampai di studio.

Begitu pintu dibuka, suasananya jauh lebih gelap daripada ruangan sebelumnya. Beberapa lampu studio menyala redup. Di salah satu sisi terdapat ruang lain yang dipisahkan oleh kaca besar. Beberapa orang terlihat sedang bekerja di sana.

“Aku sengaja mengajak Kakak ke sini hari ini karena tidak ada pemotretan,” jelas Farah.

Hannah mengangguk pelan.

Matanya langsung berkeliling.

Ia takjub melihat perlengkapan pemotretan yang tersedia. Kamera, lighting, backdrop, hingga berbagai peralatan pendukung lainnya tampak begitu lengkap.

Jauh lebih lengkap daripada studio tempatnya bekerja sebelumnya.

Belum lagi studio itu sendiri.

Semuanya terlihat profesional.

“Emang boleh, ya, Far?” Hannah akhirnya bertanya.

Farah menoleh.

“Boleh apa, Kak?”

“Kalau aku masuk dan langsung memakai studio seperti ini...” Hannah mengedarkan pandangan sebentar. “Bagaimana kalau fotografer sebelumnya merasa tersisihkan?”

Ia menurunkan suaranya.

“Itu yang aku khawatirkan.”

Hannah tahu dirinya masuk ke perusahaan ini melalui jalur khusus. Dan justru itu yang membuatnya tidak nyaman.

Tatapan beberapa orang yang ia terima sejak tadi kembali terlintas di pikirannya.

Mungkin mereka bertanya-tanya siapa dirinya.

Atau mungkin mereka sudah tahu bagaimana ia bisa sampai berada di sini.

“Nggak usah khawatir, Kak,” jawab Farah santai. “Mereka tetap bekerja, kok. Kita cuma mau memotret Kak Faz saja.”

Hannah mengangguk, meski rasa tidak nyamannya belum sepenuhnya hilang.

Ia kemudian mendekati salah satu meja dan memperhatikan kamera yang terletak di sana.

“Kamu sudah pernah mencobanya, Far?”

Farah menggeleng.

“Belum berani, Kak.”

Hannah terkekeh kecil.

“Kenapa?”

“Takut hasilnya jelek.”

“Kamera sebagus ini saja kamu takut?”

Farah tersenyum malu.

“Beda, Kak. Kalau cuma pegang kameranya gampang. Kalau harus motret orang profesional, itu yang bikin deg-degan.”

Hannah tersenyum.

Ia baru saja hendak mengatakan sesuatu ketika Farah tiba-tiba menunjuk ke arah seseorang yang baru keluar dari ruangan sebelah.

“Oh, itu Pak David.”

Hannah mengikuti arah telunjuk Farah.

Seorang pria berusia sekitar empat puluhan berjalan mendekati mereka. Tatapannya sempat berhenti pada Hannah sebelum kemudian beralih kepada Farah.

“Kita akan bicara dengannya,” ujar Farah.

Hannah menarik napas pelan.

Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa sedikit tegang.

Mungkin ini hanya perasaannya saja.

Namun sejak menginjakkan kaki di perusahaan Arfa, Hannah merasa seolah-olah dirinya sedang memasuki sebuah tempat yang belum tentu menerimanya.

---¤---

Faz mengendarai mobilnya menuju Coffee Aroma Waktu.

Coffee milik Arif.

Sebenarnya, sejak tadi ia sempat ragu untuk datang ke sana.

Bagaimana kalau ternyata Akira sedang berada di tempat itu?

Apa yang harus ia lakukan?

Jangan-jangan perempuan itu justru mengira Faz datang karena sudah menyetujui permintaannya.

Padahal tidak.

Faz hanya ingin berkunjung.

Ya... mengunjungi Arif.

Meskipun kalau dipikir-pikir, alasan itu terdengar lucu.

Berkunjung biasanya dilakukan kepada teman dekat. Sementara dirinya dan Arif bahkan tidak bisa disebut dekat. Mereka baru dua kali bertemu.

Faz menghela napas.

“Nanti aku harus ngomong apa?” gumamnya.

Kalau bertemu Arif, sudah pasti pria itu akan mengenalinya.

Tapi bukankah pemilik coffee shop jarang berada di tempat usahanya sendiri?

Ah, semoga saja begitu.

Faz mencoba menenangkan pikirannya.

Namun baru beberapa detik kemudian, bayangan lain muncul.

Bagaimana kalau justru Akira yang ada di sana?

Ia membayangkan pertemuan itu.

Perempuan itu mungkin akan kembali menanyakan kesediaannya menjadi model.

Dan kali ini, Faz tidak yakin bisa menghindar dengan mudah.

“Ah...” Faz menghela napas berat.

Seharusnya ia memang sudah mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan seperti itu sejak awal.

Bukan malah baru memikirkannya ketika sudah hampir sampai.

Ponselnya tiba-tiba berdering.

Faz melirik layar.

Rozin.

Kenapa dia menelepon?

Faz mengangkatnya.

“Halo.”

“Assalamu'alaikum, Faz.”

“Wa'alaikumussalam. Ada apa?”

“Gawat... gawat, Faz. Kamu seharusnya datang ke studio.”

Faz mengernyit.

“Kenapa?”

“Ada ukhti-ukhti di sini.”

“Ukhti-ukhti?”

“Hu'um.” Suara Rozin terdengar seperti menahan tawa. “Dengar-dengar, Faz. Katanya dia mau menjadi fotografermu.”

Faz terdiam.

“Hanya kamu, Faz. Sekarang bahkan kamu punya fotografer khusus. Fotografernya ukhti-ukhti juga.”

“Aku nggak paham maksudmu, Zin.”

“Ah, pokoknya kamu harus ke sini biar tahu sendiri.”

“Roz—”

Tut.

Sambungan terputus.

Faz menatap layar ponselnya dengan bingung.

“Orang itu kalau ngomong memang suka bikin penasaran.”

Beberapa menit kemudian, mobil Faz berhenti tepat di depan Coffee Aroma Waktu.

Faz mematikan mesin.

Ia menatap bangunan coffee shop di hadapannya.

Lalu pandangannya bergeser ke sebelah.

Studio Akira.

Tutup.

Faz terdiam beberapa saat.

Justru ini kesempatan.

Kalau studionya tutup dan Akira tidak ada, mungkin ia bisa mencari tahu lebih jauh tentang tempat itu. Tentang siapa sebenarnya pemiliknya. Tentang hubungan studio itu dengan Arif.

Bahkan mungkin tentang perempuan yang selama ini membuatnya penasaran.

Tangannya sudah hampir meraih gagang pintu mobil ketika perkataan Rozin kembali terngiang di kepalanya.

Katanya dia mau menjadi fotografermu.

Sekarang kamu punya fotografer khusus.

Faz berhenti.

Tangannya kembali.

Ia bersandar di kursi.

“Fotografer ukhti?”

Dahinya berkerut.

Kenapa tiba-tiba ada fotografer perempuan di studio?

Dan kenapa Rozin mengatakan fotografer itu khusus untuk dirinya?

Jangan-jangan...

Faz mengembuskan napas panjang.

“Jangan-jangan orangnya Akira?”

Untuk beberapa saat, ia hanya diam di dalam mobil.

Di satu sisi, ia ingin turun dan mencari tahu tentang studio itu.

Di sisi lain, rasa penasaran terhadap ucapan Rozin justru semakin kuat.

Faz akhirnya meraih ponselnya lagi.

Ia menatap nama Rozin di layar.

Ragu.

Lalu meletakkan kembali ponselnya.

“Ah, sebaiknya aku ke studio dulu.”

Meski begitu, saat menyalakan mesin mobil, pikirannya masih tertinggal pada satu hal.

Siapa sebenarnya fotografer ukhti itu?

1
naar0rrrr
lanjutt yaa kakk, semangatt💪 jangan lupa mampir cs ku yakk/Smile/
naar0rrrr
Hannah kayak nya bingung mau jawab apa ya..
naar0rrrr
kenapa faz nya gak jujur ya?
naar0rrrr
lanjuttt kakk, semngatttt
naar0rrrr
di ingetinn dongg, lanjutt yaa kaaa
naar0rrrr
lanjutttt thorrrrr
Putry Chan
kmu ingin mempertemukan hannna Dengan masa lalu nya apakah mereka ini gak tau
Putry Chan
berdoa dulu insyaallah aman kok
Putry Chan
faz itu masa lalu Hannah btw mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Hannah kamu knp
Putry Chan
Hannah kamu kenal dia
aefpe fp
mampir juga ya...sesama pemula ini😍
jinggaarundari
yahhhh gantung.... lanjut terus kaa😍😍
jinggaarundari
ya ampun Hannah...
jinggaarundari
Faz cek lagi ke RS bikin dejavuu akuu, baru awal udh deep 🫠
semangat terus kaa😍😍
Renjana
pertemuan dengan siapa tu?🤭
R: dengan masa lalu 🤭
total 1 replies
Renjana
bagus kak,
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!