NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 006

Dunia Baru

Baskara Prawira tidak berjalan menghampiri Bunga malam itu.

Ia hanya menatap dari seberang taman, membiarkan senyum tipis itu muncul sebentar, lalu kembali berbicara dengan tamu di depannya seolah tidak terjadi apa-apa. Justru itu yang membuat Bunga makin kaku. Kalau pria itu langsung datang, ia mungkin bisa menyiapkan jawaban. Kalau hanya dilihat seperti ini, ia merasa seperti steak ketiga di tangannya berubah menjadi barang bukti.

"Turunkan garpumu," kata Tuan Misterius.

Bunga menurut, pelan-pelan.

"Sekarang tersenyum sedikit."

"Aku masih ngunyah."

"Maka jangan tersenyum."

"Kamu cerewet banget."

Melati muncul di sampingnya dengan mata berbinar. "Kakakku lihat kamu."

Bunga hampir tersedak. "Banyak orang melihat saya."

"Tidak begitu. Kak Bas jarang memperhatikan tamu baru." Melati menoleh ke arah Baskara, lalu kembali pada Bunga. "Apa kamu kenal dia sebelumnya?"

"Tidak. Saya cuma kenal steaknya."

Melati tertawa. Tawa itu ringan, tidak dibuat-buat, dan membuat dua tamu perempuan di dekat mereka ikut menoleh. Bunga merasakan tatapan menilai datang lagi, tetapi kali ini ia tidak mundur.

Tuan Misterius berbisik, "Gunakan momentum. Tanyakan tentang acara lain."

Bunga mengangkat gelas air. "Acara seperti ini sering?"

"Terlalu sering," jawab Melati. "Minggu depan ada brunch kecil. Lalu charity auction. Lalu tea gathering. Kadang aku bingung ini kegiatan sosial atau latihan tersenyum."

"Latihan tersenyum mahal."

"Kamu mau ikut kalau aku undang?"

Bunga memegang gelas sedikit lebih erat. Inilah pintu itu. Bukan pintu besar dengan penjaga, melainkan kalimat santai dari gadis baik hati yang tidak sadar dirinya sedang memberi akses ke dunia yang selama ini Bunga intip dari luar pagar.

"Kalau tidak merepotkan," jawab Bunga, memakai suara paling rapi yang bisa ia susun.

"Tidak. Aku senang ada teman baru." Melati mengambil ponsel dari clutch. "Nomor WhatsApp kamu?"

Tubuh Bunga langsung membeku.

Ponselnya hilang sejak malam gala. Nomor lamanya mungkin masih aktif, mungkin sudah mati, mungkin sekarang dipegang orang rumah sakit atau satpam hotel. Ia tidak punya saldo, tidak punya perangkat, bahkan tidak yakin kartu SIM-nya masih ada.

"Katakan ponselmu rusak karena insiden kecil," kata Tuan Misterius cepat. "Jangan terlalu detail."

Bunga tersenyum kaku. "Ponsel saya rusak. Jatuh kemarin. Saya belum sempat ganti."

"Oh." Melati tidak menertawakan. Ia justru membuka tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel tipis dengan casing bening. "Aku punya cadangan. Ini agak lama, tapi masih bisa WhatsApp. Pakai dulu saja."

Bunga menatap benda itu seolah Melati baru mengeluarkan kunci apartemen.

"Tidak bisa, Mbak."

"Bisa. Kembalikan kalau sudah punya. Aku sering ganti ponsel, ini cuma disimpan."

"Jangan langsung menolak," kata Tuan Misterius.

"Ini mahal," bantah Bunga dalam hati.

"Lebih mahal kehilangan akses."

Bunga menelan malu yang naik ke tenggorokan. Ia menerima ponsel itu dengan dua tangan. "Saya kembalikan secepatnya."

Melati tersenyum. "Santai. Sekarang bikin WhatsApp baru dulu. Aku masukkan kamu ke grup."

"Saya catat sebagai utang," kata Bunga cepat.

Melati mengerjap. "Utang?"

"Ponsel, pulsa, semuanya. Saya bayar nanti."

"Tidak perlu sekaku itu." Melati memasukkan nomor baru Bunga ke kontaknya. "Anggap saja pinjaman teman."

Kata `teman` membuat Bunga lebih gugup daripada tatapan Ratih. Ia belum melakukan apa pun untuk pantas mendapat kata itu. Ia bahkan masuk ke pesta ini dengan cerita palsu.

Tuan Misterius terdengar lebih lembut dari biasanya. "Terima saja. Jangan lukai niat baik orang yang belum tentu punya banyak kesempatan memberikannya."

Bunga menatap Melati, lalu mengangguk. "Terima kasih. Saya jaga baik-baik."

Malam itu, Bunga pulang dari rumah Prawira dengan kaki lecet, perut kenyang, satu ponsel pinjaman, dan tiga undangan tidak langsung yang membuat kepalanya lebih pusing daripada jahitan. Ia mengembalikan gaun ke rental tepat waktu, membersihkan sepatu sampai tidak ada noda tanah, lalu tidur tiga jam di kos harian dengan ponsel Melati disembunyikan di bawah bantal seperti harta karun.

Hari-hari berikutnya, dunia baru terbuka lewat layar kecil itu.

Grup WhatsApp Melati berisi perempuan-perempuan yang bicara tentang florist, kelas pilates, acara amal, lunch meeting, dan warna tas seperti sedang membahas krisis negara. Bunga membaca semuanya dengan dahi berkerut.

"Apa itu silent luxury?" tanyanya.

"Kemewahan yang tidak berteriak," jawab Tuan Misterius.

"Kalau tidak berteriak, kenapa harganya bikin orang menjerit?"

"Itu inti ironinya."

Melati mengajaknya ke brunch kecil di sebuah kafe hotel. Bunga datang dengan blouse pinjaman rental dan celana bahan yang ia beli murah dari pasar bekas setelah menawar sampai penjualnya menyerah. Tuan Misterius mengajari cara duduk, kapan tertawa, dan kapan pura-pura paham. Namun yang membuat Bunga bertahan bukan semua teori itu.

Yang membuatnya bertahan adalah keberaniannya sendiri.

Saat seorang perempuan bertanya, "Kamu biasanya liburan ke mana, Bunga?" dengan nada yang jelas menguji, Tuan Misterius belum sempat memberi jawaban.

Bunga sudah tersenyum.

"Ke tempat yang sinyalnya jelek, Mbak. Biar orang kantor tidak bisa ganggu."

Perempuan itu terdiam sebentar, lalu tertawa karena mengira Bunga sedang bercanda tentang villa terpencil.

Tuan Misterius berkata pelan, "Itu berisiko."

"Tapi berhasil."

"Sayangnya, ya."

Di acara berikutnya, Bunga mulai memahami pola. Orang-orang itu suka cerita yang cukup kabur untuk terlihat eksklusif. Mereka tidak selalu bertanya karena ingin tahu. Kadang mereka bertanya untuk mencari lubang. Bunga belajar menjawab tanpa memberi pegangan. Tuan Misterius memberinya kerangka, tetapi ia yang memberi nyawa.

"Ayah saya lebih suka tidak diekspos."

"Keluarga kami jarang hadir penuh, banyak urusan lama."

"Saya baru kembali aktif di Jakarta."

Kalimat-kalimat itu terdengar ringan, tetapi setiap katanya disusun seperti pagar.

Sementara itu, kebiasaan buruknya soal makanan tidak membaik. Bunga selalu membawa tisu tebal atau kantong kecil. Setiap kali ada pastry, roti isi, atau cokelat mahal yang tersisa, ia menyelipkan satu dua potong dengan gerakan secepat pencopet.

"Kamu sadar ini tidak sesuai etiket," kata Tuan Misterius di sebuah afternoon tea.

"Ini sesuai logistik."

"Kamu tidak bisa terus membawa pulang makanan dari acara sosial."

"Bisa. Lihat."

Ia memasukkan dua mini quiche ke dalam kantong kertas kecil.

Tuan Misterius terdiam ketika Bunga memakannya di angkot malam itu. Rasa keju, bawang, dan pastry renyah memenuhi lidahnya. Bunga tahu ia ikut merasakan. Ia juga tahu ia pura-pura tidak terlalu menikmati.

"Analisis tekstur lagi?" goda Bunga.

"Kulit pastrynya terlalu rapuh."

"Tapi enak."

"Ya."

Jawaban singkat itu terdengar hampir pasrah.

Seminggu setelah pesta Prawira, Melati mengirim pesan pribadi.

`Besok ada lunch kecil. Kak Bas mungkin datang sebentar. Kamu mau ikut?`

Bunga menatap layar sampai huruf-hurufnya seperti bergerak.

"Itu undangan ke target," kata Tuan Misterius.

"Aku tahu."

"Kamu gugup?"

Bunga mengetik jawaban, menghapusnya, lalu mengetik lagi.

`Mau. Terima kasih, Melati.`

Ia menekan kirim.

Pintu dunia baru itu tidak lagi hanya terbuka sedikit.

Sekarang Bunga sudah memasukkan satu kaki, dan yang menakutkan, sebagian dirinya mulai menikmati cara lantai mahal itu berkilau di bawah sepatu pinjaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!